Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
106. Honeymoon


__ADS_3

Raffael mengangguk pelan. Key memajukan satu langkah kakinya untuk lebih dekat dengan foto itu. Jemarinya mulai meraba halus gambar dirinya yang seketika membuatnya kembali terharu. Entah apa yang dirasakan oleh hatinya, Ia hanya ingin mengatakan pada dunia, bahwa saat ini kalau ada seseorang yang paling beruntung memiliki pendamping hidup, itu adalah dirinya.


"Masih tetap sama..." bisiknya lirih.


Matanya kembali berembun entah kebetulan atau memang direncanakan oleh Raffael. Foto indah dirinya dalam balutan busana ala Victoria adalah kenangan pertama dari kedua orang tuanya, saat Ia merasakan bagaimana menduduki negeri orang untuk pertama kalinya, di awal kejayaan Tirta Wijaya Group pada masanya.


Wajahnya yang cantik menarik perhatian seorang pelukis dan fotografer di negeri tirai bambu dan menawarkannya untuk menggunakan busana para kaum bangsawan yang mempunyai Citra anggun dan klasik bak seorang putri kerajaan pada masanya, lalu mendokumentasikannya. Ia juga kembali tersenyum saat memperhatikan foto dirinya dengan gaun berwarna merah dengan motif bunga khas negeri itu.




"Dari mana kau mendapatkan ini semua?" Key menoleh Raffael yang berdiri bergeming dibelakangnya.Tatapan matanya menghujum jantung hatinya, sehingga menghasilkan desiran halus yang membuatnya semakin tertunduk malu. Itu adalah tatapan cinta Raffael yang selalu menjeratnya setiap saat.


"Apakah Tuan putri tidak menyukainya?" Tanyanya pelan seraya meraih tanganya dan menggenggamnya dengan dengan lembut.


"Bagaimana bisa aku tidak menyukainya, Raffael. Aku sudah putus asa mencari foto ini, bahkan aku sudah menganggapnya, hilang tak tahu entah kemana," pikirnya sedih.


"Maafkan aku. Aku menemukannya dan tidak memberikannya padamu. Saat Kedua orang tuaku membeli aset tersisa perusahaan keluargmu, aku menemukannya, apakah kau masih ingat?"


"Tentu saja. Sebuah moment yang membuatku benar-benar jatuh cinta padamu waktu itu, kau mengupayakan segala cara pembelian itu, karena Papa kesulitan memberikan pesangon kepada mereka yang terpaksa harus berhenti bekerja," ujarnya sedih tetapi, Key tidak bisa menutupi rasa terharunya.


"Semua sudah berlalu, Cara. Sudah jangan diingat lagi." Raffael memeluknya dengan sayang. "Itu adalah tekatku untuk pertama kalinya bahwa, menjagamu adalah keharusanku. Aku bersumpah akan membalas setiap penghinaan yang kau terima dan juga keluargamu saat itu." Mendengarnya membuatnya semakin merasa terharu memperlihatkan Kristal-kristal bening meluncur dengan halus dari wajah cantiknya.


"Apakah kau tahu, sejak saat itu, aku tidak berniat untuk mencintai yang lainnya. Betapapun kau menemukan cintamu pada akhirnya, aku rela patah hati memberikan hampir seluruh hatiku padamu. Kau begitu menjagaku, walaupun aku tidak tahu perasaanmu waktu itu seperti apa. Kau sangat dingin, tertutup untuk urusan pribadimu dan kelihatan sangat serius," Key tersenyum mengingatnya, dengan derai air mata yang seketika menggerakkan tangan Raffael untuk mengusapnya pelan.


"Karena aku harus bekerja keras untuk semuanya, Cara. Dan kau ingin tahu foto dengan gaun Victoria itu?" Itu adalah tekatku untuk menjadikanmu ratu dihatiku. Itu adalah pertama kalinya terlintas dalam pikiranku, suatu saat kita diijinkan bersatu, aku ingin mendirikan sebuah PALACE sebagai tempat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecil kita. Yang menyimpan banyak kenangan, sebagai symbol kemenangan cinta kita, karena itu aku menyimpan fotomu," jelasnya dengan menangkup wajahnya dengan sayang dan menghujani ciumannya dengan bertubi-tubi.


"Memang ini kedengaran seperti di negeri dongeng, tetapi percayalah kita akan me dongeng dengan indah- Indah di sini," yang diikuti oleh senyuman manis Key dan tidak berhenti untuk mengumbar keromantisan.


"I love you, Raffael."


"Baby... the whole of my heart just for you."


"Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya harus berterimakasih padamu. Semua sangat mengejutkan dan begitu indah."


"Apakah kau sudah lupa caranya untuk berterima kasih padaku, Cara. Sebentar lagi aku akan menunjukkan padamu sebuah kenyataan paling indah dan mendebarkan," bisiknya nakal.


Key tersenyum menangkap arah pembicaraan, Raffael. Dia sudah melakukan segalanya untuknya dan dia berjanji akan menyenangkannya, saat ini. Apa salahnya dia berhak untuk itu.


"Aku menunggunya, honey." Key mengedipkan matanya, melepas tangan Raffael dan berjalan mendahuluinya. Raffael senyum-senyum dengan melangkah pelan, mengekor di belakangnya. Apa lagi saat wanita itu tersenyum menggodanya setiap menoleh kebelakang dengan tatapannya yang begitu menggairahkan.


"Cara, Jangan bermain- main denganku," ujarnya dengan nada rendah. Key berlari kecil dan Raffael mengejarnya. Mereka seperti seorang anak kecil yang saling kejar-kejaran lalu menangkap tubuh ramping itu dan memutarnya lalu kembali membopongnya. Key tersenyum memperhatikan Raffael dengan melingkarkan kedua tangannya dilehernya lalu mengecup bibirnya dengan lembut.

__ADS_1


"Sebuah kenyataan indah dan mendengarkan...." bisiknya ****.


"Apa ini adalah sebuah isyarat, sayang?" Key terkekeh mendengar pertanyaan, Raffael.


"Malam ini aku yang akan mengendalikanmu, Rajaku, karena aku adalah Ratumu," godanya kali ini dengan tersenyum sedikit nakal.


"Woww! Benarkah? Hari ini, aku akan sangat suka sepertinya."


Aku yang akan mengendalikannmu, seperti pusaran angin yang akan menghempasmu seketika."


"Ohhh, pasti menyenangkan sekali, Amour, aku bahkan menantikan aksimu Itu."


"Bersabarlah, King Raffael, my lovely." Lalu keduanya tertawa bersama-sama mendengar kekonyolan yang mereka ciptakan dengan begitu narsisnya.


"Aku tidak tahu berapa lama kamu membangun ini semua?" Key memperhatikan sekeliling, saat Raffael dengan pelan merebahkan tubuhnya pada sofa besar yang terlihat mewah di ruang tamu utama Palace.


"Yang pasti setelah kau menerima cintaku, aku menyuruh Jordan memantau project untuk pembangunan ini".


"Dan selesai tepat waktu?" Key menatapnya tidak percaya."


"Hemm... iya. Itulah hebatnya, Jordan. Dia benar-benar bisa diandalkan," puji Raffael seraya memandang wajahnya yang terkungkung di bawah tubuhnya. Tangannya membelai lembut rambut indahnya dengan sesekali jemarinya memainkan bibirnya yang makin terlihat sensual.


"Berapa ribu orang yang kau libatkan, Raffael?" Mengingat Victoria palace itu terlihat begitu luas dan megah rasanya bukan perkara mudah untuk menyelesaikannya.


"Hanya Jordan yang tahu,"Jawabannya enteng. Tenang aku memberinya bonus yang sangat layak untuk semua itu. Rumah mewah, mobil mewah, dan sebuah pusat perbelanjaan sebagai usaha masa depan Jordan kedepannya," tambahnya lagi.


"Dan bukan sesuatu yang tidak mungkinkan, Naya sahabatmu itu yang pada akhirnya akan menjadi pelabuhan hati Jordan kedepannya? Bukankah kita berdua membawa keberuntungan untuk mereka, cara?


"Hem... aku mendukungnya. Aku sangat mengenal, Naya. Aku rasa mereka sangat cocok. Apakah ini suatu kebetulan?" Jordan adalah anak orang dari kepercayaan orang tuamu dan Naya anak orang kepercayaan papa disaat aku masih kecil, karenanya aku bersahabat tanpa sekat apapun, karena kita sebaya dan menikmati masa kecil bersama."


"Sepertinya mereka berdua berjodoh,"


Raffael mengecup bibirnya dengan lembut tidak tahan dengan aksi jemari tangan Key yang menggelitiknya. Suasana palace begitu hening. Lama keduanya saling menatap dalam diam."Bukankah, kau berjanji akan mengendalikan saat ini," bisiknya **** yang sontak saja membuat Key merona karena ucapannya beberapa saat yang lalu.


"I want you be mine, baby."


Key memejamkan matanya dengan debar jantungnya yang berdetak semakin kencang. Ia terlihat bingung. Dia sangat minim pengalaman untuk memulai. Dan itu membuatnya sangat malu. Dengan begitu anggun dan gerakan yang sangat sensual kakinya merangkak kepangkuan Raffael. Keduanya kembali menatap dan saling berpagut dengan begitu mesra menikmati honeymoon mereka ditempat terindah. Menikmati setiap inci keindahan yang terpampang didepan matanya yang dirasakan hanya bahagia. Namun seketika key menghentikan aksinya.


"Kenapa, sayang?"


"Tidak disini, Raffael."


"Cuma ada kita berdua. Mereka tidak akan berani kemari.

__ADS_1


Key menggeleng pelan.


Cara, you will be mine wherever you are," bisiknya kembali nakal.


Druf.. drufft... drufft.. ponsel Raffael bergetar disaku celananya. Sejenak keduanya kembali saling menatap lalu Key tersenyum menyadari sesuatu yang harus terjeda, tetapi tidak dengan Raffael raut wajahnya terlihat kesal dan membuat Key terkikik melihatnya.


"Sial, sepertinya aku harus menjeda untuk menghukummu, walaupun aku akui, aku mempunyai fantasi yang sangat gila dan mendebarkan di sini," bisiknya lagi.


Key kembali terkikik. "Angkat teleponku kenapa kau sangat mesum sekali?"


Raffael membelai lembut punggungnya dengan sebelah tangannya menerima panggilan telepon dan sesekali meliriknya dengan tatapan tidak terima.


"Apakah ada yang penting?"


"Andreas sepertinya menyekap, Clara dan berniat akan menyeretnya kehadapanku," beritahu Raffael dengan wajah datar.


"Itu artinya dia sudah tahu kebenarannya, dan siap untuk bertemu denganmu."


"Menurutmu?" tanya, Raffael tidak suka.


"Tidak untuk saat ini," Key menyatukan bibirnya dengan lembut untuk meredam amarah tertahan, Raffael. Pria tampan itu mengulum senyum melihat keberanian bidadari cintanya. Hasratnya yang sudah diubun- ubun terasa menyiksanya.


"Apakah ini caranya kau menghiburku, sayang." Napasnya mulai memberat dengan sorot mata berkabut gairah.


Dengan gerakan begitu anggun dan sensual Key menunjukkan pemandangan indah yang seketika menghipnotis Raffael dengan menelan salivanya kasar. Key memejamkan matanya saat madu cinta itu mulai memainkan peranannya. Mengagumi setiap sentuhan yang indah dengan sekali gerakan, Raffael mendorong tubuh indah itu kesinggasana cintanya.


"Apakah kau juga menginginkannya, sayang?" Rafael menatapnya kelam. Kabut gairah itu sudah menguasai dirinya.


"Cara...


"Apakah kita sanggup untuk menghentikanya, Raffael," Key tertunduk malu.


"Kau benar-benar mengujiku,amour. Raffael menarik Key kepangkuannya dengan frustasi. Gayungpun bersambut. Raffael menuntunnya untuk berlayar menjelajah samudera cintanya yang begitu indah. Sihir cinta itu lagi- lagi menghipnotis keduanya untuk melukis, tidak hanya diantara malam penuh bintang, tetapi keduanyapun seakan sanggup untuk lebih panas dari sengatan sang mentari disiang hari sekalipun.


Hari terasa sunyi, namun keduanya masih terbuai dengan gairah cinta yang enggan untuk berakhir. Nyanyian itu begitu melebur syahdu. Menyatu membingkai indah raga keduanya, hingga yang terdengar hanyalah deru napas dengan suara yang mendamba. Kenyataan indah yang mendebarkan dengan menorehkan sejuta cintanya pada titik tertinggi. Hari begitu dingin, namun keduanya melebur dalam panasnya gairah cinta dengan dihiasi peluh yang bercucuran.


Kenapa kau selalu membuatku gila,cara ?" Mereka benar-benar tidak ingin berhenti. Tidak sampai di situ saja,


tidak lama terdengar Key sudah kembali menjerit- jerit memanggil namanya. Seakan ingin menunjukkan tempat itu memang tercipta untuknya.


_______________________


Catatan penulis:

__ADS_1


Sahabat tersayang ๐Ÿ˜˜


Jangan lupa untuk like dan komennya ya. Terimakasih dear ๐Ÿ˜Š


__ADS_2