Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
100. Sweet revenge part 1


__ADS_3

Dikediaman Tuan muda Raffael...


Drufft.. drufft... drufft...terdengar ponsel, Raffael bergetar. Sebuah notifikasi masuk.


"Jordan...,"Raffael berucap lirih dengan menatap Key, yang masih terbaring disampingnya.


"Mungkin ada sesuatu yang penting, angkatlah. Aku mau mandi dulu," Kakinya perlahan turun hendak berlalu tetapi Raffael menahan tangannya lalu mengangkat tubuhnya dengan membopongnya menuju ke kamar mandi. Dengan tersenyum Pria itu menarik resleting bagian belakang pada gaun milik, Key, dan berucap lirih sebelum akhirnya berlalu keluar. "Pakai air hangat, baby," Key hanya diam mematung dengan tubuh yang kembali membeku. Adegan panas saat di hotel membuat kakinya melemas gemetaran dan buru-buru menenggelamkan dirinya ke dalam bathtub.


๐Ÿ“ฉ Jordan.


Maaf, Bos, menganggu. Kedua orang tua Nona, malam ini menginap dikediaman Tuan besar, karena sepertinya Darren adalah otak dari penyerangan itu


yang di duga atas perintah, Darriel, bekerja sama dengan Nona, Clara berdasarkan keterangan, Donny.


Darah Raffael terasa mendidih seketika. Dunia memang penuh panggung sandiwara, dimana orang yang berada dalam penjara sekalipun, masih bisa beraksi mengendalikan kejahatannya di luaran sana. Sepertinya pintu taubat itu memang sangat mahal untuk seorang Darriel bersaudara. "Sekarang kau ada dimana? malam sudah sangat larut."


"Saya masih ada dikediaman Tuan besar, Bos." Malam ini Jordan ingin memastikan mertua sang Bos, aman, saat kembali pulang,karena harus mengantarkan Naya kerumahnya. Sementara Jasson dan Jordy beserta anak buahnya mengawal Raffael dan Key sampai rumah pribadi Raffael.


Clara? Perempuan yang beberapa saat yang lalu datang kerumahnya dan merupakan anak sahabat dari Mami,


adalah otak' dari ini semua.


"Susah di percaya!" dengkusnya kesal dengan tangannya yang mulai mengepal.


Sorot matanya memerah dengan rahang mengeras. Tidak disangka Darriel masih bernyali untuk membalaskan dendamnya, terlepas vonis mati yang telah diterimanya.


"Apakah dia adalah dalang keonaran yang terjadi di ANTARA beberapa saat yang lalu, Jordan?"


"Benar sekali, Bos. Tidak salah lagi," jawabnya tegas.


Kurang ajar! Perempuan itu begitu bernyali, pantas saja ada Darren dan Darriel dibelakangnya. Dia bahkan lebih gila dari Nova.


"Jordan, apakah Andreas sudah mengetahuinya?"


"Kemungkinan sudah, tetapi Tuan muda, Andreas mungkin mencari waktu yang tepat untuk bicara denganmu."


"Pantas saja dia bisa memanfaatkan situasi ini. Clara sangat mengenal Andreas, Jordan," perasaannya kembali campur aduk mengingat sahabat karibnya itu.


Clara tahu Andreas sangat mencintai, Key? Sejak kapan wanita seperti itu menjadi tempat curhat, Andreas?


"Kau beristirahatlah. Biarkan untuk sementara waktu orang-orang tidak berguna itu berada di sana. Kalau perlu sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi saya. Terimakasih, Jordan. Semua sudah lebih dari cukup. Kau beristirahatlah. Besok aku akan ke rumah disore hari. Pastikan kedua orang tua, Key belum pulang. Aku dan dia yang akan mengantarkan beliau pulang," tegasnya lagi.


"Baik, Bos. Jangan terlalu dipikirkan dan selamat bersenang-senang," godanya.


"Hemmm... Raffael duduk di pinggir ranjang dengan wajah tegang. Dia harus melakukan sesuatu pada, Darriel terlebih manuver yang mereka lakukan benar- benar amat berbahaya. Dan bukan tidak mungkin akan terus berlanjut. Sebelum itu terjadi, Raffael merasa harus ada ketegasan sikap darinya.


Bersiaplah petugas kepolisian akan mengasingkanmu di tempat yang tidak pernah kau bayangkan.


Key keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang melekat pada tubuhnya. langkahnya sedikit ragu berjalan mendekat ke arah Raffael. "Apakah kau baik-baik saja?" Netranya menatap heran raut wajah Raffael yang terlihat kusut dan tegang.


"Hemmm......"


"Mandilah, aku sudah persiapkan peralatan mandinya." Raffael beranjak tanpa kata, menyisakan rasa penasaran dari wanita cantik itu dan memilih berjalan ke walk in closet untuk berganti pakaian. Senyumannya terbit menyadari Raffael memasang fotonya dengan gaun potongan rendah motif bunga-bunga koleksi pribadinya. Kemeja tidur yang sedikit mengexpos paha mulusnya akhirnya menjadi pilihannya, setelah beberapa saat mencari baju yang pas untuknya tetapi tidak ada yang cocok.



"Kemeja tidur yang dipersiapkan oleh Raffael di walk in closet, apakah ini terlalu ****?" bisiknya tak nyaman dan mematut tubuhnya di depan cermin dengan gelisah dengan sedikit memutar badannya.

__ADS_1


"Ahhh, Tidak-tidak ini kelihatan masih sedikit di atas lutut. Bahkan ini baju yang paling sopan diantara yang lainnya," Netranya melirik ke sekeliling dengan jantung kembali berdegup kencang, saat tangannya meraba- raba mencari gaun yang lainnya, tetapi semua sangat terbuka.


"Apakah malam ini hal itu akan terjadi?" Ini bahkan jauh lebih nervous dari ikrar suci pernikahan tadi pagi," Key menutup wajahnya yang mendadak panas dingin, membayangkan adegan dewasa yang akan terjadi dengan kaki melemas dengan tubuh terasa ringan karena bercampur letih.


"Ahhh! Pekiknya sedikit tertahan dan beranjak meminum air hangat untuk menetralkan kecemasannya, tidak lupa dia juga menyediakan air mineral hangat serta baju untuk, Raffael, dan bergegas merangkak naik ke atas tempat tidur untuk sembunyi dibalik selimut tebal. Entah kenapa dia begitu malu, kemeja tidur ini adalah pakaian tidur paling sopan yang disediakan oleh, Raffael di walk in closetnya. Beberapa lingerie **** berjajar tergantung rapi namun dia masih terlalu malu untuk memakainya.


Ceklekk....! Pintu kamar mandi terbuka diikuti langkah kaki, Raffael keluar dengan masih menggunakan bathrobe.


Pria tampan itu dengan segera meraih laptopnya di atas meja, sesaat seperti sedang mengecek sesuatu. Suasana hening, Key melirik sebentar dan menatap punggungnya yang tegap sedang serius di depan layar.


Isshh... Kenapa aku yang terkesan tidak sabar untuk tidur dengannya. Padahal jelas-jelas hati ini berdebar tidak karuan saat berada didekatnya. Oh, my God, Key


apa benar kau sudah siap menghadapi kebrutalan, Raffael?


Perempuan cantik itu bergidik dan semakin menenggelamkan tubuhnya dibalik selimut tebal menyisakan kepalanya saja, tetapi tetap saja gelisah tidak karuan dan sulit untuk terpejam.


Gleg... Gleg... Raffael menenggak minuman hangat yang telah disediakan. Dia menoleh ke tempat tidur dan mengulum senyum menatap, Key yang bergelung selimut, terbaring dengan memiringkan tubuhnya dengan posisi tidur membelakanginya. Dengan pelan Raffael menanggalkan bathrobenya dan hanya meninggalkan clana Boxer ketat dan mengexpos perut sixspacksnya yang bersekat- sekat indah, dan dengan pelan tidur disampingnya. Pria itu menatap langit- langit kamarnya dengan bertumpu pada kedua tangannya dengan pikiran menerawang.


Jantung Key berdebar kencang menyadari ada pergerakan halus disampingnya dan susah payah untuk memejamkan matanya. Rasa kantuknya mendadak hilang membayangkan, Raffael yang tidur satu ranjang dengannya. Tubuhnya harus mulai membiasakan diri ada orang lain disampingnya, tetapi tetap saja Ia tidak bisa menghalau rasa gugupnya.


Raffael, apakah dia sudah tidur. Kenapa dia diam saja? Key ingin membalik badan tetapi tubuhnya terasa kaku, karena rasa nervous yang berlebihan. Dia memang bersahabat dengan Raffael dari semasa sekolah, tetapi baru beberapa bulan saja resmi menjalin kasih lalu menikah. Pemandangan seperti sekarang masih awam untuknya.


"Sayang, apakah kau sudah tidur?" Raffael tersenyum menyadari Key pura-pura tertidur.


"Hemmm...," gumamnya. Jantungnya berdebar kencang mendengar suara Raffael. Desiran-desiran aneh mulai menjalar merambat masuk ke dalam tubuh, menghadirkan sensasi melayang ringan dalam dirinya, dengan perasaan yang susah untuk dijabarkan.


Raffael membalikkan badannya dengan begitu lembut dan mendekapnya sayang. Degup jantung mereka berdetak seirama menempel ketat pada dada bidang yang mengalirkan rasa hangat dan perasaan nyaman dalam dirinya. Keduanya saling menatap dengan kelam. Key menelan Salivanya pelan menyadari, Raffael bertelanjang dada. Begitu indah pahatan-pahatan dari otot tubuhnya yang tersusun rapi terasa begitu sempurna dan susah payah otaknya untuk berpikir jernih.


Oh, My God he is so ****...


Key memejamkan matanya saat dirasakan sentuhan lembut pada wajahnya, lalu dengan perlahan tangan Raffael turun ke bawah untuk mengusap bibirnya yang merekah dan sebelah tangannya lagi meraih jemarinya lalu meletakkannya pada perut sixspacknya.


"Baby...


"Raffael...," lenguhan indah lolos dari bibirnya, memperdengarkan suaranya yang begitu ****. Napasnya seketika memburu mengeluarkan hawa hangat yang keluar dari setiap ******* napasnya. Dengan begitu elegan Raffael, menariknya kepangkuannya. Diitatapnya wajah cantik berbalut kemeja tidur **** yang mengexpos paha mulusnya dengan tatapan kelam menahan gairah dan kembali tersenyum dalam hati. Wanita itu setengah terpejam merasakan tubuhnya kembali meremang dalam buaian indah yang membuat darahnya berdesir- desir halus dengan tangan sedikit gemetaran.


Apakah saat ini akan benar-benar terjadi? Bagaimana ini," batinnya tak karuan


"Kamu memakai kemejaku, sayang?" Raffael kembali tersenyum dan mencubit gemas pipinya lalu mendekapnya sayang dengan menyandarkan pucuk kepalanya pada dada bidangnya, dan menyandarkan kepalanya sendiri pada ujung tepat tidurnya yang begitu besar dan mewah. Raffael menarik napasnya dengan berat dan memejamkan matanya


sesaat.



"Maaf, pakaianku tidak ada, Mita tidak membawanya kemari," dengan wajah sedikit tersipu.


"Aku yang menyuruhnya." Raffael tersenyum penuh kemenangan dan kembali menyelisik netra indahnya saat merasakan tangan Key yang sedikit gemetaran, lagi- lagi membuatnya tersenyum dalam hati.


"Apakah kau setakut itu, sayang?"


Aku akan pelan-pelan, baby." Raffael menggoda, Key yang merona, hatinya tidak tega untuk meminta haknya, mengingat Key kelelahan hampir terjatuh dua kali saat memasuki rumahnya. Perempuan itu hanya tertunduk malu bertumpu pada tubuh Raffael.


"Terimakasih untuk pestanya yang luar biasa. Aku sangat bahagia Raffael."


"Kau pantas mendapatkannya. Semua milikku untukmu," Raffael mengusap wajahnya dengan sayang dan mengambil ciuman dengan sangat dalam dan penuh perasaan. Dan kembali pikirannya berperang mengingat Darriel.


Darriel tidak berhenti begitu saja, walaupun hukuman mati telah menantinya. Sepertinya mereka menyuruh orang-orang sekelilingnya untuk tidak membiarkan aku dan Key hidup tenang. Ini tidak bisa di biarkan.

__ADS_1


"Apakah ada sesuatu yang kau pikirkan? netranya memberanikan diri menatap wajah pangeran cintanya yang mendadak berubah. Posisinya yang begitu intim membuat dirinya sangat malu dan bergerak gelisah saat kulit keduanya bergesekan menggelitik rasa dengan sesekali, Raffael mengusap punggungnya dengan lembut.


Raffael menatap intens wajahnya yang merona. Wanita yang membuatnya bertekuk lutut dan tidak habis kata untuk selalu memujanya. Kembali tangannya mengusap rambutnya dengan sayang dan Key mencari kenyamanan dengan memiringkan kepalanya, meringkuk pada dada bidangnya. Sumpah demi apapun dia menginginkan wanita itu seutuhnya.


"Sekarang aku adalah istrimu tempatmu berbagi, bukankah kau tidak menyukainya kalau aku sering menyimpan kesulitanku sendiri," ucapnya sambil mendongakkan wajahnya memberanikan diri menatap wajah tampan, Raffael .


"Sayang, berjanjilah padaku, kau tidak akan mimpi buruk lagi," iris kelamnya menatap dengan begitu lekat dan berharap, tidak akan pernah melihat, Key, berteriak dengan keringat dingin, wajah memucat dengan tubuh gemetaran. Kejadian yang sangat disesalinya seumur hidupnya dan sekarang dirinya tahu sesuatu mengincar, Key untuk hal yang lebih buruk lagi. Apa lagi saat semua orang tahu, sekarang ini Key adalah bagian dari hidupnya dan merupakan titik lemah, Raffael.


"Mulai malam ini aku cuma akan mimpi indah bersamamu," Raffael. Sudah jangan dipikirkan lagi, aku baik-baik saja..." ucapnya lirih.


"Sayang, orang itu sekarang sudah tertangkap," jelas Raffael memberitahu.


Sepasang iris kelamnya kembali menelisik ingin melihat reaksinya.


"Siapa mereka, Raffael?" Setenang mungkin, Key membenahi posisinya dan duduk menyender disampingnya dengan menarik selimut dan bersiap untuk mendengarkan ceritanya.


"Kau selalu benar. Aku yang salah, maafkan aku...," ujarnya lirih dengan pandangan lurus kedepan.


"Apa maksudmu? Kenapa minta maaf kepadaku?" Netra indahnya menatap tak berkedip meminta sebuah penjelasan.


"Maafkan aku, aku sempat mencurigai Andreas," ujarnya berterus terang. Dirinya tidak berniat menyembunyikan apapun yang berkaitan dengan rival cintanya itu.


"Itu artinya____"


"Andreas sempat dipanggil pihak berwajib untuk diperiksa. Saat pelaku itu menyebut namanya. Tetapi tidak ada bukti yang mengarah kepadanya," Raffael dengan cepat memotong pertanyaan,Key. "Dan aku sempat meladeni permintaannya untuk bertemu denganku sebelum malam bujang itu."


"Udara sangat dingin," tangannya memakaikan kaos tipis pada Raffael yang sudah dipersiapkan di atas tempat tidur.


"Jangan membahas itu lagi, Kau mencurigainya karena ada alasannya. Orang itu menyebut namanya, pasti semua orang akan berpikiran sama dengamu," jelasnya bijak. Ia paham Raffael sangat sensitif kalau sudah berurusan dengan, Andreas dan dia sebisa mungkin mendinginkan suasana hatinya.


"Dia tidak datang kepesta kita, apakah kau____"


"Dia sendiri yang meminta. Dia tidak akan bertemu denganku sebelum berhasil membuktikannya."


Syukurlah Raffael tidak melakukan kesalahan. Aku takut dia tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Kamu tenang saja, aku tidak sebodoh itu. Aku mendengarkanmu. Aku tidak memungkirinya dia pernah begitu baik padamu," ujarnya pelan dengan mimik wajah yang sulit ditebak.


"Raffael, apapun yang kau lakukan, aku selalu percaya padamu. Kau terbaik. Aku cuma mencintaimu." Key menggenggam tangannya dan merebahkan kepalanya di bahunya.


"Lalu, siapa mereka?" tanyanya kemudian.


Suasana hening sesaat...


"Dia adalah, Clara," jawabnya malas.


"Wanita itu! Aku pernah melihat dia datang ke kantormu."


"Baby.... aku tidak pernah ada apa-apa dengannya."


"Dengan kau menikahi aku hari ini, tidak ada alasan bagiku untuk tidak percaya padamu." Keduanya saling menatap dengan dalam dan diam-diam Raffael Juga mulai mengendurkan rasa cemburunya pada, Andreas. Key adalah istrinya, miliknya dan sekarang ini dia bisa menginginkan apapun pada wanita itu.


____________________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Jangan lupa untuk like dan komennya, ya? Terimakasih ๐Ÿ™


__ADS_2