
"Nona Nova marah besar karena Tuan muda tidak kunjung menemuinya," kata Jasson sambil terengah-engah.
"Urus dia! Bilang saya belum kembali dari
urusan bisnis. Ingat, Jasson. Tunggu sampai semua bukti terkumpul dan seret dia bersama anak buah Dave.Tunjukkan dengan jelas siapa diri mereka di depan wajahnya ssndu." Raffael mendengkus kesal sambil melirik tajam jasson yang berdiri di sampingnya.
"Jangan sampai tahu Rumah pribadiku. Saya sedang tidak ingin diganggu. Dan panggil Jordan keruangan ku. Katakan aku menunggunya."
Langkah Raffael terburu-buru, berapa hari ini tidak pulang kekediaman utama
Wijaya. Hal ini semata-mata ia
lakukan, agar semua rencana yang sedang disusun sesuai dengan rencana.
Tuan muda, apa engkau tidak pernah tidur? Ternyata benar adanya, cinta
membuat orang benar-benar gila .
Tak lama berselang, orang yang ditunggunya datang."Raffael, kamu memanggilku?"
"Masuk saja!" suara Raffael terdengar dari dalam ruanga kerjanya yang memiliki connecting room langsung dengan kamar pribadinya.
"Duduklah," perintahnya.
"Bagaimana dengan persiapan hotel yang kau pesan untuk acara pertunanganku, beberapa saat yang lalu?"
"Semua sudah beres, sesuai dengan rencana dan permintaan mu. Mungkin mempelai wanitanya saja yang akan berubah! Jordan melirik Raffael dengan tatapan masam.
"Batalkan secara diam-diam."
"Raffael __"
"Ikuti saja perintahku. Apakah kamu benar-benar berpikir, tempat itu akan aku pakai untuk___"
"Iya. Tadinya aku berpikir seperti itu," potong Jordan cepat menyadari arah
pembicaraan, Raffael.
"Batalkan semua, lagi pula Nova belum tahu kapan pastinya rencana itu terjadi. Dan untuk semua urusanku pribadiku dan Key, aku ingin semua menjadi kejutan untuknya."
"Apakah kamu sudah menyatakan cintamu pada nona, Key, Raffael?" Jordan menyipitkan matanya. "Percaya diri sekali kamu ingin melamarnya. Apakah kamu tidak takut Nona menolakmu?"cibir Jordan yang sebenarnya hanya untuk
memanas-manasinya saja.
"Apakah itu perlu?" Raffael terlihat bingung. Ia sedikit menggeser tempat duduknya dan menatap serius pada asisten kepercayaannya itu.
Jordan terpingkal-pingkal melihat wajah Raffael. "Aku akui, kau genius mengurus
perusahaan, tetapi ternyata kau sangat bodoh untuk urusan perasaan."
"Kamu pikir Nona Key tidak akan pingsan,
kalau kamu mendadak melamarnya? Ingatlah, Raffael, statusmu adalah calon
suami Nona, Nova. Apakah kamu benar-benar lupa?"
Pria tampan itu hanya garuk-garuk kepalanya bingung.
Setiap hari aku memperhatikannya, melakukan hal-hal terbaik untuknya.
Aku tidak punya kekasih atau bahkan menyakitkannya. Kecuali untuk urusan
Nova. Apakah itu tidak cukup?
Mengatakan cinta? Bukankah menunjukkan perbuatan
lebih dari sekedar kata cinta.
"Kenapa diam saja? Ingat sekali lagi, Raffael. Seorang wanita selain ingin dimengerti, dilindungi dan dicintai, mereka adalah makhluk lemah yang sangat perasa. Mereka butuh kepastian.
Disaat mereka menjalani sesuatu yang tidak pasti, mereka akan mengikuti alur
kehidupan yang lainnya, apapun yang ada di hadapannya," nasehat Jordan.
"Apa maksudmu, Jordan?!" Raffael menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Alur yang sedang dihadapan Nona, Key adalah alur cerita cinta yang sedang ditawarkan oleh Tuan muda Andreas. Jangan kalah cepat, Raffael, atau kau
akan menyesal." Jordan kali ini bicara serius sekali.
Dengan dada bergemuruh tangan Raffael mengepal di bawah meja. Sesuatu yang ditakutkan selama ini, dan membuatnya nyaris gila karena memikirkan nya setiap hari.
"Apakah kamu berpikir Key mencintai Andreas?" Kali ini pria itu berdiri dari tempat duduknya dan melangkah dengan pelan sambil membelakangi Jordan.
"Kenapa bertanya seperti itu? Aku bukan
cenayang, Raffael. Tetapi dari yang aku tangkap, menaklukkan hati wanita seperti
Nona Key tidaklah mudah. Dia mencintai sesuatu tanpa alasan apapun. Bukankah dia adalah wanita satu-satunya yang bisa
menolak pemberianmu yang sangat fantastis itu?" peringat Jordan.
"Biasanya wanita seperti itu, hatinya keras dan sangat susah, tetapi begitu dia mencintai seseorang, dia akan memberikan seluruh hatinya," terang Jordan laksana dokter cinta.
"Dari mana kau tahu? Apakah kau pernah
jatuh cinta, sebelumnya?" Dengan gerak cepat Raffael memutar tubuh menatap Jordan dengan tatapan menyelidik. Walaupun membenarkan ucapan pria itu dari dalam hati.
"Heee, belum laku Tuan muda. Aku
tahu dari banyak membaca saja," seloroh Jordan terkekeh geli.
"****!" Raffael mengumpat.
"Tetapi setidaknya ikuti saranku, Raffael. Kalau kamu mencemaskan eselamatannya, Ikat nona Key secepatnya. Kau bisa melihatnya setiap
hari dan memastikan dia akan aman."
Raffael terdiam dan menarik kedua tangannya dari saku celananya. Ia
mencerna setiap omongan Jordan.
Aku bisa gila kalau harus kehilanganmu.
Apalagi kalau Andreas memenangkan hati Key.
"Selamat malam, pikirkan ucapannku tadi."
"Hemm ...."
Saat Jordan tidak terlihat, Raffael mulai memikirkan sesuatu. Malam semakin larut. Ia ingin sekali mengistirahatkan tubuhnya, tetapi mencerna setiap ucapan Jordan benar adanya.
Apakah Key mencintaiku? Kenapa reaksinya biasa saja, saat aku memperkenalkan Nova. Apa benar
dia mencintai Andreas?
"Tidak mungkin, Key hanya milikku," gumannya egois.
******
Di kantor Andreas memperhatikan Key dari celah kaca transparan dinding pembatas kantor. Tampak Key sedang serius mempersiapkan berkas
penting.
Kemarin dia ijin pulang lebih cepat untuk
bertemu Raffael? Tidak biasanya, tetapi
bukankah mereka memang bersahabat.
Andreas tidak mau banyak berpikir lagi. "Bukankah sudah jelas Raffael ingin menikah dengan Nova dalam waktu dekat?" CEO Wiratama group itu mendengar sendiri ucapan, Raffael. Membuat semangatnya untuk memenangkan hati,Key, semakin tak terkendali.
"Apakah kamu sudah makan siang?" suara tiba-tiba,Andreas terdengar dengan tersenyum menatap ekpresif Key. Kehadirannya sontak saja membuat jemari lentiknya menghentikan tariannya di atas keyboard.
"Sebentar lagi, kebetulan saya membawa bekal dari rumah, karena saya berpikir
hari ini pekerjaan sangat padat sekali."
Kembali senyum simpul menghias bibir pria itu.
"Sepadat- padatnya pekerjaan, saya tidak
__ADS_1
akan melarang karyawan saya untuk makan di luar, Key." Seperti biasa pria
yang terlihat kalem itu memamerkan senyumnya.
"Apakah kamu menolakku, aku ajak
makan keluar kali ini,hmm?"
Wanita itu mengangkat wajah, memberanikan diri untuk menatapnya. "Bukan begitu maksudku, sungguh aku hanya bicara apa adanya
saja."
"Aku tunggu lima menit lagi," perintahnya seraya berlalu.
"An__ Andreas. Bukan begitu maksudku,
aku bawa bekal," jelasnya.
"Lima menit lagi ke ruanganku maksudnya, Key," beritahunya dengan sambil menoleh.
Wanita itu tercengang.
"Baiklah." Tanpa sedikitpun sempat mengelak, akhirnya Andreas berlalu dari hadapannya.
Lima menit berselang, Key melangkahkan kakinya menuju ke ruangan CEO. Andreas
sudah menunggunya.
"Kemari key, kita makan bersama. Aku sudah pesankan makanan untukmu juga."
Netra indahnya menatap tak percaya
di atas meja tampak telah tersedia makanan kesukaannya dan juga Andreas.
"Jangan diam saja, "bukankah hari ini
pekerjaan sangat padat, karena itu aku mengajak mu makan di ruanganku saja."
Key masih speechless.
"Bawa saja makananmu kemari, aku juga ingin mencicipi masakanmu. Bukankah
nona Tirtawijaya sangat pandai dalam memasak yang aku dengar?"
Blusshh....
Astaga Andreas apa aku tidak salah dengar.
"Tidak apa-apa, Key! aku terbiasa dengan
makanan rumahan."
Key menurut. Selang beberapa saat, mereka terlihat sedang makan bersama. Andreas lebih berselera dengan makanan yang dibawanya dari rumah.
"It,s good taste, l like it (rasanya enak,
aku suka).
"Terimakasih." Andreas menambahkan
makanannya kepiringnya, hal ini membuat wanita anggun itu tidak enak
hati.
"Sudah cukup, aku sudah kenyang," tolak Key.
"Makanlah yang banyak. Bukankah aku sudah pernah katakan, aku tidak suka kamu semakin kurus saat bekerja di kantorku, hmm?"
Saat mereka masih belum menyelesaikan makannya, tiba-tiba terdengar sebuah ketukan dari luar.
__________________
Sahabat tersayang:
Jangan lupa untuk like dan komennya, Ya! Terimakasih untuk yang sudah berkenan mampir ๐๐.
__ADS_1
maaf masih banyak kekurangan ๐.