Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
41. Andreas dan cintanya


__ADS_3

Waktu berjalan terasa lebih lama. Seakan tidak sabar untuk menunggu hari esok , Andreas beberapa kali melakukan panggilan telepon kepada Key. Tetapi


beberapa kali juga, Ia harus menahan rasa kecewa, saat hanya terdengar suara operator yang sedang menjawab, bahwa nomor sedang tidak bisa dihubungi.


"Apakah kau sedang tidak ingin diganggu?" Berjalan dengan gelisah dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya dan mengingat ucapan Raffael,


membuat hatinya semakin kacau.


Menghadiri pesta pernikahan rekan bisnis dan dinner romantis yang telah disiapkan


semua hancur berantakan. Andreas tidak


berminat lagi.


"Aku tidak pernah meragukan, Raffael, bisa menjagamu dengan baik. Tetapi aku ingin memastikan sendiri dengan mata kepalaku, bahwa kau baik-baik saja. Di samping rasa penasaranku, "Apa yang sedang terjadi padamu ?" Andreas berdiri menatap keluar dari balkon rumahnya.


Hari masih terlalu pagi, hari ini Ia memutuskan untuk berolahraga outdoor berharap bisa melihat kebersamaan Raffael dan Key di tempat biasa mereka


suka berolahraga bersama.


Andreas sangat yakin Key beserta keluarganya, masih tinggal di ibu kota, dengan campur tangan,Raffael. Andreas sangat mengenal tempat-tempat favoritnya. Keduanya mempunyai selera


yang sama.


Tidak jarang mereka berburu hunian exclusive bersama untuk, menunjang masa depan mereka. Begitupun seleranya terhadap wanita, Andreas dan Raffael mempunyai cara pandang yang kurang lebih sama pula.


Dengan snow country jacket warna biru dongker yang selalu menjadi favoritnya, Andreas melaju dengan cepat menuju kawasan padang golf di utara Ibu kota.


Menembus kabut pagi yang masih pekat.


Jalanan masih terasa lengang karena, aktivitas ibukota yang masih sepi.



Hari itu Andreas bahkan ingin pergi seorang diri tanpa pegawal yang biasa


menemaninya. Setelah mendapat valet parking service VIP, langkahnya perlahan


menyusuri trotoar dipinggiran venue yang


menjadi tujuan utamanya.


Matanya menatap sekeliling yang masih terlihat sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka. Bahkan


di tempat Raffael biasa melakukan joging ringan, juga tidak menampakkan kehadiran mereka.


"Mungkin mereka ada ditempat yang lainnya?" Duduk menatap lurus kedepan,


Andreas seperti kehilangan selera untuk


melakukan apapun. Tangannya kembali


meraih ponselnya dan terdengar berbicara dengan seseorang.


"Cari informasi tentang mereka, tetapi jangan sedikitpun mengganggunya. Cukup tahu keberadaan mereka saja," perintahnya dan segera mengakhiri panggilannya.


Pria itu menggelengkan kepalanya tidak mengerti.

__ADS_1


Aku yakin kamu baik-baik saja, tetapi kenapa aku gelisah tanpa kabar darimu, beberapa hari saja? Bukankah Raffael telah mengatakan semua, kalau kau baik-baik saja?


Empat tahun menjadi rekan kerjanya, tidak semudah membalikkan telapak tangannya untuk terbiasa tanpa kehadirannya. Andreas terbelenggu perasaannya, karena intensitas kedekatannya dengan, Raffael. Orang lebih mengira Raffael dan Key adalah sepasang kekasih dari pada dirinya.


Keduanya terlihat sangat kompak dan saling mendukung dalam segala hal. Sementara Andreas adalah seorang penonton yang berharap dalam diam.


Ia sangat menghindari konflik dengan Raffael. Terlebih key selalu mengatakan belum ingin berkomitmen dalam bentuk apapun, dalam setiap pembicaraannya.


Membuat Andreas menangkap sesuatu, ketidaknyamanan wanita itu soal asmara.


Key seperti membangun dinding privasi yang sangat kuat untuk urusan hatinya. Sejak kehancuran perusahaan keluarganya. Walaupun sekilas wanita itu kelihatan care dan baik kepada siapa saja, tetapi hatinya tidak mudah tersentuh perhatiannya.


Dan Andreas menyadari itu semuanya dan selalu berharap, bisa menenangkan


hatinya suatu saat nanti.


🍁🍁🍁


Di mansion Raffael melakukan olahraga ringan ditemani Jasson yang sedang mengawalnya.


"Mulai sekarang, kau berjaga di mansion dan mengawal nona Key kemanapun pergi. Dan jangan lupa bilang padaku, apabila Nona ingin bepergian keluar," tangannya terlihat sangat sibuk membenahi tali sepatunya dan sesaat kemudian sudah terlihat mengerak- gerakan tangan dan kakinya.



"Kau tidak ingin berolahraga?"Jasson hanya meringis memperlihatkan giginya. Tubuhnya yang terlihat paling besar dibandingkan dengan kedua saudaranya, diam-diam sangat intoleran dengan hawa dingin sekitar mansion.


Raffael menggeleng heran. "Dasar, aneh! Kalian benar kembar tiga?" Sepasang matanya tidak melihat adanya kemiripan berlebih layaknya saudara kembar.


"Benarlah, bos! Kami bukan kembar identik, tetapi lahir di jam yang sama, dengan cara yang sama, dan rasanya sama pula," jawabnya sambil terkekeh.


"Iyalah, Bos! Mengejanya sama saja sakitnya, Bos!" balasnya dengan tertawa geli.


Raffael termenung sebentar, dalam hati dia tidak akan mengijinkan, Key, untuk melahirkan secara normal. Suatu saat mereka dipercaya memiliki buah hati.


"Hemm ... "jawabnya lalu kembali berolahraga.


"Apakah Tuan muda berencana membuat pewaris tahta kembar tiga juga?" Raffael menghentikan gerakannya dan menatap tajam Jason, sementara Jasson hanya tertawa menyeriangi seperti anak kecil, menunjukkan wajahnya yang terlihat sangat menyebalkan.


"Tuan Muda dan Nona sama-sama anak tunggal, sudah semestinya tuan muda mencetak hattrick," Sebuah headset melayang mengenai tubuh jasson dan menangkapnya dengan sangat tepat.


"Kamu pikir segampang itu!"


"Tuan muda, apakah kau mengaku kalah dibanding orang tuaku?!"


"Jasson!!"


"Tuan muda!" Jangan terlalu tegang, saatnya tuan muda menyenangkan diri


sendiri, menikah dan mempunyai anak yang akan meramaikan mansion nantinya," tawa lebar jasson pagi itu sudah cukup berisik ditelinga Raffael.


Menikah dan punya anak? pasti sangat menyenangkan tetapi Key akan kesakitan.


Raffael menatap Jasson yang terus menggodanya, ingatannya kembali ke masa lalu, karena sulit mendapatkan keturunan, kakeknya mengangkat anak


dan menimbulkan perpecahan dalam keluarga.


"Sekarang banyak teknologi canggih, tuan muda, tidak perlu tegang seperti itu,"

__ADS_1


suara jasson kembali berisik memecah keheningan yang sempat terjadi.


Tentu saja aku menginginkan seorang anak, karena melakukan cara adopsi, aku sudah bertekad, itu tidak akan pernah terjadi, apapun alasannya.


Raffael menghentikan gerakannya dan menyambar air minum yang terletak di samping Jasson.


"Begitu kasus mulai bergulir, awasi Nona Key dengan benar, karena aku tidak mengijinkan dia keluar Mansion. Dia akan melakukan semua aktivitasnya dari dalam mansion saja," Raffael menutup botol minumnya, setelah menenggaknya hampir habis.


Tuan muda tidak perlu khawatir, saya sudah mengerahkan seluruh anak buah saya untuk menjaga mansion dan juga wanita ular itu," jelasnya.


"Kau apakan dia?" Raffael mengernyitkan dahinya setelah menangkap hal tidak beres dari wajah jasson.


"Aku hanya meminumkan obat perangsang yang disediakan oleh wanita itu untuk Tuan muda. Apakah tuan muda tahu wanita ular itu, begitu yakinnya akan berkencan denganmu saat itu,"kekehnya geli. Apalagi saat mendapati laporan anak buahnya, beberapa kali anak buah


Dave harus memakaikan bajunya, Karena wanita itu kepanasan dan melepaskan kain penutupnya dengan sendirinya.


"Sialll...!!" Itu urusanmu, tetapi jangan main hakim sendiri, yang membuat kita rugi sendiri. Begitu laporan masuk seret dia kepada pihak yang berwajib sebagai


bukti.


"Tenang saja Bos!!"


"Ingat, Jasson. Jangan melanggar hukum yang serius, karena mereka dengan mudah tahu kelemahan kita," nasihat Raffael serius.


"Semua sesuai prosedur, Tuan muda!" Tidak perlu cemas.


"Bagus! Baiklah kita kembali ke mansion sekarang," Langkahnya yang begitu cepat membuat Jasson yang mengekor di belakang Raffael setengah berlari kecil.


Pemandangan peertama ketika masuk mansion adalah hidangan yang menggugah selera dan sudah bisa menebak siapa yang membuatnya.


"Cepatlah mandi, papi dan mami sudah menunggumu untuk sarapan," tangannya


terulur memberikan segelas susu dan dengan manis mengusap peluh, Raffael dengan jemari tangannya.


"Aku sudah katakan, jangan terlalu lelah!" protesnya. Walaupun tidak dipungkiri masakan kekasih hatinya itu, selalu dirindukannya tetapi Raffael tidak ingin melihatnya kelelahan.


"Aku cuma membuat macaroni schotel dan menambahkannya daging, potato,susu dan sedikit keju saja. Cepatlah mandi," usirnya dengan mendorong dada Raffael.



Raffael menatapnya dengan intens, ucapan jasson tentang anak kembali menggelitik hatinya. Membayangkan wanita yang berada didepannya itu dengan perut buncit mengandung buah cinta mereka.


"Raffael!" Suaranya sedikit meninggi yang seketika membuatnya tersadar, apa yang sedang dipikirkannya.


"Baiklah," bibirnya menyambar pipi mulus Key dan membuat pemiliknya kembali merona.


" Aaaa !! Kau sangat bau," ejeknya dan hanya mendapat senyuman simpul dari


kekasihnya itu.


_______________________


Sahabat tersayang visual sangat terbatas,maaf ya kalau tidak sesuai πŸ˜€


Aku tunggu like dan komentarnya,ya.


Terimakasih sudah berkunjung 😍

__ADS_1


__ADS_2