Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
79. Misteri yang berlanjut.


__ADS_3

"Apakah kau sudah tidak sabar, Cara?"


"Raffael, Ayo kita berangkat! protesnya diikuti oleh senyuman Pria itu dan perlahan berjalan mendekat.


"Ok, baby." Pagi itu keduanya, meluncur dengan mobil mewahnya dibawah kendali Jordy. Sementara Jasson dengan mobil tersendiri mengikuti dibelakangnya.


Seseorang yang diam-diam memperhatikan dari dalam mobilnya tersenyum misterius dengan berlindung dibalik kaca mata hitamnya.


Nyonya invanka menampakkan senyum senang, mendapati calon pengantin yang sangat ditunggu-tunggu itu kembali datang untuk fitting akhir gaun pengantin mereka. Hari itu beliau sengaja tidak menerima siapapun kecuali mereka berdua. Rumah Mode kenamaan di pusat kota, yang sering menjadi langganan para pesohor menjadi terasa sangat exclusive berbeda dengan hari biasanya.


Dipercaya untuk mengurus pernikahan sekelas Royal wedding, membuat beliau benar-benar fokus dan tidak ingin mengecewakan, walaupun sedikit saja.


"Tuan muda dan Nona, selamat datang kembali," sapanya ramah lalu mempersilakan keduanya untuk duduk. Senyumnya tidak terlepas dari wajahnya yang penuh wibawa. Lama mereka saling mengobrol dan tidak lupa Key berucap berterimakasih, karena sudah bersedia menjahit gaun yang di desain dan sudah dipakai untuk foto preweddingnya.


"Nyonya, saya sangat berterimakasih, Nyonya mengapresiasi hasil desain saya. Sebagai desainer ternama, pasti Nyonya sangat sibuk.Terima kasih telah menyempatkan waktunya. Saya benar-benar merasa sangat tersanjung dan terimakasih untuk semuanya sekali lagi," ucapnya penuh suka cita."


"Nona, saya yang seharusnya berterimakasih. Sejak Nona dan Tuan muda diberitakan memakai gaun hasil rancangan saya, Ivanka fashion menjadi kebanjiran job. Gaun hasil rancangan Nona mendapat respon luar biasa dan diminati oleh para pasangan muda, yang hendak menikah," jelasnya dengan senyum yang tidak kalah bahagianya.


"Ohh.... benarkah?! Key mengumbar senyum bahagianya berkali-kali. Hobby yang ingin ditekuninya membuahkan hasil dan merasa tidak pernah sia-sia.


"Nona luar biasa," pujinya tulus. Hingga pada akhirnya fitting akhir pun dimulai. Tangannya membantu mematut tubuh, Key di depan cermin dan memutar badannya yang menampakkan lekukan tubuh indahnya dengan sesekali menanyakan tentang kenyamanannya.


"Semua terasa sangat pas. Ini sangat luar biasa." Senyumnya tersungging manis dengan tatapan puas, melihat gaun warna putih simple, namun terlihat begitu elegan saat melekat pada tubuhnya. Nyonya Ivanka yang menyadari hal itu ikut merasa bahagia. Key, fitting gaun pengantin untuk acara resepsi dan ikrar suci pernikahannya.


Sementara itu Raffael juga tidak bisa menutupi perasaannya, Key terlihat mempesona dari berbagai sisi. Balutan gaun mewah yang akan dipakai untuk ikrar suci pernikahannya yang masih ada campur tangannya benar- benar tanpa menyisakan cela.


"Nona cantik paripurna. Gaun ini juga ada andil Nona dalam merancangnya. Semua terasa pas untuk Nona," ujarnya dengan tersenyum.


"Bagaimana dengan Tuan muda?" Netra beliau menatap Raffael yang menawan dengan setelan tuxedo mewah koleksinya.


"Saya rasa semua pas. Saya sangat nyaman," jawabnya singkat dengan menampakan senyum puas.


Nyonya Ivanka mengangguk senang. Apalagi saat beberapa kameramen mengabadikan momen mereka, untuk mengambil foto yang akan di jadikan koleksinya. Wanita yang masih sangat cantik diusianya yang tidak muda lagi itu,


benar-benar sangat bahagia.


Dalam perjalanan pulang, Key, memberanikan diri untuk meminta izin Raffael, untuk mampir sebentar


kerumahnya. Teror mawar putih terus mengusiknya. Dan terasa sangat aneh, buket bunga itu tiba di saat Ia tidak di Mansion sehingga luput dari perhatian Jasson dan juga dirinya.


"Raffael, apa bisa mampir ke rumahku, sekarang? Ada yang ingin aku ambil," izinnya hati-hati.


"Apa yang ingin kau ambil? Raffael menatapnya heran. Sudah beberapa bulan keluarga Key pindah ke Mansion.


Sementara rumah keluarga Tirtawijaya hanya dihuni oleh para pelayan saja.


"Ada beberapa berkas usaha kecilku yang ingin aku ambil. Mumpung kita lewat, "bukankah tidak terlalu jauh dari sini?"


Raffael terlihat berpikir sebentar dan menyetujuinya.


"Ok."

__ADS_1


Pria tampan itu tersenyum melihat pujaan hatinya. Key yang merasa diperhatikan, Raffael dengan cepat memalingkan wajahnya pura-pura menatap keluar. Namun tiba-tiba dirinya teringat kembali buket mawar putih yang sudah dua hari berturut-turut itu singgah di Mansion.


Tulisan itu," batinnya. Dia ingin menyamakan tulisan itu dengan berkas yang pernah diberikan oleh, Andreas.


"Putar Balik, Jordy. Kita mampir ke rumah Nona, Key, sebentar," perintahnya. Key yang mendengarnya merasa lega, dirinya tidak sabar ingin tahu siapa yang telah mengrimi buket itu, bahkan baru saja Mitha berkirim pesan, buket mawar putih itu datang lagi lebih dari sekali hari ini tanpa mencantumkan apapun.


Key termenung menatap rumah yang sudah beberapa bulan tidak ditinggalinya dan berjalan cepat masuk ke dalam. Rumah mewah dengan desain minimalis modern itu, adalah rumah kenangan satu-satunya yang tertinggal, pada saat Tirta Wijaya menuai masa kejayaannya. Masih terlihat sama, bersih, rapi, karena ada beberapa pelayan yang setiap saat membersihkannya. Desain yang tidak berlebihan, tetapi terlihat elegan dan sedap dipandang.



Wanita cantik itu berjalan ke ruangan yang diikuti oleh Raffael dibelakangnya, sementara Jordy dan beberapa anak buahnya menunggunya di luar. Raffael mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, yang tertata dengan apik dan sangat asri sementara, Key berjalan menuju kamarnya yang sudah lama tidak ditinggalinya.


Kedua netranya berlomba mencari berkas yang diinginkannya.Tangannya bergerak cepat membolak-balik setumpuk kertas yang disimpan dengan rapi pada sebuah laci nakasnya tanpa memperdulikan Raffael yang melihatnya dari balik pintu.


"Apakah masih lama?"


"Sebentar lagi," jawabnya singkat tanpa menoleh. Tangannya semakin sibuk dengan sedikit mengacak- acak tumpukan buku di atas meja kamarnya dan memeriksa beberapa laci mejanya.


Senyumya tersungging tipis, disaat sesuatu yang dicarinya berada dalam genggamannya dan buru-buru dia memasukannya ke dalam map.


"sudah sele___" Key sedikit mengerutkan dahinya, saat tidak mendapati keberadaan Raffael dan bergegas berjalan keluar kamar. Dilihatnya kekasihnya itu, sedang duduk menyandar menengadahkan wajahnya dengan mata terpejam, pada sebuah sofa ruang tamu miliknya.


"Raffael..."bisiknya lirih seraya menggoyangkan lengannya pelan. Key yang duduk disampingnya menatap wajah yang tampak mengantuk tersebut.


"Apakah masih ada yang ingin kau ambil?" Begitu menyadari Key telah duduk disampingnya, masih dengan mata terpejam malas.


Wanita yang berada dihadapannya itu mengingat-ingat sebentar, hingga memorinya tertuju pada beberapa barang kesayangannya. Kakinya beranjak kembali menunju kamarnya. Pikirannya tertuju pada seperangkat alat makeup, hand bag dan sepasang sepatu cantik miliknya. Tidak lupa beberapa baju kesayangannya juga dibawanya lalu memasukkannya pada sebuah paper bag besar .


"Sudah." Key menunjukkan paper bag miliknya dengan sedikit tersenyum tetapi di balas dengan tatapan heran Raffael.


"Apa itu?"


"Sepatu, tas, baju dan makeup," balasnya tersipu.


"Kemari hanya untuk mengambil itu?' Kau bisa membelinya sesuka hatimu," protesnya.


"Tetapi ini barang- barang koleksiku, Raffael."


" Hemm... terserah padamu, saja." jawabnya pasrah seraya menegakkan duduknya.


"Sayang, bagaimana kalau Papa dan Mama pindah ke cluster dikawasan yang tidak jauh dari rumah kedua orangtuaku?"


"Maksudmu ?"


"Begitu kita resmi' menikah, aku ingin kedua orang tua kita tinggal berdekatan saja. Apakah kau keberatan?" Tanyanya dengan melebarkan matanya. Seketika rasa kantuk Raffael lenyap begitu saja.


"Kalau aku, terserah mereka saja! Key berbalik serius menatap wajahnya."


"Aku ingin mereka membuka sesuatu yang baru saja." Raffael membenahi posisi duduknya, lalu dengan perlahan meraih jemari tangannya dan menggenggamnya dengan lembut.


"Aku tahu, ini rumah kenangan. Dari sini semua bermula. Aku sudah bicara pada kedua orangtuamu, tetapi sepertinya beliau masih berpikir.

__ADS_1


Key mengangguk paham.


"Akan aku bantu untuk bicara padanya," janji Key.


Keduanya berpikir begitu menikah kedua orang tua mereka tidak tinggal terlalu jauh. Terlahir sebagai anak tunggal, tidak jarang keduanya menjadi hal yang paling dinantikan oleh kedua orang tuanya.


🍁🍁🍁


Ditengah perjalanan pulang Raffael menangkap sesuatu yang mencurigakan.


"Jordy kurangi kecepatan sedikit saja. Fokus matanya tertuju pada sebuah mobil mewah kluaran marcedes berwarna hitam yang mengekor di belakangnya.


"Ada apa bos!"


"Ada yang mencoba membuntuti kita sepertinya. Itu seperti mobil, Dave," gumamnya pelan yang sepontan mendapat reaksi tak terduga, Key. Wanita itu merapatkan duduknya dan menggenggam lengan, Raffael dengan erat.


"Cara, tidak perlu cemas! Tidak akan terjadi apa-apa, "apakah kau lupa Dave dalam penjara," Raffael mengusap punggung tangannya.


"Terus kurangi kecepatan, aku ingin memastikan reaksi mereka," Raffael memberikan arahan kepada Jordy dan meraih ponselnya untuk memberitau Jasson yang mengawal dibelakangnya.


"Perhatikan mobil B 115 berwarna hitam," perintahnya singkat.


Salah satu mobil yang mengawal, Raffael merapat mencoba untuk mencari tahu lebih jelas siapa yang ada didalamnya. Namun kaca mobil yang sangat gelap membuat mereka kesulitan dan memilih untuk mengikuti dengan jarak aman tanpa menimbulkan kecurigaan padanya.


"Sepertinya mereka tidak ada niat menggangu kita, Bos. Lihat mereka biasa saja," Jordy menyetir dengan sepasang matanya melirik ke arah kaca spion mobil.


"Coba kita berbelok. Aku ingin melihat reaksi mereka "Ingat jangan memancing kecurigaan pada mereka," peringatnya lagi.


Namun mobil itu tidak ada tanda-tanda mengikuti, sementara salah satu dari anak buah Jordy tetap mengikuti diam-diam dari jarak aman.


"Mungkin Tante Laura," Key menjadi sedikit lebih lega. Hatinya yang berdebar tidak karuan perlahan bisa dikuasainya.


"Apakah kau takut, sayang?" Raffael melihatnya dengan tersenyum.


Key memanyunkan bibirnya dengan nada memprotes.


"Kenapa selalu mendebarkan!"


"Semua sudah lebih baik, tetapi kamu hanya boleh keluar denganku saja atau paling tidak ada Jasson bersamamu, "itu pun hanya dengan menggunakan mobil pemberian ku," nasihatnya yang diikuti oleh anggukan kepalanya dan perlahan menyandarkannya di bahu Raffael untuk


mencari kenyamanan.


Tuan muda penumpang mobil tadi adalah Marco tangan kanan Tuan, Dave. Sepertinya dia sedang menuju dimana Tuannya ditahan," lapor anak buah Jordy yang mengikutinya.


"Bagus!" Kembali sekarang juga."


_________________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 🌹

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya,ya! Terimakasih πŸ’“


__ADS_2