
"Sayang, apakah Jordan yang menyuruhmu kemari?"
"Tidak. Aku datang karena keinginanku sendiri. Aku menelponmu ke kantor dan mereka bilang kau sedang cuti. Kau cuti dan tidak ke Mansion, serta tidak menelponku. Aku punya firasat kau sedang tidak baik-baik saja," jawabnya dengan masih tidak bisa menutupi rasa kecewanya.
Raffael mendongakkan wajahnya, menatap Key dengan gegamam tangannya yang semakin erat. Iya, dia merasa bersalah dalam hatinya. Telah mengabaikan Key ataupun orang tuanya dari sisinya.
"Apakah kau masih marah padaku, cara?"
"Tidak. Tuhan saja selalu menyayangi dan memaafkan kita, terlepas apa yang sudah dilakukan oleh umatnya. Apakah perlu aku marah?" Setidaknya, kalau kau mempunyai orang-orang yang mencintaimu, sertakanlah doanya. Untuk menjadi pelipur laramu yang bisa mengurangi rasa sakitmu, kalau kau tidak mengharapkan kedatangannya."
"Deeply sorry baby."
"Jangan diulangi lagi." Amarah yang ingin meluap dalam dirinya, tetap saja kalah saat menatap wajahnya yang tidak berdaya dihadapannya.
"Apa yang kau rasakan sekarang? Apakah masih pusing?"
Raffael menggeleng pelan. "Sudah lebih baik, semua karena dirimu."
Key mengulas senyum samar. "Beristirahatlah, sekarang kamu harus lebih berhati-hati, makan dan tidur lebih teratur lagi. Sayang, pekerjaan tidak akan pernah ada habisnya, jangan terlalu memaksakan diri dan memforsir keadaan. Apa yang kau lakukan untuk semua orang, sudah lebih dari cukup."
"Aku cuma ingin membuatmu bahagia."
"Berapakali aku bicara padamu, Raffael.
Cinta bagiku, hanya menuntut sebuah pemahaman, dan keterbukaan. Tetapi tidak menuntut sebuah pengorbanan dan kesempurnaan yang berlebih, "bahkan tidak jarang cinta bicara saat ketidaksempurnaan begitu nyata di depan mata kita. Hanya butuh satu kata, "Cukup atau pas saja, tidak lebih."
Raffael tersenyum lalu menarik tengkuknya dan mengecup bibirnya dengan lembut. "Ini salahmu, kenapa kau seperti magnet yang membuatku ingin melakukan apa saja untukmu."
"Menggombalah sesukamu."
"I love you, baby."
"Tidurlah, besok mau sarapan Zuppa soup? Aku akan buatkan," Pipinya seketika memerah dan cepat-cepat mengalihkan pembicaraannya. Raffael yang masih tidur di pangkuannya hanya bisa tersenyum melihat sikap malu-malu yang ditunjukkan oleh cintanya itu.
"Jangan terlalu lelah. Apa saja, "asal ada kamu di sini semua lebih enak," candanya dengan tatapan matanya yang meredup.
"Good night," bisik key. Tangannya dengan lembut mengusap keningnya yang berkeringat menyadari Raffael yang mulai mengantuk.
Efek dari obat yang baru saja di minum mulai bereaksi. Genggaman tangannya yang terasa kuat mendadak mengendur. Alam mimpi mulai menyapanya. Key meletakkan kepalanya dengan pelan dan menyelimutinya, sebelum akhirnya beranjak keluar mendekati Jasson yang sedang berbincang.
"Bilang sama papa dan Mama, Raffael sedang sakit dan di rawat di rumah kalau mereka bertanya. Kau tetap di sini bersamaku," perintahnya.
"Baik Nona."
__ADS_1
Key berlalu, dan menemui perawat yang sedang berjaga di luar. "Apakah aku boleh melihat rekap medis, Raffael?"
"Tentu saja Nona," Perawat menyodorkan sebuah amplop besar berwarna coklat dan dengan seksama Key memeriksanya.
Dalam hati dia sangat bersyukur tidak ada sesuatu yang serius terjadi dengan Raffael. Tetapi tetap saja kesehatan sangat mahal harganya dan mulai sekarang harus lebih dijaga lagi.
"Kapan dokter Josep, datang kembali?"
"Besok pagi Nona."
"Baiklah. Terimakasih. Kau boleh beristirahat sekarang."
"Terimakasih Nona," jawabnya seraya berlalu.
Malam semakin larut, langkah kakinya kembali terayun ke ruangan tempat Raffael di rawat. Key merebahkan tubuhnya di sofa. Senyumnya mendadak terbit, saat menatap wajah yang biasa tampak garang itu, terlihat polos seperti seorang anak kecil yang terlelap. Rasa kantuk yang menyerang benar- benar tidak bisa ditahan lagi dan tidak lama kemudian, alam mimpi mulai membuainya dalam heningnya malam.
Hingga pagi menjelang, Raffael membuka matanya dengan malas. Tangannya meraba-raba mencari keberadaan Key di sisinya, tetapi tidak ditemuinya. Manik matanya melebar menatap sofa yang sudah kosong dengan selimut tebal terlipat dengan rapi berada diatasnya.
"Apa! Semalam dia tidur di sofa?" Baru saja mau beranjak turun, iris matanya menangkap kedatangannya dengan sebuah nampan kecil di tangannya.
"Kau sudah bangun?" Zuppa soup hangat dengan aroma yang menggiurkan, membuat Raffael tidak bisa menahan air liurnya. Key tersenyum menatapnya dan meminta perawat untuk melepas infusnya yang sudah kosong dan membantu Raffael ke kamar mandi.
"Sayang, aku masih kuat, kecuali kau ingin mandi bersamaku,"godanya.
"Raffael, kau ini bisa- bisanya!" Pria itu hanya terkekeh. Tidak dipungkiri kehadirannya benar- benar mengubah suasana hatinya. Setelah beberapa saat, Raffael keluar dengan handuk kecil melingkar di lehernya. Wajahnya terlihat lebih segar dengan kaos santai warna putih dan celana pendek hitam yang membalut tubuhnya. Rasa lapar mulai menyerangnya, setelah beberapa hari ini mulutnya seakan menolak apapun yang masuk ke dalam perutnya.
"Baby, jam berapa kamu bangun? Sepagi ini Zuppa soup sudah siap?" tanyanya heran. Mulutnya beberapa kali menerima suapan dari Key yang duduk dihadapannya.
"Ini tidak memakan waktu lama. Kebetulan ada kulit pastry yang tersimpan di kulkas, aku tinggal membuat soupnya dan memanggangnya sebentar, "bagaimana apakah enak rasanya?"
"Kau juga harus ikut sarapan. Tentu saja,
apa yang tercipta dari tanganmu, selalu saja enak," pujinya tulus. Tidak butuh waktu lama Raffael melibas sarapannya dengan sesekali tangannya usil ikut berbalik menyuapinya. Key yang melihatnya merasa sangat bahagia, setidaknya ***** makannya mulai membaik.
"Bilang saja, kalau ada makanan lain yang kau inginkan, aku akan membuatnya. Setidaknya itulah yang membuat ***** makan kita cepat pulih. Memilih makanan yang kita sukai. Tapi sepertinya tubuhmu memerlukan sayuran segar untuk makan siang."
"Yang penting makanan hangat dan berkuah sayang, minta tolong pelayan saja, aku tidak ingin kamu terlalu lelah."
"Tidak akan lelah. Ada pelayan yang membantuku."
Raffael di buatnya gemas. Sepontan menarik tubuhnya lalu memangkunya, membuat Key terkesiap dengan membelalakkan matanya.
"Kau sedang sakit!" Tubuhnya hendak berontak, tetapi Raffael menahannya.
__ADS_1
"Tubuhku masih kuat, kalo hanya mengangkat bobot lima puluh dua kilo saja," bisiknya enteng. Raffael memeluknya dan mencium pipinya bertubi-tubi.
"Makasih sayang, sudah merawatku." Dan mendudukannya kembali disampingnya.
"Iya. Jangan keras kepala lagi, kau selalu saja nakal di semua suasana."
"Karenanya kau memilih tidur di sofa."
"Kita belum resmi suami istri," protesnya.
"Sebentar lagi, sayang, bersabarlah." Semangatnya terpacu, Raffael kali ini benar-benar tidak ingin mengecewakannya.
Lima hari Rafael di rawat dan berangsur-angsur keadaannya kembali pulih. Key, bolak- balik ke Mansion dan ke kediaman pribadi Raffael setiap harinya. Ia ingin mengatur makanan Raffael dari tangannya sendiri. Tubuhnya tidak memerlukan infus lagi. Dokter yang memeriksanya menyatakan Raffael sudah kembali pulih, tetapi tetap harus banyak istirahat.
Nyoya besar yang datang tampak kesal pada putranya itu, tetapi ada Key yang datang setiap saat membuatnya jauh lebih tenang.
"Mami, saya juga mohon maaf, baru mengabari mami sekarang."
"Untuk Key, mami selalu mengampuni mu, sayang. Tetapi tidak dengan anak keras kepala itu." Karena Nyoya besar berpikir kalau Raffael memerlukan tindakan medis lainnya, pasti calon menantunya itu tidak akan tinggal diam.
Dia sangat mengenal Key, perempuan itu seperti apa. Hal itu yang membuat Nyonya besar sangat menyukainya dan
merasa, sosok Raffael yang keras kepala
dan terkesan semaunya akan seimbang dengan sifat Key yang lembut dan tidak selamanya menyetujui argumen Raffael.
"Mami pilih kasih."
"Apa yang kamu pikirkan, Raffael. Setidaknya pulanglah ke rumah kalau merasa tidak enak badan, untung kamu punya calon istri yang perhatian, coba tidak!"
"Mami!"
"Apakah masih ada keluhan?" tanya Key memastikan.
"Tidak sayang."
"Kalian butuh waktu istirahat, jalan-jalan atau nonton. Jangan bekerja melulu. Oh, ya, mami sudah menemukan lokasi prewedding kalian, "tidak jauh jadi kalian tidak akan kelelahan,"ujarnya antusias.
__________________________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang ๐น
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komennya, ya.
Terimakasih ๐๐๐