
Angin berhembus menyapu dinginnya pagi, dengan menerbangkan dedaunan yang sudah enggan untuk bertahan pada dahannya. Sesekali desiran hawa dingin menyeruak menembus pori-pori kulitnya. Dengan memakai tracksuit lengan panjang keluaran brand ternama, dipadu dengan tudung hoddie berwarna gelap Key melakukan joging ringan di taman belakang Mansion. Sesekali napasnya tersengal karena kelelahan.
Peluh bercucuran menetes bagai buih meluncur begitu deras dari wajah cantiknya dan buru-buru menyeka dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Duduk menghadap kesebuah taman buatan, yang semakin indah, dengan warna-warni bunga sesekali sambil meneguk air mineral yang dibawanya.
Gleg... gleg
"Kenapa mendadak sakit sekali?" Wajahnya terlihat pucat dengan kedua tangannya memegang perutnya yang mendadak nyeri. Key menyender pada kursi yang melingkar di tanam, matanya terpejam menahan perutnya yang melilit. Keringat dingin mulai bercucuran dan dirasakan badannya terasa ringan, gemetaran dan matanya berkunang-kunang.
"Ada apa denganku?"Apakah aku terlalu keras berolahraga?" Ahh, Tidak! Ini hanyalah joging biasa," desisnya menyakinkan diri dengan mata tetap terpejam.
Setelah beberapa saat tidak ada tanda-tanda membaik, dengan sedikit terseok, Ia berniat untuk kembali ke Mansion walaupun dengan susah payah. Bukannya sampai pada tujuan badannya mendadak oleng dan limbung, sesaat yang terlihat hanya kegelapan.
"Ya, Tuhan, tolonglah hambamu," doanya diantara kesadarannya yang masih tersisa. Namun selanjutnya hanya benar-benar gelap dan dirinya tidak mengingat apa-apa lagi. Key terkapar tidak sadarkan diri dan membuat Jasson yang mengawasinya kaget bukan main.
"Nona.....!!! Teriak Jasson panik, secepat kilat berlari mendekat, dengan segera membopong tubuh, Key, membawanya masuk ke Mansion.
"Maafkan saya, Nona!" Hatinya merasa bersalah karena terpaksa harus membopong tubuh wanita kesayangan Tuan mudanya itu.
Nyonya dan tuan Tirta Wijaya terlihat cemas dan menyuruh membaringkan tubuhnya di kamar.
"Tuan muda, Raffael." Jasson tidak bisa berpikir lagi dan dengan tergesa melakukan panggilan kepadanya.
"Apa...!! Bagaimana bisa!! teriak Raffael panik, tangannya dengan cepat menyambar kunci mobilnya dengan pikirannya sangat kacau. Kalau saja dirinya tidak ingat ada kedua orang tua Key, Raffael sudah menggunakan pintu rahasia yang terhubung langsung dengan Basemant Mansion.
Bersyukur pagi itu dia datang ke Rumah pribadinya, yang masih satu lokasi dengan Mansion yang terdapat lorong bawah tanah yang sengaja dibangun untuk menghubungkan satu dengan yang lainnya untuk kepentingan khusus. Tidak butuh waktu lama Raffael melesat dengan Buggati andalannya untuk sampai tujuan.
"Cara!! Jangan bercanda, Ini sama sekali tidak lucu, "Beraninya kau membuatku seperti ini," Raffael melompat dari mobilnya dan membiarkan anak buah Jasson memarkirkannya.
"Jasson! Apa yang terjadi! Bagaimana bisa! tanya, Raffael tidak sabar.
"Nona, saya temukan jatuh pingsan, saat sedang berolahraga di taman belakang Mansion, tuan muda,"Jasson merasa cemas dengan wajah Ikut memucat.
"Apa!!!
"Sekarang Nona ada dikamarnya bersama Tuan dan nyonya Tirta Wijaya." jelas Jasson lagi setengah ketakutan. Badan tinggi besarnya ikut bergerak gemetar karena sudah bisa menebak Raffael akan marah besar padanya.
"Jangan bilang kau terlambat menemukannya, Jasson, "atau aku tidak akan mengampunimu!!" Teriak Raffael dengan mata melotot tajam, memperlihatkan rahangnya yang mengeras dengan tangan menarik kerah bajunya, yang seketika membuatnya meringis menahan sakit.
"Tidak. Saya mengawasi nona saat berolahraga dari jauh dan dokter sedang menuju kemari." Matanya memberanikan diri menatap Raffael.
"Persiapkan mobil, jasson, Cepat!!" tangannya melepas kasar kerah bajunya membuat kepalanya sedikit oleng, tetapi bodyguard andalannya itu sudah sangat hafal dengan tingkah laku Tuan mudanya itu.
Raffael bergegas menuju sebuah ruangan istimewa, dilihatnya wajah yang memucat terbaring masih dengan track suit melakat pada tubuhnya. Raffael bergerak gelisah dan sesekali melirik jam tangannya dengan resah menunggu kedatangan Dokter, sambil sesekali membangunkan Key yang diam saja.
"Nak. Key hanya pingsan," hibur Nyonya Tirta Wijaya walaupun hatinya juga terlihat cemas. Sesekali dilihatnya beliau mengoleskan minyak beraroma kuat untuk memancing Indra penciuman, Key.
"Mama, kenapa lama sekali? Raffael kembali gelisah berdiri mondar-mandir tidak karuan.Tidak lama berselang yang dinantinya akhirnya menampakkan wajahnya. Dengan penuh hormat sang dokter membungkukkan badannya,tetapi itu tidak berlaku bagi Raffael melainkan
dengan segera memerintahkan untuk memeriksa,Key.
"Dokter, tolong calon istri saya," perintahnya tidak bisa menutupi ketegangan pada wajahnya yang sedikit kusut.
Dengan segera dokter Josep melaksanakan tindakan medis dengan seksama lalu menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Ada yang terjadi?! Kenapa belum siuman?! Lakukan yang terbaik dokter, tolong! Berapapun biayanya saya akan membayarnya." Raffael semakin tidak sabar. Dirinya ketakutan terjadi sesuatu yang buruk kepada belahan jiwanya itu, bahkan menyuruh dokter memeriksanya berulang-ulang.
Dokter Josep tersenyum menatap kecemasan putra mahkota Tuan Wijaya itu lalu dengan perlahan menjelaskan sesuatu kepada Raffael.
"Tuan muda tidak perlu cemas. Nona hanya pingsan, disamping dirinya sedang terserang anemia, karena Nona menunjukkan sedang awal-awal datang bulan. Mungkin Nona tidak menyadarinya karena Baru awal saja," jelas dokter Josep lalu meresepkan obat dan vitamin penambah darah untuk Key.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Tuan muda."
"Cara, bangunlah," panggilnya pelan setengah berbisik ditelinga, Key. Tangannya terulur membelai lembut rambutnya dengan penuh kasih.
"Berani kau berlama-lama untuk tidur, aku tidak akan pernah memaafkan mu," bisiknya lagi. Walaupun hanya pingsan Raffael cemas bukan main, hal ini mengingatkan Maminya yang juga pernah mengalami kejadian serupa.
Dokter Josep tersenyum melihat kelakuan, putra Tunggal salah satu penguasa tersebut. Dan sedikit pun tidak berani untuk beranjak pergi, walaupun praktek sedang menunggu.
"Dokter kenapa lama sekali? Dengan kesal dan cemas Raffael menyuruhnya untuk memeriksanya kembali."
"Sayang, Nyoya besar panik beliau mengetahui dari Jasson dan menyusul ke Mansion.
"Mami,Key, mi kenapa lama sekali dia tidak bangun?"Protes Raffael frustasi dan menjambak rambutnya dengan keras.
"Tenang sayang, bersabarlah. Sebentar lagi dia akan siuman. Tenangkan dirimu, Nyoya besar tidak kalah cemas, karena belum mengetahui alasan Key jatuh pingsan.
Nyonya Tirtawijaya berdoa dengan khusyuk dan membisikan sesuatu dengan pelan lalu mencium kening Key dengan sayang. Matanya terpejam berharap Key akan segera sadar.
"Sayang, bangunlah. Semua orang begitu menyayangimu. Apakah kamu tidak peduli lagi dengan mama dan juga mereka, hemmm...? lalu dengan pelan menepuk pipi Key dengan lembut.
Key mengerjab membuka matanya perlahan. Samar-samar dilihatnya banyak orang disekelilingnya. Kedua netranya menoleh kesamping kiri dan kanan dan melihat wajah-wajah cemas sedang menatapnya. Hingga disuatu tempat yang tidak jauh darinya terbaring, tampak Raffael yang begitu posesif menatapnya dengan begitu intens dengan sebelah tangannya menggenggam jemarinya.
"Apa yang terjadi kepadaku? tanya'nya kebingungan. Dirinya merasa kepalanya sedikit berat dan mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
"Nona pingsan saat berolahraga," jawab dokter Josep sambil tersenyum.
"Tidak dokter, hanya sedikit terasa berat saja.
"Nona terkena anemia saat datang bulan. Ini biasa terjadi kepada orang yang sedang menstruasi. Sudah saya resepkan obat dan Jangan lupa untuk meminum vitamin penambah darahnya," perintah dokter Josep tidak lupa beliau mengingatkan Key untuk tidak melakukan aktivitas berat, makan tepat waktu, tidak stress berlebihan dan tidur dengan teratur.
"Terimakasih dokter," Key berusaha untuk duduk. Ada rasa tidak nyaman dalam dirinya. Key tidak menyadari tamu bulanannya datang lebih awal, bahkan dirinya yakin sekali sewaktu olahraga belum ada tanda-tanda dirinya mendapatkannya.
Semua merasa lega hingga dokter Josep melakukan pamit.
"Sayang, mama tinggal dahulu, mungkin Rafael ingin berbicara denganmu? Lalu kedua nyonya dan tuan besar tersebut berlalu untuk sekedar mengobrol di ruang tamu.
Suasana terasa hening. Key yang masih lengkap dengan tracksuitnya tampak sekali ada rasa tidak nyaman dalam dirinya. Apalagi saat Raffael menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk dijabarkan.
"Maafkan aku! Key menunduk malu menghindari tatapan mata, Raffael yang sangat intens dan mengintimidasi.
"Bagaimana bisa, kamu berolahraga di saat tamu bulananmu itu datang! Sergah Raffael kesal karena Key ceroboh dan membuatnya ketakutan setengah mati.
"Tapi aku tidak merasakannya waktu berolahraga. Sehabis berolahraga aku hanya merasakan nyeri berlebihan dan badanku terasa gemetaran."
"Cara, apakah kamu tidak tau cuaca sangat dingin tidak seharusnya kamu berolahraga outdoor," Raffael menasihatinya dengan penuh penekanan. Ada rasa bersalah dalam dirinya mengingat akhir-akhir ini Key sibuk mengatur pola makannya dan mengabaikan diri sendiri.
"Aku hanya ingin menghirup udara pagi, karena aku merasa bosan,"ujarnya tanpa suatu kebohongan.
"Apakah sesakit itu?" Iris mata kelamnya menatap lekat manik mata Key dan menggenggam tangannya dengan begitu lembut. Dirinya tidak bisa membayangkan, Key menderita disetiap bulannya dan berniat untuk memeriksanya secara intensif supaya tidak ada keluhan seperti ini lagi.
__ADS_1
"Tidak, ini bahkan untuk pertama kalinya aku pingsan. Aku lupa minum vitamin penambah darah karena ini datang lebih cepat dan aku tidak menyadarinya." Ia menunduk malu membahas hal yang dianggapnya tabu, karena dirinya belum resmi menikah dengan,Raffael dan membuat pria tampan itu tersenyum di sudut bibirnya.
"Apakah kau mau kemar mandi? Raffael menangkap ketidaknyamanan darinya, yang diikuti oleh anggukan samar dengan mimik muka menyiratkan Raffael untuk meninggalkannya sebentar.
Raffael mengangkat tubuhnya dengan cepat membuat matanya membola dan menurunkannya di depan pintu kamar mandi.
"Raffael! Aku bisa jalan sendiri."
"Jangan keras kepala, Cara."
Akan aku panggilkan mita untuk membantumu."
Tidak lama berselang Mita datang dan menyiapkan baju ganti untuk Key atas perintah Raffael.
"Mita, berikan baju santaiku, cukup kamu tunggu di sini," pinta Key setelah memastikan Raffael keluar dari kamarnya.
"Baik, Nona," jawabnya Mita patuh.
"Raffael bisa-bisanya kamu menyuruh Mita membantuku di kamar mandi," gerutunya kesal.
Dengan perlahan key mulai mengguyur badannya dengan air hangat. Badannya terasa lengket. Dirinya tersenyum mendapati bercak merah tamu bulanannya dan menggeleng pelan.
"Ahh...!! memalukan. Gara-gara kau semua orang menjadi cemas," kesalnya dengan menutup mukanya dan buru-buru mandi
Key kluar dengan wajah lebih segar. Kebiasaannya memakai dress santai warna gelap tidak terbantahkan. Warna itu membuat kontras dengan kulit putihnya yang terlihat semakin menawan tanpa polesan sedikitpun makeup diwajahnya.
"Mita kamu boleh keluar. Terimakasih." Key menyisir rambutnya dengan pelan tetapi baru beberapa kali dirasakan sisir yang dipegangnya berpindah tangan dan merasakan sentuhan tangan kekar itu mulai menyisir rambutnya dengan lembut.
" Apakah sudah lebih baik?"
"Aku tidak apa-apa."
Kamu sibuk mengurusiku, memberi Vitamin padaku, mengatur pola makankku, tetapi kamu lupa dengan diri kamu sendiri, Cara," protes Raffael sedikit kesal. Bukan hal baru lagi Key lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri.
"Sekali saja pikiran dirimu sendiri, dan jangan membuatku cemas." Raffael yang punya kepekaan extra sulit untuk mengendalikan dirinya kalau sudah berurusan dengan kekasihnya itu .
"Ini tidak akan terulang lagi, maafkan aku," Key berdiri membalikkan badannya untuk menatap wajah Raffael, lalu mencium pipinya dengan gemas. Untuk membungkam mulutnya yang sangat bawel, kalau sudah berurusan dengan dirinya.
Raffael memejamkan matanya. "Jangan menggodaku,cara! Suatu saat kita menikah jangan lakukan ini padaku, karena pasti akan berubah haluan. Kamu boleh saja selamat, karena keadaanmu, tetapi tentu saja keadaan berbeda setelah kita menikah nanti," goda Raffael tersenyum smirk menatap wajahnya.
"Tuan muda otakmu itu," seloroh Key dengan mengerucut bibirnya.
Mita datang kembali dengan semangkuk sup cream hangat ditangannya, dengan cekatan Raffael menerimanya dan menyuapkan kepada nya.
"Aku bisa makan sendiri.Jangan seperti ini. Aku tidak sedang sakit, Raffael! Tetapi ini biasa untuk seorang perempuan."
"Tapi kamu pingsan itu sangat tidak lucu!" Bahkan kamu cukup lama tidak terbangun," protes Raffael jengah karena Key menyepelekan keadaannya.
"Makan yang banyak, setelah ini kita ke Rumah sakit."
Key terdiam sambil menikmati suapan demi suapan dari Raffael dan tidak bisa memungkiri dirinya nervous berlebihan menjelang hari pernikahan yang tinggal beberapa saat lagi dan membuatnya sulit untuk tidur.
_________________
Catatan penulis:
__ADS_1
Sahabat tersayang 🌹
jangan lupa untuk tinggalkan like dan komentarnya, ya. Terimakasih 🙏