Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
42. Hari terakhir


__ADS_3

Setelah tabir rahasia dua keluarga besar terungkap, pagi itu tuan dan nyonya besar, memutuskan untuk kembali ke kediaman utamanya. Dengan berat hati Nyoya Wijaya berpisah dengan calon menantu kesayangannya itu.


Tetapi sebelumnya, kedua keluarga besar,


telah memutuskam untuk menggelar pertunangan Raffael dan Key dalam waktu dekat. Kedua belah pihak ingin secepatnya kasus hukum Tirta wijaya group segera diproses dan menghasilkan keputusan hukum yang seadil-adilnya. Selain mereka ingin hidup normal tanpa bayang- bayang keluar Bayu dan Darriel sastra negara.


Masalah yang sudah terlalu lama, terhenti,mengendap tanpa kejelasan.


Berharap akan terungkap dengan sejelas-jelasnya, dalang utama kasus tersebut. Karena hanya berhasil menjebloskan manager keuangan yang


diketahui tidak sepeserpun uang ditangannya. Teka-teki besar kemana dana proyek raksasa itu mengalir hanya


menyisakan banyak pertanyaan.


"Sayang, sebaiknya kamu cepat resign, bagaimanapun keamananmu adalah tanggung jawab Raffael. Lagi pula untuk


apa capek- capek bekerja, "Bukankah, Raffael sudah lebih dari cukup?" Nyoya Wijaya menatap cemas berlebihan, saat kasus hukum siap dilimpahkan ke lembaga penegak hukum.


"Secepatnya, mami. Semua sudah di proses oleh, Raffael," Netranya melirik


dalam sekejap menyatukan manik mata


keduanya dan mengangguk bersama.


"Lebih baik kalian memikirkan hari pertunangan dan pernikahan kalian.Tidak perlu berlama-lama. Kalian sudah saling kenal dan memahami lebih dari yang mami lihat, rasanya tidak ada kendala lagi," nasihatnya bijak. Nonya Wijaya merentangkan tangannya, memeluk Key dengan erat tidak bisa menutupi rasa bahagianya.


"Pernikahan kalian berdua adalah alasan


mami bisa tersenyum, setelah apa yang terjadi. Mami benar- benar bersemangat


sekarang ini, sayang. Mami tidak bisa membayangkan, Raffael menikah dengan wanita itu, bersamaan dengan masalah yang sedang terjadi," jelasnya tidak habis pikir. Kepala nyonya besar menggeleng berkali-kali disertai tarikan napasnya yang begitu dalam.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan key dan keluarganya, "Mami tidak akan mengampunimu," tunjuknnya kepada Raffael, yang berdiri mematung disampingnya, melihat interaksi orang tuanya dan kekasih hatinya itu.


"Hemm ... Mami mengancamku?" Serianginya tak terima. Raffael memajukan langkahnya dan merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk wanita yang telah


melahirkannya itu dengan sayang.


"Tentu saja anak nakal!" Punggungnya yang tegap menjadi sasaran pukulan empuk Nyonya Wijaya tetapi berbanding terbalik perempuan itu merasakan usapan lembut dipucuk kepalanya.


"Apakah mami bahagia?"


"Tentu saja, sayang," pelukan keduanya terurai pelan dan menatap Key yang sedang tersenyum kepadanya.


"Nanti malam kau tidak boleh menginap disini, tetapi ke kediaman Wijaya," ancam nyonya besar lagi, yang diikuti oleh tawa ringan, Raffael.


"Mami ternyata lebih posesif dari yang Raffael pikir!" Tidak perlu cemas berlebihan, semua sudah Raffael persiapkan termasuk gaun pengantin


kami, keamanan mansion dan yang lainnya.


"Anak tampan mami!" Mami akui, kali ini kamu terbaik," pujinya dengan binar mata bahagia.


Setelah berbincang sebentar, akhirnya beliau kembali pulang. Nyonya Wijaya tidak berhenti untuk tersenyum


sepanjang jalan, sementara Raffael mengekor key menuju ruangan dan mulai sibuk untuk mendesain.


"Apakah kau terlalu menyukai hal seperti ini? Raffael mengambil selembar kertas,


yang berisi pola desain baju yang sedang dirancang olehnya.


"Bagus!" Tangannya meletakkan kembali desain itu di meja dan melihat jari- jari Key yang sedang menari-nari di atas kertas.


"Apa boleh aku mendesain salah satu gaun pengantin kita? Bukankah baru ada satu gaun pengantin?" Rafael terlihat seperti memikirkan sesuatu, matanya sedikit menyipit dengan senyum yang agak dipaksakan.

__ADS_1


"Aku tahu, pasti kau meragukanku. Aku akan mendesain dan minta tolong beberapa penjahit untuk datang ke mansion. Dan kalau menurutmu tidak layak, aku akan mengalah untuk tidak


memakainya, "Bagaimana?" Sorot mata sendu dengan mimik memelas, tak hayal, hanya membuat Raffael mengeram dalam hati.


Raffael mengusap pucuk kepalanya pelan. "Kamu bisa membeli berapa pun


gaun yang kamu inginkan, aku tidak masalah. Apakah itu tidak terlalu membuang waktu, hem?"


"Itu adalah kebahagiaan tersendiri untukku. Kali ini saja, honey, please!" rengeknya dengan kedua tangan memohon.


"Ok. Tetapi tidak boleh terlalu capek!" Raffael menurunkan tangannya dan meraih bahunya untuk bersandar.


"Aku tidak bekerja lagi. Aku tidak akan lelah, "Lagipula terlalu berdiam diri, juga tidak bagus," bibirnya mengerucut protes.


"Di mansion ini banyak fasilitas yang tidak akan membuatmu bosan, kamu bisa menonton bioskop, bermain bowling, ada banyak pelayan yang bisa memasakanmu apa saja dan kau bisa jalan- jalan di sekeliling, mansion.


"Tuan muda posesif," gerutunya dengan sedikit merajuk.


"Aku cuma ingin melihatmu beristirahat. Sudah cukup, selama ini kau terlalu menderita, karena ulah Paman dan darriel. Tetapi tanpa itu pun, aku tidak ingin wanitaku bekerja terlalu keras. Kamu adalah tanggung jawabku," jelasnya.


Raffael melirik Key yang sedang menyandarkan kepalanya di bahunya. Diusapnya rambutnya berkali-kali. Sesaat keheningan menyapanya dalam diam, sampai terlihat sepasang netra indah itu berkaca-kaca.


"Aku tidak akan, menangis, "tetapi kau selalu membuatku terharu bahagia," Sepontan kedua tangannya merangkul leher Raffael dan membenamkan wajahnya di sana.


"Raffael, apakah kau pernah mencintai perempuan lain, sebelum kita bertemu?"


Manik mata mereka bertaut dengan tatapan yang begitu kelam.


"Pernah. "Key melonggarkan pelukannya, merasakan hatinya berdesir. Sesaat Ia mengingat, keduanya bertemu saat remaja dibangku sekolah menengah atas


dan belakangan diketahui kedua orangtuanya adalah rekan bisnis yang sangat erat.


"Kalian berpacaran?"


Key menggeleng pelan. "Aku cuma ingin


berterima kasih, karena melepas orang sebaik kamu."


"Jawaban konyol macam apa itu? Bagaimana bisa kau tidak cemburu?" Alisnya sedikit terangkat dengan tatapan


bingung.


"Aku sudah lelah cemburu, dengan wanita **** yang datang ke kantormu, bahkan sebelum aku tahu, kalau kau diam-diam mencintaiku," jujurnya dan menutup mukanya yang memerah karena malu.


Raffael tersenyum dalam hati. "Kau tidak ingin bertanya, siapa cinta pertamaku?" bisiknya ditelinganya.


"Jangan menyebutnya, lebih baik aku tidak tahu," Key memalingkan wajahnya,


merasakan hatinya yang berdenyut nyeri.


Raffael terkekeh, tangannya menarik dagu lancipnya miliknya, yang seketika mempertemukan manik mata keduanya, dan memeluk hangat tubuhnya dengan sayang.


"Bagaimana bisa kau bertanya, "apakah aku pernah mencintai wanita lain selain dirimu? Pertanyaan konyol macam apa itu?" Tawanya seketika pecah dan mengacak-acak rambutnya asal, karena berhasil mengerjai kekasih hatinya.


Rafael tertawa puas dengan reaksi wanitanya itu. Sejak dulu. Dia ingin sekali Key cemburu, saat ada yang menggoda,


mendekatinya dan memberi perhatian khusus padanya.


"Jadi kau___"


Pukulan keras dan bertubi-tubi, sukses mendarat pada dada bidang Raffael dan membiarkannya perempuan itu sampai


lelah sendiri

__ADS_1


"Hemm ... Jangan pernah memikirkan apapun, kecuali kita, saat kita sedang bersama," Key memejamkan matanya, saat bulu-bulu halus, Raffael, menyapu wajahnya dan mengalirkan sensasi hangat pada tubuhnya. Dia bersorak dalam hatinya karena Raffael seumur hidupnya hanya mencintainya.


"Terimakasih, Raffael."


"Adanya aku yang cemburu, besok kau bertemu, Andreas," bisiknya penuh penekanan.


"Aku akan jujur, kita akan menikah."


"Sepertinya dia memang harus tahu."


"Dan tentang kasus Tirtawijaya group, apakah aku boleh bicara padanya?" Key


mendongakkan kepalanya meminta persetujuan.


Raffael mengangguk. "Boleh. Karena besok berkasnya sudah dilimpahkan pengacara ke lembaga penegak hukum.


Cepat atau lambat dia akan tahu, "Dan jasson yang akan mengantarmu ke kantor.


Key mengangguk patuh dan kembali kedua netra indahnya, bertemu tatapan kelam Raffael.


"Sebaiknya kau kembali, hari sudah sore.


Pasti mami menunggumu," perintahnya.


Raffael mengabsen wajah yang akan selalu dirindukan itu. Dia bersumpah secepatnya akan mengikat Key dalam


ikatan suci pernikahan. Sedetik saja Ia merasa berat untuk berpisah. Keduanya sangat lama memendam perasaannya,


dan seperti bertemu muara cinta yang sesungguhnya, setelah melewati jalan terjal yang panjang menghadangnya.


"I Will always love you," bisiknya.


"Be careful on the way."


"Hemmm..." Key memukul bahu Raffael gemas, saat dirasakan gigitan kecil pada daun telinganya


🍁🍁🍁


Pagi datang, Key terlihat cantik dengan baju putih lengan panjang, dengan tatanan rambut sedikit aksen kepang, bagian samping dengan anting mewah yang menggantung di telinganya. Jasson dan anak buahnya mengawalnya sampai gedung Wiratama Group. Semuanya tidak luput dari pengamatan Donny, yang telah sampai lebih awal atas perintah Andreas.



Seperti biasa, pagi itu ada yang sedikit berbeda. Menata ruang CEO sedemikian rupa dan berjalan ke Rooftop kantor hanya untuk menenangkan perasaanya


sejenak. Karena hari itu dia akan minta


ijin untuk resign secara langsung.



"Andreas pasti akan memberondong banyak pertanyaan padaku hari, mudah-mudahan hanya masalah pekerjaan saja."


Tetapi mengingat, Pria itu mencarinya beberapa hari terakhir, rasanya tidak mungkin akan bertanya biasa saja. Key


mendengkus pelan. Netranya menatap gedung-gedung tinggi dari rooftop, kebiasaan yang sebentar lagi tidak akan


di temui lagi. Dulu saat sedih, Ia akan menangis diam-diam di sini sampai puas, tanpa sepengetahuan siapapun.


"Kau disini rupanya?"


____________________


Sahabat tersayang 🌹

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya, ya! Terimakasih πŸ™


__ADS_2