Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
50. Kejutan cinta


__ADS_3

Raffael memasuki kawasan mansion dengan menurunkan kecepatan mobilnya. Hawa dingin menyeruak dengan kabut putih yang masih menutupi dedaunan. Walaupun matahari pagi sudah mulai menyorot, tetapi tidak lantas mengusir embun pagi yang masih basah.


Raffael menurunkan kaca mobilnya dan menangkap keberadaan Jasson lalu memberikan kode dengan tangannya, untuk memarkir mobilnya di basemant Mansion.


"Tuan muda, selamat datang."


Raffael mengangguk. Matanya melihat


sekitar dan mendapati Key yang duduk di bangku kecil, dengan kertas dan pena ditangannya. Wanita itu larut dengan dunianya dan abai dengan kedatangan


Raffael yang sedang bersama Jasson.


"Biasa, Nona menikmati pagi sambil mendesain," jelas Jason menangkap kerutan di dahi Raffael saat melihat


pujaan hatinya itu."


"Bawa mobilku, dan periksa keamanan mansion. Besok siang kita bersaksi di pengadilan, siapkan penjagaan yang ketat."


"Baik Tuan muda."


Raffael melangkah pelan dan berdiri menatap, Key, yang tidak menyadari kehadirannya. Wanita itu terlihat sangat lucu sekali, mendesain dan sesekali mengecek ponselnya lalu menelpon seseorang. Mimik mukanya semakin lucu, saat kesal, tersungut -sungut dan


sedikit resah. Raffael tersenyum dalam hati melihatnya, karena ponselnya sengaja dia matikan.


"Apakah kau semarah ini? Sejak semalam tidak ada kabar dan tidak mau mengangkat teleponku," rutuknya kesal dan meletakkan penanya dengan malas.


"Kau sudah membuatku susah tidur, kalau mataku berkantung hitam seperti panda, "apakah kau masih mencintaiku?" sungutnya kesal.


"Maafkan aku, selama ini aku tidak pernah punya kekasih, jadi aku tidak tahu bagaimana memahami seorang pacar, supaya aku tidak mengecewakanmu."


Tangannya meraih ponselnya dan sekali lagi mencoba untuk menelpon, tetapi tidak juga tersambung. Key menarik napasnya kasar dan menghembuskannya kuat-kuat.


Key menutup wajahnya dengan telapak tangannya, ingin rasanya dia menangis, tapi terlihat sangat cengeng. Berselisih dengan sang kekasih, membuat suasana hatinya benar-benar kacau.


"Sekarang aku tahu, kamu benar-benar marah padaku. Aku yang salah, maafkan aku, Raffael. Selama ini aku selalu menyepelekan kecemburuanmu terhadap, Andreas. Tetapi sekarang aku benar-benar percaya padamu."


Tangannya melipat lembaran kertas dengan malas. Hasratnya untuk mendesain mendadak hilang, berganti awan mendung yang menghias wajahnya.


"Kau boleh marah padaku, tapi tolong jangan diamkan aku seperti ini," tangannya meraih ponselnya sekali lagi


dan terdengar nada tersambung.


Key memutar badannya dengan cepat, saat mendengar suara ponsel berdering


tidak jauh dari tempatnya. Raffael berdiri


dihadapannya menatap tajam tanpa senyuman.


Hatinya terasa lega mendapati orang yang di tunggu-tunggu tiba didepannya. Suasana hati Raffael terlihat sangat buruk, hal itu terlihat dari wajahnya yang kaku dan tegang.


"Kau datang? Dengan ragu kakinya melangkah mendekat. Ingin rasanya Ia memeluk pria itu, tetapi melihat sikap dingin Raffael, hatinya memperingatkan


untuk mengurungkan niatnya.


"Raffael, maafkan aku."


"Masuklah, hari sudah mulai panas dan berbalik." Key menurut dan tidak banyak bicara. Keduanya berjalan beriringan memasuki Mansion. Setelah mengucap


salam, Tuan dan nyonya Tirta wijaya menyilakan Raffael untuk sarapan.


Tangannya menyodorkan beberapa potong sandwich dan teh hijau hangat ke hadapan Raffael. Mereka sarapan bersama dengan hening. Netranya sesekali melirik Raffael yang sedang duduk makan disampingnya.



Key menyodorkan tissue untuk Raffael, tetapi pria itu menolaknya, karena ada tissue yang lebih dekat dengannya.

__ADS_1


Sehabis sarapan reffael berbincang serius dengan Tuan Tirtawijaya dalam waktu yang cukup lama. Raffael terlihat menyodorkan beberapa berkas dan menyuruh Tuan Tirtawijaya untuk menandatanganinya.


Wanita itu menatapnya tak berkedip.


Apakah kau benar-benar mencintaiku atau karena alasan bersalahmu itu, kau


mengikatku dalam sebuah hubungan yang serius? Ya Tuhan pikiran macam apa ini? Meragukan Raffael?


Buru-buru dia membuang jauh-jauh pikirannya yang tak terpuji itu. Dan kembali menatap sang kekasih. Key menyadari kedatangan, Raffael, kemari tidak mutlak untuk menemuinya, tetapi


ada keperluan dengan orang tuanya.


Key beranjak pergi dan seperti biasa, duduk di ruangan tempatnya mendesain.


Dari sini dia diam-diam memantau butiknya, yang sudah tidak didatanginya beberapa hari ini.


Walaupun Raffael bergelimang harta, Ia tidak lantas mengandalkan semua kebutuhannya pada pria itu. Ia ingin mendapatkan penghasilan tersendiri. Kehidupan sudah mengajarkan segalanya.


Wanita selalu saja terluka, saat semua tidak sedang baik-baik saja, terlepas kehidupan yang dimilikinya seperti apa. Bukannya tidak mempercayai, Raffael,


itu tidak pantas dilakukan olehnya. Ia


Hanya berjaga-jaga.


Key menatap kepergian mobil Raffael dari Mansion dengan sedih. Hatinya


kembali terluka. Bahkan Raffael tidak berpamitan dengannya dan berlalu begitu


saja.


"Apakah kau benar-benar tidak ingin bicara padaku?" Kali ini air matanya tidak


terbendung lagi. Memahami Raffael tidak


tidak biasa.


Matanya menatap nanar beberap desain gaun mewah yang di kerjakannya. Mimpinya sangat besar untuk menjadi desainer dan mempunyai rumah mode, karena kegemarannya dengan dunia fashion yang sangat besar.




Tekatnya menjadi semakin tinggi, untuk menjadikan dirinya wanita mandiri secara finansial. Supaya dikemudian hari, tidak


akan menemui kesulitan, kalau kehidupan


tidak lagi sama. Rahasia hidup seseorang


baginya tetap misteri. Hari ini terlihat sangat indah, tetapi esok hari kejaiban


lain bisa saja tetap terjadi.


"Kamu tahu, Raffael, "gaun yang aku pilih saat bersamamu di ivanka fashion?" Aku


pernah mendesain gaun yang sangat mirip dan betapa bahagianya, aku mendapati gaun itu di sana, karenanya aku memilihnya. Walaupun yang aku tahu, aku hanyalah sebagai tamu undanganmu waktu itu.



Tangannya meraba hasil desainnya dengan derai air mata. Key meletakkan kepalanya di atas meja. Memejamkan matanya, dengan bahu bergetar. Kali ini Ia benar-benar menjadi sangat cengeng.


Ini baru permulaan. Karena telepon Andreas, Raffael, benar-benar marah


padanya. Lalu bagaimana kalau timbul


masalah yang lainnya? Apakah semua

__ADS_1


akan baik-baik saja.


Sebuah usapan lembut membuat netranya terbuka dengan pelan. Raffael


duduk disampingnya dan jari tangannya mengusap kristal bening air matanya yang sedang menetes.


"Raffael! Kau masih di sini?! Tangis key pecah dan memeluk tubuh pria itu tanpa aba-aba."


"Kenapa menangis?" Aku sudah bilang aku membenci air mata ini.


"Kau marah padaku dan tadi aku melihatmu pergi, tanpa pamit."


"Tuan putri mengintip?"


"Maafkan aku," ucapnya di sela Isak tangisnya.


"Jasson yang pergi menggunakan mobilku,hemm," balasnya dengan tersenyum jahil.


"Kemana?" Key mendongakkan wajahnya


menatap Raffael. Mukanya semakin merona mendapati kebodohannya.


"Papi dan mami akan datang kemari, sayang. Kita akan menikah satu bulan setelah kita tunangan," bisik Raffael mesra.


Key tersenyum bahagia, walaupun ada air mata. "Apakah Tuan putri masih ingin menangis? godanya.


Key menggeleng dan merapatkan pelukannya. "Beberapa saat yang lalu


aku berpikir, kamu akan meninggalkanku," ucapnya sedih.


"Aku memang cemburu dan marah padamu, tetapi apakah sesederhana itu


kita berpisah?" tangannya mengusap lembut pucuk kepalanya dengan sayang.


Baginya mengikat Key lebih cepat, lebih


baik, supaya setiap saat bisa melihat dan menjaganya.


Raffael menatap hasil desain,Key, dengan takjub. Namun ada satu hal yang mengusik hatinya, Key mendesain gaun pengantin yang mirip, dengan yang pernah dipilihnya di Ivanka fashion.


"Ini adalah salah satu gaun impianku yang sudah aku gambar, tetapi belum sempat untuk menjahitnya, tetapi kau malah sudah memberikanku lebih dulu,"


saat menangkap kebingungan Raffael.


"Kau banyak membuat desain?" lagi-lagi Raffael dibuatnya sangat takjub. Tidak di sangka Key begitu mahir membuat gambar dan pola gaun yang sangat indah.


"Untuk butikku"


"Sebuah kebetulan yang sangat manis, baby, "apakah kau tidak ingin berterimakasih padaku," ujarnya dengan


menautkan kedua alisnya.


"Aku sudah berulang kali berucap terimakasih padamu."


"Berterima kasihlah dengan benar, cara!"


Akan aku tunjukkan bagaimana caranya


berterimakasih.


________________________


Sahabat tersayang 💓


Jangan lupa like dan komennya, ya!

__ADS_1


__ADS_2