Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
54. Genderang perang


__ADS_3

"Sepertinya semacam alat perekam suara. Aku yakin ini pasti sangat penting


mengingat, karyawan itu sampai bertaruh


nyawa untuk mempertahankannya. Kita akan buka dan pelajari setibanya di Mansion."


"Sepertinya itu petunjuk baru untuk kita, Raffael."


"Aku rasa juga begitu. Katakan kepada anak buahmu, perlakuan mereka dengan baik, saya yakin mereka adalah korban


keserakahan keluarga Darriel."


"Itu hampir pasti, Raffael. Mereka merasa punya keberanian untuk membela diri sekarang, saat kamu sanggup menjamin keamanan mereka."


"Itu bagus, kalau terbukti empat staf itu meninggal karena ulah Darriel, berikan mereka penghidupan yang layak," perintahnya dengan tegas.


"Baiklah..."


"Cepatlah sedikit Jordan!" Jangan lupa pakai rompi anti peluru mu," perintahnya. Mobil Buggati hitam itu dalam sekejap membelah jalanan sepi menuju rutan tempat Handoko ditahan. Di balik tembok


dengan beton tua itu, kurang lebih lima tahun Handoko mendekam.


Raffael dan Jordan mempercepat langkahnya. Setelah mendapatkan izin


dari aparat yang bertugas, dengan tidak


sabar keduanya bergerak menuju sel di mana Handoko ditahan.


Dari kejauhan terlihat Pria paruh baya dengan perawakan kurus, rambut


sedikit gondrong yang memutih, serta wajah ditumbuhi jambang yang tidak beraturan sedang berdiri termenung dibalik sel penjara.


Tangannya memegang jeruji besi dengan tatapan kosong. Handoko terlihat begitu memprihatinkan. Kesadaran mendadak pulih, saat mendengar derap langkah kaki


sedang mendekatinya.


Raffael melangkah dengan pelan, tetapi dengan hentakan sepatunya yang terdengar keras. Pria tampan itu berhenti


di depan sel dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Sorot matanya sangat tajam dengan jaket hitam yang membalut tubuh tegapnya, tidak mengurangi sedikitpun


kadar ketampanannya.



"Apa kabar Handoko, aku yakin di sini sangat tidak enak, atau sebaliknya kau suka tinggal berlama-lama di sini," Raffael menampakkan senyum smirknya.


Handoko memundurkan sedikit langkahnya. Sorot matanya yang redup mendadak menajam memperhatikan dengan seksama siapa yang telah datang.


Raffael tersenyum sinis menatap wajahnya. "Lihat wajahku baik-baik, barang kali kau lupa atau pura-pura tidak mengingatnya," kakinya maju satu langkah lebih dekat membuat


Handoko dadanya bergemuruh.


"Putra tunggal Tuan, Bimantara? Apakah aku tidak salah lihat?" tangannya mengucek- ucek matanya untuk meyakinkan penglihatannya.


"Saya rasa lampu di sini masih cukup terang, Handoko!" tangan Raffael menekan saklar lampu dengan keras, pada tembok yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Bagaimana? Apakah sekarang sudah jelas?" Raffael dibuatnya geram. Ingatannya kembali ke masa lalu saat Pria itu memilih tutup mulut, saat dimintai keterangan dan memilih untuk mendekam di bui.


"Tu__tu__ tuan muda, Raffael!" tangan Handoko terlihat gemetaran.


"Bagus! Setidaknya ingatanmu masih sangat tajam, rupanya!" Raffael sedikit mengangkat bahunya.


"A__ada apa tuan muda datang kemari?" Handoko memang berada dibalik jeruji besi, tapi dari beberapa orang yang menjenguknya, mereka menceritakan bagaimana kedigdayaan ANTARA GROUP


sekarang setelah dirinya mendekam.


"Apakah kau benar-benar tidak bisa berpikir sedikit saja, Handoko? Ada angin apa, aku sampai datang melangkahkan kaki ku kemari, "Pikir dengan baik-baik Handoko! Raffael berdecak keras. Wajahnya maju beberapa sentimeter, sehingga dirasakan sapuan hangat dari napasnya yang mulai panas.


"Ingat, Handoko! Jangan berlagak bodoh! Ini bukan lima tahun yang lalu, "saya rasa kamu mulai ingat sesuatu?" Raffael menggerakkan jari telunjuknya di depan muka Pria paruh baya itu dan seketika membuatnya memundurkan langkahnya ke belakang.


Ini pasti berkaitan dengan perusahaan


Tuan Tirta wijaya itu. Apakah Putra Bimantara itu mulai tahu sesuatu?


"Kenapa, kau sangat terkejut, Handoko?"


Raffael mendesis tajam, menampakkan rahangnya yang mengeras dengan sorot


matanya yang kelam.

__ADS_1


"Darriel tertangkap dan sudah ditetapkan sebagai tersangka, bahkan kasusnya sudah mulai dipersidangkan, mungkin sebentar lagi akan menjadi terdakwa," Raffael menunjukkan beberapa foto pada ponselnya. Handoko mendadak pucat, pria itu memerosotkan tubuhnya kebawah dengan tangan dan kaki gemetaran.


"Aku, akui, Saya bersalah, Tuan Muda."


"Semua orang, tahu kau bersalah, bahkan mencoba menutupi sesuatu, Handoko!" Teriaknya sarkas. Jordan yang


berdiri tidak jauh dari Raffael, mengusap bahunya untuk menenangkan.


"Kendalikan dirimu, Raffael."


"Tuan muda, sejujurnya aku menunggu peristiwa ini terjadi, "apakah Tuan muda bisa menjamin keselamatan saya, kalau saya buka mulut?" Tetapi bagaimana dengan anak dan istri saya, tuan muda.


Mereka di sekap oleh, Darriel," Pria paruh baya itu dengan sorot mata menghiba.


Oh, jadi keluarga Handoko di bawah kendali Darriel?


"Harusnya kau bicara seperti itu, kalau kau sayang keluargamu, Handoko!


Apakah dengan kau berpasang badan, lantas Darriel akan memperlakukan keluargamu dengan baik? Kau salah


besar, Handoko!" gertak Raffael geregetan.


Handoko hanya bisa menangis dari balik jeruji besi. Pikirannya mendadak kacau. Selama mendekam di penjara, tidak sekalipun mereka membesuk, dengan alasan, keluarganya ditempatkan Darriel di luar Negeri demi keamanannya, setelah Handoko di vonis penjara.


"Aku pegang ucpanmu! Awas saja kalau berkelit!" Raffael memutar badannya dan


berlalu.


"Tuan muda, tunggu!" panggil Handoko seraya berdiri."


"Saya bersumpah, Tuan muda. Saya akan buka mulut. Mohon ampun, Tuan muda, tolong selamatkan anak dan istri saya," Handoko bersujud dari balik tirai besi.


"Cukup Handoko!" Jangan membuatku kembali muak, tetapi setidaknya bagus kau punya kesadaran untuk mengungkap suatu kebusukan. Mohon ampulah kepada Tuhan," sinis Raffael dan benar- benar pergi di ikuti oleh Jordan dibelakangnya.


"Saya bersumpah Tuan muda!" Raffael berhenti dan menoleh. "Berdoalah mudah-mudahan mereka masih hidup."


Handoko meluruhkan badannya. Merasa bersalah, karena terlibat menjebak Tuan Tirta wijaya, untuk tanda tangan, saat beliau sakit di sebuah rumah sakit.


Itu yang membuat beliau luput dengan rencana busuk Darriel. Beberapa proyek di duga fiktif dan belakangan menjadi cikal bakal keruntuhan Tirta Wijaya Group.


Dalam perjalanan pulang Raffael dan Jordan tidak berhenti untuk di buatnya


mata dan membuat Jordan berhenti mendadak dan berbalik arah.


"Ada yang mencoba menghalangi mobil kita, Raffael. Jangan keluar! Mereka sedang memancing kita! Kendalikan dirimu!


"Kurang ajar! Siapa yang sedang mengincar kematianku! Pengendara motor itu terus menyemprotkan gas air mata dan menimbulkan kepulan asap yang bertujuan untuk menghalangi laju


mobil, Raffael.


"Aku yakin mereka membawa senjata api!


"Raffael, apa yang akan kau lakukan!"


Hati-hati!" teriak Jordan. Tangannya mengendalikan si hitam dengan susah payah, karena kepulan asap dan membiarkan lampu mobil menyala bagian depan dan belakang.


Sorot lampu yang sangat terang, ternyata membuat si pengendara begitu kesulitan, menyisakan raungan motor yang memekakkan telinga.


"Dasar amatiran, motornya sangat jelek," Raffael sedikit membuka kaca mobilnya dan melesakkan sebuah tembakan untuk memecahkan ban motor tersebut dan membuat motor gede itu oleng seketika.


"Dorrrrrr.......


Tidak lama berselang, segerombolan orang dengan penutup kepala, menyemprotkan gas yang sama ke arah pengendara dan meringkusnya. Namun sebelumnya terlihat bagaimana mereka memereteli senjata api yang di pegang oleh pengendara itu dan memasukan ke dalam mobil baja miliknya.


"Bawa ke penjara bawah tanah, sekarang!" teriak Jordan keras dengan membuka kaca mobilnya.


"Siap Boss!!"


"Siapa mereka, Jordan!


Jordan tertawa terbahak-bahak.


"Tuan muda apakah kau lupa dengan para pembegal jalanan yang sudah kau ubah hidupnya itu?!"


Raffael tersenyum. "Bagus!" Setidaknya mereka berguna. Apakah kau tahu sesuatu, "itu adalah perbuatan mulia yang pernah di puji, Key untukku seumur hidupku.


"Nona luar biasa! Memang benar mereka adalah orang-orang yang tidak beruntung. Karena keadaan dan cenderung melakukan segala cara karena keterbatasan mereka. Tetapi setelah mereka di arahkan dan diberikan pekerjaan yang menopang hidupnya, perlahan perilakunya ikut berubah, Raffael.

__ADS_1


"Kau menjadikan sebagian dari mereka


anak buahmu?' tebak Raffael.


"Benar bagi mereka yang memenuhi syarat. Lihatlah bagaimana mereka dengan cekatan memereteli sebuah senjata," terang Jordan bangga.


"Hemm ... kali ini aku harus kembali memujimu. Cepatlah sedikit kita harus sampai ke Mansion.


Sementara itu di Mansion Key terlihat begitu cemas, seorang dokter datang memeriksa kesehatan Tuan Tirta wijaya.


Sejak mengundurkan diri dari dunia bisnis, kesehatan jantungnya terganggu


dan beberapa kali mendapatkan perawatan serius.


"Sayang, papa baik-baik saja. Tidak perlu cemas. Karena papa masih ingin melihat putri cantik papa menikah," Tuan Tirta Wijaya tersenyum menatap mata sayu milik Key.


Key mengangguk terharu. "Harus tetap seperti itu, papa, "Papa sudah berjanji, dan papa harus tetap sehat," nasihat,Key.


Tangannya terus menggenggam tangan tuan Tirta wijaya, sementara Tuan besar Bimantara terlihat beberapa kali menegok ke kamar.


"Apakah Raffael sudah pulang, sayang? "


"Belum papa, mudah- mudahan sebentar


lagi. Tetapi sudah memberi kabar, kalau sudah dalam perjalanan pulang," mendadak perasaannya cemas.


"Key, jaga kepercayaan, Raffael. Dan pandai- pandailah menjaga sikap. Jarang sekali ada orang yang rela melakukan apa saja demi orang yang paling di cintainya. Dan putri cantik papa sangat


beruntung," nasihat beliau dengan tersenyum.


Key mengangguk patuh.


"Sayang, putra sulung Tuan Wiratama mencarimu ke rumah, dia terlihat sangat mencemaskanmu," selidik Tuan Tirta Wijaya.


"Andreas, maksud papa?"


"Iya."


Key terdiam sejenak. "Papa, kami bertiga adalah teman kuliah."


"Papa, tahu sayang. Apakah dia menaruh hati padamu?"


"Papa? Kenapa bicara seperti itu, Key hanya mencintai, Raffael," tegasnya.


"Mudah- mudahan dugaan papa tidak benar," seloroh Tuan Tirta Wijaya dengan


tertawa.


"Tentu saja papa salah duga." Walaupun dalam hati, Key, membenarkan ucapan beliau. Sesaat Ia mengingat ucapan Raffael. Andreas berniat melamarnya


dan menyisakan rasa tidak enak hati pada dirinya.


"Pemuda itu sangat baik, tetapi Raffael sempurna mencintaimu," Nasihatnya bijak.


Setelah orang tuanya beristirahat dan mulai tertidur, karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter, Key, bergegas keluar. Langkanya cepat mencari keberadaan Jasson setelah melihat sesuatu pada sebuah situs berita yang


mencurigakan.


"Nona?"


"Raffael belum datang? Apakah kalian bisa mendeteksi keberadaanya?" sorot matanya terlihat cemas.


"Ada Jordan bersamanya. Nona tidak perlu cemas," Ingatan Jasson kembali


pada peristiwa horor sore.


"Bagaimana aku tidak cemas, Jasson! lihat ini! Ayo jasson lakukan sesuatu untuk Raffael! Wanita itu bercucuran air mata dengan sedikit mendorong tubuh Jason.


"Nona! Nona! tenang dulu! Tuan muda baik-baik saja dan sekarang sudah di sekitar Mansion. Sebentar lagi datang.


Nona tidak perlu cemas.


Aku harus menghentikan situs berita itu,


Sialan. Beraninya dia memuat sebuah berita. Apakah mereka tidak tahu siapa yang berada dalam mobil itu?


______________________

__ADS_1


Sahabat tersayang ๐Ÿ˜˜


Jangan lupa untuk like dan komentarnya ya! Terimakasih yang sudah setia mampir ๐Ÿ˜. Maaf masih banyak kekurangan ๐Ÿ™


__ADS_2