
Sepanjang perjalanan, Key kembali terdiam, saat mobil Raffael mulai jauh meluncur meninggalkan Rumah sakit. Ekor matanya sedikit melirik dan tersenyum dalam hati dengan kekonyolan yang diciptakannya sendiri. Menatapnya yang masih kesal membuatnya tidak berpikir untuk dua kali, untuk kembali menggodanya.
"Apakah kau masih marah, sayang?"
"Tidak."
Cup...!! Bibirnya selalu menjadi sasaran empuk Raffael, saat dia kesal atau irit untuk bicara.
"Raffael! Kau sedang mengemudi!" Berhati-hatilah," protesnya sedikit kesal. Tangannya mengelap bibirnya yang menerima kenakalan manis, yang baru saja diciptakan.
"Mana, bibir crewetmu itu, sayang." Tanpa menunggu persetujuan tangannya membelokan mobilnya menuju ke sebuah restoran sushi yang mewah, untuk menikmati makan siang. Raffael memesan ruangan khusus hanya untuk berdua saja. Walaupun bukan dinner romantis penuh cahaya lilin bunga-bunga, dan lampu-lampu yang indah, tetapi menikmati makan siang berdua saja, tanpa gangguan orang lain sudah membuatnya terasa spesial.
Hal ini sengaja Raffael ciptakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena sejak peristiwa pengungkapan kasus itu, bukan tidak mungkin dirinya memiliki banyak musuh,
yang tidak terlihat dan mengintainya kapanpun dan di manapun.
"Jangan terlalu pedas, lihatlah kamu berkeringat," tangannya mengelap wajahnya dengan sayang dan menyingkirkan sause pedas dari hadapannya dan menggantinya dengan Sushi yang ramah dengan perutnya.
Raffael tersenyum dalam hatinya. Itu dia lakukan untuk menarik perhatian, Key. Dan benar saja, Key tetaplah akan menjadi penyayang, walaupun hatinya sedang marah, kesal atau kecewa. Mereka berdua begitu lahap menyantap sushi dengan romantis, saling menyuapi dan sesekali saling mengelap mulut mereka berdua.
Raffel begitu malas membiarkan Key turun dari mobilnya setiba di Mansion. Tidak kurang satu bulan, mereka akan disatukan dalam ikatan pernikahan, tetapi terasa begitu lama menunggu baginya.
"Aku tidak mampir, sayang, "karena aku takut begitu masuk, aku akan malas untuk pulang kembali," godanya. Tangannya dengan malas melepaskan genggamannya dan mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.
"Hati-hati di jalan, begitu sampai kabari aku, ya."
"Cara," Key menoleh dan menghentikan langkahnya.
"I love you."
Key tersenyum menatap wajah tampannya dan membalas sama manisnya. " I love you too."
πππ
Raffael terkejut saat turun dari mobil mewahnya setiba di kediaman utama. dibelakangnya ada mobil jasson dan Jordy yang menyusul.
"Kau!!" Raffael menyipitkan matanya menatap mereka berdua. Keduanya nyengir kuda mendapati Tuan muda Bos menatapnya heran.
"Maaf, Bos, kami tidak bisa membiarkan Tuan muda Bos berjalan tanpa pengawal. Nyonya Besar pasti akan sangat cemas," jawab Jordy mewakili untuk bicara.
"Sudah aku katakan, tidak apa-apa! Tapi ngomong-ngomong kalian ada di mana selama saya makan?" Raffael mengernyitkan dahinya menatap keduanya yang senyum-senyum tidak jelas.
"Tenang, Tuan muda. Saya duduk, menunggu di sebuah restoran tidak jauh dari tempat, Bos. Kami juga lapar, bos," jawabnya meringis.
"Bagus. Setidaknya saya tidak harus menyuruhmu makan. Lain kali kalau saya bilang pulang, "itu artinya kalian harus pulang," Raffael mengultimatum, walaupun dia yakin untuk keamanannya Bodyguardnya itu akan selalu keras kepala.
"Baik,Tuan muda. Sekali lagi kami mohon maaf," suara mereka berdua serentak dan berlalu pergi.
Sementara itu ditempat terpisah, Nyonya besar sangat kaget mendapati seorang perempuan yang bertamu ke kediaman utama Wijaya.
"Clara! Kau Clara, kan? Apa kabar? Bagaimana kabar mommy and Daddy?" Nyonya besar mempersilakan duduk.
"Kabar baik, Tante. Begitu juga mommy and Daddy," balasnya tersenyum.
"Syukurlah, sudah lama Tante tidak bertemu dengannya.Tante dan mommy bersahabat dengan baik, tetapi setelah sibuk dengan urusan masing-masing jadi
jarang bertemu. Kebetulan sekali kamu datang kemari, Tante bisa titip undangan pernikahan, Raffael," beritahu Nyonya besar dengan binar bahagia.
"Apa! Raffael akan menikah? jadi benar berita yang tersebar diberbagai media tersebut," batin Clara dengan rasa kecewa. Dia sama sekali tidak melihat acara pertunangan Raffael dan Key dan hanya melihat berita acara serah terima kepemilikan perusahaan keluarga Key beberapa saat yang lalu.
"Emm... Raffael mau menikah, Tante, "kapan?" Tanya Clara penasaran.
"Jika Tuhan mengijinkan bulan depan," jelasnya dengan senyum bahagia.
"Kalau boleh tau siapa calon istri Raffael, Tante?"
"Dia putri Tuan Tirtawijaya.Teman SMA, juga teman Raffael waktu kuliah."
__ADS_1
"Ohh, begitu. Turut senang saya mendengarnya, Tante." Clara menahan rasa kecewanya di dalam hati, Karena dia pernah menaruh hati kepada Raffael pada saat orang tuanya sering bertemu dengan keluarga Wijaya.
Putri Tuan Tirtawijaya, siapa dia? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Nama yang sangat familiar, pasti Raffael sangat mencintainya. Pria kulkas itu bisa juga berkomitmen? Hati Clara mendadak bergemuruh.
Setelah sekian lama mereka mengobrol, saling menanyakan kabar dan kegiatan masing-masing, Clara terlihat resah karena belum juga melihat Raffael, pulang.
"Raffael belum kembali dari kantor," tanyanya gelisah.
"Mungkin sebentar lagi, hari ini dia bilang pulang lebih awal," Nyonya besar menemaninya mengobrol dengan ramah.
Hingga pada akhirnya terdengar bunyi intercom doorbell, yang memperlihatkan mobil mewah Raffael memasuki pekarangan rumah yang luas, saat layar monitor yang terpasang di atas pintu memperlihatkan kedatangannya.
"Itu Raffael sudah pulang," Nyonya Besar menunjuk layar monitor yang terbuka dengan menampakkan mobil miliknya, mulai masuk pekarangan rumah kediaman utama Wijaya.
Clara mengulas senyum mendapati seseorang yang selama ini ingin ditemuinya telah datang. Terdengar langkah kaki mulai memasuki ruangan, diikuti Jordy dan juga ke empat anak buahnya mengikuti Raffael dari belakangnya.Tuan muda kebanggaan keluarga Wijaya itu nampak serius menatap seseorang yang sedang duduk bersama dengan maminya di ruang tamu.
"Raffael, sayang!! Sapa mami sambil tersenyum dan berjalan mendekatinya, yang menatap heran melihat kedatangan Clara.
"Ada Clara, anak sahabat mama di sini," kalian masih ingat, kan!" Tangan beliau menunjuk Clara yang sedang tersenyum sambil berdiri lalu mengulurkan tangannya kepada Raffael.
"Hi, nice to meet you."
"Nice to meet you too," jawabnya dengan sekedar basa-basi lalu mereka saling berjabat tangan.
"Jordy kau dan anak buahmu boleh keluar sekarang," perintah, Raffael.
"Silakan dilanjutkan mengobrolnya," Raffael menyilahkan diri kepada Clara dengan tatapan malas.
"Mam, Raffael mau istirahat dahulu," pamitnya lalu bergegas naik keatas.
Sejujurnya dia nampak sangat risi kalau mengingat Clara yang begitu agresif mendekati dirinya dengan datang ke kantor setiap saat. Bahkan perempuan itu dengan sengaja mamakai baju serba minim yang menarik karyawan kantor saat Ia berpura-pura menjalin hubungan dengan Nova.
Hemm... ada keperluan apa dia datang ke rumah? Batin Raffael sambil berlalu.
Nyonya Liliana yang melihat raut wajah Clara yang tampak kecewa segera
mencairkan suasana.
"Tante, calon istri Raffael bekerja dimana?" tanya Clara kemudian. Rasa penasarannya tidak bisa dibendung lagi dan sedikit demi sedikit mulai mengorek
tentang jati diri Key.
"Key...maksudmu?"
Dia sudah resign sekarang, karena Raffael tidak mengijinkannya untuk
bekerja.
"Key?" Guman Clara pelan. Dia memang membaca berita pada sebuah surat kabar, bahwa Raffael mengumumkan
akan bertunangan, tetapi tidak pernah melihat seperti apa, Key, karena dia sendiri tinggal di New York selama ini.
"Iya, namanya Key putri pemilik Tirta Wijaya Group," jawab nyonya Liliana singkat.
Clara mengangguk pelan. Oh, pantas saja pasti dia bukan orang sembarangan juga," Matanya menatap dengan penuh kekecewaan. Dia sudah sangat lama menaruh hati pada Raffael, namun karena kesibukan Raffael dirinya sangat
Sulit untuk bertemu dengannya.
Sementara itu Raffael yang selesai membersihkan dirinya duduk menyandar disebuah sofa dengan mata terpejam.
"Bisa-bisanya mami menerima tamu perempuan yang sudah jelas menaruh hati padaku," ujarnya malas, kali ini langkahnya bergerak malas menuju ranjang mewah miliknya.
"Raffael, ada yang mencarimu," beritahu Nyonya besar dengan mengusap lembut pundaknya.
"Suruh saja pulang. Mami, kan, yang menerimanya?" Kalau key melihat bagaimana?! jawab, Raffael kesal.
"Mami tahu, sayang, tapi dia hanya bertamu setelah sekian lama tidak bertemu."
"Asal mami tahu, dia pernah datang nekat ke kantor jauh sebelum kasus Ini diungkap, dengan pakaian minim dan berniat menggoda, Raffael. Saya risi, Mam! Nyonya besar terlihat kaget mendengarnya dan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.
"Mami ingin pernikahanku batal?! protes Raffael dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Raffael! Kau bicara apa!! Kalau kau sampai membatalkan pernikahanmu dengan Key, itu sama saja kau membunuh mami!! Jawab nyonya besar marah.
"Suruh dia pulang, bilang saya tidur."
Raffael beranjak lalu rmerebahkan tubuhnya di bed super mewahnya.
Nyonya besar tersenyum melihat ulah putranya itu. Sudah bukan hal baru Raffael sangat pemilih dalam berteman apa lagi untuk urusan hatinya.
"Baik, kalau sudah berurusan dengan Key, mami menyerah. Maafkan mami sayang. Sungguh mami tidak tahu dengan semua itu," Tangannya mengusap pelan pucuk kepalanya.
"Istirahatlah. Pasti kamu lelah. Ada EO yang mengurus semuanya kamu dan Key hanya tinggal mempersiapkan diri
Saja."
"Hemm .... "
"Bagaimana hasil tes kalian kemarin? Nyonya besar yang sudah penasaran ibertanya pada Raffael tetapi belum ada waktu.
"Semua Bagus, mami akan segera menimang cucu," balas Raffael tersenyum smirk menatap Nyonya besar.
Menimang cucu?" Kamu tidak macam-macam itu sekarang, kan?!
Nyonya besar menarik kuping Raffael dengan gemas.
"Mam, ada tamu di bawah, suruh dia pulang, Raffael akan cerita semua," jawabnya dongkol.
"Ok.ok. Sayang," Nyonya besar beranjak turun menemui Clara. Dengan wajah yang sangat kecewa akhirnya Clara pamit pulang dengan senyum terpaksa demi menarik simpati kepada orang tua Raffael.
"Sial! Sekalinya bertemu, dia sudah akan menikah!! teriaknya. Tangannya berkali- kali memukul-mukul stir mobilnya lalu terbesit dalam pikirannya untuk mencari tahu perempuan yang dipanggil "Key, itu.
"Bahkan bertemu denganku saja tidak mau!!".
"Ahh! Bullshit...!! Ini rupanya, Key! Matanya melotot membaca sebuah situs berita yang menyiarkan tentang pertunangan keduanya.
"Bisa-bisanya aku ketinggalan info sepenting ini. Tunggu! tunggu! Key, ternyata adalah Keyrane," Bukankah ini adalah wanita yang fotonya ada di ruang
CEO Wiratama Group itu," Clara tertawa terbahak-bahak mengingatnya.
"Andreas! Tidak salah lagi." lalu melesat dengan cepat dengan mobilnya.
Nyonya besar menyunggingkan senyum melihat hasil tes kesehatan Raffael dan Key. Keinginannya untuk segera menimang cucu sudah diubun- ubun.
Apalagi ANTARA GROUP butuh pewaris sah, pengalaman masa lalu kadang membuatnya trauma dan Raffael adalah harapan satu-satunya keluarga besar Wijaya.
Raffael bangun lalu duduk di atas bed. "Mam, hasil tes bagus sehat semua.Tetapi ide konyol mami itu hanya boleh dilakukan setelah kita menikah, mam!"
"Ide konyol?"
"Tes kesuburan! Raffael menajamkan suaranya yang di iringi tawa lebar Nyoya besar.
"Maksud mami?" Tanya Raffael menyelidik.
"Iya, sayang. Tes kesehatan itu sangat penting tetapi kalau tes kesuburan dengan mengambil sampel dari pria memang setelah menikah dan setelah berusaha lama, tetapi belum juga mendapatkan momongan. Nyonya besar tidak berhenti menahan senyum di kulum, karena berhasil mengerjai putranya.
"Mami mengerjaiku?!"
"Itu hukuman untukmu, Karena sudah membohongi mami kalau kamu ingin bertunangan dengan Nova," balasan dengan senyum menang.
"Mami tahu alasan, Raffael, kan? Atau jangan-jangan mami Ingin cucu mami di launching lebih awal, "dengan senang hati, Mam," Raffael menautkan kedua alisnya.
Nnyonya besar melebarkan pupil mata tak terima. "Raffael! Awas! Kendalikan dirimu. Tinggal satu bulan lagi! Menunggu dari SMA saja kamu bisa! Ancam Nyoya besar kembali.
Raffael tertawa melihat expresi maminya dan kali ini dia merasa lebih menang.
_____________________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang πΉ
Jangan lupa untuk like dan komennya, ya.
__ADS_1
Thank you π