
Tanpa terasa sudah satu Minggu sudah Raffael dan key menikmati indahnya Victoria palace dipulau B. Hari mulai gelap setelah menikmati dinner romantis nonton film kesukaan, dan menikmati berbagai fasilitas mewah yang telah disediakan oleh Raffael di dalam palace Key, beristirahat merebahkan tubuhnya sejenak. Senyumnya mengembang menatap langit-langit kamarnya. Kenangan demi kenangan terukir dengan indah dalam benaknya. Entah sudah berapa banyak adegan romantis dan mendebarkan yang telah mereka ciptakan membuat kadar cinta keduanya semakin kuat.
Ceklek....!!! Terdengar suara pintu terbuka diikuti langka kaki Raffael dengan wajah tersenyum menatapnya yang sedang termenung. "Sudah mengantuk?" Raffael memindai wajah cantik yang terbaring disampingnya dan memeluknya dengan hangat.
"Sedikit lelah dan mengantuk, mungkin aku kekenyangan makan," ujarnya dengan tersenyum.
"Hemm... masih betah disini, sayang?"
"Tentu. Kapan kita kembali?"
"Sampai kamu bosan."
"Aku tidak akan pernah bosan."
"Ya sudah selamanya kita akan tinggal di sini."
"Bagaimana bisa!" Sergah Key dengan sedikit membulatkan netra indahnya.
"Apa yang tidak bisa, untukku. Aku bisa mendirikan kantor utama Antara dan akan mengendalikan semuaya dari sini," jawab Raffael enteng tanpa menoleh.
"Sangat tidak efektif. Aku rasa tempat ini tidak cocok untuk area perkantoran sama sekali. Lagi pula untuk apa di tempat seindah ini kalau aku hanya akan melihatmu terus berkutat dengan pekerjaanmu," jelasnya tidak terima.
"Lalu, apakah kamu cuma ingin melihatku..." Raffael menjeda ucapannya sambil menaikkan sebelah alisnya, tetapi Key yang menyadari arah pembicaraan Raffael hanya mencebikkan bibirnya seketika menimbulkan gelak tawa keduanya.
"Itu maunya kamu!"
"Bukankah kau yang selalu memintanya," Goda Raffael sambil terkekeh.
"Ahh! Kau ini sangat kacau," sungutnya seraya memalingkan wajahnya.
"Itu sangat indah, baby, I Like it."
Key begitu merona mengingat adegan romantis paling indah dan mendebarkan kembali terjadi disebuah kolam renang pribadi, beberapa saat yang lalu membuatnya begitu malu dan membuat mukanya panas dingin. Bugghh!! Sebuah bantal melayang mengenahi wajah tampan, Raffael yang sedang menatapnya dan membuatnya salah tingkah, lalu memilih berbalik tidur dengan memunggunginya. Namun baru beberapa saat, tubuhnya merasakan Raffael mendekapnya dari belakang dan mencium tengkuknya dengan sangat lembut.
"Tidurlah, Malam ini aku tidak akan mengganggumu," bisiknya lirih.
"Hemm...."
Malam semakin larut. Rasa kantuk dan lelah menyergap keduanya, semakin mudah untuk masuk ke alam mimpi dengan lebih cepat. Hingga di penghujung dini hari Raffael terjaga dari mimpi indahnya. Memperhatikan, Key yang masih terlelap membuat senyumnya kembali terukir, setidaknya mimpi buruk yang suka datang padanya tidak kembali terdengar.
Diusapnya wajah cantik itu dengan lembut dan tersenyum saat menatap perut datar miliknya. Bukan sesuatu yang tidak mungkin, bila saat ini telah ada calon malaikat kecilnya yang sedang berproses dalam rahimnya, yang seketika membuat kebahagiaannya sangat membuncah. Semua sudah dia miliki, Raffael hanya memimpikan sebuah keluarga kecil yang lengkap dan bahagia. Tetapi Ia, sengaja tidak ingin membebani, Key dengan semua itu. Biarkan Tuhan yang mengaturnya. Ia akan bersabar.
"Aku tidak tahu, apa jadinya kalau tidak ada kau disisiku. Terus ditatapnya wajah bidadari cintanya dengan kepemilikan yang begitu posesif. Walaupun ada masanya sebuah kebersamaan, tetapi menua bersama hingga maut memisahkan, adalah impian setiap orang, dan akan masih berharap nantinya selalu bersama dalam surga yang indah.
"Pantas saja Andreas tidak sanggup berpaling darimu," ujarnya cemburu.
Laporan Jordan beberapa saat yang lalu sangat menganggu pikiran Raffael. Sekarang dirinya tahu kenapa Andreas begitu patah hati. Andreas mempunyai cinta dan impian yang sama untuk membahagiakan Key. Berbeda dengan dirinya yang sukses dengan misi cintanya, Andreas menuai kegagalan dipuncak penantiannya.
"Ressort mewah "ARKEY" benarkah itu milik, Andreas?"
__ADS_1
Sebuah ressort yang terletak diseberang pulau yang tidak jauh dari Victoria Palace, yang seketika membuat Raffael merasa tidak nyaman dan kembali sangat cemburu. Bahkan ressort itu didirikan lebih awal satu tahun sebelum Victoria Palace berdiri. Sebuah kenyataan yang tidak pernah dibayangkan sama sekali, Andreas membangunkan istana cintanya untuk, Key seperti halnya dirinya.
"Bagaimana bisa aku dan dia mempunyai pemikiran yang sama? Benarkah apa yang telah disampaikan oleh, Jordan?" Tidak ada alasan untuk menyalahkan Andreas, kenyataan dia adalah yang lebih dahulu dan tidak diragukan lagi kalau Andreas adalah orang yang memenuhi syarat, mempunyai sebuah kepemilikan berupa aset tertentu di pulau ini, hanya membuat Raffael kembali menelan salivanya kasar.
"A-R-K-E-Y"... Raffael mengernyitkan dahinya dan otaknya serasa mendidih.
"ANDREAS dan KEY."
Tidak salah lagi, itu adalah inisial nama keduanya. Dan Ressort itu berdiri di lokasi yang disukai oleh Key. Apakah kau pernah cerita sesuatu padanya? Raffael kembali rahangnya mengeras. Hatinya mendadak panas, ada perasaan tidak rela nama Key tersemat dalam aset kepemilikan Andreas dan kembali menatap wajah teduh yang sedang terdur pulas. "You are mine ...." bisiknya pelan.
"Apakah kau sedekat itu dengan Andreas dahulu?" Raffael menggeleng pelan dengan menghalau pikiran kotor yang bersarang tidak pada tempatnya. Dirinya adalah yang pertama kali untuk, Key, dan Raffael tidak pernah meragukan hal itu. Walaupun membayangkan kebersamaan keduanya selama bertahun-tahun, saat menjadi sekretarisnya membuatnya tetap saja cemburu dan mendadak hatinya kembali bergemuruh. Apakah dia dengan begitu lancang menatap bidadari cintanya? Menggenggam tangannya. Mengagumi setiap lekuk tubuhnya? Dan berfantasi liar dengan menyebut namanya? Pikiran Raffael berkecamuk tidak karuan.
"Ahh! ****," teriak Raffael spontan yang membuat Key sedikit menggerakkan tubuhnya, karena merasa terganggu.
Matanya mengejap indah dengan malas menyelisik wajah Raffael namun terlihat masih tertidur.
"Seperti ada suara?" Key menajamkan pendengarannya dan melihat sekeliling, namun hanya heningnya malam yang terasa.Tangannya mengusap lembut Wajahnya yang terlelap dan tidur mencari kenyamanan di dada bidangnya. Raffael tersenyum dalam kepura-puraanya, ingin rasanya mengusap punggung indah itu, namun dia mengurungkan niatnya.
Rasanya sangat tidak adil kalau aku terus berpikir macam-macam tentang ,Key. Kesetiaanya tidak pernah diragukan lagi. Itu salah Andreas yang terlalu terpesona dengan wanita pujaannya," seringai Raffael dengan penuh kemenangan.
Raffael cepat-cepat mengenyahkan pikiran tidak terpujinya itu dan mengusap lembut punggungnya kemudian membalik badannya untuk mengungkung tubuh indah itu dalam dekapan hangat tidurnya.
"Apakah kau kedinginan?" Raffael berucap malas menyadari key terjaga.
"Hemmm... aku seperti mendengar sebuah teriakan tadi."
"Tidurlah kembali, malam masih jauh," bisiknya dengan suara serak lalu mengusap rambut indahnya dengan perlahan hingga istrinya itu kembali terlelap.
Sial, fakta baru tentang Andreas sangat menggangu moodnya. Raffael lagi- lagi mengeram dalam hati, tetapi menyalahkan Andreas dengan perasaannya juga rasanya dia sudah lelah. Andreas dan dirinya punya cita-cita yang sama untuk membahagiakan, Key. Dia memahami bagaimana kerasnya sebuah hati, disaat belum sudi untuk mencintai yang lainnya. Seperti halnya dirinya, yang seumur hidupnya hatinya hanya untuk mencintai, wanita itu, mungkin itu yang terjadi dengan Andreas saat ini.Tetapi disaat Key sudah terikat dia masih macam-macam, itu adalah perkara yang lainnya," batinnya kesal lalu berusaha untuk kembali terlelap.
πππ
Pagi menjelang tangannya sudah berkutat membuat pancake strawberry dan segelas teh hijau untuk breakfast di pantry Palace. Jemarinya bergerak lincah melakukan plating dengan begitu cantiknya. Raffael tersenyum, menatapnya dengan duduk di kursi tidak jauh darinya. Membiarkan Key mengeksekusi hidangan sederhana untuk breakfast pagi itu.
"Selamat menikmati Tuan muda. Semoga rasanya sesusi dengan penampilannya," harapnya dengan mengulum senyum.
"Pasti sangat enak. Apapun itu, kalau kau yang memasak pasti rasanya akan berbeda," puji Raffael tulus.
"Hemm.... Sangat enak." Raffael menyesap sedikit teh dan mulai menyantap pancakenya. Sudah diduga rasanya secantik penampilannya.
"Bagaimana? Apakah kau menyukainya?" Tanya key dengan tidak sabar seperti sedang menunggu seorang expert yang akan memulai evaluasinya.
"Tentu!! Apakah kau tidak melihat aku bahkan sudah menghabiskan dua buah," jawabnya dengan tidak berhenti untuk mengunyah.
"Pelan-pelan saja! Kau kelihatan seperti orang yang tidak makan setahun saja!" Tangannya terangkat, menyeka bibir Raffael yang belepotan selai strawberry dengan tissue ditangannya. Dagu dan bibirnya sangat **** dengan ditumbuhi bulu-bulu halus yang sangat terawat membuat Key menelan salivanya dengan pelan.
Tuan, mesum kenapa kau tampan sekali.
"Makanlah. Apakah kau akan kenyang dengan menatapku seperti itu?" Raffael dibuatnya gemas lalu memasukkan potongan pancake itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri," jawabnya tersipu, menyadari Raffael melihatnya menelan salivanya dan menunduk malu sambil makan dan menyesap tehnya diakhir sarapannya, sementara Pria itu sudah selesai dan menunggunya.
"Sepertinya kau makan juga blepotan seperti bayi." Raffael mendekatkan wajahnya seakan hendak ingin menyeka mulutnya, namun dengan spontan menyatukan bibirnya dengan sangat dalam dan panas.
"Bukankah kau ingin merasakan ini dari tadi, Cara?" Key mendadak bergemuruh. Badannya melemas Raffael begitu berhasrat menginginkan dirinya kembali.
"Raffael...
"Tidak ada siapa-siapa aku sudah mengunci pintu pantry," bisiknya nakal ditelinganya. Pagi yang sangat indah disertai rintik-rintik hujan menyirami pemandangan alam di sekitar palace. Hari masih sangat sepi, disaat suara-suara indah dan mendamba itu kembali bertebaran menggema dengan tidak tahu malu, berteman meja besar yang kokoh menyaga pemuja cinta yang sedang dimabuk asmara. Muara cinta itu kembali bergelora, berlabuh dengan sebenar-benarnya, menyisakan deru napas keduanya, dengan tatapan tidak kalah memuja, membuatnya larut dalam buaian indah setiap momen kemenangan cintanya yang begitu indah.
"Kau hanya milikku, Cara!" Bayang-bayang, Andreas mengganggunya, membuatnya begitu frustasi dan menggila. Ingin rasanya mengumumkan kepada dunia bahwa, Key hanyalah miliknya selamanya.
"Persetan dengan pemuja rahasiamu itu," rancunya tidak jelas. Degub jantungnya bergemuruh hingga Raffael meluruh menuju kemenangan cinta yang sesungguhnya. Tangannya memakaikan dress tipis yang mengekspos tubuh ramping itu dan membopongnya menuju kamar pribadinya. Key menetralkan perasaan yang campur aduk, Raffael tidak seperti biasanya. Ditatapnya wajah tampan yang masih bertelanjang dada itu dan mengusap peluhnya dengan lembut.
"Apakah ada yang kau pikirkan?" Key merebahkan tubuhnya dan bersandar hingga merasakan degub jantung itu masih terasa berdetak dengan kencang.
"Aku takut kau akan serangan jantung, sayang," godanya. Jemarinya menari indah," sementara Raffael bergeming dengan tatapan mautnya.
"Jangan menggodaku, atau aku tidak akan mengampunimu," ucapnya dengan menatapnya tajam.
"Mana kelembutanmu itu? Mungkinkah kau sedang kembali cemburu. Cemburmu ternyata sangat manis, honey." Key mengedipkan sebelah matanya. Pria itu, kembali memejamkan matanya, dan menelan salivanya kasar. saat Ia beranjak dengan sangat sensual dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk berendam.
"Aku ingin mendinginkan otakku," dengan tatapan sedikit nakal meledek, Raffael yang tidak bisa menutupi rasa kesalnya, sebelum pada akhirnya kepalanya sudah menghilang dari balik pintu kamar mandi. Tubuhnya meluruh tenggelam dalam busa dengan aroma mawar khas Prancis yang selalu menjadi pilihannya. Pikirannya terus menerawang dengan memejamkan matanya. Samar-samar, ingatannya kembali pada teriakan mengumpat malam itu.
"Mungkinkah Raffael bermimpi, atau benar- benar kesal? Pemuja rahasia ?" Tidak biasanya Raffael merancu tidak jelas saat moment berharganya. Perempuan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya betapa Raffael sangat frustasi diakhir kemenangan cintanya, sehingga dia menjadi pelampiasan nakalnya.
"Menyebalkan. Apakah tidak cukup aku membuktikannya. Dasar pencemburu," sungutnya kesal.
"Apa yang menyebalkan?"
Key membuka matanya dengan pelan mendapati Raffael yang berdiri didepannya dengan tatapan seakan telah siap untuk menerkamnya.
"Aaaaaaa!!! Kau senang sekali mengejutkanku!" Key menutup wajahnya malu dan saat membuka mata kembali sudah, mendapati Raffael duduk dipinggiran bathub menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Aku berpikir kau ketiduran, makanya aku menyusulmu," ucapnya smirk.
"Apakah kau sudah tidak waras!!" Key melepas handuk yang dipakai untuk menutup rambutnya dan melemparkannya ke arah, Raffael dan menangkapnya dengan sensual.
"Kau sangat lucu. Bukankah kau sudah terbiasa melihatnya, sayang?" Alih-alih memakai handuk tersebut Raffael malah ikut menceburkan tubuhnya bergelung dengan busa yang secepat kilat menenggelamkan tubuh keduanya.
"Jangan salahkan aku, kaulah yang pertama menggodaku. Kau benar otakku sedang mendidih, sayang, karena dia kembali mengejutkanku," bisiknya lirih dengan napas hangat menyapu punggung indahnya dan keduanyapun kembali menyatu dengan lembut.
________________________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang π
Jangan lupa untuk like dan komennya ya, terimakasih dear π
__ADS_1