Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
92. Pertemuan dua pecinta


__ADS_3

"Raffael, apakah ada kabar?"


"Orang itu kembali menyebut nama, Andreas." Raffael berdiri membelakangi Key yang sedang duduk dipinggir ranjang.


"Oh, Tuhan," tangannya reflek terangkat menutup mulutnya yang menganga.


"Di dunia ini siapa teman dan siapa lawan sangat susah dibedakan. Terkadang orang terlalu menggunakan hatinya untuk merasakan. Tetapi tidak sedikit, mereka lebih suka menggunakan logikanya untuk bertindak."


Andreas, apakah sekarang dia sudah ditangkap?


"Dia sudah dipanggil oleh pihak berwajib untuk dilakukan pemeriksaan. Tetapi hukum tetap saja berbicara bukti, terlepas orang itu bersalah atau tidak. Tidak perlu cemas, semua akan berjalan berdasarkan fakta yang ada," Raffael memberikan sedikit gambaran. Hatinya sebenarnya sangat panas, otaknya terasa mendidih mengingat nama itu.


Bukan saja cemburu menangkap keraguan, Key, tetapi kesal dengan dirinya yang terkesan memberikan waktu lebih lama untuk membuktikan. Saat ini adalah bukan saatnya untuk percaya ataupun tidak percaya, tetapi sebuah bukti yang akan menghadirkan fakta yang akan berbicara selanjutnya.


Key masih terdiam. Raffael meliriknya yang sedang berpikir. Perlahan dia mengambil duduk, kali ini dia memilih untuk duduk di sofa yang terletak di sudut kamar.


"Aku tahu, kau pasti sulit untuk percaya."


Key beranjak, berjalan mendekat lalu duduk di samping, Raffael. Dan dengan lembut meraih tangannya dan menggenggamnya.


"Seperti yang kamu bilang, semua bicara berdasarkan bukti. Kalau sudah ada bukti tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayainya," jawabnya pelan lalu merebahkan kepalanya di bahu, Raffael.


Diusapnya pucuk kepalanya dengan lembut dan keadaan kembali hening.


"Sebelum aku ada masalah dengannya, aku juga pernah diserang, tetapi aku tidak ingin membuatmu cemas. Sehari menjelang sidang putusan kasus darriel. Saat ini bahkan tuduhan mengarah ke Andreas, tetapi aku berpikir objektif."


Perempuan itu menarik kepalanya dengan cepat dan memperhatikan wajah Raffael dengan sorot mata kaget. Wajah yang terlihat letih dan sesekali terlihat tegang. Gurat kelelahan itu begitu jelas dan sekarang adalah saatnya untuk bangkit, bukan untuk saling menyalahkan. Raffael belajar dari kesalah pahamamnya, begitu pun, Key berusaha untuk mempercayai semua langkah yang diambil oleh, Raffael.


"Dia kirim pesan padaku, katanya dia tidak terlibat," keduanya kembali saling menatap menyelami pikiran masing-masing.


Key mengangguk...


"Lalu, apakah pengendara motor itu sudah jelas asal usulnya?"


"Itu yang sedang didalami oleh pihak yang berwajib dan tetap saja lagi- lagi menyebut nama, Andreas." Ditatapnya wajah yang sedang duduk disampingnya itu. Raffael ingin melihat reaksi Key namun dirinya menunjukkan sikapnya yang biasa saja.


"Kemarin aku bertemu dengannya. Dia juga memantau keadaan, di tengah malam di luar Mansion beberapa saat yang lalu. Jadi kalau orang curiga padanya, rasanya wajar saja bahkan, sebelum dia bisa membuktikannya, semua mata akan mengarah padanya. Kecuali malam itu dia hanya terlalu merindukanmu?" jelasnya cemburu.


"Sussstttttt...!" Key meletakkan telunjuknya dibibir, Raffael. Dengan perlahan Pria itu menangkap tangannya lalu menciumnya dengan lembut.


"Kau lebih mengenalnya dibanding aku, "bukankah begitu?" protes Raffael merajuk. Jemarinya mengusap- usap punggung tangan, Key yang diikuti oleh gelengan kepala wanita itu.


"Aku percaya padamu. Ambil langkah yang sesuai dengan hatimu."


"Donny mengajakku bertemu. Tetapi aku menyanggupinya, kalau benar- benar ada bukti yang baru sebagai titik terang." Jelas saja Raffael tidak mau sia-sia. Kebersamaannya dengan Key lebih dari segalanya dan saat ini Ia membutuhkan teman bicara.


"Tetaplah seperti ini. Aku takut, peristiwa ini akan menghilangkan senyummu." Raffael menatapnya kelam.


"Selama ada kamu disisiku, aku akan baik-baik saja ... "ujarnya pelan lalu menunduk.


Raffael tersenyum, "Kita akan selalu bersama."

__ADS_1


"Raffaell, sejak kau mengungkap kasus itu apa kau sering mendapatkan teror?" Ingin tahunya sangat tinggi mengingat sterilisasi jalan pada saat mereka menuju sidang selalu menjadi tanda tanya besar saat itu.


"Musuh dalam dunia bisnis selalu ada, sayang. Sudah jangan dipikirkan." Ia tidak ingin melihatnya kepikiran dan merasa bersalah terus menerus.


"Besok ada temen-temem kamu datang kemari, Naya, Anne, Carroline, Maura, rossaline," calon bridsmaid kita.


"Iya mereka sudah mengabariku. Kau yang memintanya? Kau juga akan mengadakan pesta bujang bersama rekan mu, Raffael?"


"Hansen yang merencanakan semua. Apakah kau tahu sayang, berkat hari pertunangan kita mereka jadi berpasangan- pasangan."


Itu artinya kita adalah jalan jodoh mereka juga," ujarnya dengan tersenyum. Hansen si kalem yang dewasa takluk oleh pesona Rossaline yang sedikit manja, begitupun masa petualangan Nick sepertinya kali ini akan berakhir, setelah menjalin hubungan serius dengan si crewett yang pengertian Anne. Tinggal Maura yang sedikit tomboy yang sedang menjajaki hubungan dengan si perfect Calvin. Rasanya mereka adalah pasangan yang serasi dan saling melengkapi.


"Mudah- mudahan mereka berjodoh." Setelah sesaat lamanya mereka berbicara dan sejenak melupakan peristiwa pahit itu, akhirnya Key menyuruh Raffael kembali.


"Kembalilah. Sudah larut malam, kamu butuh istirahat."


"Kau berani tidur seorang diri? Atau perlu aku menemanimu, baby," godanya dengan senyum yang dikulum. Key menabok dada Raffael dengan gemas. "Tinggal tiga hari saja, bersabarlah."


Raffael terkekeh. "Baiklah."


"Raffael.....," pekiknya lirih saat, Pria yang ada dihadapannya itu spontan mengangkat tubuhnya dan membaringkannya dengan lembut di atas tempat tidur.


"Ingat, harus selalu bahagia," bisiknya.


"Aku bahagia, Raffael.Teramat bahagia."


"Tidurlah, aku akan menemanimu sampai kau terpejam.Tidak perlu cemas. Buang jauh- jauh pikiran yang hanya akan membuatmu sedih. Lupakan semua, sayang. Ingat hari bahagia kita saja." Dengan telaten menyelimuti seluruh tubuhnya, membelai rambutnya dengan pelan hingga terlelap. Iris kelamnya menatap wajah yang mulai beraksi dalam mimpi dan berharap hanya mimpi indah yang akan menyapanya malam ini.


"Good night, Baby. Have nice dream," Dikecupnya keningnya dengan sayang dan dengan sangat malas Raffael beranjak. Pria itu menoleh kembali dan mengukir senyumnya sebelum akhirnya benar-benar pergi.


🍁🍁🍁🍁


Raffael mengepalkan tangannya dengan erat menyadari seseorang yang tengah berdiri didepannya. Malam itu juga dirinya meladeni pertemuan yang diajukan oleh Donny yang belakangan ternyata atas perintah, Andreas disebuah ruang rahasia bawah tanah.


"Mungkin kau berpikir, aku tidak bernyali untuk bertemu dengan mu?" Keduanya saling menatap dengan tatapan dingin. Kedua pria tampan dengan kesuksesan yang tidak main-main itu saling berperang melawan alam pikirannya masing-masing. Dadanya bergemuruh, niscaya kalau mereka berdekatan akan terdengar detak jantung mereka yang sedang tidak baik-baik saja. Andreas dilepaskan oleh pihak yang berwajib, karena bukti belum memenuhi syarat penangkapannya.


"Aku tidak ingin masalah ini semakin pelik dan kau berpikiran macan-macam padaku. Aku tidak sejahat dan sebodoh itu, Raffael."


"Berpikir macam-macam?" Raffael tertawa sumbang dan memutar tubuhnya cepat, berdiri membelakangi Andreas. Sedikit berjalan menjauh dengan pandangan lurus ke depan dengan sorot temaram cahaya lampu yang hanya menampakkan wajahnya yang samar-samar


"Saya rasa kamu tahu alasannya, kalau aku sampai menaruh kecurigaan itu padamu? Kau mengirimkan bunga dengan misterius. Di tengah malam kau memantau Mansion tempat tinggal Key.


Peneror di kantor Antara dan juga pengendara itu menyebut namamu. Apakah malam ini kau juga akan membunuhku, Andreas..? Demi Tuhan kalau ini bukan karena Key, aku tidak akan mengampunimu," rentetan kecurigaan yang disebutkan, Raffael sukses membuat Andreas membeku dalam panasnya suasana.


"Apa tujuanmu memanggilku kemari?" Jangan memintaku untuk datang selagi kau belum bisa membuktikannya."


"Aku akan membantumu untuk mengungkap ini semua, aku sedang mengerahkan seluruh anak buahku."


"Kau selalu bicara sama, Andreas!" sinisnya tajam tanpa menoleh.


"Aku bisa jelaskan itu semua! Memang aku akui, aku datang melihat keadaan Mansion malam itu. Itu karena ada pesan gelap yang menerorku, bahwa ada seseorang yang hendak menyakiti, Key."

__ADS_1


"Itu bukan kapasitas mu, Andreas." Raffael berbalik cepat dengan mata berkilat.


"Aku minta, maaf sekali lagi. Aku tidak ingin Key celaka karena kesalahanku.


Clara memanfaatkan keadaan ini, Raffael. Percayalah."


"Kesalahan? Kesalahanmu yang mana, Andreas? ejek Raffael menatap tajam dengan sorot mata yang menakutkan.


"Seseorang sedang memanfaatkan perselisihan kita, Raffael. Sepertinya ada orang yang mengetahui kita berselisih paham selain Clara," tegas Andreas menyadari Raffael begitu murka padanya.


"Aku pantas berselisih denganmu, karena sikap tidak terpujimu itu memantik seseorang untuk berpikiran lain. Dan itu adalah kecerobohan mu," balasanya tak terima.


"Jangan salahkan aku, kalau aku bertindak terlalu tegas padamu! Apakah kau pikir aku tidak kecewa dengan sikapmu? Itu terjadi karena kecerobohanmu, Andreas," ulangnya. Raffael berjalan mendekat mengikis jarak diantara mereka.


"Aku berperang dengan hati nuraniku, karena kau adalah sahabat karibku!" teriaknya kesal. "Key tidak percaya semua ini ada kaitannya denganmu dan itu alasannya aku masih sudi untuk mengampunimu. Apa yang kau pikirkan, Andreas?! desisnya tajam dengan mata berkilat- kilat.


Andreas tersenyum dalam hati. Setidaknya amukan amarah itu masih bisa diredam oleh wanita cantik berhati lembut itu. Terimakasih, key.


Aku memang mencintaimu tulus dari dasar hatiku, tetapi aku tidak akan pernah menjadi buta karena cintaku itu, Key...senyummu adalah bahagiaku.


"Key benar, Raffael."


"Buktikan... Andreas!!" Untuk saat ini aku hanya percaya sebuah bukti. Sebuah bukti, Andreas. Satu lagi tidak perlu cemas dengan keselamatan, Key. Aku bisa menjaganya." Kilatan amarah dan rasa cemburu begitu menyatu dalam diri Raffael, tetapi logika berpikirnya masih waras menghuni raganya. Apa lagi pihak berwajib belum menemukan bukti yang akurat tentang keterlibatannya. Sikap profesionalnya kembali di uji saat ini.


"Terimakasih kau tidak memblow up peristiwa ini ke media. Aku benar- benar berterimakasih," Dengan wajah diliputi rasa penyesalan.


"Apakah kau pikir aku segila dan sebodoh itu? Ada mata, hati dan perasaan yang harus aku jaga, Andreas. Jadi jangan terlalu percaya diri, aku melakukan semuanya ini untukmu. Dan perlu kau ketahui peristiwa itu, adalah peristiwa yang aku sesali seumur hidupku, karena ada Key bersamaku!! Apakah kau mengerti!! teriaknya keras.


Raffaell mencengkeram kuat kerah baju pada leher Andreas. Matanya berkilat memerah dengan cengkeraman tangan gemetar menahan amarah. Sementara Andreas hanya memejamkan matanya tanpa perlawanan. Hatinya ikut hancur. Peristiwa heroik, menegangkan yang di sertai hujan peluru di akhiri bunyi dentuman keras itu melibatkan Raffael dan Key di dalam mobilnya. Sekarang dia tahu kenapa Raffael begitu murka padanya.


"Itu pun, secara tersirat Key masih mempercayaimu. Harusnya kau berterimakasih padanya, tetapi kenapa kau malah merusak moment menjelang hari bahagianya, Andreas?? Dan kau tahu gara- gara semua itu, Key di cekam ketakutan dan mimpi buruk di setiap malamnya. Kau benar- benar____"


"Argkkhhhh....! Raffael melepaskan cengkeramannya dengan hentakan kuat seketika, membuat tubuh Andreas terhuyung. Hampir saja Ia lepas kendali memberikan bogem mentah atau yang lebih buruk lagi pada wajahnya.


Andreas bukan main terkejutnya. Satu kenyataan yang membuatnya sangat bersalah atas perasaannya dan secara tidak langsung mengancam nyawa kedua sahabatnya membuat lelaki itu berpacu dalam hati. Dia bersumpah akan menyeret pelaku itu ke hadapan Raffael apapun caranya."


"Demi Tuhan, Raffael aku tidak terlibat dengan peneror itu. Apakah, Key baik-baik saja?" tanyanya hati-hati karena, tidak ingin membuat Raffael berpikir yang bukan-bukan.


"Aku bertanya sebagai seorang sahabat," jelasnya.


Raffael menatap smirk kearah Andreas dengan pertanyaan yang dianggapnya sangat konyol itu.


"Bagaimana kau bisa bertanya dengan pedenya bahwa Key baik-baik saja, setelah melihat penyerangan yang hampir melenyapkan nyawanya?" Geram Raffael berlalu cepat meninggalkan sahabatnya itu sebelum lepas kendali.


"Aku akan buktikan, Raffael!! teriak Andreas.


"Jangan terus menguji kesabaranku, Andreas," gumamnya dan terus melangkah.


__________________________


Catatan penulis:

__ADS_1


Sahabat tersayang 😘


jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya, ya. Terimakasih πŸ™


__ADS_2