
"Om? Raffael menatap tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Begitupun dengan pengacara itu yang terlihat menajamkan pendengarannya, lalu keduanya saling berpandangan dan mengangguk pelan.
Sementara Tuan Tirtawijaya terlihat menerawang jauh, seperti sedang berupaya untuk mengingat masa lalu.
"Perlu diketahui, tidak ada nama Danu purba dalam daftar karyawan Tirtawijaya Group. Nama Danu Purba, mengingatkan saya pada seseorang yang pernah saya
tolong, pada sebuah rumah sakit yaitu
Darriel purba sastra negara, orang yang
pada akhirnya menjadi tangan kananku."
Raffael berjalan mendekat, tangannya terulur memberikan foto yang diyakini adalah sosok Danu purba.
"Apakah om kenal orang ini?" Harap-harap cemas Raffael menunggu Pria dengan rentang usia enam puluh tahu itu untuk menjawab.
"Dia bukan sosok Darrel purba," jawabnya yakin. "Tetapi memang ada sedikit garis kemiripan wajahnya, tetapi saya yakin itu bukan Darriel purba." Tuan Tirtawijaya mengamati foto itu dengan seksama.
Garis kemiripan wajah, bukankah hal seperti itu identik dengan saudara dekat seseorang? Darriel purba sastra negara, Nova ayudina sastra Wijaya, bukankah bukan suatu hal yang mustahil, mereka
adalah kerabat dan sejenisnya. Sastra
Wijaya dan sastra Negara, bahkan itu sangat mirip.
lama Raffael terdiam.
Di Dunia ini banyak sekali nama yang sama, tetapi kenyataan Nova membawa foto keluarga Key dan menyilangnya dengan garis merah darah yang mengering, itu sudah mutlak dia ada keterlibatannya.
Raffael menganggukan kepalanya. Setidaknya ada sedikit titik terang, tinggal memaksimalkan penyeledikan saja. Setelah mereka kembali berbincang serius, pria itu menyuruh Tuan Tirtawijaya untuk beristirahat. Pria berwibawa itu, terlihat sangat letih dari wajahnya, sementara sang pengacara
berpamitan untuk kembali pulang.
"Nak, Raffael, apa tidak sebaiknya kamu
bicara terus terang kepada keluarga besarmu, untuk ini semua. Saya merasa benar-benar tidak enak hati."
Raffael tersenyum. "Saya pasti akan bicara terus terang disaat yang tepat,
sekarang saya akan mengantarkan om
kembali pulang."
"Apakah tidak terlalu merepotkan, nak?
Biarkan anak buahmu saja yang mengantarkan, Om."
"Saya ingin bicara dengan, Key, sebentar."
"Oh, iya." Tuan Tirtawijaya kembali tersenyum.
Aku harap, malam ini Andreas tidak sedang mengantarmu pulang.
Mobil Buggati hitam miliknya meluncur dengan deras, diikuti oleh beberapa anak buahnya yang mengawasi dari jauh. Key yang baru saja pulang dari kantor sedikit
terkejut mendapati orang tuanya pulang
bersama, Raffael.
"Papa!"
"Sayang, kamu sudah pulang?" Key memeluk Tuan Tirtawijaya dengan sayang. Raffael yang melihat interaksi
keduanya, tersenyum tipis di sudut bibirnya.
"Papa sudah makan?" Kedua netra indahnya menyelisik wajah orang yang
telah membesarkan dengan segenap hatinya itu.
"Sudah, sayang. Raffael hari ini mentraktirku," jawabnya dengan terkekeh. Key melonggarkan pelukannya dan sedikit melirik, Raffael yang sedang
__ADS_1
berdiri tidak jauh dari hadapannya.
"Terimakasih."
"Hemm ...."
"Kamu sendiri, apakah sudah makan, sayang?"
"Sudah, Pa! Pulang kantor saya langsung ma__makan malam." Key sedikit menjeda ucapannya, dengan sedikit memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan mata Raffael yang menggelap.
"Ya, sudah, kalau begitu. Papa ingin istirahat. Raffael ingin bicara padamu.
Kasihan dia harus menunggumu." tangannya terangkat menunjuk Raffael yang berdiri tidak jauh darinya.
"Mandilah. Sudah sangat malam.
Aku akan menunggu sebentar," perintahnya dingin.
"Kau tidak apa-apa?"
"Hemm ... aku sudah terbiasa menunggu."
Hanya tarikan napas yang terasa sesak, dirasakan wanita itu, saat punggung tegap itu berlalu. Sebelum pada akhirnya langkahnya terburu- terburu untuk menuju kamarnya dan mandi.
πππ
Lina belas menit berselang.
"Kamu di sini?" tangannya terulur perlahan memberikan secangkir teh hijau hangat untuk, Raffael. Duduk menatap ruang hampa dengan pemandangan kolam renang yang diterangi sedikit cahaya temaram lampunmembuat Raffael terpaku dalam diam.
Raffael menoleh kepada wanita yang duduk di sampingnya dan menerima teh hangat darinya.
"Terimakasih."
Angin malam berdesir lembut, menyapu rambut indah Key yang terurai panjang dan hitam. Jemari lentiknya, beberapa kali harus merapikan anak rambut yang menjuntai menutupi wajahnya.
Beberapa kali pula tangannya meraba-raba sweater tebal berkerah turtle neck yang membungkus tubuh indahnya. Hawa dingin yang menyeruak seakan -akan menembus pori-pori kulit menghasilkan sensasi yang merinding.
"Aku harap, setelah kasus ini resmi bergulir kembali diranah hukum, kamu
bersedia tinggal di mansion keluarga besarku." Raffael membuka pembicaraan dengan suara rendah dan sedikit meliriknya untuk mengetahui reaksi wanita itu.
"Tinggal di Manson?"
"Aku sudah berjanji, akan menjamin keselamatan keluarga besarmu. Aku tidak mau mendengar sebuah penolakan, itupun kalau kamu peduli dengan usaha orang-orang sekitarmu."
Key tercekat setiap mendengar ucapan Raffael. Sudut hatinya selalu berdesir nyeri dengan nada bicaranya yang sedikit memaksa dan terkesan kurang bersahabat.
"Semua keperluan keluargamu sudah aku persiapkan. Kalian tinggal bersiap untuk
pindah saja ."
"Raffael_____"
"Cukup! Kali ini saja! Dengarkan aku,"
Tangannya terangkat sebelah tidak
siap untuk sebuah alasan apapun.
Ditariknya napasnya yang terasa sesak.
Dilihatnya Raffael yang tidak bergerak
dari tempatnya.
"Sampai berapa lama? Apakah keadaannya serumit itu? Apakah
ini waktu yang sangat tepat, Raffael?"
__ADS_1
"Aku sudah memikirkan matang-matang
semuanya."
"Termasuk disaat kamu akan menikah?" Dengan nada bicara menuntut sebuah
penjelasan.
"Aku menundanya."
"Apa! Raffael!"
"Suatu saat kayu akan mengerti ...." ujarnya lirih. Pria itu bangkit melangkahkan kakinya menuju pinggiran kolam renang dengan sorot cahaya yang memantul. Wajahnya terlihat samar-samar dengan posisi membelakangi Key yang masih duduk seolah bak patung membeku.
"Jangan menaruh semua kepentingan keluargaku di atas kepentingan pribadimu. Mungkin kamu lelah mendengar ucapan terimakasihku, tetapi
kamu harus tahu, ada seseorang yang menunggumu dan harus kamu jaga perasaannya setiap waktu."
"Aku mengerti bagaimana caranya, menjaga orang yang menjadi prioritasku, jadi jangan salah paham dengan semua ini," Raffael memutar badannya dengan cepat seketika manik mata mereka saling bertemu.
"Kamu tidak pernah mengerti. Apa kamu pernah berpikir, bagaimana perasaan Nova mendengar kau membatalkan pernikahanmu demi mengurusi seorang
temanmu? Kau harus bisa membedakan
dia kekasihmu dan aku sahabatmu."
jelas Key tidak sependapat dengan Raffael kali ini.
"Jangan membuat semuanya menjadi sulit, Raffael. Kamu membawaku ke Mansion keluarga Wijaya, tetapi di sisi
lain kau tidak pernah menunjukkan Nova kepada keluargamu. Bahkan sejak kedatangannya. Aakah kamu pikir
dia baik-baik saja? Apakah kau pernah memahami perasaannya," cecar Key kesal sekaligus gemas.
"Apakah kau mulai merasa sesak dengan semua aturanku, key? tanya Raffael tak suka.
"Maafkan, aku. Aku tidak bisa pindah ke Mansion milikmu. Aku mohon, jangan salah paham mengertilah ...."ujarnya lirih.
"Bukankah juga sudah ada penjaga di sini?
Raffael menatapnya dengan kecewa. Ia sudah mengira wanita itu akan bersikeras
menolaknya dan tidak mudah begitu saja membawa Key ke Mansion.
Apakah semua ini karena Andreas?
"Kenapa harus pindah ke Mansion? Bukankah kau adalah orang yang sangat
hebat, aku akan baik-baik saja, bahkan tanpa harus pindah ke Mansion, bukan?"
Maafkan aku, aku tidak punya pilihan
lain, selain mengawasimu di Mansion keluarga Wijaya. Aku tidak siap dengan
sebuah penolakan apapun, terlepas apa yang disampaikan oleh Jordy tadi siang.
"Aku tidak ingin mendengar sebuah penolakan lagi, persiapkan dirimu. Semua
keperluanmu juga sudah kupersiapkan.
Aku pergi dulu," pamitnya beranjak dengan cepat.
"Raffael___"
"Masuk dan Istirahatlah, angin malam sangat tidak baik, besok pagi aku ingin kau menemaniku." Dengan Key yang masih bingung, akhirnya Raffael benar-benar berlalu.
Besok pagi, apa lagi yang sedang kau rencanakan, Raffael.
_____________________
__ADS_1
Sahabat tersayang π
Jangan lupa untuk like dan komentarnya, ya! Terimakasih πππ