Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
126. Romantisme dua sejoli


__ADS_3

Raffael tertawa menatap kepergiannya yang sedang melangkah ke kamar mandi. Pria tampan itu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk dengan menatap langit- langit kamarnya. Tangannya terlentang dan mengulas senyum samar yang sangat menawan.


"Oh, my God, baby. Kenyataan akan berubah 180 derajat kalau aku benar-benar menyusulmu sekarang. Bisa-bisa di protes netizen kalau itu benar-benar terjadi 🤫."


Tentu saja Raffael tidak setega itu membuatnya terus kelelahan, terlebih perjalanan yang sempat menempuh waktu berjam-jam. Berinisiatif menunggunya hingga istrinya itu selesai mandi, tangannya meraih bathrobe yang sama dan memakainya lalu duduk di sofa dengan memainkan gadgetnya.


Pintu berderit kecil memperlihatkan Key keluar dengan rambut basah serta handuk di tangannya.


"Mandilah, aku sudah selesai, honey." Raffael yang sedang fokus dengan objek persegi itu menegakkan kepalanya. Iris kelamnya menyelami wajah cantik alami yang kini sedang berdiri tidak jauh darinya. Buih-buih air bekas mandi berselancar dengan sangat lembut di wajah mulusnya, membuatnya terlihat semakin menawan.


Oh, my God! She is so **** ….


Menelan salivanya pelan, Raffael kembali terhipnotis. "Kau sangat memabukkan, baby …"


Mendengarnya, Key hanya mampu mengerutkan keningnya dan tersipu. "Sayang, mandilah," perintahnya dengan suara yang mengalun merdu.


"Hemm … iya, baby." Berjalan lebih cepat, atau Raffael benar- benar akan menyeret wanita itu dan mengajaknya untuk kembali terbang di ke langit ke tujuh.🤭


Damn … kau, my wife


Menangkap isyarat Raffael yang kegerahan membuat bibir wanita itu senyum- senyum sendiri.


"Masih banyak waktu untuk kita, sayang. Saat ini dilarang untuk mesum. Kasihan netizen, bagaimana kalau mereka mengintip kita dan ikut bergairah ho..ho.."


Sedikit mengaplikasikan make-upnya tipis-tipis, wanita cantik itu terlihat benar-benar bahagia saat ini. Senyumannya tidak pernah pudar dan membuatnya terlihat cantik dari segala sisi.


Dress selutut beraksen bunga- bunga menjadi pilihannya hari itu. Ekor matanya melirik koper yang belum sempat dibereskan dan berinisiatif melakukannya sendiri. Tidak kurang dari sepuluh menit suara Raffael kembali terdengar merdu memanggilnya.


"Baby, apa yang kau lakukan?"


"Aku sedang merapikan baju-baju kita. Ada banyak oleh- oleh yang belum aku buka. Untuk kedua orang tua kita, Mitha dan Trio J," jelasnya.


"Ini sangat bagus bukan? Ada long Coat musim dingin untuk mereka bertiga." Menoleh Raffael yang masih berselimut bathrobe, Key bisa mencium wangi sabun menguar dari tubuh maskulin itu.


"Aku sudah memberikan fasilitas lengkap untuk tempat tinggal mereka. Hitung- hitung bonus untuk mereka yang sukses mengamankan pernikahan kita." Raffael kali duduk di sampingnya.


"Kau memang terbaik. Bergantilah pakaian … ini hadiah kecil dariku, sayang. Lihatlah Coat ini juga sangat bagus bukan? Yang ini khusus untukmu." Coat warna hitam elegan menarik perhatian Raffael saat ini dan terasa pas mengingat, dia menyukai warna itu.


"Aku membelinya dari uang penghasilanku di butik, jadi ini murni hasil jerih payahku sendiri," jelasnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu sudah memberikanku apapun yang aku mau, lebih dari apapun itu, Baby … "ujarnya pelan. Tangannya mengusap pucuk kepalanya dengan lembut sebelum akhirnya berlalu untuk berganti pakaian.


"Ini di tolak?" tanyanya kecewa.


Raffael menoleh dan kembali tersenyum. "Aku tidak mengatakan begitu, sayang. Bagaimana bisa aku menolaknya semua yang berhubungan denganmu, hemm? Aku akan memakai saatnya tiba."


Kali ini senyum puas tergambar di wajahnya, dan tangannya kembali sibuk merapikan baju- bajunya, walaupun Mitha besok pasti akan melakukannya.


Berdiri saat ini, Key mengambil duduk di samping, Raffael. Waktu cuti tersisa dua hari lagi dan pastinya akan kembali melihat Raffael sibuk dengan rutinitas pekerjaan.


"Dua hari lagi kau kembali ke kantor?"


"Iya, sayang. Kenapa? Kau masih ingin bersamaku, hemm?" Mengulas senyum samar, manik hitamya menyorot Key yang kembali tersipu.


"Ingin rasanya aku bisa sedikit membantumu saat di kantor …."


"Tidak boleh. Tetapi kau boleh datang bersama jasson kalau kau mendadak merindukanku," ucapnya. "Apakah kau merasa mula terkekang, sayang?"


Menggelengkan kepalanya pelan, Key tetap mematri senyuman.


"Kau sudah biasa mengurungku," jawabnya memelas. "Sudah jangan melihatku seperti itu, aku mengerti apa alasanmu."


Tentu saja Raffael mempertimbangkan banyak hal untuk Key. Berkeliaran di luar rumah seperti sebelum-sebelumnya, jelas dia melarangnya. Ia benar-benar tidak ingin kecolongan lagi.


"Kita akan liburan setiap bulannya, baby. Aku akan memastikan kau tidak akan pernah kesepian. Ke Victoria Palace setiap akhir bulan, tidak akan jadi masalah." Memperlihatkan wajahnya yang baik-baik saja, justru sekarang ini giliran wajah Key yang tampak sedikit berpikir.


Apa kabar istananya itu? Apakah Raffael benar-benar sudah baik-baik saja?


Walaupun sampai sekarang, Raffael tidak tahu, Key mendengar pembicaraannya saat itu, perihal Ressort Andreas di pulau yang sama saat bersama Jordan. Tetapi wanita itu bisa melihat Raffael yang memperlihatkan wajahnya yang biasa saja.


"Ya, Tuhan, Raffael. Baru saja kita kembali. Sudahlah jangan memikirkan apapun, di mana saja asal bersamamu aku pasti bahagia," jelasnya sengaja memasang wajah genit.


"Kamu tidak rindu istana kita,hah?"


"Belum satu bulan kita dari sana. Saatnya tiba aku pasti akan menagihmu untuk datang lagi ke sana. Sungguh terimakasih untuk semua yang telah kau lakukan padaku, Raffael. Tidak sepantasnya aku meminta lebih dari ini, semua sudah terasa berlebihan."


Raffael merengkuh wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu dan kini memeluknya dengan sangat erat. Dia hidup cuma mempunyai satu alasan di dunia ini, yaitu membagikan orang terkasihnya.


Pria tampan itu, kini juga semakin bisa mengendalikan dirinya sendiri. Statusnya yang sudah berkeluarga tidak sepantasnya memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Baginya melihat Key di sisinya bahagia dan bisa mengexpresikan kasih sayangnya sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Persetan dengan semuaya, Raffael bukanlah orang yang suka berbasa-basi.


"Kita jalani hidup yang ada di hadapan kita dengan baik. Jangan memikirkan apapun dan harus bahagia, hemm?" Keduanya lalu tertawa bersama-sama.


"Aku terlampau bahagia, Raffael… sangat amat bahagia," ujarnya pelan.


"Apa alasanku tidak bahagia memiliki orang sepertimu? Manusia hidup memiliki batasannya di suatu sisi, tetapi aku hanya ingin hidup denganmu tanpa batas waktu yang ada."


Raffael tersenyum, manik mata keduanya bertemu dan kembali menyelami perasaan masing-masing.


"Sesungguhnya cinta abadi itu tidak ada, tetapi aku hanya ingin mencintaimu tanpa batas. Cinta tetap saja memiliki akhir dan penyelesaian yang tetap menjadi misteri … tetapi aku percaya cinta kita berakhir indah."


Mengalun merdu suaranya menembus gendang telinga Raffael dan membuat hatinya berdegup kencang dan menariknya ke dalam pelukannya. "This love will never end, my baby … unless it's just beautiful ( Cinta ini tidak akan pernah berakhir sayang, kecuali hanya indah)


"Ini sangat manis sekali, Raffael aku ingin mendengarnya sekali lagi," bisiknya dengan tersenyum senang.


"Aku tidak tahu seberapa banyak kau mengambil duniaku, tetapi aku merasa duniaku adalah hanya kamu, baby … kamu sanggup membuat dunia ini tidak lagi berputar pada porosnya dan alasannya cuma untuk mengejar cintamu saja. Dan itu kegilaan yang pernah aku lakukan, walaupun di awal di rasa tidak mungkin," Raffael tertawa dengan bualan manisnya.


"Kau menjadi orang yang pandai merangkai kata rupanya, Raffael. Dan itu pasti kau berguru pada dewa cinta yang merasukimu, benarkah begitu?" Mengeratkan pelukan keduanya hanya ingin melewati hari- hari yang sangat manis.


"Tetapi itu kenyataannya, baby … aku tidak menyangka bisa mendirikan perusahaan Antara sampai sebesar ini, untuk membuat Darriel bergetar. Dan saat itu tekadku cuma satu mengembalikan apa yang menjadi hak keluargamu, karena alasan cinta gilaku ini. Darriel tidak terjamah karena rahasianya dan kedigdayaannya, bahkan sebelum aku menjadi apa-apa …"


Melingkarkan tangannya pada leher Raffael Key tidak berhenti mematri senyumannya. "Semua sudah berlalu, sayang … kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil, dan itulah dirimu. Kadang aku berpikir di mana aku bisa bertemu orang sepertimu, ini benar-benar nyata dan akulah wanita beruntung itu," ujarnya dengan suara yang kembali mengudara.


"I love you more, baby … "membisik pelan seolah Raffael tidak akan pernah puas untuk menikmati aroma Lily wanitanya itu.


*****


"Tuan muda! Kemarilah! Aku menunggumu! Lorin melambaikan sebelah tangannya dengan tongkat sky yang tetap menahan tubuhnya.


Jaket waterproof berwarna biru dongker dengan helm sky terasa pas pada tubuhnya dengan rambut yang di biarkan tergerai melewati bahunya.


"Hahh! Akhirnya kau datang juga. Sudah lama aku menunggumu, karenanya aku bermain lebih dahulu." Meluncur, kali ini lorine berhenti tepat di hadapan Andreas yang masih saja belum masuk ke lintasan sky.


"Bergantilah aku sudah mempersiapkan sky wear untukmu." Lorine memberitahu Andreas yang masih setia berdiri di tempatnya. Manik mata pria itu memperhatikan sepatu boot yang menenggelamkan kakinya nyaris sebatas lutut, membuat kaki lorine seperti di gips.


"Ayolah, tunggu apalagi, Andreas!"


"Tentu saja lorine. Aku kemari menantangmu untuk bermain, sepertinya kau menyiapkan semuanya untukku."

__ADS_1


Tersenyum senang, Lorin jelas menyambut Andreas. "Bergantilah aku menunggumu!" Tanpa aba- aba Lorine kembali meluncur deras menyisakan Andreas yang masih mematung menangkap siluet tubuh lorine yang bergerak menjauh.


"Kau tidak pernah berubah lorine …"


__ADS_2