Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
121. Apa saja indah, saat bersamamu.


__ADS_3

Sorry baby aku menginginkannya lagi..."bisiknya lirih. Key terkikk melihat Raffael yang mulai beraksi dan menghentikannya dalam sekejap karena pria itu keheranan dengan Key yang terus terkikik.


"Apakah ada yang lucu?" Raffael menatapnya bingung. Iris kelamnya memperhatikan tubuhnya dan merasa tidak ada yang aneh.


"Tidak ada yang lucu!" Tetapi lihatlah," tunjuk Key ke arah wajahnya dan semakin membuatnya terkikik geli.


"Wajahku?"


"Hemm... apa lagi, Raffael," godanya.


"Tentu sangat tampan! protesnya dengan tatapan kesal, menyadari tingkah Key yang tidak berhenti mentertawakannya dan hal itu memadamkan gairah, Raffael seketika.


"Benarkah seperti itu, sayang?" Key kembali terkikik geli dan sesekali menutup mulutnya, karena tawanya yang terdengar memenuhi seisi kamarnya.


"Cara, awas! Kalau kau mengerjaiku. Aku benar-benar tidak akan memberimu ampun," Raffael turun setengah meloncat dari tempat tidur dan menatap wajahnya di depan cermin.


"Sangat lucu, bukan?" ejeknya.


Raffael menggeleng tidak terima. "Kau yang mengelap bibirku, harusnya tidak ada sisa makanan di sudut bibirku! Dan ini sangat menggelikan, bagaimana bisa sisa mayonaise dari salat itu berbentuk seperti kumis kucing?!" protes Raffael geram dan kembali melompat ke atas tempat tidur.


"Kau yang tidak bisa bersabar, honey. Harusnya kau cuci muka sebelum__"


"Sebelum apa, sayang?" seringai wajah predator Raffael mendadak muncul. Key masih terkikik menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ampun, Raffael. Aku tidak bermaksud begitu," Key menepis tangannya, saat dengan gemasnya jari tangan, Raffael menggelitik perutnya dengan tanpa ampun. Napas wanita itu sersengal karena Raffael tidak berhenti menggodanya, dan menciptakan kegaduhan di atas tempat tidurnya.


"Su_sudah, sayang. Aku menyerah. Aku mengakui, aku sengaja menyisakan sedikit sisa makanan, menempel di sudut bibirmu, karena kau sangat susah makan sayuran," jelasnya sambil ketawa.


"Dasar gadis nakal!" Tangannya dengan gemas memencet hidung, Key, hingga memerah. "Ingat, kau berhutang karena menggagalkanku hari ini," Raffael menaikkan sebelah alis matanya mendapati, Key, yang terlihat kelelahan dengan napasnya yang ngos-ngosan, akibat tangannya kali ini terus menggelitik perutnya tanpa ampun.


"Ampuun, Raffael. Hentikan sayang. Kecuali kau ingin aku mengompol di sini," ultimatum, Key. Sontak saja ucapanya menghentikan kekonyolan yang sedang, Raffael ciptakan.


"Kita berdua seperti anak kecil," keluh Raffael.


"Adakalanya memang harus seperti itu. Aku tidak ingin wajahmu keriput karena terlalu serius, tetapi jangan menggelitik ku," ujarnya sedikit merajuk. Dadanya masih tersengal-sengal dan duduk menyender di samping Raffael.


"Lelah?"


"Badanku rasanya lemas sekali. Kakiku Dingin. Perutku rasanya seperti dipenuhi ribuan binatang yang menggelitik perutku dan seketika membuatku geli. Tuan mesum, sepertinya kau harus berpuasa satu bulan lamanya, untuk tidak menyentuhku. Aku benar-benar lelah..." ujarnya pelan. Hidungnya masih kembang kempis karena tarikan napasnya yang memberat.


"Jangan mengelabuhiku," Cara.

__ADS_1


"Aku bersungguh-sungguh. Aku benar-benar lemas, honey, aku haus," ucapnya memelas.


"Iya. Sebentar, aku ambilkan."


Wanita itu menyunggingkan senyumnya dan dalam sekejap satu gelas air mineral telah memenuhi kerongkongannya.


Gleg... gleg..gleg..


"Thanks, honey."


"Kau seperti tidak minum satu bulan saja," Raffael menggeleng tidak percaya.


Bahkan cara minum Key jauh dari image elegan yang menempel pada dirinya.


"Kau yang membuatku seperti ini," protesnya dengan mengerucutkan bibir. "Kau boleh menggodaku, tetapi jangan mencoba menggelitik ku," jelasnya berulang dengan kesal.


"Bagaimana bisa, kau sehaus itu, padahal kita belum memulainya," goda Raffael menatapnya smirk.


"Tangan mu lebih membuatku haus."


"Itu artinya yang lain__"


"Kalau itu sekarang, aku bisa pingsan," perempuan itu membaringkan tubuhnya. Raffael percaya Key benar-benar kelelahan, napas wanita itu masih sesekali tersengal.


"Lain kali jangan menggelitik perutku, kalau di sini ada calon anak kita, apakah kau tidak kasihan padanya?" protesnya kembali merajuk dan mencari kenyamanan dalam pelukan Raffael.


"Baby, aku hanya sedang bercanda."


Pria itu terdiam sesaat menyadari kebodohannya sendiri.


"Jangan menggelitik ku. Aku bisa mati melemas," keluhnya lagi.


"Sorry, sayang. Aku benar-benar tidak tahu, kau akan lemas seperti ini," sesal Raffael.


"Sudahlah, lebih baik beristirahat. Aku akan membayarnya, saat kita menginap di kawasan yang dekat dengan miracle garden," janjinya dengan menyipitkan mata menggoda, Raffael.


"Hemm... jangan- jangan kau sengaja mengulurnya?" Raffael kembali menatapnya curiga.


"Aku benar- benar-benar lelah."


"Ok, kita akan tidur," Raffael memakluminya, walaupun bersentuhan dengan kulit wanita itu terasa menyiksanya. Pria itu mengumpat dalam hati menyadari, Key, yang mulai terlelap.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dia tertidur secepat ini, sementara__"


Raffael menggeleng tidak percaya. Lagi- lagi wajah Key yang menggemaskan membuatnya mencuri kecupan kecil di bibirnya.


"Dasar, nakal," bisiknya gemas dan kembali mengumpat di dalam hati. Saat Key merapatkan tubuhnya. Hasrat yang mengurung, membuatnya kesulitan untuk terlelap. Tetapi Raffael tidak akan memaksanya dan akan bersabar pada pujaan hatinya itu.


Merasa ada yang mengusik di bibirnya, Key membuka mata pelan dan memperhatikan Raffael yang masih membuka mata. Tangannya terulur meraba wajahnya yang dipenuhi bulu- bulu yang sangat halus dan rapi.


"Kenapa tidak tertidur?"


"Hanya belum mengantuk saja, sayang, tidurlah..." ujarnya pelan dan kembali mengusap pucuk kepalanya lembut.


"Hemmmmmp...kau benar-benar menginginkannya?" Key tertawa dalam hati menyadari Raffael gelisah karena sesuatu yang tidak bisa dihindarinya.


"Masih banyak waktu untuk kita," Pria itu berbalik memeluknya dan membungkam bibirnya dengan telunjuknya, supaya tidak membuatnya semakin bergairah mendengar suara manjanya.


"Baby jangan menggodaku..."


"Aku sedang tidak menggodamu! Wanita itu memasang muka manis dengan menahan senyum nakal di sudut bibirnya. Raffael benar- benar-benar dibuatnya frustasi, saat menyadari pemandangan yang indah kembali diperlihatkan oleh wanita itu.


"Cara, aku tidak akan mengampunimu!"


"Aku tidak peduli," jawabnya enteng. Raffael dibuatnya habis kesabaran, karena Key terus mengerjainya. Wanita itu kembali tersenyum, menatap Raffael yang sudah di kurung oleh hasrat cinta yang membara. Tidak ingin menyia-nyiakan keadaan, waktu sudah menggulung keduanya dalam penyatuan cinta yang begitu indah.


"Kau sengaja mengulurnya?"


"Hemmp..."


"Itu hukuman yang aku berikan padamu."


"Kau salah besar, adanya saat ini aku yang sedang menghukumu, baby..." bisiknya ****.


"Aku tidak peduli__"


Kepalanya sedikit tersentak kaget menyadari kenakalan manis, Raffael yang membuatnya terhanyut semakin dalam. Tidak lama kemudian, yang terdengar hanyalah suara menawan, memuja penuh damba yang memenuhi seluruh ruangan. Jerat cinta Raffael membuat waktu keduanya terasa lebih cepat dari biasanya. Dan kembali Raffael mengumpat dalam hati, Key kesulitan membuatnya berhenti, hingga dirasakan wanita itu mulai melemah perlahan dalam kuasa cinta Raffael yang begitu indah.


Pria itu tersenyum menyadari kegilaannya. Cinta membuat keduanya terasa begitu indah untuk tidak melewatkannya dengan sia-sia. Pria tampan itu mendekap hangat tubuh yang kembali pulas, kali ini karena kenakalan manis yang menghempas keduanya.


"Baby, I love you," bisiknya dan keduanya mulai terlelap.


____________________

__ADS_1


Catatan penulis:


Thanks yang masih setia membaca sampai saat ini, jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya guys. Terimakasih ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2