
Malam yang sunyi, Key benar- benar tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya tidak berhenti untuk tidak bertanya, apalagi mendapati kedua orang tuanya yang terkesan sangat biasa saja,
mengenai kepindahannya ke mansion
keluarga besar Wijaya.
Papa dan mama setuju-setuju saja
untuk pindah? Bukankah ini sangat aneh? Pengaruh apa yang sudah Raffael berikan kepada keduanya, sehingga dengan mudahnya, menerima semua perintah, Raffael'
"Kasus Tirtawijaya ditindaklanjuti, itu
sama saja kembali memulai hidup yang mencekam. Dan wajar saja, Raffael
mengkhawatirkan keselamatan semua keluarganya, tetapi apakah harus tinggal
di mansion miliknya?"
Dengan gelisah, Key membolak-balikan
badannya, tetapi tidak kunjung matanya
ingin terpejam. Semua yang berkecamuk di dalam otaknya betah membuatnya terus berpikir. Raffael dengan segala
kuasanya membuat hati dan hari- harinya
terasa jungkir balik karena kejutan- kejutan pria itu.
"Aku akui, kau memang sangat berjasa
untuk keluargaku, tetapi tidak seharusnya
kau mengatur seluruh hidupku. Dasar pemaksa," gerutu Key kesal dan memaksa terlelap.
Hari libur yang biasanya diisi dengan joging dan berenang dilaluinya dengan
malas dan tidak bersemangat. Ia hanya
duduk termenung di pinggir kolam renang
dengan memainkan kedua kakinya,masih
dengan piyama tidur yang melekat pada
tubuhnya, sehingga ia tidak sadar kalau
Raffael telah datang dan sedang menatap tak jauh dari tempatnya berada.
"Aku sudah bilang, pagi-pagi aku akan
menjemputmu, kenapa tidak bersiap?"
Volume suara yang sangat dikenalnya
membuat badannya terasa beku
dalam sesaat dan sangat malu untuk menoleh.
Apa! Raffael datang sepagi ini? Aaa!!!
Memalukan sekali! Bahkan aku sama
sekali belum mandi. Kenapa dia semakin
hari, semakin menyebalkan saja!
Dengan muka bantalnya Key menoleh dan mendapati senyum masam Raffael.
Wajahnya langsung memerah karena malu.
Apakah kau tahu, kau bahkan berkali-kali
lipat lebih cantik dari biasanya dengan
seperti ini.
"Aku sudah berjanji akan datang di pagi hari, apakah kau melupakannya?" jawabnya santai.
"Tetapi ini masih sangat pagi, Raffael."
Netra indahnya menatapnya tak berkedip.
Raffael begitu tampan pagi ini seribu kali
lipat dari biasanya. Walaupun hanya memakai outfit kemeja putih polos
dipadukan dengan blue jin, serta sebuah
jam tangan mewah yang melingkar di lengannya.
__ADS_1
Penampilannya semakin terlihat casual
dengan sepasang sepatu santai warna
senada, dengan menebar senyum yang senantiasa menghias di wajahnya yang tampan. Berbeda dengan Raffael yang seperti biasanya terlihat kaku dan sangat serius, hal ini berbanding terbalik, hanya kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
"Apakah kau baru sadar, kalau aku memang sangat tampan?" Menyadari Key yang menatapnya tidak berkedip.
wanita itu langsung salah tingkah menyadari kebodohannya. "Bahkan kamu terlihat sangat aneh dengan begini. Aku tidak menyangka Tuan muda bisa tersenyum.sepagi ini," cibir Key.
Dasar menyebalkan dan angin-anginan,
mimpi apa semalam, kau bahkan terlihat
sebahagia ini.
Raffael terkekeh mendengarnya. "Sudahlah, bersiaplah, aku ada perlu
sebentar dengan kedua orang tuamu."
Wanita itu beranjak dari tempat duduknya, dengan sandal jepit yang menempel di kaki indahnya, lalu berjalan dengan malas mengekor Raffael yang berjalan di depannya. Menyadari
Key sedang Bad mood, pria itu berhenti sebentar lalu menoleh.
"Tidak usah terburu-buru," ujarnya pelan.
"Aku memang akan sangat lama," balasnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Raffael merasa gemas melihat tingkah perempuan yang diam-diam dicintainya itu. "Dasar jorok," ejeknya.
"Ada yang sangat wangi menuggumu, kenapa datang kerumahku! dasar aneh!"
balas Key sewot.
Tubuh rampingnya berniat menyalip Raffael dan hendak mendahuluinya, tetapi pinggiran kolam yang sangat licin membuat badannya terhuyung dan nyaris terpelanting. Hal itu membuat Raffael ketakutan setengah
mati dan berteriak dengan kencang.
"Key!! Awassss!! Hati-hati!" teriaknya keras. Tangannya secepat kilat meraih pergelangan tangannya dan merengkuh
tubuh ramping itu kedalam pelukannya.
"Sudah berapa kali aku katakan, buang sendal bodoh itu!" Dengan kesal dan cepat, Raffael melucuti sendal jepit yang melekat di telapak kaki Key dan melemparnya asal kesembarang arah.
"Saya sudah bilang tidak usah terburu-buru. Apakah kesadaranmu
bagaimana kalau terjadi apa-apa," cecar
Raffael kesal.
Key masih gemetaran. Tidak hanya karena dipeluk Raffael tetapi membayangkan jatuh terpelanting dan meluncur ke kolam jelas sangat memalukan.
"Dasar ceroboh!!"
"Auww!! Raffael !!
Belum hilang debaran dalam dadanya, dengan cekatan Raffael sudah membopong ala bridal, tanpa menghiraukan Key meronta dengan menggerak- menggerakkan kakinya seperti seorang anak kecil .
"Lepaskan, Raffael! Jangan membuatku
malu."
Tangan Key mulai memukul-memukul dada bidang Raffael hanya bergeming dan terus berjalan menaiki anak tangga lalu menurunkannya dengan
pelan di depan kamarnya.
"Mandilah, tidak perlu terburu-buru."
Key tampak semakin malu saat ia sadar menjadi tontonan gratis asisten rumah
tangga beserta Tuan dan Nyonya Tirtawijaya.
Raffael menatapnya dengan penuh
kemenangan, saat wanita itu menatapnya
dengan kesal dan berlalu begitu saja.
"Sepertinya kita harus cepat- cepat menikahkan mereka,ma, supaya kita
cepat-cepat menimang cucu," ujarnya
sambil terkekeh.
"Putri kita kalau Raffael
sampai seperti itu, pasti melakukan hal
ceroboh yang sudah menjadi kebiasaannya.
__ADS_1
"Sepagi ini, Raffael ke rumah, pa?" bisik Nyonya Tirtawijaya sedikit keheranan.
"Biasa, Nyonya Wijaya ngambek ingin bertemu putri kita, karena ulah Raffael
yang ingin bertunangan dengan wanita
itu,"blirih Tuan besar itu karena menyadari Raffael datang menghampirinya.
Mereka berbincang dengan hangat dengan wajah- wajah yang bahagia,
hal ini berbeda dengan Key yang meluruhkan badannya dengan menyandar di ranjang dengan perasaan bersalah dalam hatinya.
Dia seperti orang ketiga dari hubungan
Raffael dan Nova yang sudah sangat serius. Air matanya menetes membasahi
pipinya.
Hari ini kau memperlakukanku dengan sangat manis dan aku sangat bahagia.
Walaupun Semua ini semu, aku
ingin merasakan itu, selagi Raffael masih
peduli padaku dan sepenuhnya belum
jadi milikmu, Nova.
Beberapa saat duduk terpekur di bawah ranjang, hingga kesadarannya kembali pulih bahwa Raffael telah menunggunya.
Dengan segera wanita cantik itu melangkahkan kakinya
ke kamar mandi.
Beberapa saat menunggu, Key turun dengan anggun. Dress hitam brokat dengan aksen lace membalut tubuhnya
yang ramping. Dengan make up natural
yang memoles wajahnya membuat Raffael sesaat terpana. Kecantikannya begitu memancar, walaupun dengan tatapan mata yang sedikit sendu.
Cantik dan baik. Pantas saja Andreas
tergila-gila padamu.Tetapi akan, aku pastikan, kau cuma akan menjadi milikku.
"Maaf, membuatmu menunggu. Kita akan pergi kemana?" Key sedikit ragu. Mengingat Raffael bukankah kekasihnya, tetapi hari ini membuatnya seakan-akan mereka adalah pasangan kekasih yang hendak berkencan membuatnya sangat
sedih.
"Raffael?" panggilnya lagi. Dengan sedikit tersentak dari lamunannya, pria itu buru
buru menguasai perasaannya.
"Kemana saja. Mencari udara segar," jawabnya asal.
Setelah itu keduanya berpamitan. Sebuah
mobil Buggati kesayangannya meluncur dengan deras membelah jalanan pagi
yang masih berkabut. Key menatap keluar dengan tanpa suara, menerawang
sepanjang jalan. Hal ini menggelitik Raffael untuk membuka percakapan.
"Apakah kau baik-baik saja? Sebaiknya kita sarapan dahulu ok?"
Key menoleh sekilas dan mengangguk, membuat Raffael kangen celotehannya
saat mereka hangout bersama. Keduanya
lalu sepakat untuk menikmati Korean cream cheese garlic bread pada sebuah restoran khas Korea yang ada di pusat kota.
Selesai menikmati breakfast bersama, keduanya akhirnya memutuskan kesuatu
tempat yang membuat jantungnya kembali berpacu dengan kuat. Sebuah
rumah mode langganan kaum elit menjadi tujuan Raffael pagi itu.
_____________________
Sahabat tersayang 🌹
Jangan lupa like dan komennya,ya.
Maaf kalau visual kurang mendukung 🙏
terimakasih.
__ADS_1