Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
27. Getaran cinta


__ADS_3

"Berjanjilah jangan seperti ini lagi, begitu kasus ini selesai, semuanya akan kembali seperti semula. Aku berjanji."


Perempuan itu hanya bisa mengangguk lemah dengan isak tangis tertahan.


Raffael yang melihatnya tidak sanggup lagi untuk mengendalikan perasaannya dan kembali menatap netra indah yang tampak sembab itu lalu mengusapnya


dengan lembut dan merengkuhnya kembali ke dalam pelukannya.


.Aroma white musk yang lembut, segar, dan menenangkan menguar dari dalam tubuh Raffael yang mendekapnya dengan


sayang. Seperti daun kering yang terlepas dari dahan dan kemudian jatuh kedalam genggaman, hanya perasaan nyaman yang keduanya bisa rasakan.


Lalu untuk apa berbohong, kalau mencintai ternyata seindah ini? masihkah


hati mereka sanggup untuk berpaling atau mengatakan kalau semua tidak seperti yang orang pikiran.


Suasana begitu hening. Hanya deru napas hangat mereka yang terdengar samar. Menyapu wajah mereka. Bukan gairah yang menggebu, melainkan perasaan untuk saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.


Walaupun Raffael tidak memungkiri, aroma vanilla Lace yang menempel pada


tubuh indah itu membuat sisi kelelakianya meronta. Ia tidak ingin memanfaatkan ketidakberdayaan Key dengan segala beban pikirannya saat ini. Raffael sangat mencintainya dan ingin menjaganya.


Jangan gila, Kendalikan dirimu, Raffael.


Hanya Saliva yang tertelan kuat, dengan susah payah kala menatap bibir merahnya yang merekah dan bulu matanya yang sangat lentik walaupun ada air mata di sana.


Hingga pada akhirnya membuat keduanya tersadar, bahwa dering ponsel Raffael memerlukan jawaban.


Key melepaskan pelukannya dengan perlahan setelah kesadarannya pulih.


Kerasnya hidup dan rasa yang nyaman


saat berada didekat CEO itu membuatnya


begitu pasrah.


Dengan wajah merona. Dalam hati Key merutuki dirinya sendiri, kenapa hatinya begitu lemah kalau sudah berhubungan dengan pria itu.


"Ma__ maafkan aku. Aku___"


"Tidak apa-apa," potong Raffael dengan


tersenyum tipis. "Jasson menelpon.Tetap di sini, aku mengangkatnya sebentar." Raffael mengambil jarak karena takut ada kabar yang sifatnya sangat rahasia.


"Apakah ada yang penting, sehingga kau meneleponku malam-malam begini?"


"Gawat Bos!" lapor Jasson di seberang telepon.


Manik kelam itu melirik Key sekilas dan mencoba bersikap dengan setenang mungkin.


"Katakan!"


"Keluarga Nona key dalam bahaya, ada segerombolan orang yang mencoba mengintai kediaman Tuan Tirtawijaya," lapor jawab Jasson tegas.


Raffael menghela napas dengan berat


dan melangkahkan kakinya ke privet


room dengan dalih mengambil sesuatu.


Sepertinya musuh sudah mulai mencium


penyelidikan ini. Bagus dengan begini


akan tahu siapa yang telah bereaksi.


"Mungkinkah orang suruhan Danu purba?" Terdengar suara lirih Raffael menerka- nerka.


"Jasson cari tau mereka! Tingkatkan pengamanan untuk Keluarga Tuan Tirtawijaya, serta kerahkan semua anak buahmu. Sebisa mungkin malam ini


pindahkan keluarga Key, Ke mansion yang telah saya beritahukan. Key ada bersamaku, kamu tidak perlu cemas."


"Siap Bos!"Jawab jasson tegas.


"Cari cara supaya mereka tidak mengendus keberadaan mereka."


Berani sekali kau bermain-main denganku Danu Purba. Kamu akan tahu akibatnya


sedikit saja kau berani mengusik milikku.


Dengan tangan terkepal, sorot matanya yang tajam menampakkan rahangnya yang mengeras dengan bias kekesalan dan amarah yang siap meledak kapan saja.


Raffael berjalan mondar-mandir di dalam privet roomnya lalu duduk sejenak, menyender di kursi kebesarannya sambil memejamkan kedua matanya. Mulai berpikir dengan keras dan kembali menemui Key yang menuggu di ruang


kerjanya.


"Apakah ada masalah?" tanyanya cemas, karena tidak biasanya Raffael menerima


telepon di privet room miliknya.


"Tidak ada. Sudah aku katakan, semua


akau baik-baik saja."


"Aku ingin pamit pulang," ucapnya lirih.


Pria itu terlihat berpikir sejenak. "Aku akan mengantarmu, tetapi sedikit larut. Tunggulah sebentar," jawabnya.


"Tidak perlu, Raffael. Aku pulang sendiri saja atau biar diantar sopir," pintanya.

__ADS_1


"Tidak boleh. Hari sudah malam, menurutlah dari sekarang," Pria itu menatapnya dengan lembut, tetapi


tetapi dengan tatapan yang menusuk.


mengingatkan adegan beberapa saat yang lalu yang membuatnya begitu malu dan buru- buru Key mengalihkan pandangannya.


"Sebaiknya kamu mandi, ada pelayan


yang akan membantumu ...." ujarnya pelan.


"Tidak usah, aku tidak membawa baju


ganti. Nanti saja."


"Semua keperluanmu sudah dipersiapkan." Raffael memberikan


paperbag yang berisi beberapa potong


baju untuk, Key.


"Kau___"


"Iya. Mudah-mudahan cocok untukmu," Raffael tersenyum menatapnya yang


sedang bingung. Dengan ragu tangannya terukir pelan, mengambil paperbag itu.


******


"Sayang, pelayan sudah menyediakan


kamar untukmu dan peralatan mandi,


sebaiknya kau mandi dahulu."


"Mami___"


"Tidak apa-apa. Mami tunggu untuk


makan malam, cepatlah untuk mandi hari sudah malam," perintah Wanita itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, mendapati Key yang tidak jadi pulang.


Wanita itu benar-benar sangat menyayanginya seperti putrinya sendiri, bahkan ada perasaan tidak rela bila Key tidak bersanding dengan Raffael.


"Terimakasih banyak, maaf, merepotkan


Mami."Wanita itu menatap tidak enak hati.


"Tidak sayang , tidak usah malu-malu. Anggaplah seperti rumah sendiri, ok?"


Wanita itu mengusap punggungnya


lembut dan menyuruhnya untuk mandi.


Seorang pelayan mempersilakan Key untuk mandi, lalu mengantarkannya ke salah satu kamar yang tidak jauh dari kamar Raffael.


"Mari, silakan, Nona," perintahnya dengan


membungkuk.


"Maaf, Bibi, saya merepotkanmu. Dan tolong jangan membungkuk seperti itu. Bibi lebih tua dariku. Sayalah yang seharusnya menghormati bibi.


"Nona___"


"Santai saja denganku, Bi."


Seutas senyum yang manis, menghilangkan rasa takut pelayan itu diwajahnya tadi, lalu beranjak menuju kamar yang telah disediakan oleh keluarga Raffael.


"Mandilah, karena malam ini saya tidak janji untuk mengantarkanmu pulang."


Kedua netra itu membulat sempurna, menatap Rafffael berdiri dengan kedua tangannya yang dimasukkan di antara kedua saku celananya. Bahkan Raffael belum mengganti pakaiannya walaupun tampak jelas ada jejak letih di wajahnya.


"Tidak jadi pulang?"


"Maaf, aku menunggu Jordan kemari. Aku juga sudah minta izin kepada kedua orang tuamu."


Apa! papa mengizinkan anak gadisnya


untuk menginap? Apakah saya tidak salah dengar.


"Bibi,tolong persiapkan kamar pribadi untuk Nona,Key. Dan sediakan apapun yang diperlukan. Satu lagi jangan gunakan kamar guest house, tetapi kamar di sebelah privet room saya," perintahnya yang sukses membuat kedua mata Key kembali membola.


"Jangan banyak bertanya, hari sudah malam. Mami menunggu kita makan


malam, ok?"


Key termangu menatap langit malam di balkon kediaman Wijaya. Sehabis mandi badannya terasa lebih segar dan pikiran sedikit tenang. Menatap langit malam dan berbicara kepada bintang-bintang adalah kegemarannya sejak kecil.


Dengan memakai dress selutut bermotif bunga-bunga yang simpel namun, elegan Key begitu cantik malam itu, bahkan Raffael dibuatnya tidak berkedip


menyadari betapa cocoyk baju pilihannya


itu ketika melekat pada tubuh indah miliknya.


"Jangan terlalu lama menatap bintang, karena aku takut mereka akan malu dan meredup, karena kalah oleh kecantikan mu ,Nona."


Suara yang sudah tidak asing di telinga itu seketika membuatnya menoleh dan mendapati Raffael sedang tersenyum menatap ke arahnya.


"Tetapi setidaknya itu lebih baik dari pada menangis."Langkahnya pelan dengan gaya maskulinnya sedang berjalan ke arahnya.


"Rupanya kamu sudah mulai pandai membual, tetapi sayangnya kamu salah orang untuk menyampaikan pujianmu itu Tuan muda Raffael Valerio Emeraldi Wijaya," balas Key spontan dengan menyebutkan nama lengkap Raffael.

__ADS_1


"Hemm ... dan sepertinya kau juga sudah pandai menyebut nama lengkapku." Raffael tersenyum menatapnya. Entah


sudah benar atau belum caranya merayu wanita itu. Ia hanya tidak ingin melihat Key sedih.


Raffael menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mengingat dirinya harus menghafal dan membuka buku romantis


yang diberikan oleh Jordan untuknya tadi.


**** ... !!! bener-bener sinting.


Key terkikik. "Aku rasa kau sedang latihan untuk menggombal untuk persiapan hari istimewamu. Sudahlah saya takut tidak bisa tidur, karena kekenyangan dengan gombalannmu itu."


Dengan berlalu mencoba meninggalkan Raffael yang tidak biasa, namun langkahnya terhenti setelah tangan kokoh menahannya dengan lembut.


"Mau Kemana? Papi dan mami sedang menunggu kita untuk makan malam."


"Iya."


Selesai makan malam Raffael benar-benar tidak berniat mengantarkan Key pulang, hal ini membuatnya khawatir, kalau orang tuanya mencarinya dan berpikir macam-macam. Percuma saja memaksa, tidak ada yang bisa melawan seorang Raffael.


"Tidak perlu cemas, aku sudah memberitahu kedua orangtuamu, bahwa malam ini kau menginap di sini," jelas Raffael yang menangkap nada khawatir di matanya.


"Dan Papa,Mama, mengizinkan?"


"Hemm ...."


Ahhh! ada angin apa kedua orangtuanya membiarkan seorang anak gadisnya menginap di rumah seorang pria yang sebentar lagi akan segera menikah, ini benar-benar aneh.


"Bukankah besok kamu juga libur untuk bekerja?"


"Tetapi pagi-pagi aku harus ke butik," jelasnya.


"Biarkan orang suruhanku memantau usaha kecilmu itu, untuk sementara waktu jangan bepergian seorang diri."


Belum usai perasaan terkejutnya, melihat Raffael menjadi sangat aneh dan posesif kepadanya. Wanita itu akhirnya hanya pasrah. Bukan hal baru lagi pria itu mengatur semua langkahnya dan pergerakannya akhir-akhir ini.


"Sebenarnya ada apa?"


Raffael menatap wanita di hadapannya itu dengan santai.


"Mendadak kau tidak mengijinkanku pulang, bepergian seorang diri dan kedua orangtuaku mengijinkan anak gadisnya menginap." Mimik mukanya menuntut sebuah penjelasan.


"Besok hari libur, sebaiknya kau beristirahat."


"Kau sedang tidak berbohong,kan?" Key menatapnya curiga.


"Ikutlah denganku, aku ingin mengatakan sesuatu." Raffael mengajak Key untuk berbicara berdua di privet Room rahasia miliknya.


Sebuah ruangan yang mewah dengan desain interior yang megah. Ruangan yang terlalu pribadi untuk Raffael, bahkan Jordan saja tidak diijinkan masuk olehnya.


Dilengkapi dengan peralatan


canggih, ada lorong rahasia yang


salin terhubung dengan guest house yang


berdiri di depan kediaman Wijaya.


Sebuah privet room dengan Connecting room. kamar tidurnya yang terkesan exclusive. Sebuah Bed ukuran


super king yang didominasi warna putih


kombinasi warna coklat itu, tampak rapi


menggambarkan Raffael adalah seorang yang perfect dan cinta akan kebersihan.


"Jangan disini, saya tidak enak hati, kita bicara di luar saja."


Apa kata orang, kalau ada yang melihatnya berduaan di sebuah kamar


pria yang sebentar lagi akan menikah.


ini tidak dibenarkan.


Dengan mematri senyum, Raffael , melihat Key salah tingkah. Karena tidak nyaman berada diprivet room yang terhubung dengan tempat tidurnya.


"Tidak usah gugup seperti itu, bahkan kau boleh tidur di sana," goda Raffael sambil menunjuk sebuah Bed yang sangat mewah, di mana ruangan itu dilengkapi dengan semua keperluannya.


Walk in closet yang terdisplay dengan rapi. Sudah seperti sebuah mall yang berjalan di sebuah rumah mewah.


"Apakah kau benar- benar sudah sinting!" protesnya kesal dengan sedikit napasnya yang tersengal.


Raffael terkekeh, Ia sangat menyukai saat wanita itu gugup, dan sedikit galak


karena terlihat sangat menggemaskan


di matanya.


"Apa aku kelihatan main-main, Key?" Raffael menatap serius.Lekat- lekat menembus manik bening itu, membuat Key langsung tertunduk. Debar jantungnya tidak karuan badannya menjadi terasa ringan. Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya berada di sebuah kamar pria dewasa.


________________________


Sahabat tersayang ๐Ÿ˜˜


jangan lupa untuk memberikan like


dan komennya, ya.


Terimakasih ๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2