Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
17. Sebuah kebersamaan


__ADS_3

"Terimakasih, Jordan."


Dengan memantabkan hatinya Key masuk. Detak jantungnya semakin tidak bisa diajak kompromi, seiring netra indahnya memindai wajah tampan yang kini sedang berdiri menjulang, dengan posisi membelakanginya. Raffael menatap lurus ke depan, tanpa ekspresi mengabaikan kedatangannya.


"Aku tidak tahu, apakah perlu aku mengucapkan selamat datang, setelah sekian lama, kamu tidak menghendaki untuk melangkahkan kakimu di sini."


Bagai ribuan belati yang menancap di dada, Key merasakan sakitnya luka yang tidak berdarah. ucapan Raffael baru saja sangat menyakitinya.


Aku tahu, kamu kecewa, karena aku tidak bersedia bekerja di kantormu Raffael, tetapi apakah harus seperti ini caramu


menyambutku.


Masih betah pada posisinya, akhirnya wanita cantik itu memberanikan diri bicara.


"Raffael ..." panggilnya lirih.


Beberapa detik berselang, suasana tampak hening. Key menjadi serba salah, melihat Raffael tidak bereaksi apa-apa. Jangankan menjawab panggilannya, menoleh pun sepertinya pria itu tidak berhasrat.


"Aku tidak akan memaksamu untuk melihatku dan tersenyum, lalu sudi mengucapkan selamat datang padaku, Tetapi aku kemari hanya ingin menyampaikan sesuatu dengan segala hormatku padamu. Dan berterima kasih atas apa yang sudah kau lakukan pada keluargaku."


Entah eberanian dari mana yang membuatnya berani berucap seperti itu. Setelah sadar lidah Key menjadi tercekat.


Ia mengerti, Raffael gampang sekali tersinggung, kalau sudah membahas sesuatu menyangkut, apa yang dilakukanya untuk keluarganya.


Raffael menarik napasnya dengan kasar.


Dipejamkan matanya karena mendadak dadanya ikut terasa sesak. Dirinya sudah bisa menebak apa yang ingin disampaikan wanita itu, sampai dengan suka rela melangkahkan kakinya menuju ke kantornya.


Aku tahu key, peristiwa itu sangat


menyakitimu. Dan semuanya tidak


mudah, tetapi aku tetap saja tidak menyukainya kau bekerja di kantor


Andreas.


"Ijinkan aku bicara sebentar saja."


"Bicaralah,"perintahnya lagi tanpa menoleh.


"Sebaiknya tidak perlu menindaklanjuti


kasus Tirta Wijaya lagi. Aku bicara atas


nama papa. Kami sudah ikhlas, Raffael."


Seperti melepaskan sebuah beban yang sedang membelenggu kerongkongannya, akhirnya merasakan sedikit kelegaan di dalam hatinya. Hal ini berbanding terbalik dengan Raffael yang merasakan dadanya kembali mendadak bergemuruh dan terasa sesak.


Secepat kilat membalikkan badannya, manik kelam pria itu menatap tidak percaya, dengan apa yang baru saja di dengar. Key tampak berdiri masih dengan seragam kantornya yang dinilainya masih sangat sopan dan


menerbitkannya senyum dalam hatinya.


Rambutnya tergerai indah. Baju lengan panjang warna putih motif renda- renda, dengan hiasan pita kecil warna hitam, melingkar di bagian lehernya. Dipadukan dengan rok warna hitam selutut, dengan


sorot mata kesedihan, sesaat melemahkan hati Raffael yang sedang serius menatapnya.


"Saya sudah bisa menebak, apa yang ingin kau sampaikan," ucapnya dingin.


"Jangan tersinggung. Aku mohon ... aku tahu, tidak sepantasnya aku berani


berucap seperti itu, terlepas apa yang sudah kau lakukan pada keluargaku."


Raffael memajukan langkahnya mendekat. "Memang apa yang sudah aku


lakukan untukmu?" tanyanya datar tanpa ekspresi. Kalau ada hal yang menyebalkan, tidak lebih menyebalkan sikap Raffael saat ini.


"Apakah itu berpengaruh untukmu, Key?"


"Raffael_____"

__ADS_1


"Stop! Aku tidak tahu jalan pikiranmu.


Apakah kamu tidak ingin keluargamu mendapatkan keadilan hukum yang semestinya? Menghargai jerih payah, kerja keras, yang orang tuamu lakukan


selama ini?" cecar Raffael kini berdiri di hadapannya. Kedua tangannya dia sembunyikan di balik saku celananya


"Kamu salah besar, Raffael. Jangan mengguruiku bagaimana caranya menghormati keluargaku. Tetapi apakah


kamu pernah berfikir segala resiko yang


akan terjadi dan memperhitungkan perasaan orang-orang yang tulus menyayangimu terutama kedua orang tuamu?"


Senyum smirknya muncul tiba-tiba dan melangkahkan kakinya untuk lebih dekat


lagi.


"Apakah itu juga termasuk denganmu, hemm... " Raffael tersenyum mengejek


ke arah Key.


"Tidak, bahkan aku sangat membencimu,"


sinis Key seraya memalingkan wajahnya yang memerah. Ingin rasanya ia menenggelamkan diri ke dasar


bumi dengan sikap menyebalkan Raffael


saat ini.


Raffaella terkekeh mendengarnya. "Harusnya kamu tidak perlu repot-repot


datang ke kantor, kalau hanya ingin membahas ini, karena akan memerlukan


waktu yang sangat lama."


"Raffael aku bicara sungguh-sungguh." Key memberanikan menatapnya.


"Ingatlah, kau adalah pewaris tunggal Antara. Kalau terjadi apa-apa padamu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri, Raffael. Ia melangkah kecil dan mengambil duduk di pojok sofa yang berada di ruangan bahkan saat pria tampan itu belum menyilakan duduk.


Key tidak bisa mengendalikan perasaannya dia benar-benar mencemaskan Raffael di atas segalanya.


"Ingatlah, sebentar lagi kamu akan menikah, Apakah kau tidak pernah memikirkan perasaan Nova padamu?"


Raffael terdiam sesaat. Mengingat perempuan itu darahnya serasa mendidih. Tetapi di sisi lain ia sangat senang melihat reaksi Key mencemaskan dirinya. Walaupun tidak bisa di pungkiri


wanita itu bersikap simpatik kepada siapa saja dan banyak orang yang salah


mengartikan kebaikannya.


Suatu saat kau tahu, kalau ada peranan keluargaku dalam kehancuran Tirtawijaya group, apakah kau akan tetap seperti ini?


Mengingat akan hal itu, wajah Raffael mendadak mendung. Kadang dia berpikir


tidak pantas untuk bersanding dengan wanita di hadapannya kini. Tetapi hatinya juga belum siap untuk melepaskannya.


Saat ini mengembalikan seluruh hak Tuan Tirta Wijaya dan membuatnya bahagia, adalah keinginan terpendam yang ingin Raffael wujudkan dalam diamnya.


Mengingat hubungan yang terjalin dengan Andreas, Raffael dilema. Tidak ingin menunjukkan sisi kelemahannya dan mendorong Key dalam bahaya yang


mengancam nyawanya, dengan posisi anak tunggal pemilik Tirta Wijaya di masa lalu, Raffael berpura-pura tidak peduli dan membiarkan wanita itu berjalan dengan Andreas. Tetapi hatinya ternyata terluka.


"Apakah kau baik-baik saja?" Key bertanya mendapati Raffael yang mendadak diam.


"Sudah sore, sebaiknya kita kembali. Apakah Andreas menjemputmu?"


"Tidak, aku diantar sopir kantor."


"Rupanya kau mendadak menjadi penurut


karenanya," kata Raffael dengan mimik yang sulit dijabarkan. pria itu meraih jas kebesarannya yang tersampir di kursi.

__ADS_1


"Dia sudah kembali ke kantor, aku bisa naik taksi, karena aku mau ke butik sebentar."


"Apa! kau bahkan bekerja di malam hari?"


"Ada beberapa desain baju yang harus selesaikan, Jelasnya."


Kekesalan yang dirasakan pria itu dari tadi membuatnya menarik napas kasar. "Jangan keras kepala, aku akan kirim orang untuk menyelesaikan pekerjaanmu itu."


"Tidak bisa, hanya tanganku yang bisa menyelesaikannya." Key tetap tersenyum.


Raffael menggeleng tak percaya. "Suatu saat, kasus Tirta Wijaya kembali bergulir


sepertinya aku harus benar- benar mengurungmu."


"Aku sudah katakan, jangan dilanjutkan, aku hanya ingin hidup tenang dan tidak


menyusahkan banyak orang, " tatapnya dengan mimik memohon dan melangkah ke hadapan Raffael.


"Aku juga sudah katakan, jangan mencoba menghentikan langkahku ini, hidup dan mati seseorang hanya akan ada di tangan Tuhan."


Wanita itu tercengang. "Apakah kau tidak memikirkan keselamatan keluargamu," protesnya.


Raffael bangkit dari duduknya.Key berdiri, tetap bergeming dengan jari teremas kuat.


"Jangan terlalu di pikiran. Aku akan menjamin keselamatan keluarga besarmu. Tetapi aku akan sangat senang kalau kau mau memutuskan untuk resign saja dari kantor Andreas dan pindahlah ke kantor Antara."


Raffael kembali mengatur.


"Kamu bisa memilih tempat yang kamu sukai dan merasa nyaman dengan pekarjaanmu itu, atau tidak usah bekerja sama sekali," perintahnya seenaknya.


"Jangan membuat pilihan yang sulit untukku, karena cuma akan membuat kita salah paham lagi."


"Kamu yang membuat segalanya jadi sulit sendiri,Key!" Raffael kembali duduk di kursi kebesarannya. Sungguh dia tidak ingin intensitas pertemuannya dengan Andreas merusak segalanya.


"Kecuali kamu sudah terlalu nyaman dengan Andreas." Imbuh Raffael dengan mimik cemburu. Tetapi Key tidak mau ambil pusing. Ia sudah lelah diperlakukan manis oleh Raffael dan semua berujung pada harapan semu wanita itu.


"Aku hanya ingin mempunyai karier yang aku dapatkan dengan kerja keras sendiri


dan aku memang pantas mendapatkan posisi itu. Tolong jangan salah paham lagi. Raffael ...." Key memelas.


"Kenapa kau bertekad untuk membuka kasus itu kembali?" Apakah kau sudah ada bukti yang cukup?"


"Aku hanya ingin mengungkap suatu kebenaran saja. Hatiku terpanggil untuk


itu dan aku tidak bisa berdiam diri," jawabnya tegas.


"Keluarga besarmu tahu tentang hal ini?"


Berpikirlah ulang untuk memulai semuanya, Raffael


harta bisa di cari. Tetapi menemukan keluarga jelsa tidak mudah.


"Aku sudah tahu resikonya, di samping kamu tidak gila harta, key!" Volume suara Raffael meninggi, membuat wanita itu hanya memilih untuk diam tidak melanjutkan ucapnya.


Key sangat mengenal Raffael, dia tipe orang yang tidak bisa melihat ketidak adilan di depan matanya.


@***********


Visual Key saat bekerja kira- seperti ini ya! maaf foto terbatas.



_____________


Catatan penulis;


Sahabat tersayang 😘


jangan lupa untuk like dan komentarnya,ya! Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2