Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
48. Seorang Justice Collaborator


__ADS_3

Raffael kembali dengan perasaan geram. Sepanjang perjalanan pulang, Ia tidak banyak bicara. Tanpa harus berpikir lama,


otaknya sudah menebak, siapa dalang penyerangan yang mencoba untuk melenyapkan nyawanya itu.


Walaupun kejadian itu, sudah menjadi antisipasinya, karena teror seperti ini biasa terjadi kepada seseorang di tengah


kasus hukum serius yang sedang berjalan.


Darriel purba sastra negara. Tidak perlu diragukan lagi. Pasti orang suruhan dia.


Jordan perintahkan kepada anak buahmu, untuk lebih memperketat pengamanan. Kita harus lebih waspada lagi, dan jangan sampai Papi, Mami dan nona Key tahu tentang hal ini.


"Tidak perlu cemas, Raffael. Itu cara mereka untuk melemahkan kita."


"Aku sudah menduga. Apakah jasson langsung kembali ke mansion?"


"Betul Raffael. Dia sedang menyeleksi orang- orang yang akan membantu pengamanan."


"Hemm... bagus!!"


"Pastikan mereka mempunyai skill bela diri yang sangat bagus, fisik mumpuni, menguasai teknik menembak jitu, selain keberanian yang mereka miliki. Trio J


aku percaya untuk melatihnya.


"Siap, Raffael!"


Sebagai pengusaha yang tidak main-main, Raffael tidak sembarang memilih seseorang. Seperti halnya Jordan selain piawai dalam urusan kantor, Ia juga sangat menguasai


teknik bela diri yang sangat tinggi.


"Ke kediaman pribadiku saja, Jordan. Saya ingin istirahat sebentar dan akan ada pengacara yang datang!" Saat matanya menangkap arah mobilnya menuju kediaman untama keluarga Wijaya.


"Baiklah....!"


Raffael tersenyum. Berapa hari saja tidak bertemu dengan Key, rasa rindu sudah menyergapnya tanpa ampun.


Jangan sampai dia tahu hal ini, Sedikit saja aku tidak ingin membuatnya cemas.


🍁🍁🍁


Darriel mengeram dibalik jeruji besi yang berisi para mafia korupsi. Sudah jatuh tertimpa tangga. Berawal dari operasi tangkap tangan, lembaga penegak hukum yang berwenang, karena kasus menerima suap yang menjeratnya, masalah hukumnya semakin melebar. Hingga Darriel ditetapkan menjadi tersangka, di tiga kasus yang berbeda.


Kasus suap, menyalah gunakan wewenang jabatan, dengan membuka lahan usaha baru yang membahayakan keamanan lingkungan masyarakat dan akhirnya merembet ke kasus Tirta wijaya group, membuat Darriel sangat murka.


Pria itu berang bukan kepalang, saat menerima kedatangan seseorang yang


menjenguknya dengan tawa mengejek.


Bramantyo yang merupakan kawan lama


Darriel, mendadak menjauh setelah kasus hukum mulai terkuak satu persatu.


"Bagaimana? Apakah orang-orangku berhasil melenyapkan CEO Antara itu?"


"Ha...ha..ha..," tawa Bramantyo terdengar


begitu nyaring.


"Mereka Gagal total, bahkan tanpa harus mengotori tangan CEO itu. Lagi pula berpikirlah untuk kedua kali, untuk melawan Tirta wijaya. Mereka datang


dengan kekuatan penuh, dengan mengusung sejumlah bukti yang sangat akurat.

__ADS_1


"Siallll....!"


"Darriel, kendalikan dirimu! Kamu seharusnya tidak bertindak bodoh, dengan menerima uang suap perijinan lahan dari para pengusaha itu! Itu terlalu beresiko untuk jabatanmu!" Kamu terlalu tamak akan uang dan bertindak sembrono," tegas Bramantyo mengingatkan.


"Jangan ikut campur, kalau kau cuma datang tanpa solusi,Bram!" Darriel berang


dengan mata berkilat.


"Ha..ha..ha.. kau ini sangat lucu sekali! Apakah kau mengingat temanmu ini di saat kau banyak uang, hah! Adanya kau


berkhianat, Darriel!" Kau ingkar.


Pria itu menatap sinis Darriel yang tampak kacau. Sesekali tangannya terlihat mencengkeram kuat jeruji besi


yang mengurungnya.


"Apakah kau lupa? Kau menggunakan uang Tirtawijaya, untuk mendirikan NAM. Dan kau melebarkan usahamu, dengan membuka lahan usaha baru diberbagai daerah, tanpa menimbang resiko keamanan llingkungan


yang ada, "Itu melanggar hukum, Darriel!" Itu sama saja kau memerangkap dirimu sendiri.


Darriel memerintahkan kepada sekelompok orang untuk membakar lahan, yang menimbulkan keresahan dan berpotensi menganggau keamanan lingkungan dan kesehatan masyarakat setempat, untuk existensi usahanya pribadi.


"Hanya karena, kau punya kuasa jabatan. Kau salah besar, Darriel! Salah besar! Dan dari situ lembaga penegak hukum mengendus kejahatanmu yang lainnya. Ternyata kau menerima suap untuk memperkaya dirimu sendiri. Dan sekarang, "kau lihat akibatnya?"


Jadi, aku tertangkap tangan menerima suap itu, ternyata dari hasil penyelidikan pengembangan kasus karena ulahku, membuka lahan baru, untuk membuka


anak cabang Nam group? Setelah mereka mengetahui rahasia besar, Nam group secara diam-diam? Sialan mereka menjebakku.


"Sudahlah Darriel. Mungkin ini adalah akhir dari riwayatmu. Antara group di belakang Tirtawijaya, juga karena ulahmu. Yang berkomplot dengan Bayu kakak Bimantara, yang mendirikan Antara sebelumnya, "Apakah kau lupa, hah..?!"


"Bramantyo keluar dari tempatku! Aku muak dengan ocehanmu!" Hardik Darriel geram. Matanya menatap berang orang yang terlalu banyak mulut itu dan memilih untuk mengusirnya.


"Keluar, kataku!" teriaknya sarkas. Tangannya menunjuk muka Bramantyo, yang sedang tertawa sumbang, dengan menampakkan deretan gigi emasnya.


"Dan juga Handoko. Apakah kau melupakannya? Kalau sampai dia buka mulut untuk menjadi seorang Justice Collaborator, "kau punya apa, Darriel?" Karena memang bukanlah Handoko, Mastermind dari kehancuran Tirtawijaya


sesungguhnya, tetapi kau! Begitu dia bersaksi atas kebusukanmu itu, tamat sudah riwayatmu, Dariel!"


"Dasar opportunis!" Enyahlah dari hadapanku," geram Darriel. Pria kejam itu semakin berang, saat upaya praperadilan dirinya juga ditolak oleh pihak pengadilan setempat.


"Opportunis?" Rasanya itu lebih tepat disematkan pada kelakuanmu, Darriel!"


Bramantyo berlalu dengan tawa puas, melihat nasip Darriel. Karena keserakahan Darriel, Bramantyo menaruh rasa kesal, karena ingkar dengan perjanjiannya, untuk membagi harta hasil curian dari keluarga Tirtawijaya dan memilih mengorbankan nyawa staf keuangan, yang diketahui telah meninggal karena diduga bunuh diri.


🍁🍁🍁


Di tempat terpisah Nova memberontak dan meraung-meraung tidak jelas, saat anak buah Jasson menyeretnya untuk di serahkan kepada pihak yang berwajib, bersama dengan anak buah Dave.


"Ayolah Nona, jangan melawan! Orangtuamu sudah menuggu di di dinding penjara, "Begitupun dengan Bos mu itu," tunjuk anak buah Jasson kepada


dua anak buah Dave.


"Tidak mungkin, pasti orang seperti mu hanya menakut- nakutiku! Papa tidak semudah itu tertangkap, jadi jangan bermimpi," Rancu Nova tak jelas.


"Cepatlah sedikit, supaya matamu bisa melihat, Nona! Kamu pikir Tuan muda, sebodoh itu mencurigai seseorang tanpa bukti?" tangan anak buah Jasson melempar harian surat kabar ke wajah Nova dan seketika membuatnya Histeris.


"Kalian biadab!!" Tangannya meronta-ronta, saat hendak dimasukan ke mobil tahanan dan terlihat aparat penegak hukum yang sudah menuggu.


"Kalian kurang ajar, kalian menjebakku!" teriakannya memekakan telinga. Dengan terpaksa, Nova naik dengan dorongan dari pihak yang berwajib.


"Apa saya tidak salah dengar?" Nona sendiri yang datang dengan kepada Tuan muda," peringatnya. Seriangi wajah meledek dari anak buah Jasson, terlihat begitu menyebalkan dan membuat wajah Nova terlihat semakin bengis..

__ADS_1



"Selamat bersenang-senang, Nona!"


ejeknya lagi sambil tertawa, saat mobil yang membawa Nova mulai berjalan menjauh menunju hotel prodeo.


"Bye..bye..!" tawanya pecah, dengan mengibaskan tangannya dan berlalu.


Sementara itu di kediaman pribadinya, Raffael menerima kedatangan pengacara


yang di pimpin oleh Jusman Hadiningrat. Pengacara kondang yang begitu banyak memenangkan kasus-kasus besar.


Tidak tanggung-tanggung, Raffael mengandeng enam pengacara terbaik


untuk mengungkap kasus pelik itu. Beliau terlihat memberikan nasihat hukum kepada Putra mahkota Antara group itu dan sesekali terlihat Raffael mengangguk.


"Tuan muda, kita berharap Handoko akan buka mulut. Saya yakin dengan posisi Darriel sekarang ini, dia akan mempunyai keberanian. Mengingat Handoko, kita duga adalah saksi kunci perbuatan


keji Darriel," nasihatnya.


"Bagaimana caranya, Bapak pengacara?"


"Handoko memenuhi syarat sebagai seorang Justice Collaborator."


"Maksudnya?"


"Untuk menjadi Justice Collaborator, seorang tersangka atau terdakwa harus memiliki keinginan untuk bekerja sama dengan apparat penegak hukum. Bukan karena dipaksa oleh pihak lain... dengan demikian, apparat penegak hukum mendapat keuntungan dengan kerja sama tersebut, yaitu, dapat dibongkarnya kejahatan serius yang sangat sulit untuk di bongkar. Bahkan sistem ini juga dianut


oleh beberapa negara maju.


Raffael menyimak dengan seksama, dan terlihat menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Tentu saja dengan syarat, seorang justice Collaborator bukanlah seorang Mastermind atau dalang utama kasus tersebut. Dan keterangannya berpotensi bisa, untuk mengungkap pelaku yang lebih besar lagi. Di samping orang tersebut, juga harus berani mengakui kesalahannya dihadapan lembaga


penegak hukum. Dan biasanya akan mendapatkan keringanan hukum pada akhirnya," jelas pengacara itu panjang lebar.


"Aku percaya, Handoko masih sayang keluarganya dan ingin cepat bertemu mereka. Upayakan yang terbaik, Saya dan


keluarga sudah lelah dengan semua ini dan kembali ingin hidup tenang."


Perbincangan malam itu berakhir, dengan


berpamitannya para pengacara. Raffael


beranjak ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang teramat penat. Bayang-bayang penyerangan itu, masih di


pelupuk matanya, dan dia yakin musuh tidak berhenti begitu saja.


"Key! Raffael mengingat nama itu dan berpikir bahwa bukan tidak mungkin, sekarang juga di incar keberadaannya.


_________________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang, mohon maaf kalau ada penyampaian dari berbagai aspek hukum dalam bab ini yang kurang pas.


Sebisa mungkin saya sudah mencari referensi yang maksimal. Jangan lupa


untuk like dan komentarnya,ya! Thanks


yang sudah mampir.💓💓

__ADS_1


__ADS_2