
"Apa saja yang penting hatimu hanya untukku."
"Itu sudah pasti. Kenapa seorang perempuan selalu menanyakan hati Pria yang mencintainya?" Jordan melirik Naya
yang duduk di sampingnya.
"Pria hanya menggunakan otaknya saja untuk menyenangkan wanita. Padahal wanita ingin di mengerti melalui hati dan perasaannya juga," jawabnya merajuk.
"Tetapi aku juga mencintaimu melalui hati juga pikiranku, Nay," protes, Jordan sambil tersenyum.
Naya menoleh dan mempertemukan pandangan mata keduanya dan sama- sama mengukir senyum.Tidak disangka pertemuannya yang singkat itu, membawa keduanya pada hubungan yang lebih serius.
"Apakah kau pernah jatuh cinta sebelumnya?" Kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya."
"Pernah. Yaitu denganmu," jawab Jordan singkat.
"Sebelum aku, maksudnya?"
"Hemm... pernah atau tidak, ya?" Aku benar-benar lupa," Jordan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya, Tuhan, Jordan. Bagaimana bisa kau lupa, apakah pernah jatuh cinta atau tidak?" rengek Naya.
"Iya. Pernah. Tetapi sudah sangat lama. Dan aku juga sudah lupa rasanya, tepatnya di masa- masa sekolah menengah pertama. Tetapi itu hanyalah cinta monyet... "ujar Jordan lirih menyadari raut wajah Naya yang berubah.
"Tidak apa-apa. Semua berproses untuk menemukan orang yang tepat. Tetapi kau yang pertama untukku," Semburat merah di wajahnya membuat, Jordan gemas sekaligus juga merasa senang mendengarnya. Lelaki mana yang tidak bahagia, mendapati dirinya yang pertama untuk wanita yang dicintainya. Naya sangat manis sederhana dan apa adanya. Sikap lugunya membuat, Jordan benar-benar merasa nyaman bersamanya. Belum lagi dukungan dari Tuan dan Nona mudanya, yang terus mendorongnya untuk lebih serius lagi, membuat Jordan seperti tidak mendapatkan kesulitan yang berarti.
"Kenapa diam saja?"
"Tidak, Jordan. Tidak apa-apa."
"Jangan bertanya tentang masa lalu," nasehatnya.
"Aku cuma ingin tahu saja. Wanita biasanya sangat penasaran untuk hal seperti itu," balasannya malu-malu.
"Tetapi nanti malah menangis karena cemburu," ejeknya.
Kita tidak pernah saling mengenal. Aku merasa penasaran. Tetapi, Key bilang kau pria yang sangat baik dan jujur. Tidak heran Raffael sangat mempercayaimu," pujinya tulus.
Jordan tersenyum. "Dulu orang tuaku adalah tangan kanan Tuan, Bimantara.
Terus papa meninggal. Aku di sekolahkan oleh beliau, di tempat Tuan muda, Raffael. Sekalian untuk mengawasinya sejak di bangku Kuliah. Karena beliau ingin aku mendampinginya suatu hari kemudian hingga saat ini.
"Aku sudah tahu, dari Key. Orang tuaku juga tangan kanan Tuan, Tirtawijaya. Mungkinkah papa mengenal orang tuamu seandainya saja masih ada?" tanya Naya sambil tersenyum.
"Mungkin saja," Jordan meraih tangan Naya lalu tersenyum. Seandainya orang tua mereka masih ada mungkin akan bahagia melihatnya.
"Jadi apa panggilan sayang mu untuk aku," Naya menagihnya dengan suara manjanya.
"Hemm... apa, ya? Sepertinya semua panggilan sayang untuk seorang wanita sudah di borong oleh Bos, Raffael," keluh Jordan yang diiringi oleh senyum manis Naya
"Iya. Mulai dari cara, amour, Baby, sayang, lovely," yang membuat keduanya tertawa mengingat kebucinan Tuan mudanya itu.
"Hemm... masih tersisa satu. Karena kau sangat manis sekali, aku akan memanggilmu "Sweetie," ucapnya dengan senyum.
__ADS_1
Naya bertepuk tangan riuh. Wanita itu seperti mendapat sebongkah berlian. Wajahnya yang manis dan sedikit lugu membuat Jordan benar- benar gemas melihatnya.
"Sweetie, walaupun kedengarannya biasa saja, tetapi entah mengapa, kalau yang mengucapkan kamu, terasa luar biasa," pujinya senang.
"Wanita memang sangat aneh. Menyukai hal-hal yang berbau gombalan saja. Dari pada sebuah tindakan nyata."
"Oh, ya."
"Seperti para Tuan muda Raffael dan Andreas. Mereka berdua mencintai Nona, Key dengan perbuatan saja. Beruntung untuk Tuan muda, Raffael, tetapi buntung untuk Tuan muda, Andreas. Sungguh aku tidak tega melihat apa yang sudah dilakukannya," Jordan menggeleng pelan mengingat, Andreas.
"Kalian bertiga sempat satu universitas?"
"Benar. Tetapi hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Aku tidak tahu ada bara cinta yang berkobar sebesar itu."
"Aku sudah lama tidak bertemu, Key, sejak dia memutuskan kuliah di luar negeri. Jadi aku tidak terlalu mengenal
pemilik Wiratama group itu.
"Apakah mereka masih bersitegang."
"Tidak. Sudah lebih baik. Aku harap hubungan mereka kembali seperti dulu."
"Kalau di pikir- pikir, jahanam sekali orang yang mengadu domba keduanya."
"Clara... maksudmu?" Jordan menatapnya tak berkedip.
" Siapa lagi. Kau mengenalnya?"
"Sekilas saja!" Sudah jangan di bahas. Sekarang kita jalan-jalan, ok."
"Di balik sikap tegasnya, sebenarnya dia adalah bos yang paling baik yang pernah ku kenal," pujinya.
"Aku percaya. Aku sangat mengenal keduanya," Mereka berdua menatap pemandangan indah di kawasan perbukitan dengan mengendarai mobil baru hadiah dari Raffael. Pria tampan itu merasa sangat berhutang pada orang kepercayaannya yang sudah mensukseskan semuanya, begitupun dengan Jasson dan Jordy selepas Raffael menikah, ketiganya banjir hadiah
dari Raffael.
"Naya," panggil, Jordan, mendapati orang yang dicintainya itu, begitu terpukau menikmati alam yang terlihat dari ketinggian.
"Iya."
"Pemandangan apa yang paling indah menurutmu? tanya Jordan dengan memamerkan senyum.
"Green canyon."
"Salah dan itu terlalu jauh."
"Di sekitar sini?"
"Tentu saja!"
"Pemandangan yang sedang kita lihat saat ini," jawab Naya.
"Salah sweetie. Jawabnya adalah... indah saat memandangmu," mendengarnya membuat keduanya tertawa bersama- bersama.
__ADS_1
"Ternyata kau pandai juga menggombal"
"Aku juga mempunyai satu pertanyaan untukmu," tantang Naya.
"Katakan saja," Jordan menantang kembali."
"Kenapa orang menyebutnya cinta monyet, padahal cinta yang dirasakan kadarnya sama?" tanya Naya. Perempuan itu sejenak mengingat lelucon yang pernah diucapkan oleh Key semasa remajanya. Keduanya tidak berhenti untuk saling berpegangan tangan dengan menyusuri ketinggian yang menawarkan green views yang semakin indah dan menakjubkan.
"Gampang."
"Apa, coba?"
"Tidak mungkin, kan, cinta ayam, atau cinta bebek, karena kalau berkotek akan sangat berisik," Jordan terkekeh mendengar jawabannya sendiri.
Naya ikut tertawa mendengarnya dengan memperlihatkan wajah manisnya. Sementara Jordan tidak melepas tangannya dan dengan telaten menuntun naya untuk terus mencapai tempat yang lebih tinggi.
"Benar, kan, jawabanku?"
"Salah," jawab Naya penuh kemenangan.
"Lalu?"
"Kalau cinta beruang, semua wanita di dunia ini matrealistis semua," seloroh Naya dengan tersenyum lebar, yang sukses mendapatkan cubitan kecil Jordan pada hidungnya. Jordan yang mendengarnya kembali tertawa. Tidak disangka, memaknai cinta dengan cara sederhana ternyata sangat indah. Kisah cinta keduanya memang tidak seheroik Raffael dan Key. Tetapi keduanya mempunyai cinta yang sama luar biasanya dan sangat tulus untuk orang yang dicintainya.
"Di sini saja. Aku lelah," keluhnya.
Napas naya sedikit tersengal karena kelelahan. Jordan yang menyadarinya mengajaknya untuk duduk dan menyadarkan pucuk kepalanya di bahunya.
"Siapa tadi yang mengajak kemari?" protes Jordan seraya mengusap lembut peluh di dahinya.
"Aku terbiasa melihat pemandangan alam dengan Key di waktu kecil."
"Aku mengerti, Karenanya Bos membuat Palace di tengah perbukitan." Naya memandang wajah Jordan yang sesat mempertemukan netra keduanya.
"Kau sangat hebat, bisa menyelesaikan project sebesar itu dalam waktu singkat."
"Dan bonusnya untukmu."
"Aku tidak meminta itu. Jangan memikirkan sesuatu yang jauh dari jangkauan kita," Naya menyadari Jordan bukanlah Raffael. Mereka mempunyai kondisi keuangan yang berbeda. Tetapi Jordan juga bukan orang yang tidak berada. Untuk masa depan keduanya, sudah lebih dari cukup untuk mereka berdua. Raffael memperhatikan masa depan Jordan dengan baik, karena merasa Jordan layak mendapat semua itu.
"Aku beruntung bertemu denganmu." Dalam hati Jordan ingin membahagiakan Naya dengan semampunya. Dan akan melakukan apa saja yang membuatnya tersenyum.
"Aku lebih beruntung, Jordan," balas Naya lirih. Keduanya saling menatap dengan dalam dan penuh cinta. Debaran hati mereka berdegup kencang, saat dengan begitu manisnya Jordan mencuri ciuman pertamanya untuk Naya.
"Sweetie I love you," bisiknya.
________________________
Sahabat tersayang π
Jangan lupa untuk like dan komennya.
Biar tidak spaneng mudah-mudahan suka dengan keromantisan mereka berdua, ya.
__ADS_1
Terimakasih yang masih setia membaca πππ