Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
82. Dua pecinta dalam satu waktu


__ADS_3

"Jordy, persiapkan mobil! Begitu dilihatnya kedua pengawal itu masih setia dirumahnya, sementara Key mengekor di belakangnya.


"Dan Kau kembalilah ke Mansion."


"Raffael, Aku mohon maaf. Aku bersalah tidak cerita padamu. Demi Tuhan, tidak ada niat sedikitpun untuk mengkhianati mu.


"Stop, Key!" tangannya terangkat tanpa menoleh.


"Apakah kesalahanku sudah tidak termaafkan, Raffael. Aku tidak berharap dapat kiriman apapun itu. Kalau buket itu datang ketika aku di Mansion, aku akan meminta Mitha untuk tidak menerimanya atau kau yang sudah berubah pikiran?" Sekilas bayangan Raffael dengan seorang wanita di rumahnya sangat menyakitinya. Semudah itukah dirinya menggadaikan kesuciannya cintanya, tetapi Key mencoba menepis itu semua.


"Kembalilah ke Mansion...." ujarnya pelan tanpa menoleh.


"Raffael..."


Kembalilah! Rahangnya mengeras dengan memejamkan matanya menahan amarah. Dirinya mendapat laporan dari anak buah Jasson di Mansion bahwa


Kiriman bunga itu datang lagi. Pria tampan itu melangkahkan kakinya kekamar mandi dan lagi- lagi melampiaskan kekesalannya.


Apa maumu, Andreas!" Sekali aku mengampunimu. Tetapi kau mengirim bunga untuk calon istri orang lain, setiap hari sama saja kau tidak pernah menganggap keberadaanku.


"Sahabat macam apa kau, Andreas! Raffael bergegas masuk ke dalam ruangannya kembali dan terlihat berkomunikasi dengan seseorang."


Sementara Jasson yang mendapat laporan yang sama dari anak buahnya, ikut merasa berang. Pria kekar itu seperti dipermainkan dan kekesalannya memuncak.


"Tangkap kurir itu, introgasi mereka, tunggu aku kembali ke Mansion." Jasson yang merasa bersalah seoalh ikut dalam perselisihan mereka tertantang untuk mengungkap kasus tersebut.


Tuan Muda dan Nona tidak boleh berpisah. Apapun itu caranya, masalah ini harus cepat clear. Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Beraninya mereka mengancam akan menyebarkan foto- foto rekayasa itu. Apakah mereka buta, itu rekayasa dan dengan sendirinya aka menggiring mereka ke penjara. Dasar bodoh! Amatiran. Ini benar-benar janggal.


Tuan muda Andreas tidak sebodoh itu pasti ada sesuatu yang terjadi.


Tidak lama berselang Raffael keluar dengan rambut dan mukanya yang setengah basah. Wajahnya sangat kusut dan terlihat letih. Keduanya beradu pandang dalam dinginnya hati. Tidak ada senyum yang terukir, tetapi hanya ada gurat kesedihan, kekecewaan yang begitu kentara menghias wajah-wajah mereka.


Begitupun dengan key, Wanita itu memahami kekecewaan, Raffael dan tidak berhenti menyalahkan diri sendiri.



Ini semua salahku, aku yang tidak peka dengan isyarat yang Raffael sampaikan. Harusnya aku berpikir, saat dia menyinggung tentang paket atau apapun yang datang ke Mansion waktu itu.


Aku benar-benar bodoh. Dan tidak pantas di maafkan," jeritnya tertahan.


"Raffael," ucapnya memberanikan diri. Pria tampan itu begitu maskulin saat meraih jam tangannya di atas nakas dan memakainya dengan gerakan yang begitu ****.


"Aku sudah katakan, Kembalilah ke Mansion, "Apakah aku harus menggulang, Key."


"Kau mau kemana?"


"Bukan urusanmu."


"Aku tidak akan pulang, aku akan menunggu mu di sini."


"Tolong, jangan memancing kemarahanku lagi, "Pulanglah," dengan suaranya tertahan.


"Kau mengusirku, Raffael? Baiklah.


Aku sudah mengatakan dengan sebenar-benarnya, kalau itu menurut mu tidak termaafkan, aku tidak akan memaksamu. Aku yang tidak baik. Aku yang tidak bisa seperti yang kau harapkan.


"Aku benar-benar minta maaf dengan segala kerendahan diriku, semua adalah kekuranganku, aku tidak akan memaksamu untuk selalu memahamiku.


Jaga diri baik-baik," Wanita cantik itu terisak dan berjalan keluar rumah tanpa menghiraukan panggilan Jasson.


Hatinya begitu nelangsa dan memilih untuk pergi. Dengan malas kakinya melangkah terus berjalan dengan berharap dalam hati Raffael akan memanggilnya. Istana cinta mereka yang megah tidak sanggup mengobati hati mereka yang terluka. Segala keindahan, Janji mereka saat bersama hilang dalam sekejap menyisakan pilu yang tidak tertahan.


Cinta yang bersemayam dalam diri mereka selama bertahun-tahun seakan ikut menguar bersama hembusan angin


yang menyapu, menerbangkan dedaunan


dalam hitungan detik saja. Janji hanya sekedar janji, Raffael membencinya, seakan dia adalah noda yang mengotori tempat suci dan tidak pantas lagi untuk di maafkan.


Jordy melirik Raffael yang terdiam. Pria tampan itu menatap nyalang punggung indah yang sedang berlalu. Dadanya mendadak bergemuruh, ego dalam dirinya terlalu kuat dan menghilangkan akal sehatnya.


Ayolah, Tuan muda, kejar Nona Key. Jangan sampai kau menyesal nantinya.


"Jasson, tidak usah mengantarku, aku bisa pulang sendiri."


"Tidak, Nona. Tuan muda bisa marah kalau Nona pulang seorang diri."


"Dia sudah tidak peduli lagi padaku, terlepas apa yang telah terjadi. Tidak perlu menjagaku, tolong hentikan saja pengirim bunga itu, malam ini aku pulang ke Rumah saja."

__ADS_1


"Tidak, Nona, itu sangat berbahaya.


Tuan muda sangat mencintai, Nona.


Itu hanya kemarahannya sesaat, saja, percayalah.


"Maaf, Jasson, aku pulang sendiri saja."


"Nona, tidak boleh pergi seorang diri."


Pria Kekar itu membukakan mobilnya dan


menyuruh Key untuk masuk. Raffael yang menatapnya dari balik pintu mendadak hatinya ikut sesak. Pria tampan itu berbalik dan masuk ke dalam kamarnya.


dan mengurungkan niatnya untuk pergi.


Ya, Tuhan, Raffael, apa yang sudah kau lakukan. Ingatlah, Raffael, "Apa yang dilakukan oleh Pamanmu itu tidaklah sebanding dengan apa yang dilakukan oleh calon istrimu itu. Apakah dia pernah mengeluh, tidak menghormati keluargamu, menyalahkanmu dan meminta lebih? Dia ikhlas dengan semuanya, sadarlah, Raffael.


"Ahhhh!!! Apa yang aku lakukan! Tangannya menjambak rambutnya dengan kasar, pikirannya mendadak kalut


saat Key sudah menghilang dari pandangannya.


Kau tidak menyukainya saat dia meneteskan air matanya, tetapi hari ini kau sudah menguras air matanya, mana janjimu, Raffael?


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Key menumpahkan tangisnya di Mansion. Raffael belum memaafkannya. Ketukan pintu pada kamarnya oleh Mitha diabaikannya, dirinya ingin sendiri.


"Mitha aku ingin istirahat," jawabnya menahan tangis dari dalam kamar.


"Nona sudah pulang? Nyonya Tirta Wijaya menatap heran pada Mitha yang sedang berlalu.


"Nona ingin beristirahat, Nyonya yang dibalas anggukan perempuan bijak itu dengan senyum.


"Pasti dia sudah makan malam bersama Raffael," gumamnya seraya berlalu. Malam telah tiba Key tidak bisa menahan isak tangisnya dalam kesendiriannya.


"Aku mengerti kekecewaanmu, Raffael, saat dia membaca sebuah pesan dari Mitha, bahwa buket itu kembali datang namun dia menyuruh kurir itu untuk membawanya kembali atau membuangnya. Key tidak tahu bahwa Kurir itu di tahan dan dalam introgasi Jasson malam itu.


"Andreas, ini sama sekali bukan dirimu." Perlahan diraihnya ponselnya dengan sedikit ragu dan berniat menelponnya. Hingga suara yang sangat dihafalnya itu,


terdengar ramah diujung telepon.


"Itu hanya ucapan selamat tinggal saja dariku, karena mulai bulan depan saya akan menetap di L.A. Maaf, kalau terkesan misterius, dan membuatmu tidak nyaman dengan sikapku. Aku hanya berpikir kau menyukainya dan selama kita saling kenal ada banyak hal yang bisa aku petik dari hal-hal kecil tetapi semua terasa istimewa. Terimakasih banyak Key."


"Andreas, tetapi itu sangat berlebihan, Apakah harus setiap hari?"


"Setiap hari? Aku hanya mengirimnya sekali."


"Andreas, sepertinya ada orang yang mencoba memata-matai mu, Raffael salah paham dengan buket bunga yang datang setiap hari di Mansion.


"Key, apa maksudmu?


"Ada, buket bunga datang dan pengirimannya itu selalu bilang, darimu.


Tetapi tanpa menyertakan alamat atau namamu, hanya yang pertama kali saja


ada sebuah amplop merah jambu. Dan aku tahu itu tulisanmu. Raffael marah besar padaku terlebih ada seseorang yang begitu tega menyebar fotoku dengan buket itu dan menimbulkan asumsi lain, Andreas.


"Oh, Tuhan. Aku benar-benar minta maaf, Kamu tidak perlu cemas, aku akan mencari orang yang itu dan akan menjelaskannya pada, Raffael.


"Terimakasih."


"Key, Apakah kau sedang menangis?" Andreas menangkap kegundahan hatinya dari suaranya yang terdengar berbeda dan membuatnya merasa sangat bersalah.


"Ti__ ti__ tidak. Aku baik-baik saja."


"Tenangkan dirimu, aku berjanji akan meluruskan ini semua, Maafkan aku, ini semua salahku."


"Terimakasih sekali lagi." Keduanya mengakhiri panggilan teleponnya.


Andreas berteriak kesal mendapati orang yang diam -diam mencatut namanya. Pria itu sangat mengenal, Raffael, pasti saat ini sedang marah besar terlebih lagi padanya dan bergegas cepat memanggil orang kepercayaannya.


Dugaanku benar, ada seseorang dibalik ini semua.


Key merebahkan tubuhnya. Pikirannya kacau dan tidak selera makan. Ucapan Raffael sangat menusuk hatinya.


Ia seorang yang mandiri dan tegar. Keadaan yang telah mengajarkan semuanya padanya. Karena itu dirinya juga berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara mandiri dari penghasilannya sendiri. Bukan tergantung pada Raffael, "bukannya tidak mempercayainya tetapi hal ini yang sering membuat Raffael berbeda pendapat dan tidak menyukai caranya.

__ADS_1


Pria itu merasa bisa memberikan segalanya dan tidak menginginkan dirinya untuk bekerja.


Aku tinggal disini semula adalah karena belas kasihmu.Tanpa status diantara kita aku bukanlah apa-apa. Bukan aku tidak percaya padamu, tetapi terlalu banyak kemudahan yang kau berikan untukku. Yang terkadang membuatku begitu takut.


Aku memahami kekecewaanmu, Bukannya aku menyerah kalau pada akhirnya kita tidak bersama, tetapi aku tersadar, rasaku padamu tulus sehingga membuatku terlalu lemah. Kau berhak mendapatkan yang terbaik meskipun pada akhirnya itu bukan denganku.


Kristal bening itu mengalir deras yang ada dipikiran adalah bagaimana reaksi kedua orangtuanya kalau Raffael benar- benar membatalkan pernikahannya. Kalau hanya hatinya remuk redam, dia masih kuasa menahannya, walaupun seakan meniadakannya. Tetapi harga diri keluarganya dan perasaan kedua orang tuanya yang menjadi beban pikirannya.


"Apa yang ada dalam pikiranmu sekarang?" Semudah itukah kau tidak mempercayaiku, Kenapa kau menempatkanku, seakan aku adalah pendosa besar yang menjijikkan, Raffael," batinnya terasa teriris dan tidak berniat untuk memejamkan matanya.


"Apakah Raffael akan bertemu Andreas?" Dirinya tidak ingin terjadi apa-apa dengan


keduanya. Mereka sahabat dekat dan Key tidak akan membiarkan hancur karena kehadirannya.


"Jordy," suaranya terdengar lirih dan mengirim sebuah pesan.


๐Ÿ“ฉ Jordy


Jordy, awasi Tuan muda. Suasana hatinya sedang tidak baik. Malam ini kemungkinan mereka berdua bertemu. Aku baru saja bicara pada Andreas. Tolong jangan biarkan dia keluar sendirian. Aku khawatir padanya. Tolong, saya tidak ingin terjadi apa-apa dengannya. Terimakasih dan jangan katakan padanya aku berkirim pesan. Perlu kau ketahui, Andreas memang mengirim buket itu, tetapi cuma sekali saja. Ada orang lain yang memanfaatkan situasi ini.


Jordy mengangguk paham dan tidak berniat pulang malam itu. Benar saja Raffael keluar dengan mobil Buggati kesayangannya dan meluncur dengan derasnya.


Jordy mengikuti dari belakang tidak lupa mematikan GPS nya supaya tidak terdeteksi keberadaannya. Sementara Jordan bertindak lebih cepat menghentikan foto- foto yang hendak tersebar yang belakangan foto Key bersama dengan Andreas menjadi sasaran mereka.


Disebuah tempat yang sangat sunyi dan hanya temaram lampu yang menyinari dua orang yang sedang bersitegang memutuskan untuk bertemu.


Keduanya tampak begitu dingin dan berdiri dengan saling membelakangi.


Mereka berdua terlihat maskulin, seakan beradu ketampanan dengan tangan yang terselip diantara kedua saku celananya.


"Apa maksudmu kau terus menerus mengirim buket untuk calon istriku? Apakah semuanya kurang jelas, Andreas?Raffael, mengepalkan sebelah tangannya hingga ototnya terlihat kebiruan.


Rahangnya mengeras dengan gigi beradu rapat. Kalau saja Andreas adalah bukan sahabat sekaligus rekan bisnisnya, dirinya sudah tidak tahu apa yang akan terjadi.


"Itu hanyalah ucapan selamat tinggalku padannya, karena mulai bulan depan aku akan menetap di L. A. Tidak ada maksud apa-apa, Raffael," Kali ini Andreas membalikkan badannya menatap punggung Raffael yang masih enggan untuk menatapnya.


"Kenapa setiap hari kau melakukannya?" Selamat tinggal, macam apa yang sedang kau berikan? Itu sama saja kau tidak menghargai keberadaanku," desisnya tajam.


"Raffael, dengarkan aku baik-baik. Aku mengirimkannya hanya sekali saja. Ada orang lain yang manfaatkan situasi ini, percayalah kepadaku."


Raffael memutar badannya dengan cepat. Mata kelam mereka saling beradu


dengan tatapan kelam dan wajah tegang.


Kedua pria tampan itu merasakan dadanya bergemuruh tetapi berlomba untuk saling mengendalikan amarahnya terlebih itu, Raffael.


"Apakah kau tidak tahu sebentar lagi dia akan menikah dengan ku?


Kalau sampai ada orang yang memanfaatkan situasi ini, itu semua karena ucapan selamat tinggal mu yang keliru," Raffael memalingkan wajahnya dengan napas tertahan dan menghembuskanya kuat-kuat.


"Raffael..."


"Banyak cara untuk berucap selamat tinggal. Tetapi bukan menggunakan buket bunga, kata-kata romantis yang terdengar ambingu. Sepertinya Key diam-diam, sangat penting untuk mu."


"Aku akui, aku bersalah. Aku minta maaf, kawan. Demi Tuhan, Raffael, tidak ada niat apapun itu."


"Aku sedang bertanya, Andreas."


"Raffael, Aku___"


"Itu karena Kau diam-diam mencintainya." Iris kelamnya berlomba menatap tajam ingin melihat reaksi Pria dihadapannya itu yang sesaat membuat Andreas tercekat karena merasa tertebak perasaannya.


"Raffael, aku yang salah tidak dengan Key. Jangan pernah sekali saja menyalahkannya. Aku benar-benar minta maaf, sungguh tidak ada sedikitpun niatku untuk merebutnya darimu.


"Jadi dugaanku benar, kita mencintai wanita yang sama," ujar Raffael pura-pura tidak mengerti.


"Aku akui Raffael, Aku mencintainya dalam waktu yang sangat lama seperti halnya dirimu. Saat kau tidak pernah menunjukkan perasaamu dan kau mengatakan akan menikah dengan Nova, aku, semakin mencintainya. Aku bersimpati dengan ketidakberdayaannya. Karenanya aku pernah menanyakan hubunganmu dengan Key, karena aku tidak ingin kita salah paham. Aku tahu ini tidak pantas, setelah ada status diantara kalian." Andreas seperti melepas beban terpendam yang sudah menumpuk sekian lama.


"Key sekarang adalah Key yang terikat dengan sebuah hubungan serius, Dia sudah menentukan pilihan. Aku harap kau mengerti! Raffael melangkahkan Kakinya, Dirinya takut tidak bisa mengontrol emosinya. Andreas blak-blakan mengakui perasaanya dihadapannya .


Badan tegap itupun berlalu ditelan kegelapan, sementara, Andreas menampakkan senyum getirnya, beban dalam hatinya terlepas, walaupun mungkin akan menimbulkan sesuatu yang berbeda, baik itu Raffael ataupun Key nantinya.


Seandainya kau tahu, menetap ke L.A


adalah usahaku untuk melupakanmu dan menetralkan perasaanku.


________________________

__ADS_1


Catatan penulis:


Sahabat tersayang๐Ÿ˜˜ jangan lupa like dan komentarnya, ya. thank you


__ADS_2