
Key mencoba untuk biasa saja , walaupun degub jantungnya bergemuruh. Sebuah pertanyaan yang ingin
Ia hindari sejauh ini. Wajahnya mendadak
berubah, namun Ia sadar orang yang sedang di hadapannya menanti sebuah jawaban.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Kamu sangat mengenal aku dan juga Raffael,kan? Seperti yang kamu lihat. Sejak dahulu kita hanya bersahabat," jawabnya bohong. Walau tidak dipungkiri dari dalam hatinya, bibirnya terasa berat untuk mengatakan itu semua.
Andreas tersenyum mendengarnya. Sebuah jawaban yang sesuai dengan keinginannya. Ia ingin sekali berusaha memenangkan hati perempuan yang kini sangat pintar mencuri hati dan mewarnai hari-harinya.
"Apakah kau tahu, dalam waktu dekat, Raffael akan bertunangan dengan, Nova?" Key tak sadar telah memberikan celah untuk Andreas mendekat.
Giliran pria itu yang dibuatnya kaget setengah mati. Tidak pernah terdengar Raffael menjalin hubungan dengan seorang wanita. Meskipun tidak menampik suatu hal, Raffael bisa memilih dan menginginkan seorang wanita dan kapanpun sesuai inginnya
"Tunangan?" Andreas menatap netra indah itu untuk mencari kebenaran, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa Key sedang
berbohong.
"Hari ini, Nova, calon tunangan Raffael baru saja tiba dari Sydney," jelasnya.
Andreas bersorak dalam hatinya. Itu artinya Key adalah orang yang bebas, tidak sedang terikat dengan siapapun.
Semakin bersemangat untuk melakukan hati peri cantik itu.
"Aku benar-benar terkejut sekaligus bahagia mendengarnya. Karena selama ini, aku tidak melihat Raffael sedang serius menjalin hubungan dengan siapapun. Begitu pun dengan Nova. Dia sangat suka membuat kejutan. Baiklah. ayo kita kembali ke kantor," ajaknya bersemangat. Hampir saja meraih jemari tangan wanita itu tetapi mengurungkan niatnya. Andreas tidak ingin terburu-buru.
*****
Honey aku merindukanmu," terdengar suara manja Nova. Dengan tanpa tahu malu, langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Raffael dengan gemas. Sang pemilik wajah tampan itu masih bergeming dengan ponsel di tangannya dengan sesekali membalas pesan. Mengabaikan Nova yang terus mencuri perhatian.
"Sayang, tinggalkanlah benda bodohmu itu, disaat kita sedang bersama!" protesnya.
"Hemm ...."Raffael terlihat cuek.
"Ada telepon masuk penting. Aku harus mengangkatnya sebentar. Tangannya perlahan melepaskan pelukan Nova dan beranjak melangkah untuk menerima telepon dari seseorang. Nova menggerutu dalam hatinya. Ia berpikiran begitu datang ke Apartemen, Raffael akan memperlakukannya dengan istimewa.
"Ahh!! kenapa kau masih saja menyebalkan!" protesnya dengan kesal.
Sementara Raffael terlihat sedang berbicara serius di seberang sana.
"Hemm ... Sorry rekan bisnis sedang menelepon. Penting," ucap Raffael dengan mimik muka yang serius.
"Ya!" Nova melengos dengan tatapan kesal.
"Ada apa?" kamu harus bisa menyesuaikan diri, ketika pekerjaanku
sangat banyak dan ada urusan mendadak," nasehat Raffael tanpa menoleh. Tangannya masih saja sibuk untuk membalas pesan. Nova terlihat cemberut dan memanyunkan bibirnya. Sesekali terdengar napasnya yang tersengal karena kesal.
"Menyebalkan. Aku ingin memberikan kejutan untukmu, kamu malah mengejutkanku, dengan semua urusan bisnismu," gerutu Nova kembali kesal.
Ingin rasanya aku cepat-cepat terikat dengannya. Siapa yang tidak tergila-gila padanya. Raffael sangat tampan, kaya raya dan memabukkan. Sedetikpun tidak akan aku biarkan seseorang mengambil Raffael dari diriku.
"Sabarlah, sendikit saja. Aku ada urusan
mendadak. Sepertinya kita hanya bisa
jalan-jalan di sekitar sini saja."
Nova semakin kesal dan kecewa. "Aku pikir, aku istimewa saat kembali dari Sydney."
__ADS_1
"Kita masih punya banyak waktu. Sudahlah jangan seperti anak kecil."
"Terserah kamu saja!"
"Kita berbelanja sekarang. Kamu boleh
meminta apa saja," janji, Raffael.
Mendadak kedua mata Nova berbinar bahagia. Dan secepat kilat merangkul, Raffael. "Kamu sangat sweet sekali, kalau seperti ini." Dengan senyum mengembang sempurna, membuat Raffael hanya mampu menekuk wajahnya dengan malas.
Raffael menatap smirk Nova. "Dasar wanita semua sama."
Nova pura- pura cemberut, walaupun kekesalan sudah reda.
Ingatan Raffael langsung mengarah pada Key. Perempuan yang tidak cepat
tergiur dengan harta bendanya. Entah kenapa hatinya berdenyut nyeri saat
perempuan itu bekerja keras merintis
usaha seorang diri dari pada menerima
pemberiannya dengan cuma-cuma.
"Kita lunch saja. Kamu beli semua keperluanmu lalu kembali ke apartemen.
Aku ada meeting penting dua jam lagi."
"Iya," sungut Nova malas.
"Sudahlah lain kali masih ada waktu. kamu boleh memintaku kemana saja"
Keduanya akhirnya memutuskan pergi ke sebuah Plaza, yang tidak jauh dari kantornya dan berencana untuk makan siang bersama.
Hal ini membuat Nova kehabisan akal.
"Ya, Tuhan!! Apakah kalau aku tidur di sisimu, kamupun tidak akan pernah melihatku,"ejeknya ketus.
"Jangan kencang-kencang. kecilkan volume suaramu, aku takut kupingku akan pecah." Raffael membalasnya dengan senyum smirk.
"Kamu menyebalkan!" Nova dengan memukul pundak Raffael gemas.
"Hem ... kita akan berbelanja dan anak
buahku akan mengantarmu pulang selanjutnya."
"Iya. Jangan terus diulang, Honey."
Raffael tersenyum masam dan melirik wajahnya sekilas. "Ada Hermes keluaran terbaru," pamernya.
Nova tertawa mendengarnya. "Kali ini kau harus memborongnya," balasnya mendadak semangat.
Siang itu disebuah Plaza ternama, kawasan elit ibu kota. Suasana sangat
ramai. letaknya yang berdekatan dengan
area perkantoran Antara, membuat pengunjung berlebih, karena jam istirahat makan siang.
Jasson yang bertugas mengantar Nova, membantu membawa barang belanjaan. Kedua tangannya sibuk menenteng, begitupun dengan tangan Nova yang penuh dan sedikit kerepotan. Sementara
__ADS_1
Raffael seperti biasa sibuk dengan panggilan masuk yang tanpa jeda.
Tdak jauh dari tempat Raffael berdiri. Sesosok gadis cantik sedang menatapnya sendu. Hatinya retak berulang kali. Raffael yang menyadari kehadiran Key bersama Andreas dengan segera mematikan ponselnya.
Rekannya itu tersenyum, menyadari Raffael yang terlihat kaget memaku tatapan tajam ke arahnya.
"Kau ada di sini rupanya, Raffael?"
"Kau__"
"Iya. Aku habis makan siang dengan Key."
Nova yang menyadari kehadiran Key tampak mematung tidak berkedip. Namun dengan segera dia menyesuaikan keadaan.
Key tersenyum lalu mengulurkan tangannya. "Kau pasti, Nova, senang bertemu denganmu," sapanya ramah.
Hatinya seperti teriris, namun dengan sekuat tenaga Ia memperlihatkan, kalau dia baik-baik saja.
Raffael bergeming saat menyadari Key bersama dengan Andreas dan menelan
salivanya dengan kasar. Siang itu Key sengaja mampir butik kenamaan untuk melihat koleksi terbaru sebelum kembali kantor bersama Andreas .
Sebentar lagi mereka akan bertunangan dan mungkin akan menikah. Aku harus mencoba melupakan Raffael dan terbiasa tanpa dirinya. Ya, Tuhan, apakah aku akan sanggup melihat pernikahan
mereka suatu saat nanti.
Ingin rasanya ia berlari menjauh dan menumpahkan air matanya, seandainya tidak ada Andreas bersamanya.
"Congratulation, Raffael. Key bilang, kalian akan bertunangan dalam waktu dekat ini," ucap Andreas tulus. "Jangan lupa undangannya, aku pastikan kami berdua akan datang."
Bukanya senang, Raffael seperti tersengat aliran listrik darahnya.
Entah mengapa Ia merasa tertantang mendengar ucapan Andreas baru saja yang bicara tanpa berpikir panjang.
"Terimakasih. Key, perkenalkan ini Nova,calon tunanganku. Kami berniat
menikah dalam waktu dekat," ucapnya dengan senyum bahagia, yang diiringi senyum sumringah wanita itu.
Inilah Keruntuhan hati Key atas cinta
pilihan sahabat. Saat ini dia adalah
mawar yang terluka, tetapi Ia tidak pernah menyesal mengenal Raffael,
Cinta dalam hatinya. Baginya kebahagiaan, Raffael adalah yang paling penting. Ia pernah berkorban banyak untuk keluarganya. Sekarang ia akan mengorbankan hatinya untuk seseorang yang dicintainya.
Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku, karena aku akan semakin
terluka saat menyadari kau tidak bahagia
saat bersamaku.
_______________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang jangan lupa like dan komennya,ya! terimakasih, mohon maaf
__ADS_1
tulisannya berantakan ๐
Take care, my dear BESTie.๐