Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
60. Cemburu yang terulang


__ADS_3

Raffael berlalu pergi menuju ruanganya diikuti Key dibelakangnya. Pintu tertutup


menyisakan mereka berdua di dalam ruangan berperang dengan pikiran masing-masing.


Key duduk di sofa sementara Raffael kembali berkutat dengan pekerjaanya. Beberapa saat hanya hening terasa tanpa ada satupun yang berniat membuka pembicaraan. Key mengerti, suasana hati Raffael sedang tidak baik-baik saja, dan merasa menjadi serba salah. Hatinya mulai gelisah menanti Raffael membuka percakapan lebih dulu, tetapi tetap saja bibirnya terkatup rapat.


"Apakah kau marah padaku?" bibir mungilnya sedikit bergetar membuka pembicaraan. Netra indahnya tidak bisa berpaling sedikitpun sementara Raffael terlihat cuek-cuek saja.


"Tidak, untuk apa aku marah, "bukankah sudah biasa kau lebihi memilih bersamanya dibanding denganku," jawabnya tanpa menoleh. Sepasang matanya menatap layar yang penuh dengan draf- draf berbagai projects penting yang harus dibacanya.


"Kamu kembali cemburu?" Wajahnya yang terasa kaku memaksa sebuah senyuman dan kembali menatap Raffael yang sedang serius membaca berkas. Tangannya dengan gelisah membolak balik kertas yang berada dalam genggamannya tetapi alam pikirannya tidak tahu ada di mana.


"Apakah kau peduli dengan semua itu?"


Key terhenyak mendengar jawaban Raffael, ada rasa bersalah dalam dirinya.


Berkali-kali dia menolak tawaran untuk bekerja dengannya. Bahkan Pria itu pernah menawarkan gaji dua kali lipat hanya untuk mengajaknya bergabung di kantornya, tetapi dengan berani Key menolaknya. Sekarang setelah tahu apa yang dilakukan Raffael untuknya, rasa bersalah menyergap hatinya.


"Aku memilih dia untuk tempat bekerjaku, tetapi tidak dengan hatiku," Dadanya yang mendadak sesak memaksanya untuk menarik nafas dengan dalam dan melepaskannya perlahan.


"Sudahlah jangan seperti ini, Itu sama saja kau tidak mempercayaiku. Sejujurnya aku sampai tidak bisa berkata-kata dengan semua yang kamu lakukan untukku, sejak dulu hingga saat ini, Raffael. Aku tidak menutup mata dengan semua itu."


"Aku hanya merasa tidak biasa, melihatnya bertemu denganmu, dengan cinta dalam hatinya. Aku tahu Andreas itu sahabatku. Karena dia sangat mencintaimu, karenanya aku mengundangnya, supaya dia berhenti untuk berharap padamu," cerorosnya dengan kesal.


Raffael menghentikan pekerjaannya dan kembali fokus menatap Key yang terlihat sedih dengan *******-***** jemarinya gelisah. Sesekali terdengar napasnya yang berat menahan sesak dalam dadanya yang seakan menjadi buntu.


"Dia tidak mengatakan apapun, itu artinya dia sudah mengerti dengan posisinya. Kecuali dia mengusikku, kamu boleh bersikap seperti itu. Lagi pula selama aku dengannya, itu hanya untuk urusan pekerjaan saja, Raffael. Kalau hatiku begitu mudah menerima kehadirannya, aku tidak akan menjaga perasaanku padamu selama itu, "kenapa kau tidak memahaminya," jelasnya panjang lebar tetapi setenang mungkin dia menurunkan intonasi suaranya.


Raffael dibuat kesal karena, beberapa kali dia memanggilnya untuk wawancara, Key lebih fokus kepada kedatangan Andreas yang berjalan mendekat ke arahnya. Asyik mengobrol dengan Andreas dan melewatkan beberapa wawancara penting dengan beberapa media membuat hatinya panas seketika dan merasa diabaikan.


"Apakah kau pernah berpikir sekali saja untuk menemaniku, untuk sekedar urusan pekerjaan, seperti yang kau lakukan untuknya?" Tidak, kan!" todong, Raffael menyisakan rasa sakit di dalam hatinya.


Dadanya kembali bergemuruh


"Seandainya aku tahu, kamu melakukan ini semua untukku, kita akan berjuang bersama-sama."


"Aku tidak biasa banyak bicara terhadap apa yang aku lakukan untuk seseorang, sebelum jelas ada hasilnya," potong Raffael cepat.


"Perusahaan ini tetap milikmu. Tanpa mengurangi rasa hormatku kepadamu. Karena kamu yang bekerja keras selama ini," bibirnya kembali bergetar. Entah keberanian dari mana, yang membuatnya berucap seperti itu.


Raffael menatapnya dengan tajam dengan penuh amarah. Tidak di sangka Key akan berucap seperti itu padanya. Pria itu berjalan mendekat berdiri dihadapannya yang sedang tertunduk.

__ADS_1


"Itu karena kamu sudah terbiasa menolak semua pemberianku. Aku mengerti, Key. Semua yang aku lakukan untukmu adalah keharusan yang harus aku bayar. Karenanya tidak berarti apa-apa untukmu. Maaf, keluargaku banyak membuatmu menderita selama ini."


Raffael hendak berlalu, tetapi dengan cepat Key meraih lengannya untuk menghentikannya. Jemarinya mencengkeram kuat pergelangan tangannya dengan sorot mata menghiba, menahan kristal bening yang sudah mengembang di pelupuk matanya. Key menyinggung sesuatu yang sangat sensitif dirasakan oleh Raffael dan membuat pria itu dihantui rasa bersalah selama ini.


Key merutuki ucapan. Hatinya sakit sekali, tetapi Ia tahu hati Raffael jauh lebih sakit. Key merasa salah dalam berucap dan itu sangat menyinggung perasaan, Raffael. Semua ini salahnya. Dirinya yang terlalu banyak menolak permintaan Raffael dan terkesan tidak menghargai apapun yang dilakukannya untuknya.


"Aku yang salah. Aku tidak bisa menghargai usahamu, aku lancang sekali berucap, "maafkan aku," Susah payah dia menahan air matanya agar tidak jatuh menetes. Key memilih menundukkan kepalanya, menghindari tatapan tajam Raffael yang penuh dengan kekecewaan.


"Aku pantas dipersalahkan. Maaf. Aku benar-benar minta maaf," Raffael diam mematung merasakan pegangan tangan Key yang semakin kuat, bahkan tangan itu bergetar.


Bagaimana bisa Ia berucap, seakan dia mengembalikan perusahaan pemberian Raffael, setelah dia tahu seberapa berat kerja keras dan usahanya untuk sampai di titik ini. Bahkan Raffael bertaruh nyawa untuk mengupayakan keadilan keluarganya.


Aku benar-benar bodoh, sangat bodoh.


"Kenapa kita berdebat? Aku yang belum apa-apa untuk menjadikan mu sebagai milikku, tetapi aku punya cinta yang sama besarnya dengan yang kau miliki untukku," Bibirnya sedikit bergetar dan mengangkat wajahnya memberanikan diri untuk membalas sorot mata, Raffael.


Tidak ada tatapan penuh amarah, kebencian tetapi dia menangkap sorot mata terluka yang begitu dalam dari tatap matanya yang kelam.


Hati Raffael berdenyut nyeri. Susah payah dia memberikan kejutan ini dan baru beberapa saat yang lalu, Ia merasakan beban yang luar biasa ini lepas dari hatinya. Setelah kepemilikan perusahaan Tirta Wijaya group kembali ke tangan orang yang dicintainya. Bahkan untuk semua ini dia mengabaikan kesehatannya yang diam-diam masih dirasakannya.


Tetapi bukan itu yang menjadi sumber utama kesakitaannya, nyawa pun dia pertaruhkan, tetapi nada bicara Key yang seakan mengembalikan pemberiannya membuatnya begitu terluka.


Tes


Kristal bening itu meluncur tanpa aba-aba. Raffael yang diam memaku perlahan melepaskan genggaman tangannya.


"Tolong jangan lakukan hal ini kepadaku, aku bersalah dan tidak termaafkan, "Raffael, aku benar-benar minta maaf padamu," Key menggeleng pelan dengan mata yang semakin sembab oleh air mata.


Peluk aku Raffael, jangan diam saja," Jiwa Key meronta dengan derai air mata. Demi Tuhan tidak ada niat sedikit pun untuk menyinggung perasaannya, apalagi berniat mengabaikannya karena kedatangan Andreas, itu tidak pernah terpikir olehnya.


Raffael memajukan langkahnya tangannya terulur pelan mengusap air matanya lalu mendekapnya dengan erat. Tetapi tidak satu katapun terucap dari bibirnya.


Maafkan aku, Aku yang tidak bisa mengendalikan ucapakanku.


"Aku cuma mencintaimu. Selama kau masih mencintaiku, aku akan tetap di sisimu, "apapun yang terjadi. Tidak ada yang bisa mengambil hatiku, bahkan Andreas sekalipun," isaknya pelan. Air matanya membasahi jas hitam miliknya tetapi Raffael membiarkannya begitu saja.


"Aku yang salah, maafkan aku," ujar Raffael lirih. Usapan lembut pada pucuk kepalanya membuat Key semakin terisak.


"Jagan menangis," Raffael memejamkan matanya membiarkan Key tetap memeluknya. Baru beberapa saat yang lalu kejutan yang indah di berikannya, tetapi harus ada air mata yang menetes lagi.


Rasa kepemilikan yang tinggi dalam

__ADS_1


dirinya membuatnya sulit untuk berpikir jernih. Kalau sudah berurusan dengan Pria lain yang mendekati, Key, hatinya mudah sekali bergejolak.


"Ayo kita kembali, Papa dan mama mungkin sudah menunggu," bisik Raffael lirih.


Key menggeleng pelan. "Kamu belum mengatakan, kalau kau sudah memaafkan ku," dengan semakin merapatkan pelukannya.


Raffael melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah cantik yang masih sembab oleh air mata dihadapannya. Jemarinya mengusap kelopaknya turun kebawah pada bibir merah milik Key dan memagutnya dengan begitu dalam dan lembut.


Sudah laksana candu baginya, menumpahkan segala rasa yang dimilikinya. Sapuan- sapuan indah penuh golora asmara terjadi diantara mereka berdua, membuatnya larut dalam indahnya cinta. Sangat lembut dan menggetarkan jiwa keduanya. Bibirnya tidak berhenti untuk tidak saling menyebut namanya dan mengklaim menjadi miliknya.


Raffael tersenyum. "Tadi kau sangat hebat dalam sambutanmu, betapa aku Ingin memujimu saat itu," tetapi rasa cemburuku ternyata begitu kuat dalam diriku, "maafkan aku cara___"


Key menggeleng. "Aku yang salah," potong Key cepat.


"Tentu saja, kau bersalah karena menyia-nyiakan kesempatan untuk wawancara khusus, karena kau lebih memilih bicara dengannya," jelas Raffael tanpa expresi.


Tangannya mengusap lembut wajah Raffael, sekarang dia tahu kenapa dia begitu marah padanya. Lagi-lagi dia melakukan hal yang bodoh dihari bahagianya dan membuatnya sangat menyesal.


"Aku sudah memanggilmu, tetapi kau begitu asyik bicara."


"Aku begitu buruk dan menyedihkan."


Raffael sedikit tersenyum dan mengangkat tubuhnya untuk duduk di Sofa. Ia melewatkan minum obat dan


vitaminnya dan membuat badannya terasa aneh kembali.


"Sayang ayo kita kembali," Raffael menyenderkan kepalanya yang mendadak kunang-kunang. Ia sudah harus meminum vitamin penambah darah yang terlewatkan. Tetapi karena tidak ingin melihat Key cemas, Raffael pura-pura masuk ke kamar khusus untuk meminumnya.


Sementara di luar gedung, Andreas memilih menyepi dari hingar-bingar acara. Menatap hampa seorang diri. Berhadapan dengan Key membuatnya susah untuk mengendalikan hati dan perasaannya. Wanita itu seperti magnet yang menarik kuat dirinya untuk mendekat terus dan melakukan apa saja untuknya dan membuatnya sulit untuk beranjak.


Hatinya sulit untuk mempercayainya walaupun Andreas, berulang kali sudah mengingatkan dirinya sendiri. Wajah yang beberapa waktu tidak dilihatnya, memupuk rindu dalam dirinya. Siapa sangka dirinya akan terlibat perasaan yang sangat rumit dengan sahabatnya sendiri.


"Kau sudah bahagia, harusnya aku mengerti. Kenapa hati ini tidak bisa diajak kompromi untuk menerimanya."


_______________________


Sahabat tersayang ๐Ÿ˜˜


Jangan lupa untuk like dan komennya, ya!


terimakasih ๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2