Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
111. Hari terakhir


__ADS_3

"Kita akan sering kemari kalalu kau menyukainya."


"Asal tidak menggangu pekerjaanmu, aku tidak masalah."


Raffael tersenyum mendengarnya.


Tetapi tidak untuk berlayar kepulau itu.


Bayangan Resort mewah yang saling berhadapan dengan terpisahkan pulau kecil itu sangat mengganggunya. ARKEY, apakah sudah tidak ada nama yang lainnya," batinnya kembali kesal.


"Ada apa?" Key berjalan mendekat ke arah, Raffael saat kembali mendengar tarikan napasnya yang berat.


"Nothing."


Dengan sedikit termangu, perempuan itu melanjutkan untuk mengeringkan rambutnya dan bergegas menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Victoria Palace benar-benar disulap bak istana serba ada oleh, Raffael. Manik matanya melirik sekilas ke arahnya, yang sedang berdiri menerawang jauh menatap keluar melalui Jendela kamar mereka.


Ada apa dengan, Raffael? Sepertinya ada yang dipikirkan.


Dituangnya secangkir teh hangat lalu dia berjalan mendekat padanya. "Minumlah."


"Terimakasih." Raffael menoleh ke arahnya, dengan rambut tergerai setengah kering sembari mengulurkan tangannya. Sesaat netra keduanya saling bertaut.


"Lihatlah rambutmu basah sekali." Tangannya kembali sibuk mengusap rambutnya yang masih berbuih dengan handuk kecil ditangannya, membuat, Raffael berhenti sesaat untuk menyesap tehnya dan kembali memberikan cangkir itu padanya dan menaruhnya di atas meja.


"Besok kita kembali pulang, apakah kau keberatan?" tanyanya dengan sedikit ragu dan memutar tubuhnya untuk duduk di pinggir ranjang miliknya. Netra indahnya terkesiap mendengarnya tetapi mencoba untuk bersikap biasa saja. Memang sudah satu minggu keduanya berbulan madu dan baru saja, Raffael menggodanya untuk berkantor di sini, dan sekarang mendadak mengajaknya pulang. Apakah Raffael baik- baik saja ?" batinnya tidak mengerti.


"Iya. Lagi pula kita sudah satu Minggu di sini," jawabnya sambil tersenyum.


Raffael meraih pundaknya yang sedang duduk disampingnya dan mengusap tangannya dengan lembut. "Suatu saat kita akan kembali kemari," janjinya yang diikuti anggukan pelan lalu keduanya kembali saling memperhatikan wajah masing-masing.


"Sudah lebih dari cukup. Terimakasih... ujarnya lirih.


"Apakah kau masih ingin jalan-jalan?"


"Boleh, tetapi kita jalan kaki saja, aku hanya ingin melihat- lihat sekitar. Sepertinya pemandangan di sebalah barat Palace sangat indah."


Pemandangan seberang pulau sebelah barat Palace miliknya. Bukankah itu adalah akses menuju ressort milik, Andreas?


Raffael memperhatikan wajahnya seksama dengan tatapan yang sulit dimengerti. "Kau menyukainya?"


"Semua aku suka. Tetapi istana kita adalah tentu saja yang terbaik," jawabnya bersemangat, seketika membuat Raffael kembali bernapas dengan lega.


"Apakah kau pernah kemari sebelumnya?" Hatinya sedikit penasaran


dan berharap Andreas tidak pernah mengajaknya kemari.


"Pulau ini sangat exlusive dan hanya orang- orang tertentu saja yang kemari. Bagaimana bisa aku kesini dengan kondisi keluargaku yang biasa saja," jelasnya heran.


"Dahulu?"


"Sekali saja, tapi cuma sebentar dan keadaannya belum seperti ini. Itupun jauh dari tempat ini, saat papa meninjau lokasi untuk pembangunan sebuah pemukiman baru." jelasnya.

__ADS_1


"Di tempat ini, pertama kalinya untukku. Sebelumnya aku hanya sekilas mendengar namanya saja, tetapi lihatlah sekarang, kau mendirikan sebuah Palace yang sangat Megah untukku." ucapnya senang.


Raffael menarik napas lega. Itu artinya Andreas juga merahasiakan bahwa dia memiliki resort spesial diam-diam untuk Key. Mungkinkah itu juga sebuah kejutan untuknya.


"Semua milikmu," Sesaat, Pria itu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, entah kenapa, Raffael begitu cemburu. Bukankah Key telah menjadi miliknya seutuhnya? Tetapi tetap saja tidak nyaman dengan situasi ini. Bagaimanapun, menyadari ada Pria lain yang diam- diam melakukan, sesuatu yang istimewa, terlebih itu orang yang masih disekelilingnya membuat perasaannya kembali terusik.


"Baiklah, ayo kita jalan." Dengan langkah berat, Pria itu menuruti permintaan istrinya dengan berjalan bergandengan tangan, menuju sebelah barat Victoria Palace. Pemandangan sangat indah dan sedikit berkabut karena hujan baru saja terjadi. Sebuah ressort mewah berdiri megah ditengah- tengah pulau dengan pemandangan kanan kiri lautan lepas berhasil mencuri perhatiannya.


"Apakah ada yang menarik perhatianmu?" Menyadari ada sesuatu yang tengah menjadi pusat perhatiannya, dengan tidak bisa melepas fokusnya pada bangunan megah itu. Yang sekilas menyerupai gedung- gedung tinggi pinggiran pantai Dubai membuatnya semakin terpukau.


"Lihatlah. Bangunan itu sangat unik dan indah," tunjuknya. Senyumnya merekah begitu sempurna dengan melihatnya saja dan berjalan mendahului, Raffael yang mengekor malas dibelakangnya.


"A-R-K-E-Y." Apakah ini sebuah kebetulan?" Rasanya aku boleh berbangga hati kali ini, karena ada namaku tertulis di sana," senyumnya tidak pernah pudar, namun tidak dengan, Raffael. Darahnya serasa mendidih KEY memuji desain megah resort milik, Andreas. Walaupun Raffael yakin wanita itu tidak mengetahuinya kalau itu memang untuknya.



''Jangan-jangan ressort itu juga milikmu, karenanya kau menyelipkan namaku di sana," selorohnya dengan menoleh Raffael, yang bergeming berdiri dengan muka datarnya.


"Sama sekali tidak benar. Aku bukan pemiliknya," jawabnya singkat.


"Aku bercanda, Honey. Bagiku Victoria palace lebih dari apapun untukku," yang menyadari wajah Raffael mendadak berubah.


"Aku akan membelinya kalau kau suka," ujarnya dingin.


"Aku hanya mengangguminya. Lihatlah letaknya terlalu di tengah pulau. Pasti membangunya juga sangat susah payah. Luar biasa." pujinya tanpa sadar membuat dada Raffael bergemuruh. Pria itu memejamkan matanya karena mendadak kupingnya sangat panas, Key sama sekali tidak bisa melepas fokus ke arah ressort milik Andreas, dan membuat kakinya sebenarnya tidak betah untuk berlama-lama berada di tempat ini.


Andreas, benar- benar sangat paham selera Key, ****!! Sejak kapan cintanya begitu besar dan seyakin itu untuk bersamanya. Aku saja membangun Victoria Palace setelah yakin Key mencintaiku, tetapi dia melakukan hal itu saat mulai jatuh cinta padanya? Luar biasa.


"Kau ini sangat lucu sekali. Aku menyukainya tetapi kau tidak harus membelinya," jawabnya apa adanya.


"Kita akan menginap malam ini di sana?" ajaknya asal dengan dada yang kembali bergemuruh.


"Ahhh, tidak- tidak. Malam ini aku ingin berpisah dengan indah dengan istana kita." Seketika senyum itu terbit diwajah Raffael. Dirinya tidak tahu bagaimana kalau Key setuju dengan ajakannya. Bukankah ini benar-benar gila.


Dalam mimpipun aku tidak berminat untuk ke sana. Bagaimana bisa aku menginap di resort milik, Andreas. Orang yang diam-diam mencintaimu? Ini benar-benar semakin gila."batinnya kesal.


"Kau yakin?" tantangnya untuk meyakinkan.


"Hemm... sepertinya kau terlambat untuk megajaku ke sana," ejeknya sambil terkekeh.


"Kita tidak akan jadi pulang," ucapnya tanpa berpikir dan dengan enteng meladeninya, kali Ia berniat ingin menguji, Key.


"Tidak, sayang. Kau sudah mengajakku pulang, pasti ada sesuatu yang ingin kau selesaikan," jelasnya seketika. Ingatannya tentang perselisihan, Raffael dengan Andreas yang belum terselesaikan, membuatnya ingin keduanya segera berdamai, walaupun mungkin membutuhkan waktu.


Ekor matanya menoleh Raffael. Entah kenapa dia merasa ada yang berbeda dengannya. Raffael yang biasanya sangat antusias untuk mengajaknya keluar, seakan-akan hanya sekedar untuk menuruti kemauannya saja. Berjalan disekitar palace seketika melenyapkan senyum Raffael sore itu.


"Apakah kau baik-baik saja? Sepertinya ada yang kau pikirkan?"


"Hemm... tidak ada apa-apa. Raffael yang menyadari, Key memperhatikannya dengan cepat kembali meraih jemarinya dan menggenggamnya dengan lembut.


"Tidak ada apa-apa," tegasnya berulang dengan menatap wajahnya. Raffael tidak ingin merusak momen bahagianya dan senetral mungkin mengabaikan suasana hatinya. Diliriknya kembali resort, Arkey milik Andreas yang menjulang di seberang pulau dan terlihat paling menonjol diantara bangunan yang lain. Melihatnya Raffael kembali hatinya teremas, meninggalkan rasa yang sulit dijabarkan.

__ADS_1


Bisa gila rasanya, kalau aku berada pada posisinya. Disaat semua sudah terencana dengan matang, semua berakhir dengan sia-sia.


Sejenak Pria tampan itu kembali teringat, bagaimana paniknya dia, saat mengetahui, Andreas berniat memberikan sebuah lamaran romantis secara pribadi pada, Key, disebuah restoran mewah pusat kota dan sebisa mungkin menahannya untuk tidak bertemu dengannya, karena Raffael tidak siap untuk kehilangannya. Ia juga mengingat awal-awal perjuangannya untuk mengembalikan Tirta Wijaya Group karena merasa berkewajiban, setelah mengetahui motif dana ke Antara group adalah alasan keluarga Dave bekerjasama dengan Darriel untuk menghancurkan keluarga besar, Key. Suatu hal yang sangat menyakitkan bagi Raffael. Bahkan lebih sakit, ketika Paman Bayu mengambil segalanya dari keluarganya.


Andreas begitu sempurna mencintaimu. Tidak seperti keluargaku yang banyak menorehkan luka pada keluargamu," Raffael mempererat genggaman tangannya dan buru-buru mengenyahkan pikirannya itu. Victoria Palace harus tetap menjadi hal yang sangat indah untuknya, walaupun ada kepemilikan Andreas di seberang sana. Terkadang dirinya merasa kecolongan, bagaimana bisa Jordan luput dengan semuanya. Tetapi itu bukan salahnya, kenyataannya Andreas lebih dulu yang membangun resort untuk Key satu tahun lebih awal darinya.


"Kalau kau suka dengan resort mewah itu, aku akan membuatnya yang jauh lebih indah di seberang sana," tunjuk, Raffael saat menyadari netranya masih menatap takjub dengan pemandangan indah itu.


"Tidak perlu. Victoria palace tetap saja terbaik dan paling indah. Kamu tahu untuk tempat menghabiskan waktu, aku tidak suka sebuah bangunan di tengah laut. Aku cuma mengagumi arsitekturnya yang unik," jawabnya yakin. Bahkan tanpa semua ini tidak akan mengurangi rasa cintaku padamu." Sepasang netra indahnya mengejab menatap Raffael yang seketika kembali menerbitkan senyum diwajahnya.


"Memangnya kamu tidak takut, kalau aku mencintaimu hanya karena kau banyak uang dan bisa memberiku apa saja?" godanya dengan kerling netra indahnya.


"Aku hanya ingin membahagiakanmu saja, selagi aku masih bisa," jawabnya tulus kembali mempertemukan kedua netra indah mereka.


"Aku sudah sangat bahagia dan semua sudah amat sangat berlebihan. Sekarang adalah saatnya kau berdamai dengan hatimu sendiri, tidak ada yang bisa mengambil hatiku, jadi berhentilah kau merancu tidak jelas," godanya lagi seakan Key bisa merasakan hatinya yang sedang berperang dengan sesuatu yang tidak seharusnya.


"Apa maksudmu?"


"Pemuja rahasia. Jangan pernah menyebut para pemujaku disaat kau dihadapanku," kekehnya.


Pria itu hanya tersenyum, memang diakui olehnya dia akan amat sangat jelek ketika terusik perasaannya. Cemburu membuat suasana hatinya akan berantakan seketika. "Maaf... ujarnya pelan.


"Kau terbaik. Apakah kau tahu, cinta tulus itu tidak pernah bersyarat?" Aku mencintaimu bahkan disaat kau belum menjadi apa-apa dan aku akui kadar cintaku semakin bertambah disaat kau melakukan banyak hal untuk keluargaku. Tetapi itu semua bukan acuan, kau harus terus membanjiriku dengan gelimang kemewahan. Kita akan jalani hidup dengan cinta yang luar biasa, saling percaya bagiku itu sudah lebih dari cukup.


Raffael seperti terbaca hatinya, namun terselip kelegaan di dalam sana, Sekarang bukan saatnya untuk cemburu dan tidak percaya. Key adalah miliknya dan orang lain hanya mengaguminya tanpa bisa menyentuhnya, berbeda dengannya yang bisa melakukan apa saja dengannya.


Key benar. Semua rintangan sudah berlalu. Bukan saatnya untuk meragukan jalan yang membentang indah. Apa kurangnya dari perempuan itu. Dia memberikan yang sempurna untuk dirinya dan dia harus mempertahankan miliknya itu.


"Sebagai pasangan, tidak dipungkiri mempunyai perasaan takut kehilangan satu sama lainnya begitupun dengan ku. Kau sangat tampan, mempunyai segalanya dan di puja banyak wanita. Terkadang aku juga takut kau pergi dariku.Tetapi aku percaya padamu." Suaranya yang sedikit manja membuat Raffael begitu gemas melihatnya.


"Maaf... "bisiknya lirih. Rajamu ini sangat mencintai permaisurinya. Suatu saat bila aku menyakitimu, genggamlah tanganku, bawa selalu aku pada dirimu, karena aku tidak sesempurna yang kau pikir."


"Kalau aku tidak bisa mempertahankanmu? Kau yang harus bertahan untukku, karena aku juga tidak sekuat yang kau pikir." Keduanya saling menatap dengan dalam dan penuh cinta.


"Aku cuma mencintaimu," ucap keduanya bersamaan, yang diiringi oleh senyum cerah keduanya dan tertawa lebar bersama.


"Ayo kita kembali, sebentar lagi malam tiba. Kita juga perlu bersiap."


"Raffael..."Pria itu berhenti lalu menoleh dengan kembali tersenyum. Key merentangkan kedua tangannya dengan sedikit merajuk. "Apakah kau tidak ingin menggendongku?" Raffael kembali tertawa melihatnya lalu dengan segera tangannya menyambar tubuh indahnya dan membopongnya untuk kembali ke Palace.


"Kau sangat tampan dengan senyum ini." godanya seraya menaikkan sebelah alisnya, dengan mengalungkan kedua tangannya dengan romantis di leher, Raffael.


"Jangan menggodaku. Apakah kau ingin membuatku lupa diri di sini," balasnya tidak terima, sesaat membuat tawa renyah keduanya terdengar lebih keras.


"Malam ini kita akan ciptakan perpisahan yang sangat romantis dan Indah," bisiknya nakal.


___________________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang😘, jangan lupa untuk like dan komennya ya, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2