Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
120. Semua berawal dari hati


__ADS_3

Raffael tersenyum memperhatikan, Key yang sedang menyuapinya dengan salat sayuran ke dalam mulutnya. Beberapa kali tatap matanya yang tajam tidak berhenti mengganggumi kecantikan istrinya itu. Jemarinya merapikan anak rambutnya yang sedikit menjuntai dan menyelipkannya di belakang telinganya,


dengan romantis. Menyadarinya wajahnya sedikit memerah dan tersipu- sipu.


"Baru seminggu lebih kita menikah, kamu sudah kembali menyibukkan diri lagi..." ucapnya pelan dengan membersihkan bibir Raffael dengan tangannya.


"Sekalian kita berbulan madu di sini, sayang. Karenanya aku tidak menyuruh Jordan kemari. Lagipula dia sekarang sedang kasmaran dengan sahabatmu itu," balasnya dan kembali menatap layar yang sudah kembali menyala di hadapannya.


"Mereka butuh menyenangkan dirinya sendiri juga."


"Hemm... karenanya aku memberi cuti untuknya."


Key tersenyum, "Habiskan sayurannya lebih dahulu!" protesnya dengan sedikit mengeluh, karena Raffael kurang menyukai sayuran, kalau tidak terpaksa. Dan dia harus mengakalinya setiap saat sedang makan.


"Aku sudah kenyang, baby," Pria itu menahan suapannya dengan halus dan membuat Key mengerucutkan bibirnya.


"Seperti anak kecil, tidak suka sayuran," gerutunya. "Kalau perutmu membuncit, aku akan memberikan satu keranjang sayuran setiap hari, seperti seekor sapi yang memakan rumput," ledeknya.


"Adanya perutmu yang sebentar lagi akan membuncit, Cara," bisik Raffael kail ini sukses membuatnya membeku. Membayangkannya wanita itu kembali tersipu- sipu dan membuat Raffael gemas melihatnya. Tangannya tidak sengaja meraba perutnya yang datar, dan tidak ada tanda-tanda dia merasakan gejala awal kehamilan.


"Tetapi aku tidak merasakan apa-apa, Raffael," jawabnya pelan dengan muka sedih.


"Cara kita belum dua Minggu menikah. Kita boleh senantiasa berharap, tetapi Jangan memikirkan hal itu terlalu berlebihan. Aku tidak ingin melihatmu sedih, memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya," protes Raffael tidak suka.


Raffael sadar, faktor kedua orangtuanya, yang sangat berharap kehadiran seorang cucu akan cepat lahir, membebani wanita yang dicintainya itu.


Key kembali terdiam. Ini baru awal menikah, bagaimana dengan mereka yang menunggunya dengan sangat lama?


Ingatannya membawa pada kehidupan pernikahan Caroline dan Bryan yang selama bertahun-tahun menuggu kehadiran sang buah hati. Tetapi sepertinya Tuhan belum mengabulkan doa mereka.


Mereka saja bisa bersabar. Kenapa aku tidak? Kemudian Key tersenyum.


Menyadari keterdiamannya, Raffael memeluknya dengan sayang. "Apa yang kau pikirkan? Aku sudah bilang, kita kemari untuk bersenang-senang, bukan memikirkan hal yang lainnya," Mata kelamnya menyasar netra indahnya dan membuat Key semakin tersipu, menyadari intensitas percintaan mereka yang sangat panas.


"Sepertinya aku perlu menghamili mu, sekarang ini, baby?" bisik Raffael nakal. Mendengarnya pipinya semakin merona dengan kemesuman, Raffael, yang bukan rahasia lagi baginya.


"Kau ini!" Kita baru saja sampai, dan kau juga perlu beristirahat," Raffael tertawa mendengarnya. Perjalanan yang lumayan lama ke Dubai cukup membuatnya penat.

__ADS_1


"Sepulang dari sini, apakah kamu ingin kita ke Palace lagi?" tawarnya tanpa melepaskan pelukannya.


Key menggeleng pelan. "Tidak. Kita baru saja pulang dari sana. Dan sepertinya tempat ini tidak kalah romantisnya dengan Palace," wanita itu memperhatikan wajah, Raffael dan mempertemukan iris mata mereka dengan lebih intens. Bayangan resort Arkey kembali memenuhi otaknya dan saat ini wanita itu sedang mencari kesungguhan dari wajah tampan suaminya itu.


Apakah Raffael sungguh-sungguh, atau hanya sedang mengujiku lagi.


"Ada apa sayang? Menyadari Key memperhatikannya dengan serius.


"Hemm... ti__tidak. Kau hanya terlihat semakin tampan saja," pujinya dengan mencoba mengalihkan perhatian, Raffael.


"Sejak dahulu, suamimu itu, memanglah sangat tampan. Bahkan sangat tampan dalam suasana apapun," tambah Raffael dengan menautkan sebelah alisnya.


"Hemm... aku percaya, karenanya aku jatuh cinta padamu. Tetapi sepertinya kau melupakan sesuatu?" ejeknya.


"Melupakan sesuatu?"


"Tampan dalam segala suasana? Apakah kedengarannya seperti itu, hemm...?" Key memperlihatkan giginya dengan tertawa mengejek.


"Apa maksudmu, Baby?" Kau sudah pandai menggodaku, rupanya," Raffael menatapnya dengan lebih kelam lagi.


Raffael terkekeh mendengarnya. "Aku akan mencoba mengendalikannya mulai sekarang...," ujarnya pelan. Terlihat Raffael seperti sedang memikirkan sesuatu. Menyadarinya Key memeluknya dengan sayang. Raffael sedang mencoba berdamai dengan diri sendiri.


"Besok kita ke Miracle garden," janjinya lagi dan tersenyum.


"Padahal kau sangat tidak menyukai taman bunga."


"Tidak apa-apa. Kamu bisa menyenangkanku dengan cara yang berbeda, bukankah begitu?"


Tangannya kali ini menabok dada Raffael dengan gemas, yang diikuti oleh tawa pria itu lagi. "Terimakasih untuk semuanya. Kau terbaik. I love you," suara merajuk, Key membuat, Raffael gemas dan mencubit hidungnya dengan sayang.


"Kita beristirahat, sekarang," Tangannya bergerak cepat, mematikan layar laptop Raffael dan mengajaknya untuk tidur. Dia harus pandai mengendalikan prianya kalau sudah berurusan dengan pekerjaannya.


Kejadian yang pernah membuat, Raffael sakit dan menderita anemia karena kelelahan, kurang tidur, sebisa mungkin diatasinya.


"Kau sangat paham bagaimana mengendalikanku, sayang."


"Semua sudah tercapai, karena kamu bekerja keras. Sekarang saatnya kau menyenangkan diri sendiri. Tirta Wijaya group sudah kembali, kita sudah menikah

__ADS_1


sesuai dengan impian kita. Semuanya sudah tercapai, karena tetesan keringatmu itu. Aku tidak ingin melihatmu sakit lagi," ucapnya dengan menyusupkan kepalanya mencari kenyamanan pada dada bidangnya.


Pria itu tersenyum lalu mengusap pucuk kepalanya dengan lembut. Bahkan hampir dua Minggu menikah, uang yang diberikannya tidak berkurang sama sekali. Key sangat berbeda, tidak terlalu termotivasi dengan mengoleksi barang- barang branded, seperti sosialita pada umumnya. Bersama dengannya, Raffael merasakan atmosfer yang berbeda. Key tidak banyak menuntut, sangat santai tetapi dirinyalah yang selalu ingin membahagiakannya.


Raffael sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menumpahkan Air matanya lagi, karena cuma akan berbuah penyesalan di kemudian hari. Pria tampan itu juga mencoba berdamai dengan pelan-pelan terhadap rival cintanya, Andreas. Defisit perusahaan yang dialami oleh sahabat karibnya itu, juga terdengar di telinganya. Tidak dipungkirinya sejumlah project penting yang dibatalkannya ikut berperan, walaupun Raffael membayar penalty sesuai perjanjian.


Karenanya peluang kerja sama dengan perusahaan penting di tolak secara halus dan merekomendasikannya diam-diam. Ia memilih Dubai untuk melebarkan sayap bisnisnya, dengan harapan Andreas yang mendapat kerja sama mereka tersebut. Raffael bukan tipe orang yang banyak bicara kalau ingin melakukan sesuatu. Karenanya dia selalu penuh kejutan. Baginya segala sesuatu kalau belum ada hasilnya, dia masih menganggap sebuah kegagalan dan menjadi keberhasilan yang tertunda.


Bagaimanapun saat perusahaan mengalami keadaan seperti itu, membutuhkan peluang kerjasama dengan prospek bagus, yang bisa mendatangkan keuntungan untuk menutup defisit yang terjadi.


Raffael melirik Key yang mulai mengantuk. Pria itu sangat gemas melihat expresi wajahnya yang sangat lucu dan mencuri ciuman di bibirnya dengan lembut. Wanita itu mengumam pelan dan merespon ciuman Raffael dengan sedikit menggeliatkan tubuhnya.


"Baby...."


"Hemmp... tidurlah."


"Kita akan ciptakan tempat ini sangat romantis," bisiknya.


"Iya. Tetapi tidurlah lebih dahulu," Raffael.


"Ada yang sedang tidak ingin tidur, baby... "bisiknya.


"Hemmmp..."


"Baby...." Kalau kita bermalas-malasan, bagaimana bisa, Raffael junior akan segera tiba," bisiknya lagi.


Key mengerucutkan bibirnya menahan tawa. Rasa kantuknya mendadak hilang. Dan mencium bibir Raffael sekilas. Pria itu tersenyum, dan tidak menyia-nyiakan keadaan. Key adalah godaan terberat bagi Raffael, dan Ia tidak bisa tidak menginginkannya.


_____________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang ๐Ÿ˜˜


Jangan lupa untuk like dan komennya, ya.


Terimakasih yang setia membaca ๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2