
Jordan yang baru masuk ke ruangan Raffael, terlihat sangat kaget. Dengan posisi berdiri memunggunginya, kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Dengan memandang lurus, seakan menembus dimensi waktu yang hanya dia sendiri yang tahu.
"Astaga, Raffael, ada apa kau teriak-teriak seperti ini?"
"Apakah aku harus mengulang, Jordan. Aku butuh informasi seputar NAM GROUP secepatnya," titahnya dengan penuh penekanan.
"Bersabarlah sedikit, jangan seperti ini. Kita juga harus hati-hati. Banyak musuh mengintai."
Dengan gerak cepat, Raffael memutar tubuh untuk sepenuhnya menghadap sang asisten. Wajahnya menegang dan tampak begitu kacau. Napas memburu pria itu memperlihatkan dadanya yang naik turun. Kilat amarah jelas terpancar dari wajahnya yang tampan, membuat sorot mata itu terlihat mencekam.
"Aku tidak punya banyak waktu, jodran!"
"Semua orang-orangku sedang bekerja keras, percayalah tidak akan lama lagi. Kendalikan dirimu, Raffael," nasehat Jordan berulang.
Sedikit banyak tahu sifat tak sabaran Raffael, Jordan mencoba untuk tetap tenang.
"Kau harus berhati-hati hati."
Raffael menoleh dan tersenyum sinis Jordan dan mengikis jarak mendekat ke arahnya.
"Aku tidak sebodoh itu."
Raffael kali ini melangkahkan kakinya menuju sebuah brankas baja rahasia. Setelah memasukkan kode tertentu tangannya terulur mengambil foto yang ditemukan saat awal bertemu dengan perempuan penuh teka-teki tersebut.
"Lihatlah ini, jangan banyak bertanya, aku yakin kau bisa berpikir dengan cepat. Nanti malam datanglah ke rumah, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," perintahnya.
"Dari mana kamu mendapat foto itu, Raffael?" Wajah-wajah familiar pada selembar foto itu dengan cepat terambil alih dari tangan Raffael, memastikan bahwa apa yang dilihatnya tidak salah.
"Astaga!! Rahasia apa lagi yang sedang bermain dalam otakmu." Jordan
menggeleng pelan dan kembali menatap Raffael dengan tatapan bingung dan tidak mengerti. Saat ini ia hanya fokus dengan keterlibatan anak buah Dave. tetapi ternyata ada yang membuatnya terperanjat kali ini.
"Oh, My God, Raffael, berarti Nona, K-e-y____"
"Lakukan apa saja untuknya, aku yakin Andreas tidak melakukan apapun, ia tidak paham dengan semua permasalahan yang terjadi di masa lalu keluarga besar, Key," tegasnya dengan mata berapi-api.
"Tenang -tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja. Jangan seperti ini." Tangannya mengusap punggung Raffael dengan pelan.
Bukan hal yang baru, Raffael akan berbuat apa saja untuk Nona muda keluarga Tirta Wijaya itu, tidak heran keputusannya untuk bertunangan dengan wanita bernama Nova, yang baru dikenalnya menyisakan tanda tanya besar untuknya. Tetapi perlahan dan pasti Jordan mulai memahaminya
sedikit demi sedikit tujuan Raffael.
"Nanti malam datanglah ke rumahku, aku akan ceritakan semuanya. Katakan pada Nova, beberapa hari ini aku tidak bisa menemuinya, karena aku urusan bisnis
ke luar negeri."
"Baiklah ... baiklah. Semua akan aku atur dengan baik. Kamu tenang saja. Istirahat lah."
****
Angin malam menderu kencang, seiring hujan turun rintik-rintik membelah jalanan Ibu Kota J yang mulai sepi. Jordan pergi dengan mengendarai mobilnya di atas kecepatan rata-rata, berharap tepat waktu sampai tujuan. Mengingat Raffael bukan tipe orang yang suka menunggu.
Walaupun ini bukan jam kerja, Jordan yakin pasti ada sesuatu yang penting ingin dibicarakan oleh Raffael. Mengingat
besok malam ada pertemuan penting yang sifatnya sangat rahasia dengan orang-orang kepercayaannya.
"Benar-benar bisa gila lama-lama aku, Raffael. Dengan kejutan-kejutanmu yang kadang bisa membuat copot jantung ini.
__ADS_1
Besok aku harap segalanya akan mulai terbuka dengan perlahan. Aku tidak mau terus menduga-duga dan was-was setiap saat," guman Jordan pelan, sambil terus berpacu dikesunyian malam.
"Dasar Bos gila tapi baik hati," kekehnya geli sendiri. Mau tunangan saja serasa mau menginvasi sebuah Negara. Penuh rahasia dan menegangkan. Bagaimana kalau mau menikah? Hem ... benar-benar Bos ga jelas," tawanya seketika pecah, untuk mengurai ketegangannya sendiri.
"Apa sebenarnya yang sedang kamu sembunyikan, Raffael? Wajah Jordan Mendadak menjadi serius kembali.
"Mau menikah dengan nona Nova yang belum lama dikenalnya, tapi disisi lain dia menjaga nona Key dengan sekuat tenaga. Ada yang tidak beres, apa lagi foto itu. Hanya seorang psikopat yang melakukan hal- hal gila seperti itu. Tetapi siapa?"
Jordan terus melaju. Sesekali terdengar decitan mobilnya yang meluncur deras.
"Raffael tidak mudah jatuh cinta, bahkan si, Bos, cuma punya teman dekat wanita satu-satunya seumur hidupnya yaitu nona Key. lalu di mana dia menemukan Nona Nova ?"Jordan tampak berpikir. "Sangat aneh, bahkan dia menyuruh kedua-duanya dalam pengawasan dan penjagaan super ketat."
Kejanggalan demi kejanggalan di rasakan oleh Jordan."Dan foto itu? Siapa yang sedang bermain- main dengan Nona ,Key dan keluarganya? Raffael juga mempersiapkan dua buah gaun mewah untuk keduanya ha..ha.. bener-bener tidak masuk diakal. Tidak sabar rasanya melihat adegan ke depannya."
Asyik bermonolog sendiri, tak sadar mobil Jordan sudah semakin dekat.
"Apakah si,Bos, mau menikah dengan keduanya?" Kembali wanita itu dibuatnya tak mengerti.
"Beruntung sekali, bos!"Jordan tertawa sendirian. Mobilnya berhenti. Seseorang telah menunggu dan membukan pintu gerbang rumah pribadi Raffael yang megah.
"Kamu tahu aku tidak suka dengan jam karet?" terdengar suara Raffael yang sudah tidak sabar karena menunggu.
"Ahhh, Bos!" Yang benar saja, aku sudah mengendarai mobil saya dengan kecepatan super jet. Bagus jalanan tidak macet dan kena tilang polisi, mana mungkin jam karet! protesnya tak terima.
"Terserah kamu, tidak penting. Yang terpenting sekarang semua yang aku perintahkan berjalan dengan lancar.
Ingat, Jordan! Ini bukan hal yang sembarangan, kita tetap harus hati-hati."
Jordan bahkan belum sempat duduk, saat mendengar cecaran Raffael.
"Apakah kamu tidak ingin duduk? Duduklah, aku rasa kamu sangat lelah kecuali kamu ingin berdiri terus."
"Satu hal lagi, disaat kita cuma bicara berdua saja, berhenti memanggilku, Bos! Ingat itu! Aku rasa kamu tidak lupa dengan namaku.
Raffael dengan segala sisi lainnya, sangat tegas tetapi sangat loyal dengan para sahabatnya, tapi untuk urusan pekerjaan jangan salah, Raffael siap mengaum seperti singa hutan yang kelaparan setiap harinya.
"Ok,ok, slow, sebenarnya kamu kenapa Raffael? Kamu mau bertunangan tapi disisi lain kamu sangat tegang dan menakutkan. Bahagia sedikit,lah!" Jordan kali ini berbicara selayaknya seorang sahabat.
"Jordan, apa ada hal-hal yang mencurigakan dengan NAM GROUP?" Bagaimana dengan kompetitor lain, SMRC,DELTA dan yang lainnya?"
Lagi Nam group. Dia bisa senewen kalau sudah urusan itu.
"Semua on the right track dan tidak ada yang mencurigakan. Mereka bersaing wajar. Kecuali NAM seperti dugaanmu, ada banyak kejanggalan di dalamnya. Bersabarlah masih diselidiki. Sebentar lagi akan ketahuan."
Pria itu mengembuskan napasnya ke udara kesal.
"Dia seperti tercipta sebagai perusahaan tandingan, Jordan. Untuk mengambil proyek-proyek penting di sektor properti ANTARA akhir- akhir ini.
"Aku juga menangkap hal seperti itu?
tidak perlu cemas, aset mereka tidaklah ada apa-apanya dibandingkan dengan
ANTARA. Semua aman terkendali." Jordan menenangkan Raffael kembali.
"Apakah kau tetap akan bertunangan dengan Nona Nova?"
"Jalankan saja perintahku,"jawab dingin.
__ADS_1
"Kenapa melihat ku seperti itu? Apa ada yang lucu?"pria itu sedikit salah tingkah.
"Untuk urusan pribadimu,aku benar-benar bingung.Terserah saja, yang terbaik untukmu. Mau dua, tiga, wanita yang ingin kamu nikahi," ejek Jordan. Dia bisa mati berdiri dengan percintaan dadakan Bosnya yang tampan tetapi menyebalkan itu.
"Dave, benarkah dia mulai mendekati, key?"
Kali ini Jordan tertawa meledak. "Sudahlah Nikahin Nona Key dari pada bertanya melulu. Bukankah gaunnya ada dua?"
"Aku tanya sungguh-sungguh, Jordan.
Nova butuh berganti gaun," Raffael beralasan.
"Tuan muda, Dave dan Andreas adalah dua orang yang sedang dekat dengan Nona, Key," terangnya. Wajah Raffael seketika memegang.
"lagi pula siapa kuat menolak pesona Nona, yang Cantik,baik, pintar dan mandiri belum lagi senyumannya mengalihkan dunia, mantanya ohh, Ghost," seloroh Jordan sambil tertawa.
"Jordan, stop it!
"Sebelum terlambat, Raffael. Dari pada salah pilih. Barangkali kau berubah pikiran, hemm?" kekehnya untuk menghilangkan ketegangan pria itu.
Demi apapun sang asisten juga berharap seperti itu.
"Aku tunggu besok apa yang ingin kau sampaikan. Jangan suka menanggung beban sendirian, Raffael. Sejauh apa kau
mengelabuiku, aku percaya ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan."
"Kau akan tahu dengan segera," jawabnya yakin.
"Maaf, mengganggu waktu istirahatmu." Setelahnya memberikan sebuah amplop untuk Jordan, karena tidak dipungkiri pria itu adalah tangan kanannya yang luar biasa.
"Kau menyuruhku kemari untuk hal ini?" Ia sedikit heran menerima amplop itu, namun begitu dibuka membuat bola matanya membola tak percaya.
"Raffael___"
"Iya. Pindahlah ke rumah yang telah aku berikan padamu dengan keluargamu. Terus terang mulai saat ini, aku akan
sering memerlukanmu."
Sebuah sertifikat rumah mewah yang alamatnya terletak tidak jauh dari Kediaman, Tuan Besar Bimantara, orang tua Raffael.
"Terimakasih banyak, Brother!" Tak bisa pria mengungkapkan dengan kata-kata.
Bos-nya memang penuh kejutan. Siang hari masih marah, malam hari justru bonus melimpah ruah.
" Itu kedengaran jauh lebih enak didengar.
Kamu boleh kembali atau bisa tidur di guest house," perintahnya.
______________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang, Terimakasih
sudah berkenan mampir. Jangan lupa
like dan komennya, ya! Terimakasih
__ADS_1
๐๐