
Pagi itu iring-iringan mobil kedua keluarga besar berangkat menuju ke
persidangan. Penjagaan yang sangat
ketat dan jalanan yang khusus dipersiapkan untuk keluarga Raffael membuat, Key bertanya-tanya dalam hatinya.
Perempuan cantik itu duduk disamping Raffael dengan saling berpegangan tangan. Sesekali Raffael mengusap jemari tangannya dan membuat keduanya saling menatap memamerkan senyum tipis karena bahagia. Jordan yang melihat pemandangan indah dari kaca spion mobil yang sedang dikendarainya, hanya bisa menelan salivanya, menatap keromantisan mereka berdua.
Semalaman Raffael dan orang-orang kepercayaannya, berpikir keras untuk mengatur strategi dan menjauhkan orang-orang yang sedang melakukan serangkaian teror, yang bertujuan untuk
melemahkan upaya hukum yang sedang
dihadapinya.
"Kita melewati jalur khusus? Apakah harus seketat ini penjagaan?" Key menatap keluar dengan perasaan sedikit cemas. Netranya menoleh Raffael yang terlihat biasa saja, hanya dirasakan genggaman tangannya yang semakin erat.
"Kamu tidak menyembunyikan sesuatu padaku,kan?"
"Tidak perlu cemas, ada aku di sini," tangannya menarik pucuk kepalanya untuk menyandar di bahunya, supaya wanita itu tidak terlalu fokus dengan banyaknya Aparat yang sedang berjaga
untuk mensterilkan lokasi yang dilewatinya. Ini adalah pertama kalinya Raffael keluar berdua dengan status Key sebagai kekasihnya.
Untuk sementara waktu, Raffael melarang media untuk mengexpose tentang hubungan asmaranya, sampai kasus hukum selesai. Walaupun dirinya menginginkan sidang perkara dilakukan secara terbuka untuk umum. Media sengaja Ia libatkan untuk melemahkan perusahaan milik Darriel dan Dave.
"Jordan apakah semua sesuai rencana?"
"Tenang, Tuan Muda, sejauh ini tidak ada
sesuatu yang perlu di khawatirkan." Mobil Jordan memasuki lokasi dengan jalur parkir khusus, untuk mengindari sorotan
awak media.
Key tidak bisa menutupi rasa gugupnya, dengan bisikan Raffael wanita itu berjalan menghampiri Tuan Tirta Wijaya dan saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan.
Terlihat beberapa orang pengacara kenamaan sudah menunggu dan memberi hormat kepada kedua keluarga besar itu.
"Selamat datang Tuan muda, semua berjalan sesuai rencana," ucapnya bijaksana.
"Bagus!!"
Wajah-Wajah yang tidak ingin dilihat, terpampang di depan mata. Darriel tertunduk lesu di kursi kesakitan, dengan baju tahanan melekat di badannya. Pria jangkung itu menampakkan uban pada rambutnya dengan pandangan lurus ke depan.
Menyadari Kehadiran Tuan Tirtawijaya dan keluarga, Pria tamak itu tidak berani menoleh sedikitpun. Hal ini berbanding terbalik dengan Tuan Tirta wijaya yang
dengan melihat saja, membuat dadanya
seketika sesak.
"Papa, Papa baik-baik saja?" Key sedikit cemas melihat orang tuanya yang sedikit shock.
"Iya, sayang," Tuan Tirtawijaya menoleh putrinya dan merasakan genggaman
tangan Key yang semakin erat. Wanita cantik itu ikut merasakan sakit, melihat
orang kepercayaan dari orang tuanya menjadi tersangka utama dalam kasus ini.
Tuan besar menarik napasnya dengan dalam. Dalam hati tidak berhenti untuk berdoa supaya kasus ini cepat berlalu dan ingin melihat Key hidup bahagia.
Ya, Tuhan, Orang yang senantiasa menguatkan, ku, saat terpuruk, ternyata menusuku dari belakang. Drama apalagi setelah ini yang akan terjadi.
Sementara Raffael duduk bersebelahan dengan Jordan, sesekali terlihat sedang berbisik.
"Aku akan, temui Handoko di balik jeruji besi, kesaksiannya sangat vital untuk kasus ini. Kita akan rayu mereka untuk
__ADS_1
buka mulut."
Jordan mengangguk. "Tetapi hati-hati dengan dirimu, Raffael, jangan sesekali
keluar seorang diri, "Sangat berbahaya."
"Apakah sudah ada bukti siapa yang mencoba untuk menyerangku kemarin?"
"Orang itu tewas dan tidak bisa di mintai keterangan."
"Aku sudah menduganya, ledakan itu sangat dahsyat sekali."
"Tidak perlu cemas, ada kejutan di persidangan ini, Jordy berhasil membawa
empat orang istri dari empat orang staf
yang di ketahui tewas waktu itu," Jordan tersenyum dengan penuh kemenangan.
"Bagus! Tidak sia-sia aku memilih kalian.
Tantanganmu sekarang adalah menyelesaikan proyek istimewa pulau B
dalam satu bulan," jelas Raffael. Mata elangnya terlihat semakin tajam mendapati reaksi orang kepercayaannya itu.
"Sudah dimulai, Bos!" Saya terpaksa mengerahkan banyak pekerja dalam hal ini," Jordan geleng-geleng kepala melihat
Tuan mudanya kalau sudah mempunyai
kemauan.
"Ingat, Jordan!" Kamu tahu, seberapa penting proyek itu untukku dan kalau berhasil, kamu tahu sendiri apa yang akan kamu dapatkan," jelas Raffael
mengingatkan sekaligus menjanjikan sesuatu.
"Saya akan berupaya keras."
Begitupun dengan Darriel, dengan berbagai upaya dia berdalih. Tetapi bukti yang terlalu kuat membuatnya mulai terpojok.Tiupan angin tidak lantas menggugurkan dedaunan saja, tetapi seketika bisa membuat ranting patah ataupun pohon akan tumbang seketika.
Begitupun yang dirasakan Dariel, saat putri kesayangannya, dan empat orang istri staf keuangan yang diketahui tewas berhasil dihadirkan sebagai bukti, dan berani bersaksi, membuat Darriel
meradang dan merasa semakin terdesak.
"Pak hakim yang saya hormati, "waktu itu seperti biasa, suami saya pergi untuk bekerja dan tidak pernah kembali lagi. Dan keesokan harinya diketahui telah tewas mengapung disebuah teluk bagian Utara kota J." Cuplikan persidangan semakin mengharu biru dengan Isak tangis para istri.
Sialan! mereka buka mulut, apakah setelah ini Handoko juga akan mempunyai keberanian?! Ini benar-benar
gawat. Ini pasti akal-akalan CEO Antara itu. Mereka benar-benar cerdik.Selama ini, mereka diam tetapi menyimpan bara dalam sekam! Sial... benar-benar sial, Aku lengah dengan itu semua.
Key hanya memejamkan matanya mendengarnya. Tidak disangka kasus Tirta wijaya Group begitu pelik dan penuh dengan noda darah memerah. Dalang kematian yang pada akhirnya ditimpakan pada Handoko dan membuatnya mendekam di balik jeruji besi penjara.
Tetapi kenyataan baru ada nama Darriel
dibelakangnya, seakan mengungkap tabir rahasia gelap selama ini. Key menoleh Raffael yang sedang duduk dibelakangnya. Ada rasa haru yang besar dalam hatinya.
Raffael tersenyum dan memberikan kodenya untuk tetap tenang. Sidang
berjalan sesuai dengan rencana dan
dan menunggu agenda sidang selanjutnya.
"Kuasa Tuhan sedang berjalan untuk menghukumu, Darriel," Tuan Tirtawijaya
menatap penuh amarah disela-sela berakhirnya sidang. Banyak hal yang ingin beliau tumpahkan, kalau tidak mengingat ini adalah tempat yang sakral.
__ADS_1
"Papa, sudah!" Nanti Papa sakit lagi," Key mengajak Tuan besar menjauh. Hatinya ikut pedih menyaksikan orang yang dicintainya memegang dadanya yang terasa sakit dan sedikit terhuyung.
"Tidak, sayang. Papa baik-baik saja. Papa baik- baik saja. Tidak perlu cemas," Tuan Tirta wijaya dipapah oleh Jasson dan Jordy untuk duduk sebentar, sementara Darriel di giring petugas untuk kembali ditahan.
"Raffael! Key menatapnya cemas."
"Tidak akan terjadi apa-apa dengan papa, ok, sekarang kamu pulang bersama papa, aku ada urusan sebentar."
"Tidak! Kau harus ikut pulang!" protes,Key.
"Cara, cuma sebentar saja."
"Tapi harus ada orang yang mengawalmu. Aku mencemaskanmu,
jangan pergi seorang diri," Key memegang tangan Raffael seakan tidak ingin terlepas.
"Ok. Ok. Ingat ponsel harus tetap menyala dan kabari aku secepatnya
kalau ada sesuatu yang tidak beres, "ok?"
Key dengan berat hati mengalah, entah kenapa hatinya cemas berlebihan, dengan ketatnya pengamanan, hatinya merasakan Raffael menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin dia mengetahuinya.
"Jordan bersamaku. Tidak perlu cemas, semua akan baik-baik saja."
Setelah memastikan semua baik-baik saja, Raffael membiarkan Key dan keluarga besarnya kembali ke mansion dengan pengawalan Penuh dan membiarkan Jordan bersamanya.
Wanita itu tidak berhenti menatapnya dari balik kaca mobilnya, hingga Raffael tidak terlihat lagi.
πππ
Pulang terpisah Raffael tidak berhenti untuk memantau keberadaan Key. Dia harus menemui Handoko secepatnya.
Kesaksiannya sangat vital, namun baru saja melangkah Raffael dikejutkan oleh
suara seseorang yang memanggilnya.
"Tuan muda! Tuan muda," wanita paruh baya berjalan terseok-seok mendekatinya
dan memberikan sesuatu kepada Raffael.
"Kau istri staf keuangan itu?"
"Benar tuan muda! Kami mohon Ampun selama ini tidak berani untuk bersaksi, kami takut!" Wanita itu menoleh ke sana
kemari dengan bibir bergetar ketakutan ada seseorang yang melihatnya.
"Apa ini?" Tidak perlu cemas, kalian tinggal di tempat yang anak buahku tunjukkan. Kami akan menjamin keselamatan kalian," Raffael memperhatikan benda kecil berbentuk persegi itu dan memasukkan kedalam saku jaketnya.
"Suami saya bertaruh nyawa waktu itu, hanya untuk menyelematkan barang itu,
walaupun pada akhirnya meninggal tertembak seseorang, dan malamnya sebelum kejadian,dia memberikannya padaku."
"Suami saya di tuduh bunuh diri dan dibuang di teluk itu, tetapi sungguh Tuan
muda, "itu tidak benar. Ada seseorang yang jauh-jauh hari mengancamnya.
"Terimakasih informasinya. Kalian aman tidak perlu cemas. Kembalilah," Raffael bergegas masuk ke mobil.
"Benda apa itu, Raffael?" Jordan dibuatnya penasaran.
__________________________
catatan penulis:
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komennya
sahabat tersayang πΉ. Terimakasih π