
"Berjanjilah jangan seperti ini lagi, begitu kasus ini selesai, semuanya akan kembali seperti semula. Aku berjanji."
Perempuan itu hanya bisa mengangguk lemah dengan isak tangis tertahan.
Raffael yang melihatnya tidak sanggup lagi untuk mengendalikan perasaannya dan kembali menatap netra indah yang tampak sembab itu lalu mengusapnya
dengan lembut dan merengkuhnya kembali ke dalam pelukannya.
.Aroma white musk yang lembut, segar, dan menenangkan menguar dari dalam tubuh Raffael yang mendekapnya dengan
sayang. Seperti daun kering yang terlepas dari dahan dan kemudian jatuh kedalam genggaman, hanya perasaan nyaman yang keduanya bisa rasakan.
Lalu untuk apa berbohong, kalau mencintai ternyata seindah ini? masihkah
hati mereka sanggup untuk berpaling atau mengatakan kalau semua tidak seperti yang orang pikiran.
Suasana begitu hening. Hanya deru napas hangat mereka yang terdengar samar. Menyapu wajah mereka. Bukan gairah yang menggebu, melainkan perasaan untuk saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.
Walaupun Raffael tidak memungkiri, aroma vanilla Lace yang menempel pada
tubuh indah itu membuat sisi kelelakianya meronta. Ia tidak ingin memanfaatkan ketidakberdayaan Key dengan segala beban pikirannya saat ini. Raffael sangat mencintainya dan ingin menjaganya.
Jangan gila, Kendalikan dirimu, Raffael.
Hanya Saliva yang tertelan kuat, dengan susah payah kala menatap bibir merahnya yang merekah dan bulu matanya yang sangat lentik walaupun ada air mata di sana.
Hingga pada akhirnya membuat keduanya tersadar, bahwa dering ponsel Raffael memerlukan jawaban.
Key melepaskan pelukannya dengan perlahan setelah kesadarannya pulih.
Kerasnya hidup dan rasa yang nyaman
saat berada didekat CEO itu membuatnya
begitu pasrah.
Dengan wajah merona. Dalam hati Key merutuki dirinya sendiri, kenapa hatinya begitu lemah kalau sudah berhubungan dengan pria itu.
"Ma__ maafkan aku. Aku___"
"Tidak apa-apa," potong Raffael dengan
tersenyum tipis. "Jasson menelpon.Tetap di sini, aku mengangkatnya sebentar." Raffael mengambil jarak karena takut ada kabar yang sifatnya sangat rahasia.
"Apakah ada yang penting, sehingga kau meneleponku malam-malam begini?"
"Gawat Bos!" lapor Jasson di seberang telepon.
Manik kelam itu melirik Key sekilas dan mencoba bersikap dengan setenang mungkin.
"Katakan!"
"Keluarga Nona key dalam bahaya, ada segerombolan orang yang mencoba mengintai kediaman Tuan Tirtawijaya," lapor jawab Jasson tegas.
Raffael menghela napas dengan berat
dan melangkahkan kakinya ke privet
room dengan dalih mengambil sesuatu.
Sepertinya musuh sudah mulai mencium
penyelidikan ini. Bagus dengan begini
akan tahu siapa yang telah bereaksi.
"Mungkinkah orang suruhan Danu purba?" Terdengar suara lirih Raffael menerka- nerka.
"Jasson cari tau mereka! Tingkatkan pengamanan untuk Keluarga Tuan Tirtawijaya, serta kerahkan semua anak buahmu. Sebisa mungkin malam ini
pindahkan keluarga Key, Ke mansion yang telah saya beritahukan. Key ada bersamaku, kamu tidak perlu cemas."
"Siap Bos!"Jawab jasson tegas.
"Cari cara supaya mereka tidak mengendus keberadaan mereka."
Berani sekali kau bermain-main denganku Danu Purba. Kamu akan tahu akibatnya
sedikit saja kau berani mengusik milikku.
Dengan tangan terkepal, sorot matanya yang tajam menampakkan rahangnya yang mengeras dengan bias kekesalan dan amarah yang siap meledak kapan saja.
Raffael berjalan mondar-mandir di dalam privet roomnya lalu duduk sejenak, menyender di kursi kebesarannya sambil memejamkan kedua matanya. Mulai berpikir dengan keras dan kembali menemui Key yang menuggu di ruang
kerjanya.
"Apakah ada masalah?" tanyanya cemas, karena tidak biasanya Raffael menerima
telepon di privet room miliknya.
"Tidak ada. Sudah aku katakan, semua
akau baik-baik saja."
"Aku ingin pamit pulang," ucapnya lirih.
Pria itu terlihat berpikir sejenak. "Aku akan mengantarmu, tetapi sedikit larut. Tunggulah sebentar," jawabnya.
"Tidak perlu, Raffael. Aku pulang sendiri saja atau biar diantar sopir," pintanya.
__ADS_1
"Tidak boleh. Hari sudah malam, menurutlah dari sekarang," Pria itu menatapnya dengan lembut, tetapi
tetapi dengan tatapan yang menusuk.
mengingatkan adegan beberapa saat yang lalu yang membuatnya begitu malu dan buru- buru Key mengalihkan pandangannya.
"Sebaiknya kamu mandi, ada pelayan
yang akan membantumu ...." ujarnya pelan.
"Tidak usah, aku tidak membawa baju
ganti. Nanti saja."
"Semua keperluanmu sudah dipersiapkan." Raffael memberikan
paperbag yang berisi beberapa potong
baju untuk, Key.
"Kau___"
"Iya. Mudah-mudahan cocok untukmu," Raffael tersenyum menatapnya yang
sedang bingung. Dengan ragu tangannya terukir pelan, mengambil paperbag itu.
******
"Sayang, pelayan sudah menyediakan
kamar untukmu dan peralatan mandi,
sebaiknya kau mandi dahulu."
"Mami___"
"Tidak apa-apa. Mami tunggu untuk
makan malam, cepatlah untuk mandi hari sudah malam," perintah Wanita itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, mendapati Key yang tidak jadi pulang.
Wanita itu benar-benar sangat menyayanginya seperti putrinya sendiri, bahkan ada perasaan tidak rela bila Key tidak bersanding dengan Raffael.
"Terimakasih banyak, maaf, merepotkan
Mami."Wanita itu menatap tidak enak hati.
"Tidak sayang , tidak usah malu-malu. Anggaplah seperti rumah sendiri, ok?"
Wanita itu mengusap punggungnya
lembut dan menyuruhnya untuk mandi.
Seorang pelayan mempersilakan Key untuk mandi, lalu mengantarkannya ke salah satu kamar yang tidak jauh dari kamar Raffael.
"Mari, silakan, Nona," perintahnya dengan
membungkuk.
"Maaf, Bibi, saya merepotkanmu. Dan tolong jangan membungkuk seperti itu. Bibi lebih tua dariku. Sayalah yang seharusnya menghormati bibi.
"Nona___"
"Santai saja denganku, Bi."
Seutas senyum yang manis, menghilangkan rasa takut pelayan itu diwajahnya tadi, lalu beranjak menuju kamar yang telah disediakan oleh keluarga Raffael.
"Mandilah, karena malam ini saya tidak janji untuk mengantarkanmu pulang."
Kedua netra itu membulat sempurna, menatap Rafffael berdiri dengan kedua tangannya yang dimasukkan di antara kedua saku celananya. Bahkan Raffael belum mengganti pakaiannya walaupun tampak jelas ada jejak letih di wajahnya.
"Tidak jadi pulang?"
"Maaf, aku menunggu Jordan kemari. Aku juga sudah minta izin kepada kedua orang tuamu."
Apa! papa mengizinkan anak gadisnya
untuk menginap? Apakah saya tidak salah dengar.
"Bibi,tolong persiapkan kamar pribadi untuk Nona,Key. Dan sediakan apapun yang diperlukan. Satu lagi jangan gunakan kamar guest house, tetapi kamar di sebelah privet room saya," perintahnya yang sukses membuat kedua mata Key kembali membola.
"Jangan banyak bertanya, hari sudah malam. Mami menunggu kita makan
malam, ok?"
Key termangu menatap langit malam di balkon kediaman Wijaya. Sehabis mandi badannya terasa lebih segar dan pikiran sedikit tenang. Menatap langit malam dan berbicara kepada bintang-bintang adalah kegemarannya sejak kecil.
Dengan memakai dress selutut bermotif bunga-bunga yang simpel namun, elegan Key begitu cantik malam itu, bahkan Raffael dibuatnya tidak berkedip
menyadari betapa cocoyk baju pilihannya
itu ketika melekat pada tubuh indah miliknya.
"Jangan terlalu lama menatap bintang, karena aku takut mereka akan malu dan meredup, karena kalah oleh kecantikan mu ,Nona."
Suara yang sudah tidak asing di telinga itu seketika membuatnya menoleh dan mendapati Raffael sedang tersenyum menatap ke arahnya.
"Tetapi setidaknya itu lebih baik dari pada menangis."Langkahnya pelan dengan gaya maskulinnya sedang berjalan ke arahnya.
"Rupanya kamu sudah mulai pandai membual, tetapi sayangnya kamu salah orang untuk menyampaikan pujianmu itu Tuan muda Raffael Valerio Emeraldi Wijaya," balas Key spontan dengan menyebutkan nama lengkap Raffael.
__ADS_1
"Hemm ... dan sepertinya kau juga sudah pandai menyebut nama lengkapku." Raffael tersenyum menatapnya. Entah
sudah benar atau belum caranya merayu wanita itu. Ia hanya tidak ingin melihat Key sedih.
Raffael menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mengingat dirinya harus menghafal dan membuka buku romantis
yang diberikan oleh Jordan untuknya tadi.
**** ... !!! bener-bener sinting.
Key terkikik. "Aku rasa kau sedang latihan untuk menggombal untuk persiapan hari istimewamu. Sudahlah saya takut tidak bisa tidur, karena kekenyangan dengan gombalannmu itu."
Dengan berlalu mencoba meninggalkan Raffael yang tidak biasa, namun langkahnya terhenti setelah tangan kokoh menahannya dengan lembut.
"Mau Kemana? Papi dan mami sedang menunggu kita untuk makan malam."
"Iya."
Selesai makan malam Raffael benar-benar tidak berniat mengantarkan Key pulang, hal ini membuatnya khawatir, kalau orang tuanya mencarinya dan berpikir macam-macam. Percuma saja memaksa, tidak ada yang bisa melawan seorang Raffael.
"Tidak perlu cemas, aku sudah memberitahu kedua orangtuamu, bahwa malam ini kau menginap di sini," jelas Raffael yang menangkap nada khawatir di matanya.
"Dan Papa,Mama, mengizinkan?"
"Hemm ...."
Ahhh! ada angin apa kedua orangtuanya membiarkan seorang anak gadisnya menginap di rumah seorang pria yang sebentar lagi akan segera menikah, ini benar-benar aneh.
"Bukankah besok kamu juga libur untuk bekerja?"
"Tetapi pagi-pagi aku harus ke butik," jelasnya.
"Biarkan orang suruhanku memantau usaha kecilmu itu, untuk sementara waktu jangan bepergian seorang diri."
Belum usai perasaan terkejutnya, melihat Raffael menjadi sangat aneh dan posesif kepadanya. Wanita itu akhirnya hanya pasrah. Bukan hal baru lagi pria itu mengatur semua langkahnya dan pergerakannya akhir-akhir ini.
"Sebenarnya ada apa?"
Raffael menatap wanita di hadapannya itu dengan santai.
"Mendadak kau tidak mengijinkanku pulang, bepergian seorang diri dan kedua orangtuaku mengijinkan anak gadisnya menginap." Mimik mukanya menuntut sebuah penjelasan.
"Besok hari libur, sebaiknya kau beristirahat."
"Kau sedang tidak berbohong,kan?" Key menatapnya curiga.
"Ikutlah denganku, aku ingin mengatakan sesuatu." Raffael mengajak Key untuk berbicara berdua di privet Room rahasia miliknya.
Sebuah ruangan yang mewah dengan desain interior yang megah. Ruangan yang terlalu pribadi untuk Raffael, bahkan Jordan saja tidak diijinkan masuk olehnya.
Dilengkapi dengan peralatan
canggih, ada lorong rahasia yang
salin terhubung dengan guest house yang
berdiri di depan kediaman Wijaya.
Sebuah privet room dengan Connecting room. kamar tidurnya yang terkesan exclusive. Sebuah Bed ukuran
super king yang didominasi warna putih
kombinasi warna coklat itu, tampak rapi
menggambarkan Raffael adalah seorang yang perfect dan cinta akan kebersihan.
"Jangan disini, saya tidak enak hati, kita bicara di luar saja."
Apa kata orang, kalau ada yang melihatnya berduaan di sebuah kamar
pria yang sebentar lagi akan menikah.
ini tidak dibenarkan.
Dengan mematri senyum, Raffael , melihat Key salah tingkah. Karena tidak nyaman berada diprivet room yang terhubung dengan tempat tidurnya.
"Tidak usah gugup seperti itu, bahkan kau boleh tidur di sana," goda Raffael sambil menunjuk sebuah Bed yang sangat mewah, di mana ruangan itu dilengkapi dengan semua keperluannya.
Walk in closet yang terdisplay dengan rapi. Sudah seperti sebuah mall yang berjalan di sebuah rumah mewah.
"Apakah kau benar- benar sudah sinting!" protesnya kesal dengan sedikit napasnya yang tersengal.
Raffael terkekeh, Ia sangat menyukai saat wanita itu gugup, dan sedikit galak
karena terlihat sangat menggemaskan
di matanya.
"Apa aku kelihatan main-main, Key?" Raffael menatap serius.Lekat- lekat menembus manik bening itu, membuat Key langsung tertunduk. Debar jantungnya tidak karuan badannya menjadi terasa ringan. Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya berada di sebuah kamar pria dewasa.
________________________
Sahabat tersayang ๐
jangan lupa untuk memberikan like
dan komennya, ya.
Terimakasih ๐๐
__ADS_1