
Dalam perjalanan pulang, Raffael lebih banyak diam. Beberapa kali Key meliriknya yang sedang menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Tangannya terasa dingin terus menggenggam jemari tangannya. Sementara Jordan melaju kencang dengan mobil mewahnya menuju Mansion.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku sedikit mengantuk, sayang. Ingin tidur sebentar, "ok?"
"Iya, tidurlah." Tangannya mengusap pelan keningnya diikuti senyuman tipis dari bibirnya dengan mata sedikit terbuka. Setengah mati Raffael menahan tubuhnya yang mulai terasa tidak enak. Dalam hati Ia berjanji akan mengambil cuti sampai hari tunangannya tiba. Tubuhnya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi lagi kali ini.
Key menatapnya curiga melihat Raffael
terlihat begitu letih dengan wajah agak pucat. Tapi ia berpikir mungkin dia kurang tidur saja seperti yang baru saja diucapkan.
Setiba di Mansion Raffael istirahat sebentar lalu kembali pamit pulang. Key yang melihat Raffael tidak seperti biasanya agak sedikit heran. Ia berpikir mood dia saja yang sedang tidak baik, karena kesalahpahaman yang baru saja terjadi dan rasa lelah serta kantuk yang menyerangnya.
"Istirahatlah, kau kelihatan lelah sekali," Iris matanya yang bening terus menyelisik wajah lesu Raffael yang hendak melangkah, sesaat membuat hatinya berdesir karena cemas."
"Iya, sayang." Tangannya mengusap pucuk kepalanya sebentar dan berlalu pergi. Tidak ada pelukan hangat darinya membuatnya kehilangan di sudut hatinya.
Tetapi buru-buru dia menggeleng pelan dan tersenyum sendiri, mengingat ciuman panas yang mereka berdua lakukan setelah mereka berdamai dengan hati masing-masing.
"Apakah masih kurang?
Astaga! Ada apa denganku?" Buru- buru Key menepis pikirannya yang mulai provokatif menguasai dirinya. Netranya tidak berkedip sampai mobil Raffael menghilang dari balik Mansion dan segera menyeret langkah kakinya kembali masuk.
"Bos! Apakah ada keluhan lagi?"Jordan sudah mempunyai firasat tidak enak melihat Raffael sepanjang perjalanan pulang jadi merasa cemas.
"Jordan ke kediaman pribadi saya saja."
"Bos, sebaiknya pulanglah ke kediaman utama, kasihan nyonya besar pasti sudah menunggunya," Wajahnya menoleh ke belakang dengan iris mata menajam, meminta persetujuan dengan sebelah tangannya yang sudah bersiap menyalakan mesin.
"Jordan, aku tidak ingin membuat mereka cemas. Berapa kali aku harus mengatakan padamu, "lagi pula ini tidak separah sebelumnya, nanti juga baik sendiri," Badannya bergerak gelisah mencari kenyamanan dan memilih merebahkan tubuhnya di dalam mobil.
"Berbaring saja Bos!" Dengan sedikit menghentak kemudi, Jordan membelah jalanan yang sedikit sepi. Hatinya mulai diliputi rasa cemas dengan segera memasang headset handsfree di telinganya untuk melakukan panggilan Dokter.
"Bersabarlah, Bos! Dokter sudah menuju ke rumah."
Raffaell terdiam hanya anggukan kepalanya saja yang terlihat dari kaca spion mobil.
"Bos, kita tidak bisa hidup seorang diri. Bos tidak boleh menyimpan masalah Bos sendirian seperti ini. Kalau Nona dan Nyonya besar tahu, mereka pasti akan kecewa karena merasa tidak di anggap keberadaannya oleh, Bos."
"Aku rasa kamu sangat mengenal, Key, "dia akan bereaksi keras dan tidak akan tinggal diam kalau melihatku seperti ini," tanpa merubah posisi tidurnya. Matanya terus terpejam dengan tangan menekan pelipisnya, merasakan kepalanya yang berdenyut-denyut.
"Calon istri yang baik, akan seperti itu, tuan muda, "akan selalu mencemaskan orang yang dicintainya."
"Aku mengerti. Cukup panggil Dokter dan perawat saja untuk datang ke rumah. Mulai besok aku akan cuti sampai hari pertunangan ku. Kau handle semua urusan kantor."
"Bos tidak perlu cemas. Urusan kantor dan juga proyek khusus di pulau B
berjalan sesuai dengan harapan. Tidak perlu khawatir memikirkannya. Yang paling penting istirahat total," saran Jordan setengah mengancam.
"Terimakasih. Cepatlah sedikit Jordan."
"Ingat, Bos! Ada dua momen sakral yang berada di depan mata, Bos tidak ingin berantakan, kan ?" Ultimatum Jordan lagi.
Kali ini berhasil menbuka matanya seperti mengingat sesuatu.
"Hemmm.....
__ADS_1
Mobil meluncur dengan kecepatan menggila. Setibanya di rumah Raffael segera mengistirahatkan tubuhnya. Tidak
lama kemudian dokter datang dengan satu perawat untuk memeriksa kesehatannya.
"Tuan Muda, Jangan terlalu kelelahan. Tuan muda masih butuh waktu untuk beristirahat, jangan terlambat makan dan minum obat," nasihat dokter."
"Baru saja ada acara kantor yang sudah di jadwalkan beberapa hari yang lalu."
Dokter Joseph mengangguk. Berbagai media berramai-ramai memuat berita, seputar kasus Tirtawijaya group dan kembalinya pasca sebuah kasus besar terungkap. Hal ini tidak luput dari perhatian sang Dokter. Beliau juga mengetahui rencana Raffael untuk menikah dalam waktu dekat, dengan putri tunggal pemilik Tirta wijaya group. Setelah media massa begitu heboh meliput pernyataan Raffael dan memuat foto-foto kebersamaan mereka berdua.
"Semoga, acaranya berjalan dengan sukses dan yang terpenting Tuan muda harus benar-benar istirahat dan tidak boleh kurang tidur," nasihat dokter kali ini
dengan mimik lebih serius.
"Apa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh saya?" Keningnya berkerut menatap dokter yang sedang tersenyum padanya.
"Tuan muda, sekecil apapun kesehatan harus diperhatikan. Semua berawal dari kecil untuk menjadi besar. Sekecil apapun itu, kalau tubuh meminta istirahat, ya, harus istirahat. Rilex sedikit, lakukan hal-hal yang membuat hati bahagia, imunitas akan cepat naik," saran Dokter kembali tersenyum.
" Hemm... baiklah. Terimakasih Dokter."
"Saya permisi dulu. Kalau ada keluhan hendaknya panggil saya kembali. Ada seorang perawat yang tinggal di sini, untuk mengecek perkembangan Tuan muda, setiap saat dan mengganti infus. Ingat, obat harus di minum dan makan dengan teratur."
Raffael mengangguk sebelum Dokter Josep berlalu. Dua hari sudah berselang, badannya belum ada tanda- tanda membaik. Pria itu termenung seorang diri di meja makan, dengan baju tebal dan syal yang melingkar di lehernya. Badannya sedikit demam dan membuatnya agak khawatir
Raffael terlihat tidak bergairah. Aroma makanan yang ada dihadapannya sama sekali tidak menggugah seleranya. Tangannya malas hanya sekedar untuk menyentuhnya dan menatapnya malas. Entah kenapa diam-diam Ia merindukan Zuppa sup dan galbitang hangat buatan Key. Raffael menelan salivanya pelan, di saat seperti ini, tidak di pungkiri Ia merindukan kekasih hatinya dan dalam hati membenarkan ucapan Jordan.
Galbitang
Zuppa soup
Jordan melangkah mendekat dan duduk di depan Raffael. "Apa perlu saya panggilakan Nona kemari?" Seakan hatinya tahu apa yang dirasakan oleh Tuan mudanya dan membuat Raffael berpikir sejenak.
"Tidak perlu, Jordan."
"Tuan muda____"
"Aku tahu arah pembicaraanmu," tangannya terangkat melarangnya."
"Tuan muda sangat merindukan, Nona. Ada kalanya kehadiran orang yang kita cintai adalah Imunitas terbaik bagi tubuh kita, bahkan rasa sakitpun akan mendadak hilang karenanya," Jordan mengedikan bahunya.
Raffael tersenyum tipis dalam hati kembali membenarkan ucapan Jordan.
Ia merindukan betawa cerewetnya Key kalau sudah berurusan dengan hal-hal yang menyangkut dirinya. Betapa menggemaskan perempuan itu saat merajuk dan betapa keras kepalanya kalau sudah memegang prinsip. Tetapi dibalik itu, tersembunyi kelembutan hatinya yang membuat orang jatuh hati begitu mengenalnya. Raffael tersenyum hanya dengan mengingatnya saja.
Tuan muda, Bilang kangen Nona saja susah sekali. Kalau tidak kunjung membaik tidak ada pilihan aku akan bawa Nona kemari.
Malam menggapai peraduannya dengan Rembulan bersinar terang disertai angin malam yang bertiup kencang. Bunyi pohon di sekitar mansion berderit-derit menghadirkan hawa dingin yang menusuk kulit. Key terlihat gelisah beberapa kali menelpon Raffael tidak juga di angkatnya.
"Kemana kau, apakah kau sudah makan? Mungkinkah Raffael sudah tidur?" Mengingat wajah kekasihnya yang letih membuat hatinya mendadak gelisah. Sesibuk apapun Raffael tidak pernah melewatkan panggilan teleponnya apalagi Video call darinya. Apalagi sore sebelum jam kantor usai resepsionis mengatakan Raffael sedang cuti, sudah dua hari tidak ke kantor.
"Raffael cuti dan tidak datang ke Mansion itu tidak mungkin." Malam itu juga tanpa berpikir dua kali, Key melesat dengan Mobil mewah pemberiannya. Ia yakin
__ADS_1
Raffael ada di kediaman pribadinya. Ia sengaja tidak menelpon Jordan karena bisa saja dia dilarang bicara oleh Raffael.
Key sangat mengenal kekasihnya itu.
Jasson yang menangkap kepergian, Key mengejar dengan mobil yang berbeda.
"Astaga Nona, apa yang kau lakukan?!" Jasson sudah menduga,Key, datang ke tempat Tuan mudanya. Segala perkembangan Raffael Jasson tidak pernah ketinggalan dari Jordan. Key mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata membuatnya sangat cemas.
"Menelponnya, itu tidak mungkin." Jasson terus menjaga jarak dengan mobil Key. Bagaimanapun saat itu sudah sangat malam dan Tuan Mudanya tidak mengijinkannya untuk mengendarai mobil seorang diri.
Hentakan keras dari rem mobilnya, menghentikannya persis di depan gerbang kediaman Raffael, diikuti oleh Jasson yang buru-buru melompat keluar dari mobilnya.
"Nona, apa yang Nona lakukan?"
"Aku ingin bertemu, Raffael, aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu! Jangan halangi aku, Jasson!" tangannya menepis lengannya yang hendak menahannya.
"Pengawal buka pintunya!" Key berteriak. Para penjaga yang sedang berjaga malam itu hanya saling memandang satu sama lain menyadari siapa yang telah datang.
"Ada Nona, Key! Bagaimana ini! Apakah kita harus lapor Pak Jordan sekarang?"
Pergi katakan pada beliau," hardik salah satu penjaga.
"Tunggu apa lagi! Buka pintu gerbangnya! Apakah kalian tidak tahu aku yang datang?" Tangannya memukul- mukul besi gerbang sampai memerah karena kesal. Hal ini membuat Jasson khawatir dan menahan tangan Key dengan kuat.
"Lepaskan, Jasson!"
"Nona aku mohon ...."
Pintu gerbang yang biasa terbuka dengan sensor otomatis saat itu tidak terbuka dan membuatnya sangat kesal.
"Nona, tenang dulu, pasti di bukakan pintu, ok?" Jangan seperti ini, Tuan muda bisa marah kalau Nona terluka.
"Aku tidak peduli, "katakan padaku apa yang terjadi dengan, Raffael? Kalian bersekongkol menyembunyikan sesuatu, kan? Jasson, aku sudah katakan berapa kali, kalau menyangkut sesuatu hal yang tidak baik bagi Raffael, bicaralah kepadaku! Biarkan saja dia marah padaku!" Intuisinya begitu kuat
mengatakan Raffael sedang tidak baik-baik saja.
"Tuan muda baik-baik saja, Nona tidak perlu khawatir, kita tunggu di sini, sebentar lagi Nona akan bertemu Tuan muda."
Astagaaaa Jordan keluarlah! geram Jasson dalam hati.
"Apa mereka juga harus meminta persetujuan dari Raffael untuk mengizinkan ku masuk? Kalian menganggap aku apa!" Netranya berkilat amarah.
"Nona. Nona tenang dulu. Nona pasti bertemu Tuan muda," Bujuk Jasson dengan membungkukkan badannya.
"Pengawal cepat buka pintunya!"
Gerbang terbuka dan terlihat wajah Jordan. Dalam hati Ia bersyukur Nona kesayangan Tuan mudanya datang. Ia tahu Raffael membutuhkannya dan memilih mengabaikan kemarahannya nanti.
"Nona!" Key melesat mengabaikan Jordan dan memilih mengekor di belakangnya.
"Maaf. Aku tidak bisa mengendalikanya untuk datang kemari."
"Biarkan saja," jawab Jordan yang menangkap kekhawatiran kembarannya itu.
________________________
Sahabat tersayang ๐น
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komennya, ya.
Terimakasih ๐๐