
Netra indah itu kembali berkaca-kaca. Tiada sedikitpun kebohongan yang
tersirat dari tatapan matanya, selain
sebuah kejujuran yang tampak terlihat di
sana.
"Kalau cinta itu memang harus diucapkan, aku juga ingin mendengarkan,
bahwa kau mencintaiku?"Jemari tangan Raffael bergerak kecil mengusap pelan kelopak matanya.
Masih dengan tersipu, Key berbalik meraih telapak tangan, Raffael lalu menempelkan di pipinya yang lembut, dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku juga mencintaimu, Raffael," jawabnya tersipu. Pipinya seketika merona dengan sedikit berpaling karena malu. Namun sesaat kemudian, Raffael dengan pelan menggeser dagunya dan memamerkan seutas senyum paling indah yang memancar memenuhi seisi wajahnya yang tampan.
Beban kesedihan dan ketegangan dalam dirinya seketika mengendur. Itu terlihat dari kerutan wajah lelahnya yang tidak terlihat lagi berganti bahagia.
"Cara, kamu tahu aku memanggilmu, Cara?" Cara, mi amour," bisiknya begitu ****. Keduanya tidak berhenti untuk saling mengunci tatapan cintanya. Karena dalam diri mereka yang dirasakan, saat ini hanyalah sebuah kebahagiaan bersama.
"Cara?" Key terpana.
"Hemm ... cinta abadi Raffael." lalu keduanya tertawa lirih bersama.
Sebuah pelukan hangat membuat darah Key kembali berdesir. Keduanya saling
memejamkan matanya, menikmati setiap degup jantung mereka yang berdetak seirama.
Sangat bahagia mereka benar-benar bahagia. Untuk pertama kalinya Raffael memperlakukan Key sebagai kekasih
hatinya. "Apakah kau tahu, sayang, selama ini kita banyak membuang waktu
yang sangat indah dengan percuma?" Raffael semakin merapatkan pelukannya.
"Itu karena kamu yang membuangnya dengan sia-sia." Key tertawa.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Apakah kamu sadar, kau
ingin mendengarkanku, kalau aku mencintaimu saat matamu terbuka, sementara kau berani mengucapkan cinta untukku saat mataku sedang terpejam!"protesnya yang seketika kembali diiringi tawa mereka berdua.
"Apakah kau juga tidak akan bicara malam ini, kalau aku tersadar?" Key mengerucut bibirnya memprotes.
"Tidak. Kamu salah besar. Bahkan aku sudah melamarmu, mengajakmu membeli cincin tunangan dan juga membeli gaun pengantin tadi pagi. Aku rasa kau tidak melupakannya dan itu lebih dari sebuah kata cinta," balasnya
dengan mengulum senyum.
Key melonggarkan pelukannya dan menatap tak percaya ke arah Raffael.
"Jadi___"
"Iya. Karena kau adalah calon pengantinku," jawabnya pasti tak tampak keraguan di sana.
"Tetapi kau belum melamarku!" Bola mata bening itu melebar.
Raffael terkekeh mendengarnya. "Aku sudah memintamu kepada kedua orang tuamu saat pertama kali, aku minta izin
ingin membuka kasus Tirtawijaya. Dan itu yang membuat mereka tidak bisa menolaknya dan sekarang keduanya tinggal di Mansion." Dengan ekspresi Raffael penuh kemenangan.
Key tercengang.
Pria itu menatap intens wanitanya. Jemarinya membelai rambutnya yang hitam dan indah, dengan sesekali mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pipinya.
"Ahh!Kau benar-benar!" Key memukul-mukul dada Raffael dengan
gemas dan kembali pria itu mendekapnya
dengan hangat kedalam pelukannya. Tetapi keduanya tetap tidak bisa menutupi rasa bahagianya malam ini.
"Kalian diam-diam mengambil keputusan sendiri di belakang ku, tanpa sedikitpun melibatkanku," suaranya merajuk masih dengan tidak bisa menutupi rasa bahagianya.
"Aku sudah katakan, kamu hanya boleh jatuh cinta padaku, tidak dengan yang
lainnya. Dan aku tidak siap dengan sebuah penolakan, apapun itu alasannya," jawab Raffael posesif. Kali ini pria itu mengambil ciuman dengan dalam di bibir semanis Cherry, seakan tidak menginginkan wanitanya untuk kembali bertanya lagi.
"Lalu kenapa kau terlihat sangat sedih dan begitu tertekan? Semua rencanamu
__ADS_1
telah berhasil. Kau dan papa sukses mengelabuhiku," tanyanya dengan napas sedikit tersengal. Mendadak wajah pria itu kembali mendung. Senyumannya
kembali menghilang.
Untuk beberapa sesaat Raffael terdiam dan melepaskan pelukannya dengan pelan.
Raffael berdiri dan menatap langit-langit
kamar. Key berjalan menghampirinya, dia telah mendengar semua isi hati, Raffael. Tetapi ia ingin mendengarkannya
secara langsung.
"Kamu tahu, aku mencintaimu tanpa sebuah syarat. Kalau kamu menganggapku ada, setidaknya jadikan aku teman bicaramu mulai sekarang."
Wanita itu memeluknya dari belakang dengan menyandarkan kepalanya dengan sesekali terdengar tarikan napasnya yang kasar.
"Kau berhutang penjelasan, Raffael. Apapun itu kenyataannya tidak akan pernah mengubah segalanya. Bukan
Key kalau tidak pandai memahami sisi hati, Raffael.
Pria itu suka memendam masalahnya sendiri dengan dalih tidak
mau membebankan kepada yang lainnya.
Dan itu yang membentuk karakter, Raffael menjadi kaku dan sedikitpun tidak bisa menyuarakan hatinya.
Raffael memutar badannya dengan pelan dan mereka kembali berdiri saling berhadap-hadapan. Ada sedikit kelegaan
dalam hatinya. Dia tidak pernah meragukan ketulusan hati wanitanya itu.
Mungkin ini adalah saatnya kau tahu semuanya.
"Kenapa kau memperalat, Nova? Apa
salah dia?" Key mendongakkan wajahnya
menatap manik mata Raffael yang begitu kelam, menanti sebuah penjelasan.
"Nova adalah orang suruhan, Dave. Dan ada kemungkinan besar, dia ada sebuah kedekatan khusus dengan keluarga Danu
Purba. Orang pertama yang aku curigai dan harus bertanggung jawab atas kehancuran Tirtawijaya Group."
duganya.
Keluarga Dave berkomplot dengan orang yang menjadi dalang kehancuran Tirtawijaya group. Bukan hal baru lagi, keluarga Dave tidak pernah sejalan dengan keluarga besar Raffael. Dan mereka juga yang menyebabkan keluarga Raffael hancur berantakan. Lalu
kenapa mereka harus menghancurkan Perusahaan keluargaku?
Dengan kembali menatap wajah tegang Raffael, Key merasa ada sesuatu rahasia
yang besar, yang disembunyikan oleh Pria itu. Tetapi Raffael adalah cintanya sekarang ini, dan dia tidak ingin melihat sorot mata terluka itu dia tanggung seorang diri lagi.
Kembali memeluk tubuh yang berdiri mematung di hadapannya itu, keberadaannya adalah alasan satu-satunya, kenapa Raffael berada di titik ini, dia tidak pernah meragukan hal itu lagi.
Sejak dahulu Raffael sangat menjaganya, melakukan apa saja untuknya. Selalu ada
di saat dia tidak berdaya. Dirinya tidak menutup mata terlepas apa yang sudah dilakukan untuk menyelamatkan keluarganya.
Karenanya dia terluka, saat pria itu mengumumkan kedekatannya dengan, Nova. Karena tidak sadar ia sudah jatuh cinta kepada, Raffael, bahkan sebelum keruntuhan Tirtawijaya group.
"Katakanlah, kenapa harus keluargaku yang dihancurkan oleh mereka?" Aku tahu itu yang membuatmu sangat terluka."
Raffael mengangkat tangannya dan mengusap lembut bahu indah, Key, yang
sedang memeluknya. Matanya terpejam
menikmati debaran hatinya. Ada sedikit kelegaan karena sudah mengungkapkan
perasaannya, tetapi juga ada desiran lain
yang menimbulkan rasa perih di hatinya.
Perlahan Pria itu melonggarkan pelukannya, dan kembali menatap netra
indah yang mengejab menyorot kearahnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman karena tidak ingin membuat Raffael semakin terluka.
"Apapun itu, tidak akan mengubah segalanya. Kau percaya padaku?" Tangannya meraih jemari tangan Raffael,
__ADS_1
yang membelai wajahnya dengan lembut dan seperti biasa Ia akan meletakkan telapak tanganya dan kemudian menempelkanya di pipinya.
Raffael tersenyum. "Tentu, sayang. Aku percaya padamu." Raffael mencoba mengurai rasa bersalahnya dari dalam hatinya.
"Itu karena mereka menaruh dendam karena, Papa Tirtawijaya berani mengucurkan dana di awal berdirinya Antara group, sayang, maafkan aku," bisiknya lirih tanpa melepas fokus kepada wanita yang sudah membuat dunianya jungkir balik.
Jantung Key berdebar kencang, dan kembali memejamkan matanya. Tangannya meremas kuat telapak tangan Raffael dan menekannya semakin kuat di pipinya. Air matanya jatuh. Raffael merasakan tangannya yang bergetar tidak sanggup lagi untuk tidak mendekapnya dengan kuat.
Key menangis tidak bersuara, tapi Raffael merasakan punggungnya yang bergetar begitu menyayat hatinya."Maafkan aku, Cara," bisiknya dengan suara tercekat. Dadanya kembali bergemuruh tidak, tahu apa yang Key sedang rasakan saat ini.
"Bahkan aku baru mengetahuinya malam ini dari, Jordan. Semula aku hanya tahu Dave memang terlibat, tetapi dengan motif dana yang mengalir ke Antara, semua benar-benar di luar dugaanku," jelasnya dengan sorot mata terluka.
"Kau boleh membenciku, tetapi aku tetap akan mencintaimu. Dari dahulu bahkan sebelum adanya kasus Tirtawijaya" Raffael kembali menyuarakan hatinya.
Key semakin terisak. Sekarang dia tahu, Raffael dihantui rasa bersalah dalam dirinya seumur hidupnya.
Tidak tahan, merasakan tangan Key yang mendekap semakin kuat merapat dengan perlahan dia mengangkat tubuh itu dan meletakkannya di pangkuannya. Dengan duduk menyender di sofa besar miliknya. Matanya yang terlihat sembab perlahan ia usap kelopaknya dengan lembut.
"Kamu tahu aku membenci air mata ini?"
"Jangan memaksaku untuk tidak menangis, Raffael, Karena air mata ini, air mata bahagia. Jangan merasa
bersalah, kau tidak pantas disalahkan atas kasus itu. Papa Ikhlas melakukan itu semua," hiburnya yang seketika membuat
pria itu tidak tahan untuk tidak menghujani ciuman di wajahnya.
"I love you," bisiknya lirih.
"Aku juga mencintaimu."
Nyanyian malam yang begitu indah, menuntun mereka berbicara dari hati
kehati. Hanya kelegaan yang dirasakan
keduanya. Apapun tantangan kedepan cinta mereka terlalu kuat sekedar untuk
dipatahkan. Seakan takdir memang menyatukan mereka, malam ini hati Key hanya diciptakan semesta untuk, Raffael saja.
"Cara, mi amour," bisiknya sangat ****. Napas hangatnya menyapu dengan lembut di bibir mereka yang saling bertaut dengan dalam. Hanya degup jantung mereka yang berdetak seirama. Getaran cinta itu sangatlah nyata membuat raga keduanya bergetar hebat. Key tersipu, dan mencoba turun dari pangkuan Raffael, namun tangan kekar itu menahannya dan tetap memeluknya
dengan hangat.
"Sebentar saja. Apakah kau tahu, sayang
aku sangat lama menantikan ini," godanya sambil membelai bibir Key yang sedikit membengkak.
"Kau nakal sekali!" Tangannya memukul dada Raffael dengan gemas.
Raffael terkekeh. "Bukankah kau juga tidak kuasa menolaknya, Amour."
"Kembalilah ke kamarmu," perintahnya dengan nada rendah.
"Ini kamar ku, baby, kenapa mengusirku, hemm?" Raffael menautkan kedua alisnya dengan nakal.
"Kembalilah, bukankah besok harus ke mansion?"
"Hemm ...."
"Raffael?" Key mendongakkan wajahnya.
"Iya."
Key sedikit bergerak kecil hendak turun tetapi Raffael seakan enggan untuk melepaskannya."Aku tidak tahu, kenapa aku mendadak malas untuk mengantarmu ke sana?" Ekor matanya kembali meliriknya yang sedang tersipu menatapnya.
" Jangan sembarangan."
Masih dengan wajah malas, Raffael mengangkat tubuh itu dan membaringkan di tempat tidur.
"Good night, have anice sleep," bisiknya.
___________________
Sahabat tersayang ๐
jangan lupa tinggalkan like dan komentar
__ADS_1
ya! terimakasih ๐