Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
16. Pertemuan Key dan Raffael


__ADS_3

Setelah pertemuan rahasia, Raffael terlihat semakin gusar. Suasana hatinya yang sedang gundah, tidak bisa sedikit saja disembunyikan dari wajahnya yang tampan. Beberapa kali Ia membiarkan dering telepon masuk yang terus berbunyi mengganggunya.


Langkahnya semakin cepat saat mobil Buggati mewah miliknya tiba di kediaman pribadinya. Malam telah sangat larut,


otaknya terasa penuh, seolah tidak memikirkan apapun kecuali semua masalah yang sedang dihadapinya.


Tetapi tidak ada satu hal yang semakin membuatnya benar-benar frustasi melebihi melihat kedekatan Key dengan Andreas. Dan kenyataan baru bahwa, paman Bayu dan Dave adalah orang yang ikut berperan dalam kehancuran Tirta Wijaya Group.


"Pergilah, aku ingin sendiri," perintahnya kepada trio J yang sejak tadi tidak jadi pulang.


"Tu___tuan muda, minumlah."


"Tidak perlu," tolaknya cepat sambil mengangkat sebelah tangannya, seiring Jasson menyodorkan segelas air mineral


hangat padanya dan memilih berlalu.


Mana janjimu Raffael, kenapa kau mendadak lemah. Bukankah Key adalah


alasan semuanya kau berada di titik ini?


Apakah kau akan menyerah semudah


ini, Raffael? Benarkah kau sudah siap untuk kehilangan?


Raffael merebahkan tubuhnya perlahan. Mengingat Nova membuatnya semakin muak. Ada penyesalan dalam hatinya


mengakui ia akan menikah dalam waktu dekat di hadapan Key dan Andras. Ini semua semata-mata untuk meyakinkan Nova perihal hubungannya, karena ia mencurigai wanita itu ada kaitannya dengan Danu purba.


"Walaupun sejauh ini, belum ada bukti yang mengarah padanya, tetapi bukti


kuat dia membawa foto keluarga Key


dan menyilangnya dengan tanda merah,


adalah hal yang tidak bisa dianggap enteng. Walaupun kemungkinan foto itu


bisa saja dari Dave."


Kembali pria itu terduduk sambil memijit pelipisnya frustasi lalu berteriak dengan keras.


"Aaaaa ... siall!"


Dipejamkan matanya untuk menarik napas saat di rasakan ada yang menyumpal kerongkongannya hingga terasa tercekat. Dengan dada yang kembali bergemuruh,perasaannya begitu provokatif untuk mengambil paksa Key agar tidak bekerja di kantor Andreas.


"Sedang apa kau? Apakah kau sudah tidur?"


Berjalan menuju nakas. Tangannya meraih ponsel lalu mengeceknya. Puluhan kali ada jejak Nova menelpon, tetapi tidak ada satu pun pesan atau panggilan masuk dari Key.


Beberapa saat yang lalu kau masih terjaga. Apakah kau tidak berniat meneleponku. Mungkinkah om Tirtawijaya tidak menyampaikan apa-apa?


Tawa miris keluar dari bibirnya menertawakan diri sendiri. Selama bertahun-tahun dia bekerja keras untuk mempunyai kekuatan yang setara. Mimpinya sangatlah besar setelah keluarganya melepas kenangan


satu-satunya dari mendiang kakeknya.


ANGKASA GROUP yang penuh intrik dan drama, dan menjadi penyebab utama kematian kakeknya akibat shock.


Bayu saudara Bimantara terlalu


tamak dan gelap mata akan harta, melecutkan tekad Raffael untuk meraih kesuksesan setinggi mungkin dan lepas dari bayang-bayang ANGKASA.


"Tuan muda, kau tidak tidur?" suara Jasson menginterupsi di tengah keheningan malam, saat sepasang kaki Raffael berjalan keluar kamar dan memilih menatap pekatnya malam


melalui balkon rumah mewahnya.


"Hemm ... istirahatlah, kau tidak perlu


mengawasiku."


*****


Di tempat yang berbeda, Nova mengamuk memaki - maki bodyguard yang di kirim oleh Raffael untuk mengawasinya. Tas kesayangannya sedikit kotor karena ulah bodyguard yang diketahui anak buah Jasson tersebut.

__ADS_1


"Hei! Apakah kau tidak melihat ini sangat mahal?! Kenapa orang seperti, Raffael memakai jasa orang sepertimu?" Harusnya kau berterimakasih! teriaknya kesal. Nova merampas paksa tasnya dan membersihkannya dengan tissue.


"Membantu merapikan barang-barangku saja kau tidak becus!" Nova melirik sinis bodyguard yang sedang berdiri di depannya.


"Ma___Maaf, nona. Bodyguard itu terlihat gugup dan berniat melangkah pergi, tetapi teriakan melengking Nova menghentikan langkah pria itu.


"Hei, Bodoh! Siapa yang menyuruhmu pergi!" teriaknya kembali. Nova dibuatnya uring-uringan setelah Raffael tidak mengangkat teleponnya. Dan menjadikan


orang-orang sekitarnya menjadi sasaran


kemarahannya.


"Bereskan ini semua dan simpan di kamar belakang apartemen," perintahnya dengan kesal.


"Jangan lupa dinyalakan mesin pendingin ruangan nya! teriaknya lagi, sebelum akhirnya berlalu pergi.


"Gila, tidak salah Tuan muda, Big Bos memilih calon istri macam nenek sihir? Bisa -bisa badan gue yang segede gajah ini kempes dalam seketika, kalau terus bekerja dengannya," gumam sang bodyguard mulai menata barang di kamar yang telah di pilih oleh Nova.


Nova tampak serius menelpon seseorang. Ia tidak sadar Raffael telah memasang alat penyadap di sekitarnya.


Baru setelah Dave memberitahu bahwa, orang orang suruhannya hilang bagai ditelan bumi Nova berpikir harus lebih hati-hati.


Mungkin Raffael sedang menangkap kejanggalan ini di kantornya, sehingga dia


terlihat begitu sibuk.


Nova tertawa terbahak-bahak. "CEO antara yang terkenal itu, ternyata begitu mudahnya jatuh kepelukanku. Raffael,


ternyata aku begitu memeona matamu," tawanya kembali pecah.


"Hemm ... tunggu-tunggu. Mendadak wajahnya berubah, "Dia bahkan belum


pernah mencium ku, bahkan terlihat sangat dingin setaip saat bertemu dengannya."


"Bagaimana bisa aku memesona matanya, kalau dia terlihat sangat malas untuk menyentuhku. Menyebalkan! Semua sangat menyebalkan!" teriaknya saat menyadari semuaya.


Aku memang berniat tidak baik, saat pertemuan pertama kita, tetapi aku pastikan kau cuma akan menjadi milikku.


Sore menjelang, sebelum jam kantor selesai Key meminta izin Andreas untuk pulang lebih awal. Beruntung hari itu jam kantor tidak terlalu sibuk.


"Apakah ada sesuatu yang penting?" Andreas sedikit terkejut. Tidak biasanya


Key akan meminta izin pulang, saat jam


kantor belum usai.


"Ada urusan penting yang mendadak, maaf, lain kali tidak akan terjadi lagi."Key memohon kepada Andreas dengan tak enak hati.


Andreas tersenyum. "Berhentilah untuk


meminta maaf. Jam kantor tinggal satu jam lagi, "bukankah aku sudah katakan, aku bukanlah Bos yang kejam, hmm?Aku akan mengantarkanmu pulang," tawarnya .


"Ahh, tidak perlu. Terimakasih. Ada sopir yang mengantarku." Sambil berharap Andreas tidak nekat mengantarnya.


"Kau yakin? Baiklah. Andreas yang melihat ketidaknyamanan di wajahnya akhirnya hanya bisa pasrah.


Key memiliki privasi. Dia akan menjauh kalau aku terus mendesaknya.


"Saya permisi dulu, terimakasih."


"Hati-hati, Key!" Andreas menatap punggungnya yang sedang berlalu dari ruangannya.


Jemarinya tangannya segera berkemas dengan cepat. Cuma ada satu hal yang dipikirkan olehnya, Ia ingin bertemu Raffael di kantornya. Bahkan Key sengaja tidak ingin mencuri waktu di luar jam kerja Raffael, mengingat ada Nova sedang menunggunya.


"Cepat sedikit, pak," perintahnya tidak sabar. Seketika sopir kantor Andreas itu,


mengambil jalan pintas untuk memburu waktu.


"Kantor utama ANTARA," beritahunya. Wanita itu menulis pesan kepada Jordan bahwa sore itu dia ingin bertemu dengan, Raffael di kantornya.


Turun dari mobilnya dengan cepat dan menyuruh sopir untuk kembali. Ia berlari-lari kecil tidak peduli orang sekitar yang melihatnya. Bisik-bisik karyawan sekitar menatap kedatangannya.

__ADS_1


Maklum saja sebagian dari mereka adalah karyawan Tirta Wijaya group yang dirangkul oleh Tuan besar Bimantara untuk menghindari phk besar-besaran yang terjadi saat kehancuran TIRTA WIJAYA GROUP.


"Selamat datang, Nona!" sapa mereka yang masih mengenalinya.


Key mengangguk dan tersenyum tipis.


"Terimakasih," balasnya canggung."


"Nona, Key!" bisik yang lain.


"Iya aku masih ingat," sela yang lainnya lagi.


"Apa?"


"Cuma satu hal kalau aku bertemu dengannya," canda yang lainnya.


"Maksudmu?"


"Sangat cantik," pujinya. "Aku saja


bergetar melihatnya, padahal aku wanita," seloroh salah satu karyawan lalu tertawa bersama.


Di seberang sana Jordan tersenyum menatap kedatangan Key, yang setengah berlari kecil.


"Nona, Pak Raffael masih ada meeting, harap menunggu sebentar." Jordan menatap kegelisahan dari wajahnya begitu perempuan cantik itu tiba di depannya.


"Iya, Tidak apa- apa. Terimakasih."


"Pak Raffael, menyuruh Nona menuggu di ruangannya." Jordan mempersilakan yang dikuti anggukan kepala wanita itu.


"Terimakasih. Tetapi aku menunggu di sini saja, Jordan."


"Nona?"


"Tidak apa-apa. Aku menunggu di ruang tunggu saja."


Jordan memperhatikan wajah Key yang mendadak sendu. Kilasan demi kilasan peristiwa masa lalu kembali menjadi momok yang menakutkan dalam diri wanita itu.


Dua aset penting yang diselamatkan Antara terbentang di depan matanya.


Kantor utama Tirtawijaya dan Antara, sengaja di desain Raffael secara berhadap-hadapan untuk mengendalikan


ANTARA GROUP. Seakan hal ini untuk menunjukkan ekistensi TIRTAWIJAYA GROUP yang tidak pernah mati.


Ya, Tuhan apa yang sedang kau rencanakan sebenarnya, Raffael.


Mungkinkah ada orang yang memperjuangkan keluargaku sebaik


dirimu.


"Nona, masuklah. Saya mohon .... "


"Tidak perlu. Aku di sini saja."


Jordan mengalah. Lima belas menit berselang, pria itu mempersilakannya untuk masuk ke ruangan CEO. Dengan degub jantung yang berdebar- debar langkahnya yang sengaja berirama pelan berusaha menenteramkan hatinya.


Lebih dari seminggu aku tidak


melihatmu, apakah kau sudah bahagia, Raffael?


Perlahan Jordan membukakan pintu untuk key yang sedikit termangu.


"Silahkan, Nona. Pak Raffael sudah menunggumu."


____________


Sahabat tersayang 🌹


terimakasih yang sudah berkenan mampir. Maaf tulisannya berantakan, preview dan hasil review sering tidak sama hasilnya🙏🙏


jangan lupa like dan komentarnya ya, terimakasih, dear😍

__ADS_1


__ADS_2