Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
39. Romansa cinta


__ADS_3

"Aku wajar cemburu, kau boleh memakai warna seperti ini, hanya ketika sedang bersamaku, "lagi pula, tanpa benda jelek ini pun, bibirmu terlihat lebih ****,"


Raffael memperlihatkan jakunnya naik turun dengan tatapan intens ke bibir merah milik Key.


"Sekarang ini, aku memakainya saat di hadapanmu, "tidak ditempat lainnya," Tangannya membersihkan sisa lipstik yang menempel di jari-jarinya yang menampakkan bulu-bulu halus yang membuatnya semakin terlihat maskulin."


"Apakah kau benar-benar cemburu, padanya?" Dia sahabatmu, Raffael. Tidak


mungkin Andreas akan menggodaku, kalau dia tahu kita adalah sepasang kekasih."


"Cinta tidak memandang, milik siapa dan kedudukannya sebagai apa ..." ujarnya dengan nada rendah.


Key melepas tangan Raffael. "Tuan muda posesif. Pantas saja kau mengurungku di mansion dan memuat surat resign dengan tiba-tiba," wanita cantik itu mencebikan bibirnya sementara Raffael


hanya menekuk wajahnya karena kesal.


"Tetapi kau terlihat sangat menyukainya, cara," ejeknya dengan alis saling bertaut. Seriangi wajahnya terlihat menyebalkan,


walaupun tetap saja terlihat sangat tampan di matanya.


"Tidak ada alasan untukku, untuk tidak menyukainya. Aku bahkan terlihat seperti seorang putri dalam sangkar mas, tetapi


bedanya, tidak hanya bergelimang kemewahan.Tetapi juga berlimpah kasih sayang, dan juga cinta, serta mempunyai pangeran tampan," Key berjalan di depan Raffael. laksana pembaca puisi yang sedang berdeklamsi, berbicara dan berjalan dengan memperagakan gerakan tangannya.


Raffael menggelengkan kepalanya.


"Bukankah itu sangat menyenangkan, hemm?" Janganlah kau membuat wajahmu tertekuk seperti itu, karena akan terlihat tua dan sangat jelek," bibir mungilnya mencerocos tidak karuan. Membuat Raffael tidak tahan, untuk tidak menarik pinggang rampingnya dan merapatkan tubuhnya, lalu menarik wanita itu kedalam pelukannya.


"Sepertinya, aku perlu membungkammu, sayang. Aku cemburu, tetapi kau malah meremehkanku," Raffael menarik tengkuknya dengan sedikit kasar dan menyatukan bibirnya dengan sangat dalam dan emosional.


"Kau tahu, Dia mencarimu ke rumah, ke butik dan pagi ini datang ke kantorku, "hanya untuk menanyakan apakah kau baik-baik saja atau tidak! Apakah kau pikir ini lucu,hemm?!"


Dan sekarang aku yakin, dia sedang mencari keberadaanmu, karena aku


mengatakan suatu saat nanti, dia akan mengerti sesuatu," napasnya terdengar semakin memburu dan dan mengalirkan hawa panas di wajah key.


Raffael dibuatnya gemas dan tidak memberikan Key mengambil napas sedikitpun dengan bebas.


"Ahhh ...!! Kau menyebalkan!" tangannya yang kurus memukul- mukul bahu, Raffael dengan tanpa ampun. Tangan Raffael yang kokoh terasa mencengkeram bahunya dengan begitu kuat dan posesif.


"Apakah kau akan membuatku mati?!" sungutnya kesal dan melepas paksa pelukan, Raffael. Jemarinya sibuk merapikan rambutnya yang berantakan. Pemandangan yang sangat disukai oleh Raffael. Saat key, berantakan akan terlihat semakin ****.


Raffael bukankah pecinta yang tidak pengertian, dengan cepat dia mengangkat tubuhnya yang ramping, lalu mendudukkannya dipangkunya dan membelainya dengan lembut.


"Itu hukuman bagimu, karena sudah mengatakan aku jelek," ujarnya sambil terkekeh.


"Kau sangat tidak romantis," Key mengerucutkan bibirnya gemas. Tangannya dengan jahil mencabut jambang halus, Raffael, seketika membuat pemiliknya meringis kesakitan.


"Jangan terus menggodaku atau aku akan___" protesnya dengan tatapan


mengintimidasi.


Key bergegas turun dari pangkuannya dan memilih duduk disampingnya. Raffael terkekeh melihatnya dan menarik


pucuk kepalanya untuk bersandar di bahunya.


"Kau tahu landasan dalam sebuah hubungan adalah saling percaya ... "ujar Key pelan.


"Aku cemburu, "bukan berarti tidak percaya padamu.


"Kalau aku diperhatikan wanita lain, apakah kau akan baik-baik saja?" tanyanya berbalik, dengan cepat mempertemukan dua manik mata mereka. Raffael sedikit memiringkan kepalanya dengan wajah bingung.


"Kau tidak akan cemburu?" tanyanya malas.

__ADS_1


"Aku akan melihat sejauh mana dia melangkah. Kalau kelewatan, aku akan


mencakarnya dengan kukuku ini," ancamnya. Key tersenyum menyelidik dan memperlihatkan kukunya yang bercat merah, yang membuat Raffael mengernyitkan dahinya.


"Sudah aku katakan, buang warna-warni yang melekat pada tubuhmu, "Kau bahkan, terlihat lebih cantik, saat tidak memakai apapun!" Pria itu melengos


engan perasaan jengah.


Key terkekeh mendengarnya. "Apakah kau sedang ingin berhemat, Tuan muda?"


"Kau boleh menghabiskan sebanyak kau mau ... " tawarnya pelan.


"Kau yang akan bekerja keras ,siang, malam, tidak tahu waktu dan aku yang akan menghabiskan uangmu?"


"Hem ... "


"Dan kalau kau tidak mempunyai uang?" tanyanya dengan alis bertaut.


"Kau, bahkan sudah pernah melihatku, saat aku tidak punya apapun," jawabnya singkat tanpa menoleh.


"Key tersenyum. "Itu artinya, cinta kita terbentuk dari sesuatu yang paling sederhana di dunia ini. Jadi tidak perlu


mencemaskan apapun."


Keduanya saling menatap dalam diam. Sesaat kemudian, Pria itu sudah menariknya kembali kedalam pelukannya dan menyatukan keningnya dengan sayang.


"Tetapi aku tetep saja cemburu," bisiknya.


Waktu terlalu singkat menemani setiap


kebersamaan mereka. Bahkan sedetik pun, tidak ingin mereka melewatkannya. Begitulah cinta mereka, terlihat mewah dan bergelimang harta, tetapi terbentuk dari cara yang paling sederhana. Cinta tidak memandang siapa, bagaimana dan


sedang memiliki apa? Tetapi cinta adalah rasa yang tulus, tidak bersyarat yang datang dari kemurnian hati seorang anak


manusia.


terkadang membutuhkan tenaga extra untuk menaklukkannya," Raffael semakin


mengeratkan pelukannya.


"Hatiku sudah menjadi milikmu, tidak dengan yang lainnya," tegas Key.


"Kamu mungkin tidak tahu, aku mencintaimu jauh sebelum kau mencintaiku, "Keduanya lalu mengurai pelukannya.


"Benarkah?" Wanita itu memerkan senyum lebarnya dengan binar bahagia.


"Hemm... saat kau memanggilku, Rio," ujarnya sambil kembali tertawa.


Keduanya tertawa bahagia. Key mengingat sesuatu dan menggelengkan kepalanya.


"Itu adalah pertama kita bertemu, dan aku salah memanggil namamu, dan kau


pura-pura marah padaku, "benarkan?" Kerling mata indahnya terlihat begitu menggoda, Raffael.


"Itu artinya aku melihatmu sejak pertama kali, sudah dengan cinta, cara."


"Terimakasih. Terimakasih, "aku tidak menyangka kau sebucin itu," ejeknya. Raffael tidak bosan untuk bercerita, apa saja, kalau mereka sedang mengobrol, kadar cintanya semakin hari terasa semakin meningkat saja.


Hari beranjak sore, Raffael yang kaku, dan keras kepala, merasa punya ruang untuk mengekspresikan perasaannya dan itu hanya terjadi kepada Key saja.


"Aku ingin saat ini, mami dan papi tahu semuanya, setelah semua jelas dan masalah selesai, kita akan menikah,"janji Raffael.


Key mengangguk terharu. Sejak mereka mengikrarkan cinta mereka, niat Raffael adalah untuk menikah, bukan menjadikan

__ADS_1


Key kekasihnya.


"Mungkin mereka akan sangat terluka, apalagi saat mengetahui paman ternyata bukan kakak kandung papa." Raffael menerawang jauh.


"Semakin cepat lebih baik, dari mana kau mengetahui itu, Raffael? Bagaimana bisa


mereka tidak mengetahuinya!" protesnya.


Wanita itu merapatkan duduknya dan meraih tangan Raffael lalu menggenggamnya.


Raffael seperti mengingat sesuatu. Dan kembali menoleh Key dengan sedikit ragu.


"Adik kakek yang memberitahu. Dan sekarang sedang menuju ke mansion dengan Jordy."


"Kau ingat, adik kakek yang bernama Adiyaksa? Beliau sempat depresi dengan


kematian kakek, dan lebih suka mengasingkan diri, karena merasa bersalah tidak bisa menahan papa keluar rumah dan sesaat kemudian kakek sakit keras dan meninggal," jelas Raffael.


"Semua sudah berlalu, sekarang kita memikirkan yang sedang dihadapan kita saja. Jangan merasa bersalah dengan apapun. Yang harusnya terjadi,semua


orang berterimakasih padamu. Kamu sudah melakukan sesuatu yang mungkin


saja, orang lain tidak pernah bisa," hibur


key dengan mengusap bahu Raffael.


"Apakah kau diam-diam menemui kakekmu, Raffael? Beliau memang bukan orang tua Tuan besar, tetapi


sejak dahulu Raffael memanggilnya kakek.


"Aku merayunya kembali ke ibu kota, lagipula beliau ingin melihatku menikah," jelasnya lagi.


"Bantu aku sayang, saat mereka bersedih, mami lebih mengingatmu dari pada diriku," kali ini Raffael merasa tergantikan dengan wanitanya itu, tetapi Ia tidak bisa


menutupi rasa bahagianya.


"Itu karena, kau tidak pernah berada di rumah dan terlalu sibuk bekerja."


"Setelah kita menikah, aku akan di kamar saja,"kedua alisnya bertaut dan hanya mendapat pukulan kecil dari wanita pujaannya itu.


Raffael tersenyum dan mengambil sesuatu dari dalam sakunya.


"Aku menyuruh Jordan untuk secepatnya mengumpulkan berkasmu. Jadi suatu saat diperlukan untuk mengurus pernikahan kita, akan lebih mudah.


Tetapi dia malah memberinya foto seperti ini."


Key tertawa. "Astagaaaa, Raffael. Aku bisa memberinya yang lebih sopan dari itu.



"Jordan memang paling bisa menggodaku, bagaimana bisa dia memberi foto yang menutupi mukaku, apakah biar orang lain tidak tahu, kalau kau milikku?"



"Itu adalah foto karena wabah yang sedang trend sayang. Tetapi mulai sekarang, cuma akan ada wabah cinta kita," tawa Key pecah seketika.


"Ayo kita kebawah, tidak enak rasanya kita berlama-lama di sini."


_____________________


Sahabat tersayang 🌹


Jangan lupa untuk like dan komennya,ya.

__ADS_1


Maaf tulisannya masih jauh dari kata layak,😅tetapi semoga kalian suka.


Thanks yang setia sudah mampir, jaga kesehatan,semoga selalu sehat, aamiin.


__ADS_2