Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
71. My world


__ADS_3

Raffael sudah menduganya. Senyum tipisnya perlahan memudar dari wajahnya, menyisakan awan mendung yang menutup wajah tampannya.


"Baiklah. Kau boleh bergabung dengan yang lainnya sekarang, "Tos," tangan Raffael terangkat dan sesaat terdengar suara tepukan kecil dari telapak tangan yang saling beradu dan sedikit membuatnya termangu, saat melihat langkah ringkih itu, setengah berlari meninggalkannya dengan pesawat mainan di tangannya.


Keduanya saling menatap. "Ayo kita kembali," ajak Raffael kemudian, diikuti langkah, Key, yang berjalan mensejajarinya.


Key terdiam duduk di samping Raffael yang sedang menyetir. Pikirannya melalang buana entah kemana. Ada rasa bahagia, tetapi juga ada sekelumit rasa yang terkadang begitu terasa mencubit kedalaman hatinya. Raffael dengan sebuah kejutannya dan penantian panjang akan datangnya, malaikat kecil untuk keluarga Bryan dan Carroline begitu mempengaruhi pikirannya, sesaat melupakan kecemburuan, Raffael.


Apakah dia tidak berniat menanyakan sesuatu padaku? batin Raffael kecewa menangkap keterdiaman, Key.


"Cara, kau baik-baik saja?" Raffael sedikit meliriknya sambil fokus menyetir menatap keluar ke arah jalanan.


"Hemm... iya," jawab key singkat.


Apa! Harusnya dia yang bertanya apakah aku baik-baik saja, kenapa malah aku yang bertanya padanya," batinnya agak dongkol.


"Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?" Selidik Rafael ingin tahu dan berharap Key menceritakan padanya, yang berhubungan dengan Andreas saat di panti tanpa dia bertanya lebih dahulu.


Sesaat lamanya keduanya saling diam dan membuat Key tertawa dalam hatinya.


Wanita itu, menangkap keraguan yang mengganjal dari raut wajah, Raffael. Tetapi kekasihnya itu diam seperti tidak ingin membuka pembicaraan lebih jauh. Padahal Key tahu, kalau sudah berurusan dengan Andreas, Raffael sangat sensitif.


"Kenapa? Kau ingin bertanya tentang kedatanganku bersamanya? Itu sudah lama, saat aku masih bekerja dengannya.


Dia suka mengantarkanku dan aku mampir panti sebentar, lalu dia ikut denganku, sekalian memberi bantuan," jelasnya apa adanya." Spontan wajahnya menoleh ke arah Raffael, ingin melihat reaksi darinya.


"Aku tidak akan menghalangi orang yang ingin berbagi, "kecuali itu, tidak ada ampun lagi." Bayangan anak- anak tidak beruntung itu, sedikit mengendalikan rasa cemburu dalam hatinya. Apa yang salah dengan Andreas yang ingin berbagi, walaupun diakui faktor kekasihnya juga dia melangkah ke sana.


"Astaga! Kau ini. Lupakan saja, "lagipula tidak ada yang perlu dibahas lebih jauh."


Key memperbaiki duduknya dan kembali menyandarkan kepalanya menatap jalanan luar dan kembali merapatkan bibirnya. Tetapi hal itu malah menarik perhatian Raffael tentang apa yang sedang di pikiran oleh wanitanya itu.


Tangis Caroline dan perbedaan pendapat dengan orang tua Bryan kembali melintas dipelupuk matanya dan diam- diam mengukur bilamana terjadi pada dirinya. Mungkinkah kedua orang tua Raffael akan tetap menyayanginya.

__ADS_1


"Ada yang kau pikirkan?"


"Tentang Carroline," Key menoleh sekilas.


"Jangan terbawa perasaan."


"Apakah kau sudah mulai menjadi seorang cenayang untukku."


"Tidak usah memikirkan sesuatu yang belum jelas, Itu sama saja kau meragukan kemampuanku," ucap Raffael to the point.


"Kemampuanmu?" Key sedikit mengangkat bahunya dengan sedikit berdalih, berharap Raffael salah dalam menebak alam pikirannya.


"Apa maksudmu, cara?! Jangan menyimpulkan sesuatu, kalau kau belum mencobanya," Raffael menatap key dengan tatapan yang mengintimidasi, yang seketika membuat, Key merasa tertebak. Degub jantungnya berirama lebih cepat. Dia sangat malu walaupun Raffael belum secara jelas mengucapkannya.


"Kau sedang memikirkan carroline, dan kau mengukurnya bilamana hal tersebut terjadi kepada kita, bukan?" Raffael tersenyum smirk menatap, Key yang mendadak merona karena dugaannya benar.


Raffael, sudahlah. Jangan di bahas lagi.


Aku cuma berpikir, hari ini kau melakukan sesuatu yang luar biasa saja," ujarnya kembali berbohong.


"Tentu saja!"


"Apakah kau mulai tidak sabar, cara? Atau kita bisa mencobanya sekarang."


"Raffael! Protesnya semakin malu dan tidak bisa menutupi wajahnya yang mulai memerah, Raffael yang melihatnya menjadi merasa menang bisa menebak alam pikiran calon istrinya itu.


"Keturunan dalam sebuah rumah tangga memang impian, tetapi bila tidak hadir bukan alasan cinta tidak lagi bisa dipersatukan," Raffael memberikan alasan.


"Bryan dan carroline berniat mengadopsi seorang anak, tetapi kedua orang tua Brian tidak mengijinkan dan berharap cucu mereka adalah tetap darah daging mereka sendiri, "itu saja yang sedang aku pikirkan," dalihnya.


"Kita tidak akan mengalami hal itu," potong Raffael cepat. Dengan perlahan sebelah tangannya meraih jemari Key dan menggenggamnya dengan erat.


"Apakah kau begitu cemas dengan itu?" Hemm.... Raffael tanpa menoleh kearah Key dan tetap fokus untuk menyetir.

__ADS_1


"Tidak terlalu, karena kita belum resmi menikah, lagipula kita periksa baik-baik saja," ujarnya setengah berbohong.


Bukan tanpa alasan kadang Key berpikir terlalu dini, diantara keluarganya dan Raffael mempunyai riwayat sulit untuk mendapatkan keturunan. Kakek Raffael bahkan sampai harus mengadopsi seorang anak, baru kemudian lahirlah Papi Raffael.


Begitupun Rafael dan dirinya terlahir sebagai putra dan putri tunggal, belum peristiwa masa lalu yang menimpa keluarga Raffael, adopsi tidak akan pernah menjadi pilihan dalam keluarga Raffael apapun alasannya. Apa lagi ANTARA GROUP memerlukan pewaris yang sah suatu hari kemudian dan sikap over protective mami Raffael terhadap dirinya sesungguhnya diam-diam membebaninya.


"Sayang, berpikirlah yang lainnya, yang akan membuatmu bahagia. Tidak perlu menyisakan sedikit pun ruang, yang hanya akan membuatmu resah, atau bersedih. Karena kita harus bahagia," Raffael berucap tanpa ada keraguan.


Key tersenyum dan keduanya saling menatap. Dirasakan genggaman tangan Raffael yang semakin erat, seakan semestapun tidak akan pernah sanggup untuk memisahkan mereka berdua.


"Caraku harus bahagia, karena kau adalah duniaku," ucapan manis Raffael seketika membuat hatinya semakin meleleh.


"Aku benar-benar tidak menyangka, kau seputis ini, Raffael! Ingatlah,Caramu ini tidaklah sesempurna yang kamu pikirkan. Suatu hari nanti, bila waktu membuka tabirnya, bahwa mencintaiku tidak seindah yang kau pikirkan, masih bisakah aku berharap kau akan tetap mencintaiku seperti ini?"


Kemudian Keduanya kembali saling menatap dan terus tersenyum.


"No doub! Cinta kita tumbuh dari kemurnian hati, selama kita tidak mengotorinya, semua akan tetap sama. Apapun itu alasannya. Waktu sudah begitu keras membentuknya, selama kita menghargai sebuah kehadiran, kita tidak akan pernah memberikan sedikitpun ruang untuk berpikir, "apa itu perpisahan.


"Bahkan perpisahan juga tidak lantas menghentikan cinta dalam hati seorang manusia, "Adakalanya perpisahan mengajarkan kita, bagaimana kedudukan seseorang setelah tidak lagi bersama kita.


"Itu kau mengerti, untuk apa bicara perpisahan."


"Terimakasih untuk setiap hari yang selalu luar biasa untukku. Beristirahatlah, besok kamu harus kembali bekerja, ucap key sebelum masuk Ke Mansion. Sebuah kecupan sayang dari Raffael mendarat dengan lembut keningnya .


"Selamat beristirahat. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu," keduanya pun berpisah dengan senyum yang terukir diwajahnya. Mereka harus rehat karena jadwal padat yang menanti keduanya untuk fitting gaun dan mengadakan sesi foto prewedding.


________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 🌹

__ADS_1


Jangan lupa untuk like dan komennya, ya


guys. Thank you 🙏


__ADS_2