
"Nona tetap di sini. Saya akan telepon Tuan muda, ok?" Key yang sudah merasakan firasat tidak enak sejak persidangan, tidak bisa menutupi
rasa gelisahnya.
Perempuan cantik itu hanya mengangguk lesu. Kalau saja dirinya tidak ingat ada kedua orang tua Raffael di Mansion, yang harus dijaga perasaannya, pasti dia sudah histeris.
Jasson menyuruh Jordy untuk menelusuri situs berita itu. Sementara
Raffael tidak bisa menutupi rasa kesalnya menerima panggilan Jasson. Yang memberitahukan bahwa, foto-foto penyerangan yang baru saja terjadi, berhasil di abadikan seseorang dan di muat dalam sebuah situs berita.
"Jordan, cepatlah sedikit. Key, sangat mencemaskanku. Sialan! Peristiwa yang baru saja terjadi, berhasil diabadikan oleh seseorang dan memuatnya dalam situs berita."
"Tenangkan dirimu, Raffael. Opini publik begitu memihak kepada kita. Mereka semakin yakin bahwa Darriel sedang tidak baik-baik saja dalam kasus ini. Yang harus kita perhatikan sekarang adalah, "bagaimana menenangkan Nona ,Key, Tuan dan Nyonya besar kalau sampai mengetahui hal ini semua."
"Ini yang aku cemaskan, Jordan!"
"Iya. Iya. Aku mengerti. Tenanglah sedikit
Saja. Jordan memasang headset handsfree dan terdengar mengkomando seseorang.
"Introgasi mereka sampai buka mulut!" Dan selanjutnya cepat serahkan kepada pihak yang berwajib,"Jordan memberikan aba-aba untuk mencari tahu tentang siapa peneror berkendara, yang membabi buta, melancarkan serangan dengan gas air mata itu.
Raffael mengepalkan tangannya. Dia hanya mampu mengumpat dalam hatinya. Ia bisa menghentikan berita itu, supaya tidak di perlebar. Tetapi kenyataan Key menangkap hal yang tidak diinginkan membuatnya sangat menyesal.
Mobil memasuki kawasan mansion dan diikuti oleh teriakan seorang wanita yang berlari dengan tergesa menghampirinya. Key tidak sabar menunggu Raffael masuk, untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
"Raffael!" Wanita itu menghamburkan diri kepelukannya, saat dilihatnya sang kekasih turun dari mobilnya dan memeluknya dengan erat. Sementara Jordan berlalu memarkirkan mobilnya di basemant.
"Cara, Apa yang kau lakukan? Kenapa berlarian seperti ini?" Aku baik-baik saja. Sayang, aku mohon ...."
"Aku mencemaskanmu, Raffael," jawabnya setengah terisak. Netra indahnya terlihat sembab menyelisik wajah sang kekasih, mencari sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Tidak terjadi apa-apa, padaku, ok?" Baby, kalau kamu seperti ini, nanti mereka akan cemas dan berpikir macam-macam," tangannya mengusap lembut bahunya dengan rahangnya yang mengetat.
Ia sudah menduga Key akan bereaksi dengan berlebihan dan membuatnya tidak berhenti mengumpat dalam hati.
Penenor itu harus berhasil buka mulut.
Siapa yang sudah mengincar kematianku
dua hari ini. Ini tidak bisa dibiarkan.
Key mengangguk lalu menyeka air matanya perlahan. Keduanya saling menatap dengan dalam. Raffael menggenggam tangannya dengan lembut, lalu mengajaknya masuk ke dalam Mansion, seakan tidak terjadi apa-apa.
"Sayang. Sudah pulang?" Key, hemm...
sepertinya kamu tidak sabar untuk bertemu, Raffael," goda Nyoya besar.
"Mami. Mami tidak beristirahat? Saya pikir mami sedang tidur siang?"
"Tadi menelpon sahabat mami dan adik mami yang tinggal di New York, sayang. Bilang kalau bulan depan kalian menikah.
Kalian tenang saja, mami akan persiapkan semua," antusiasnya.
__ADS_1
"Ada wedding organizer yang mengurusnya, mami jangan terlalu capek," protes Raffael. Keduanya saling menatap dan tersenyum.
"Iya, Mami tahu. Tapi tetap saja, Mami harus memantau sendiri, Mami Ingin pernikahan kalian sempurna,"jawabnya. Nyonya besar tidak berhenti untuk tersenyum membayangkan pernikahan putra semata wayangnya dengan Key.
"Sekarang Mami beristirahat," perintah Raffael yang hanya diiringi oleh anggukan wanita itu. Key berjalan ke Pantry dan memberikan segelas air putih, untuk Raffael lalu menyuruhnya untuk makan siang .
"Kau melewatkan makan siangmu. Aku sengaja menunggumu."
"Cara, aku sudah bilang, tidak usah menunggu ku. Kalau lapar makanlah lebih dahulu!" Hanya tatapan horor sang
kekasih yang Key dapatkan. Raffael tidak suka melihatnya menahan lapar karena harus menunggunya.
"Aku memikirkan mu? jawabnya dengan bersemu merah.
"Sayang, please....
"Iya. Tidak akan lagi."
"Apakah Papa baik-baik saja ?"
"Syukurlah Papa baik-baik saja. Tadi dokter sudah memeriksanya."
"Bagus!"
Keadaan hening, hanya bunyi denting sendok mereka yang terdengar. Raffael tidak berhenti bersyukur dalam hatinya. Menyaksikan bagaimana wanita itu memperlakukan dirinya. Senyumnya
tersungging manis di sudut bibirnya, melihat Key yang menambahkan lauk dan nasi ke dalam piringnya. Hatinya sudah tidak sabar ingin mengecap hidup dalam mahligai rumah tangga dengannya.
Bersama Key, Raffael, merasakan hal sederhana menjadi teramat istimewa.
mampu mendinginkan suasana hatinya.
Berbeda dengan kebanyakan orang, terlahir dengan bergelimang harta lantas
membuatnya seenaknya saja. Key terlahir mandiri dan tidak mengandalkan orang lain saja. Hal ini yang memacu Raffael untuk membuatnya bahagia.
Perempuan itu begitu bersahaja. Dan merasa tidak mempunyai apa-apa. Karena Key beranggapan semua yang di punyai manusia adalah titipan Tuhan dan tidak perlu terlalu mendewakannya. Salah besar merebut hatinya dengan sebuah tahta, Key hanya memuji ketulusan hati yang lahir dari sesama.
"Apakah kau akan kenyang dengan melihatku? Kalau aku sudah tua, "Apakah kau akan semesra itu menatapku?" Saat
menyadari sang kekasih tidak berkedip menyasar wajahnya.
Raffael tersenyum ibu jarinya mengusap sisa air mata yang mengering pada kelopak matanya.
"Setelah makan kau harus menceritakan semuanya padaku. Kau berhutang penjelasan untuk itu. Aku tahu, kau telah menyembunyikan sesuatu," cecar Key membalas tatapan Raffael dengan sendok yang masih berada ditangannya.
"Iya," jawabnya dengan sedikit ragu. Dalam hati Raffael mengutuk orang yang sudah lancang menyebarkan berita itu.
Beruntung Jordy bergerak cepat. Sebagai
pengusaha yang menguasai sektor media
besar, Raffael dengan mudah untuk mengendalikannya.
__ADS_1
Key menyodorkan potongan buah segar sebagai penutup makan siang mereka.
Hari terasa sangat panjang. Mereka menikmati waktu bersantai untuk duduk
di halaman belakang Mansion.
Menikmati semilir angin yang sesekali bertiup kencang, walaupun cuaca diluar sangatlah panas. Langit terlihat semakin biru kontras dengan nuansa alam yang menghijau.
"Penjagaan sepanjang jalan sangat ketat. Di Mansion, ini tidaklah wajar. Apalagi setelah ada penyerangan itu, "Apakah ada hal lain yang kau sembunyikan?" tanyanya menyelidik.
Raffael diam seperti memikirkan sesuatu, tidak mungkin dia akan menjawab Jujur bahwa, dua hari berturut-turut telah ada seseorang yang menyerangnya.
"Raffael! Apakah semua tidak baik-baik saja?!
"Sayang. Barusan hanya orang iseng saja. Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin
kejadiannya saja bertepatan dengan agenda persidangan.
"Kenapa penjagaan sangat ketat? Kau berbohong padaku? Key mendongakan wajahnya dengan sorot mata penuh tanda tanya.
"Baby please," bisiknya. Tangannya menarik Key kedalam pelukannya. Raffael membenci Key yang banyak bertanya dan hanya akan berbuah kecemasan pada dirinya.
"Sayang. Aku mohon ..." Mungkin ada segelintir orang yang terganggu dengan
pengungkapan kasus ini, tetapi jangan terlalu banyak di pikirkan. Maaf___"
Key yang bisa menebak arah pembicaraan Raffael, makin mengeratkan pelukannya. Ia sudah menduga Raffael tidak baik-baik saja.
"Kamu bisa menyembunyikan sesuatu, tetapi hatiku tidak bisa kau bohongi, Aku sangat mengenalmu. Kau tidak mungkin bercerita sesuatu yang___"
"Baby. Sudah. Semua tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tahu kamu adalah perempuan yang sangat kuat," bisiknya.
"Sayang, demi kedua orang tua kita, "please."
"Tetapi aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri, kalau sampai terjadi sesuatu padamu. Aku benar-benar takut, Raffael, "Kau tahu semua orang di sini kuat karena keberadaan mu,"
"Tidak semudah itu mereka menundukkan ku, "Bukankah kau mempunyai suatu keyakinan, Tuhan selalu bersama dengan orang-orang yang benar. Berpikirlah seperti itu, sayang."
Key mendongakkan kepalanya. "Apakah malam ini kau menginap di Mansion lagi?"
"Kenapa? Raffael tersenyum menatapnya. "Apakah kau tidak sabar untuk tidur denganku, Cara?" tabokkan kecil mendarat dengan sempurna di dada
bidang milik Raffael.
"Itu mau mu!" Bisa -bisanya kau bercanda saat suasana seperti ini!" bibirnya mengerucut gemas.
"Aku sudah katakan, tidak perlu terlalu cemas, musuh akan tertawa kalau melihat kita lemah, sayang." Key berpikir sejenak lalu mengangguk.
"Mau apa kau?" telunjuknya menahan bibir Raffael yang hendak mulai nakal. Pria tampan itu hanya menatapnya dengan kelam dan membuat Key salah tingkah.
________________________
Catatan penulis:
__ADS_1
Sahabat tersayang, jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya, ya! karena itu adalah penyemangat untuk penulis ☺️
terimakasih yang masih setia untuk membaca. Take care dear😍