Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
26. Gelisah


__ADS_3

Andreas melirik dengan sudut matanya, setelah dirasa tidak ada yang patut di cemaskan, akhirnya dia pun berlalu.


"Ada apa sebenarnya?" Pria itu pun mengingat-ingat, akhir-akhir ini Key lebih


banyak diam dan bicara seperlunya saja.


Ia juga pernah memergoki secara tidak


sengaja wanita itu menangis saat di kantornya.


"Apakah dia sedang dalam masalah?"


Merasa tidak tenang, Andreas memutar balik mobilnya dan melaju ke kediaman


Tuan Tirtawijaya. Jalanan yang lengang


memudahkan Pria itu untuk cepat sampai.


Tuan Tirtawijaya cukup kaget dengan kedatangannya putra sulung pemilik Wiratama Group itu. Terlebih ini adalah


hari libur, tidak biasanya seorang Bos


repot-repot datang ke tempat karyawannya.


"Key sedang tidak ada di rumah, nak. Kebetulan dia sedang bersama Raffael,


ada kepentingan mendadak," jelasnya.


Raut wajah pria itu mendadak berubah. Namun dengan segera ia menetralkan


perasaannya. Senyumnya mendadak terbit, saat mengingat Raffael sekarang ini sudah berkomitmen dengan Nova.


Setelah berbincang cukup lama, akhirnya


Andreas pamit untuk pulang.


"Pergi dengan Raffael? Haruskah dia sampai mematikan ponselnya? Mudah-mudahan ini hanya perasaanku saja." Dengan segera dia masuk ke mobilnya dan melaju dengan cepat.


******


Hari sudah beranjak sore. Raffael tidak ada tanda-tanda akan mengantarnya


pulang. Key menjadi serba salah. Raffael bahkan tidak menampakkan dirinya sejak


siang dan terus berkutat dengan begitu banyaknya pekerjaan dan sempat keluar di jam makan siang saja.


"Apakah dia seperti ini, saat di hari liburnya?" Bekerja dan terus bekerja. Diakui olehnya mengendalikan perusahaan sebesar Antara yang bergerak di pelbagai sektor


tidaklah mudah. Hal ini yang membuat hatinya begitu trenyuh saat Raffael masih


memikirkan untuk mengupayakan keadilan hukum untuk keluarga besarnya.


Rumah mewah itu terasa sepi. Bangunan yang didesain sedemikian rupa dengan gaya minimalis modern tersebut terlihat


paling menonjol di seluruh area cluster.


Sebuah interkom doorbell yang biasa menangkap kedatangan para tamu terlihat sepi dan hanya menampakkan luar rumah yang begitu lengang.



"Sayang?" Wanita bernama Liliana itu datang menghampirinya yang terlihat bingung.


"Emm_ Ma__ Mami?" Key berkata dengan sedikit gugup.


"Pasti kamu mencari Raffael, kan? Biasa,


anak nakal itu tidak bisa berhenti untuk

__ADS_1


tidak memikirkan pekerjaannya."


Key tersenyum mendengarnya."Saya cuma mau pamit pulang saja, hari sudah sore," ijinnya sopan.


"Menginap di sini saja, sayang.Bukankah besok masih libur?" Dengan tatapan memohon Nyonya besar sambil menahan lengan Key.


"Terimakasih. Tetapi Lain kali saya akan kemari, Mam."


Wanita dengan rentang usia kira-kira di atas setengah abad itu terlihat kecewa.


"Biar Raffael yang mengantarmu pulang."


Dengan tidak bisa menutupi seraut wajahnya yang sedih, kedatangan Key membuat suasana rumah terasa terasa berbeda.


Hal ini yang membuat nyonya Wijaya


bahagia dan berandai-andai menjadikan Key sebagai menantunya.


"Tidak perlu, Mam, Raffael sepertinya sangat repot. Biar saya pulang sendiri saja. Mami tidak perlu khawatir," tolak Key sopan.


"Tidak bisa, sayang. Anak keras kepala itu yang membawamu kemari, sudah seharusnya dia yang mengantarmu juga."


Key kembali menggeleng. "Sepertinya Raffael masih bekerja, saya akan pamit denganya sebentar."


Nyonya besar hanya mampu menatap punggung Key yang sedang menaiki tangga dengan sedih.


Apa yang kamu lakukan di dalam, apakah


pekerjaan sangat menyitamu sekejam ini.


Aku tidak menyangka mencintaimu akan


serumit ini. Bagaimana bisa aku hanya berdiam diri tanpa memikirkan apapun, kalau setiap saat kau selalu melakukan


hal-hal yang tidak terduga untukku.


pintu lebih dahulu.


"Apakah aku mengganggumu?"


"Masuk saja," perintahnya dari dalam.


Setumpuk berkas menjadi pemandangan


pertama yang membentang di hadapannya. Dengan wajah letih Raffael menggeser beberapa berkas dari hadapannya dan menuggu


Key untuk berbicara.


Sejenak hal ini mengingatkannya akan pekerjaannya, saat di kantor Andreas. Ada rasa bersalah dalam dirinya menolak untuk bekerja di kantor, Raffael. Apalagi


saat ini pria di hadapannya itu sedang memperjuangkan keluarga nya.


"Sepertinya kamu sangat sibuk sekali?


"Ada berkas yang harus aku pelajari, sebelum aku serahkan ke pengacara


untuk bahan pelaporan."


Rupanya Raffaell sedang mendalami berkas Tirtawijaya group.


"Apakah ada yang bisa saya bantu?" Key bertanya dengan sedikit ragu, mengingat selama ini selalu saja bersikeras menolak setiap Raffael menyuruhnya untuk pindah ke kantornya.


Raffael tersenyum."Tidak perlu, sebaiknya lebih baik kau tidak tahu hal


ini dan berdoa saja, semoga semua berjalan dengan semestinya."


"Kenapa, Raffael?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ini bukanlah pekerjaan kantor yang selayaknya kamu ketahui."


"Aku tahu, kamu mengetahui sesuatu.


Karenanya tidak mungkin kau berani mengungkap kasus ini, kalau tidak ada bukti yang sangat kuat."


"Maaf, sebagai putri tunggalnya, aku belum bisa bicara apa-apa padamu, tetapi suatu saat kau akan mengerti," jelasnya seraya mematikan laptop.


Perempuan itu terdiam. Sorot matanya


menyiratkan banyak sekali pertanyaan, tetapi terlalu cerewet menanyakan kepada Raffael, Key tidak mempunyai keberanian.


"Maaf, kali ini aku melangkahimu," ulang Raffael lagi.


"Urusan Tirtawijaya group adalah urusanmu dan Papa. Selama Papa


menghendaki dan nyaman dengan semua ini, aku tidak ada masalah."


"Bagus," jawabnya dengan senyum memperlihatkan wajah puas. Tak ada lagi niat untuk berbicara dengan volume suara meninggi seperti biasanya.


"Cuma ada satu hal yang aku pikirkan, suatu saat kasus ini muncul ke permukaan, pasti akan banyak sekali orang yang beranggapan ada pihak tertentu yang berdiri di belakang Papa.


Mengingat kami tidak memiliki kekuatan," ujarnya lirih dengan sedikit menunduk.


"Aku tidak peduli. Jangan mencemaskan apapun." Raffael sama sekali tak berpengaruh.


"Tidak bisa seperti itu, aku seperti membawa orang lain menuju pusaran


yang membahayakan."


"Kau tidak percaya padaku?" tegas Raffael dengan tatapan yang begitu kelam.


"Aku percaya padamu. Tetapi aku juga cemas memikirkan kalian. Kamu tahu di dunia ini, aku hanya memiliki mereka berdua. Papa dan Mama. Aku tidak ingin


terjadi apa-apa dengan mereka, begitu pun juga denganmu."


Kau tidak sendiri, Kau memilikkiku untuk


kau jadikan sandaran hidupmu.


Perempuan itu tampak berkaca-kaca dengan sorot mata pasrah. Tidak pernah Raffael melihat Key begitu rapuh dan tidak berdaya seperti ini. Bahkan dia jauh lebih memikirkan keselamatan orang lain dari pada dirinya sendiri.


"Jangan terlalu dipikirkan, mana Key yang


aku kenal selama ini,hmm? Aku membenci air mata ini, karenanya jangan sekali-kali kau berani menumpahkan, saat kau berada di hadapanku." Raffael mengusap pipinya dengan lembut.


Raffael sudah tidak memikirkan apapun, saat di lihatnya kristal bening itu mulai bercucuran. Key menangis tanpa suara, yang membuat hatinya ikut merasakan perih karena pemandangan ini.


Kau bahkan sudah menumpahkan air mataku setiap hari, tanpa kau ketahui.


Kalau mencintaimu harus dengan seikhlas ini, tolong katakan padaku, bagaimana caranya, aku untuk tidak memikirkanmu sedetik saja.


"Hey, kenapa sesedih ini? Lihat aku, ada aku di sini. Tidak akan terjadi apa-apa.


Semua akan baik-baik saja, Ok." Raffael menangkup wajah cantik itu dengan perasaan bergemuruh.


Keduanya saling tenggelam dalam tatapan menumbuk dan memangkas jarak di antara mereka, ketika kedua kening mereka menyatu dengan sangat lama, untuk memberikan kekuatan.


"Jangan seperti ini ... aku mohon," bisik Raffael lirih.


_______________________


Sahabat tersayang ๐Ÿ˜˜


jangan lupa like dan komennya, ya.


Terimakasih ๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2