
Clara menumpahkan kekesalannya. Apalagi ketika dia mengingat, Raffael tidak mau menerima kedatangannya saat dia mencoba menemuinya di kantor, begitupun dirumahnya.
"Ahhh..!! Benar-benar menyebalkan! Key, apa istimewanya perempuan itu? luar biasa sekali dia bisa membuat Raffael bertekuk lutut padanya, bahkan Raffael rela berjuang mati-matian demi bisa mengembalikan perusahaan keluarganya yang sempat hancur lebur dan menghadiahkan kepadanya di hari pertunangannya. "Luar biasa."
Tangannya membolak-balik sebuah harian surat kabar yang memuat berita keduanya. "Bener-bener gila apa yang sudah dilakukan oleh, Raffael," Sinis Clara penuh rasa iri.
"Perempuan itu benar-benar beruntung, "Bagaimana bisa, Raffael bertahan dengan perasaannya kepada wanita itu, setelah melewati banyak hal. Padahal bisa saja dia menggaet siapa saja, wanita cantik yang dia inginkan. Benar-benar bodoh! Menyebalkan! teriaknya kesal.
Tangannya kembali melempar harian surat kabar dengan sembarangan dan sebagian menyobeknya lalu menyebarnya dengan penuh amarah.
"Cintanya memang benar-benar gila dan membuat pelakunya seakan-akan buta dengan semuanya," Kakinya beranjak dari duduknya untuk mengambil segelas wine dan menyesapnya sampai habis.
"Ha..ha... Raffael! Apa benar cinta kalian sekuat itu? Wajahnya sedikit mengejek dengan tatapan penuh teka-teki. "Ayo kita lihat sebentar lagi."
ππππ
Sementara itu dari balik jeruji besi Dave dengan geram meluapkan amarahnya. Dave dan Paman Bayu di ganjar hukuman yang setimpal. Keduanya terbukti bersekongkol dengan Darriel sastra negara, di samping dia juga terbukti dengan sengaja menghancurkan perusahaan Raffael melalui SMRC dan Delta, dengan mengirimkan mata-mata untuk menyusup ke Antara group membuat keduanya semakin lama mendekam di balik jeruji besi.
"Siallllll.....!!! Dave menarik kerah baju Marco dari balik jeruji besi yang sengaja menemui dirinya. "Kurang ajar!! Dia mengukir hari bahagia setelah menjebloskan ku dan papa di dalam penjara. Marco! Ada berita apalagi yang kau dapatkan! bentaknya geram.Tatapan matanya berkilat dengan penuh amarah. Sesekali terlihat Dave mengepalkan tangannya ke dinding tembok jeruji besi yang mengurungnya.
"Bulan depan Raffael dan nona Key akan menikah, Bos," beritahu Marco dengan sedikit takut kalau Dave akan mengamuk.
"Apa!! Secepat itu dia merencanakan hari pernikahannya. Apa yang kau lakukan selama ini, Marco! Dave bertanya dengan penuh penekanan disertai amarah yang mulai meluap. Rahangnya mengeras dengan sorot mata memerah menampakan deretan giginya yang saling beradu dan terdengar gemerutuk.
"Kenapa kalian begitu bodoh! Sudah aku katakan gagalkan apa saja yang menjadi rencana, Raffael. Kenapa kalian tidak mengerti! Kalian tidak berguna," teriaknya sarkas. Amarahnya tidak tertahankan lagi, bahkan sikap Dave memancing keributan di antara napi di balik tembok penjara.
__ADS_1
"Bos, tenanglah sedikit. Ini akan sangat merugikan dirimu sendiri, bos," nasihat Marco memberanikan diri.
"Bagaiman aku bisa sabar, kalau semua kacau begini," desis Dave sedikit menekan volume suaranya. Deru napasnya memburu dan hampir saja tangannya ingin mencekik Marco, kalau tidak terlindungi jeruji besi yang membatasinya.
"Aku sudah diputuskan bersalah. Para hakim itu terlalu jujur bahkan, uang suap ku sama sekali tidak mempengaruinya, Marco. Aku yakin ini ulah Raffael," tuduh Dave serampangan.
"Pada saat hari pertunangannya, apakah sedikit saja kau tidak bisa melakukan sesuatu," Dave menyelidik dengan senyum mengejek memperlihatkan bibir yang sedikit tertarik ke atas dengan sorot matanya yang bengis.
"Penjagaan sangat ketat, bos! Tuan muda Raffael mempunyai orang-orang kepercayaan pilihan, bahkan mereka sangat sulit untuk di tembus," Marco mencoba memberikan alasan.
"Itu karena kalian semua terlalu bodoh," tuduh Dave tak terima.
"Tuan Raffael mempunyai orang -orang yang cakap sekelas orang intelijen,bos. Karena itu pergerakan kita selalu terbaca," bela Marco tidak terima selalu disalahkan Dave.
"Kalian bisa mengerahkan seluruh preman kota untuk membuat onar di hari pertunangannya. Gunakan otakmu Marco," desis Dave dengan geram. Telunjuknya mengarah wajah Marco melalui celah jeruji besi dengan tatapan sinis. Matanya memerah, berkilat-kilat disertai dengan bibir yang bergetar.
"Apa katamu," Dave berharap apa yang didengarnya adalah sebuah kesalahan. Wajahnya mendekat memindai wajah Marco yang sedang berdiri berbatas jeruji besi.
"Kurang ajar! Aku, akui kali ini Raffael benar-benar jenius. Dia lebih cerdik dari yang aku pikirkan dan tahu bagaimana dia menjinakkan mereka," Napasnya memberat, kali ini Dave begitu frustasi dari dalam dirinya, dia tidak rela Key jatuh ke pelukan Raffael apapun alasannya.
"Kenapa dia selalu beruntung, terlepas apa yang sudah aku lakukan dan juga papa," Matanya menerawang jauh dengan pandangan penuh kebencian, lalu dengan teriakan keras dia menyuruh Marco untuk pergi dari hadapannya.
πππ
Sementara di Mansion Key begitu serius menatap cincin berlian berwarna pink berbentuk hati yang melingkar dijari manisnya. Ada perasaan bahagia yang membuncah dalam dirinya. Senyumnya senantiasa terukir di bibir manisnya.
__ADS_1
"Cincin ini sangat luar biasa indah dan mewah, aku yakin Raffael mengeluarkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya untuk membeli cincin ini." Key mengerak-gerakkan jari manisnya dengan tidak berhenti untuk tersenyum.
"Bahkan tanpa harus semewah ini, aku sudah sangat bahagia, Raffael. Kau selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, tetapi sejujurnya apapun yang kau berikan, meskipun sangat sederhana, aku sudah sangat bahagia."
Dia tahu, Raffael senantiasa bekerja dengan sangat keras untuk membahagiakan orang-orang terkasihnya, termasuk dirinya. Dia berusaha untuk tidak terlalu membebani Rafael lagi. Baginya hidup sederhana dan bahagia sudah lebih dari cukup untuknya.
Bahkan sekalipun dengan status tunangan, Raffael, "Key tetap bergaya dengan hidup sederhana, walaupun tidak dipungkiri Ia mempunyai koleksi barang-barang branded tetapi barang tersebut hanya seperlunya saja.
"Sayangnya," Nnyonya Tirta Wijaya mengagetkannya yang sedang asyik.
"Mama, ada apa?" Netranya mendapati orang yang melahirkannya itu berjalan mendekat kearahnya dengan menyunggingkan senyum.
"Raffael menunggumu di ruang tamu."
"Raffael? Dia datang kemari? Setengah berlari langkah kakinya menuju ruang tamu dan mendapati orang terkasihnya itu tersenyum menatapnya. Lalu keduanya berjalan ke taman belakang mansion tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk mencari sinar matahari pagi. Duduk menatap danau buatan dengan berhiaskan sepasang angsa putih yang
sedang berenang membuat mereka larut dengan obrolan ringan yang menyegarkan.
"Raffael...."
_______________________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang, jangan lupa untuk like
__ADS_1
Dan komennya, ya! Terimakasih banyak
Dear π