
Key menatap Raffael yang mendadak diam seperti menyembunyikan sesuatu.
Entah apa yang sedang dipikirkan, raut wajahnya mendadak menjadi tegang dan sesekali hanya tarikan napasnya yang terdengar berat.
"Raffael, apa yang sedang menganggu pikiranmu? Mobil itu seperti sedang membuntuti kita, bukankah dugaanku benar?"
"Tidak perlu cemas, mungkin itu hanya pengemudi yang sedang mabuk," jawabnya sekenanya.
Orang yang sedang mabuk, benarkah begitu? Kenapa sengaja menjanga jarak dan seperti sedang mengintai seseorang.
Wanita itu termenung sesaat. Dia yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh, Raffael. Namun tidak ingin terlalu ikut campur dan berharap dalam hati Raffael akan baik-baik saja.
"Aku akan mengantarmu pulang lebih cepat. Aku ada urusan mendadak," jelasnya.
"Tidak apa-apa, kalau kamu sibuk, aku bisa turun di sini dan memesan taksi online."
Raffael melirik jam tangannya dan dalam sekejap melajukan mobilnya dengan sangat kencang tanpa menjawab. Hari mulai panas jalanan Ibu Kota yang padat terkadang membuat Pria itu kesal dan memukul klakson mobilnya dengan kencang.
"Bersabarlah, ini jalanan umum, Raffael.
Aku sudah katakan, kalau kamu ada urusan mendadak, aku bisa memesan taksi online." Key sedikit berhati-hati.
"Aku sudah bilang, tidak perlu. Aku rasa kamu mendengarnya tadi?" Raffael menatap lurus ke depan setelah lampu hijau kembali menyala, dengan secepat kilat Ia kembali melanjukan mobilnya dengan kecepatan yang membuat jantung Key serasa lompat keluar.
Ada apa denganmu. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. Dia keras kepala sekali.
Tidak lama berselang jet darat Buggati la
voiture noire miliknya itu pun tiba di depan rumahnya. Masih di pusat Metropolitan, Kota J terlihat cerah.
"Aku kembali dahulu, maaf tidak sempat mengajakmu makan," ucapnya lalu dalam sekejap melaju dengan kencang, setelah memastikan sang wanita turun dari mobilnya.
Wanita cantik itu hanya bisa menatap dalam diam. Ada perasaan cemas dalam hatinya, terlebih saat Ia menyadari Raffael adalah orang yang sangat penting dalam hidupnya.
Cinta boleh saja tidak memihakku, tetapi sampai jantung ini berhenti berdetak aku cuma berharap akan satu hal, Tuhan akan selalu menjagamu.
Langkahnya terayun kecil. Senyumnya tersungging manis di sudut bibirnya. Netra indahnya berbinar bahagia, saat dengan lembut jemarinya mengusap mobil kesayangannya kembali mengisi garasi rumahnya.
"Kau sudah kembali? Apakah kau tau, aku menyusahkan seseorang untuk membawamu kembali?" Key terkekeh sendiri sambil menepuk-nepuk mobil hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya dan bergegas masuk.
Malam telah tiba, namun sedikit saja matanya sulit untuk terpejam. Beberapa kali Ia memeriksa gawainya namun tidak ada satu pesan pun dari Raffael. Hanya ada beberapa pesan dari Andreas yang menanyakan keadaannya.
📩 Andreas
Apakah kau sudah makan? bagaimana keadaanmu hari ini? Tidak usah memaksa untuk bekerja, kalau kamu belum sembuh.
__ADS_1
Tentu saja aku sudah makan, anak buah Raffael diam-diam memesankan makanan, karena tidak sempat mengajakku makan, batinnya. Dia memang sesuatu sekali.
Jemarinya menulis beberapa pesan balasan untuk Andreas dan mengabarkan bahwa lusa sudah bisa masuk bekerja.
"Rafael, apakah dia baik-baik saja? Kenapa handphonenya tidak aktif?" Dengan segera ia berbalas pesan dengan Jordan orang kepercayaan Raffael. Setelah memastikan semua tak ada masalah, akhirnya ia pun menyambut mimpi indahnya.
*****
Seorang pemuda sangat tampan, bermata elang dengan langkah pasti memasuki area perkantoran elit ANTARA GROUP. Tampak gedung-gedung megah, pencakar langit menjulang tinggi menghiasi kawasan Central Busines District kawasan super elit Ibu kota tersebut.
Langkahnya begitu pasti. Kharismanya begitu kuat mendapuk sebagai pimpinan tertinggi ANTARA GROUP Perusahaan Multinasional yang paling berpengaruh.
Sepuluh tahun yang lalu Ia hanyalah seorang anak yang mempunyai mimpi yang sangat besar di tengah ketidak berdayaannya.
Tetapi ANTARA GROUP menjelma sebagai korporasi raksasa yang sangat berpegaruh. Dalam sekejap otak briliannya mampu mengepakkan sayapnya dengan menguasai berbagai sektor penting sendi perekonomian negeri ini.
Sektor properti, media, finansial dan sumber daya alam berhasil dalam genggamannya. Raffael Valerio Emeradi Wijaya dengan segala pesonanya mampu menghipnotis berbagai kalangan bisnis sekaligus membuat bergidik ngeri bagi competitor yang mencoba bermain curang padanya.
"Pak Raffael. Inikah dia? bisik seorang karyawati baru. Benar-benar sangat tampan, bahkan lebih tampan dari bintang Hollywood yang pernah aku lihat. Aku mau jadi pacarnya," ucapnya bersemangat.
"Hus !!! jaga ucapanmu, kalau ingin pekerjaanmu berumur panjang," balas seorang karyawati yang lainnya dengan menyikutnya.
"Apakah kau tidak tahu, wajahnya beku seperti salju Antartika," bisik salah satu yang lainnya lagi menahan untuk tersenyum.
"Tapi tetap saja dia sangat memesona," imbuh yang lainnya.
saja tidak mau sama kita-kita."
"Apakah dia jangan-jangan tidak suka perempuan?"
"Bisa jadi, lihatlah dia memakai seorang sekretaris laki-laki merangkap asisten pribadinya, Pak Jordan," selorohnya setengah berbisik.
"Sudah-sudah kalian ini sama saja! Pak Raffael memang sangatlah tampan dan memesona, tetapi Ia akan memilih bulan bukan batu kali seperti kita," tegas karyawati bernama Delia sambil terkikik.
Mendadak suasana menjadi hening saat Raffael menatap mereka tanpa senyuman. Semua karyawan membungkuk hormat dan berucap salam, namun hanya anggukan kepala yang mereka dapat. Tampak beberapa orang bodyguard mengikutinya dari belakang dan mereka baru kembali setelah Raffael memberi kode untuk meninggalkannya.
"Jordan, ikut keruangan ku sebentar," perintah Raffael membuat pria berpostur tinggi besar itu, mengekor berjalan di belakangnya.
"Aku ingin kamu mereschedule semua jadwal perjalanan bisnis saya untuk bulan ini. Pastikan semua berjalan lancar dan tiada kerugian, saya ada acara penting yang sifatnya mendadak bulan depan."
"Siap,boss! jawab Jordan. Dan Aku ingin kau menggantikanku di beberapa meeting penting Minggu ini. Persiapkan dirimu," perintahnya tak ingin dibantah.
"Siap bos!!."
"Panggil, Raffael, saat cuma ada kita berdua." Pria itu tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
Jordan adalah sahabat sekaligus orang kepercayaannya. Anak dari orang kepercayaan Tuan Besar Bimantara Kusuma Wijaya, orang tua Raffael.
"Tunggu sebentar. Hemm ... aku mau bertunangan dengan Nova pertengahan bulan depan, aku ingin kamu mencarikan gedung terbaik dengan fasilitas yang mumpuni. Aku rasa kamu sudah tau selera saya," ujarnya seraya merebahkan diri di kursi kebesarannya.
Sebagai CEO muda pengganti orang tuanya, Raffael bisa dibilang bertangan dingin itu sebabnya dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama perusahaan berkembang pesat dan orang tuanya mempercayakan tampuk kepemimpinan di tangannya.
Jordan membeku.
Nova? tanyanya heran seraya memiringkan kepala, menajamkan pendengarannya.
"Iya Nova. Ada yang salah?" Raffael tersenyum misterius menatap Jordan yang tampak bingung.
"Nona Key atau Nova,boss?! tanyanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Nova!" tegasnya.
"Sejak kapan kamu berpacaran dengan Nova? Jangan membuatku seperti orang gila lagi." Jordan sangat hafal sikap sang atasan.
"Kali ini akan aku pastikan, kau benar-benar akan gila!" tegasnya. "Lakukan saja! Jangan banyak bertanya."
Raffael meraih laptopnya dan mulai fokus
dengan pekerjaannya. Jordan yang menyadari gelagat tidak beres pada Bosnya itu bersiaga dalam otaknya.
"Aku pikir kau akan menikah dengan Nona, Key?" ucapnya memberanikan diri. Raffael menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatap serius Jordan.
"Apa maksudmu?"
"Jangan gegabah memilih pendamping hidup, Raffael! Bagaimana bisa, aku tidak pernah kenal dengan calon istrimu itu."
Dengan menatapnya serius, Jordan menggeser kursinya mendekat.
"Aku baru kenal beberapa kali saja. Sejak Kapan kau ikut campur dengan urusan pribadiku, Jordan." Raffael tersenyum misterius dan mematikan layar laptopnya kasar. Matanya menggelap menatap Jordan dengan tatapan tidak suka.
"Maaf, aku tidak bermaksud ikut campur. Tetapi Aku sangat mengenal dirimu. Jangan pernah bermain-main dengan pernikahan, Raffael! Apakah Kau benar-benar tidak ada hubungan khusus dengan Nona, Key?"Jordan berdiri mendekati Raffael kali ini.
Raffael tersenyum smirk kearah Jordan.
"Seperti yang kau lihat dan kau dengar," jawab Raffael dingin.
"Aku cuma mau mengatakan padamu, betapa beruntungnya Tuan muda Andreas mendapatkan Nona,Key."
Wajah Raffael menegang.
"Apa maksudmu, Jordan?" suara baritonnya yang berat terdengar penasaran.
__ADS_1
"Apa pedulimu. Bukankah kamu akan menikah. Itu artinya Tuan muda Andreas Waras sebelum akhirnya Jordan berlalu pergi.
"Jordan. Berhenti!!"