
Key beringsut hendak melepaskan pelukan Raffael secara perlahan. Cengkeraman lengan kekarnya ternyata tidak semudah yang Key pikiran selama ini. Bukannya terlepas, spontan Raffael menarik tubuh rampingnya hingga terjatuh di atas tubuhnya dan menjatuhkan badannya terbaring di sofa.
Iris mata mereka bertemu, saling bertaut dengan begitu kelam. Hawa panas dari napas yang memburu menyapu hangat wajahnya. Membuat darah key berdesir. Tubuhnya mendadak terasa ringan. Getaran aneh yang menjalar di tubuhnya seketika membuat otaknya menjadi macet.
Apalagi, saat tangan Raffael dengan pelan, mencoba merapikan anak rambutnya yang menjuntai dan menyelipkan dibelakang telinganya, membuat rona merah pipinya semakin
terlihat menggemaskan di mata Pria itu.
Key yang merasakan tubuhnya terkungkung oleh Raffael, buru- buru
menyadarkan otaknya dan melerai pelukan Raffael dengan pelan.
"Cara, apakah kau semalu ini? Benarkah aku tidak punya kharisma lagi? lalu kenapa kau begitu merona? Apakah kau merasakan sesuatu yang lain, sayang," bisik Raffael beruntun begitu **** di telinganya menggelitik rasa.
"Uhh!! Menyebalkan!! Kenapa otakmu begitu mesum sekali!" Tangannya melepas paksa lengan Raffael dan memilih duduk membelakanginya. Wajahnya semakin merona, dengan degup jantung kembali tidak beraturan.
"Bukankah aku sangat jantan, cara?" Raffael berbisik kembali dan memeluk, Key, lalu merapatkan tubuhnya dari belakang. Key memejamkan matanya dan menutup wajahnya yang mendadak merah padam ketika merasakan sesuatu.
" Aaaaa....lama-lama kau tidak tau tempat dan tahu malu!" Key beranjak hendak meninggalkan, Raffael. Namun lengan kekar itu menariknya untuk duduk kembali, dan memeluk bahunya dengan
sayang. Key memukul pahanya dengan keras, membuat Raffael terkekeh geli sekaligus meringis menahan sakit karena
ulahnya.
"Kata jasson, tuan putri sedang bosan dan ingin keluar? tanya Raffael sambil mengusap lembut rambutnya.
"Tadinya seperti itu, tetapi aku tidak ingin disebut sebagai gadis pembangkang," jawabnya dengan sedikit merajuk.
" Baby, kau ingin pergi kemana?"
"Aku ingin bertemu Anne dan temen yang lainnya di butik miliku. Dan berencana mampir kepanti asuhan sebentar.Aku, kangen dengan canda tawa mereka," wajahnya mendadak cerah. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman
bahagia.
"Sekarang masih ingin keluar?"
Key menoleh iris mata lelaki, yang diam-diam sudah melakukan banyak hal
untuknya itu, namun hatinya tidak tega melihat wajah lelah Raffael.
"Tidak perlu, "bukankah kau baru pulang dari kantor, langsung kemari?"
"Aku ke kantor setengah hari dan bertemu pengacara hari ini, lalu datang kemari."
Key mengangguk paham.
"Masalah Darriel kemungkinan akan cepat memasuki agenda persidangan, dan memerlukan beberapa orang saksi,
untuk menunjang bukti supaya lebih kuat, "termasuk kita semua, sayang," jelas Raffael.
"Aku tidak sabar menunggu sidang
putusan akhir untuk Darriel, aku ingin melihat seperti apa reaksinya, saat pihak hakim memutuskan keadilan untuknya.
Apakah dia masih bisa untuk tertawa?"
Raffael meletakkan dagunya di bahu key dan kembali memeluk wanita itu dengan sayang.
"Terimakasih untuk semuanya. Maaf aku menyusahkan mu. Kau juga perlu beristirahat. Kau pasti sangat lelah. Maaf
aku sangat egois, bahkan masih memikirkan untuk jalan-jalan, sementara
kau bekerja keras," sesalnya dengan sedikit merajuk.
Raffael tersenyum melihat tingkah, key.
"Apakah kamu tidak bisa menghilangkan, ucapan maaf dan terimakasihmu itu, hemm?"
Terimakasih banyak, maaf aku menyusahkanmu," ujar Raffael menirukan ucapan Key dan terkekeh kembali.
"Bukankah itu kebenarannya?" Bahkan kau bisa saja memilih wanita yang lainnya, kalau kamu mau yang tidak banyak____"
"Itu tidak akan pernah terjadi," potong Raffael cepat dan membungkam bibir
Key dengan lembut.
"Hari Minggu kita akan berkencan,ok," tawarnya.
Key menggeleng pelan.
"Yakin?"
"Hemm ...
"Baby..?"
"Sekarang kita sudah berkencan."
"Barang kali kita memerlukan suatu yang lebih, sayang?" bisiknya.
"Raffael!! panggilanya galak," tangannya memukul bahunya dengan kencang.
__ADS_1
Menyisakan kekehan geli dari bibir sexinya.
Entah sejak kapan, Ia ingin melihat Key, bermanja dengannya dan tidak terkesan memaksakan diri, untuk mengatasi masalahnya seorang diri. Ia ingin saat dia
bersedih, Key akan bersandar di bahunya dan menceritakan keluh kesahnya.
"I love you," bisiknya.
"Jangan pernah menyesal, suatu saat kau
menyadari, bahwa hidup denganku tidak seindah yang kau pikirkan."
"Benarkah?" ucapnya sambil tersenyum.
"Sampai kapan pun, mungkin aku tidak akan pernah bisa melakukan, seperti apa yang kamu lakukan. Tetapi jangan pernah sekali saja menanyakan cintaku, Raffael!Aku pun mempunyai rasa cinta yang sama besarnya, dengan cinta yang kamu miliki untukku," Key semakin mengeratkan pelukannya.
"Tetap seperti ini, dan berada disisiku apapun yang terjadi. Itu sudah cukup dari apapun," Keduanya semakin terbuai rasa. Angan cinta mereka terlalu indah, untuk sekedar menjadi sebuah kenyataan.
Lama mereka terdiam. Meresapi perasaan masing-masing, memaknai rasa yang semakin dalam, menyusup ke dalam relung hati keduanya. Cinta itu
menemukan dermaga cintanya. Dan menanti janji suci mereka di hadapan sang pencipta.
Selama jantung ini masih berdetak, aku ingin bernapas dengan satu cinta, yaitu hanya untuk mencintaimu, Key.
Jika semesta mengizinkanku bersatu, aku hanya ingin bersatu denganmu, Raffael.
πππ
Andreas menatap langit dengan awan kemerahan. Cuaca yang sangat cerah berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Semua pertanyaan dalam benak
nya terjawab sudah.
Termasuk keberadaan Key di sebuah mansion keluarga Wijaya. Dan duduk permasalahan Tirta wijaya group dan
carut marut permasalahan keluarga besar Raffael dimasa lalu.
Bukan Andreas kalau tidak punya hunian di kawasan itu. Tidak sulit untuk orang berkantong tebal seperti dirinya dengan
seleksi yang ketat.
Terkadang Andreas merasa menyesal karena tidak melakukan apapun untuk Key. Karena perempuan itu tidak lantas
mengiyakan setiap niat baiknya. Key menyepi dari semua yang pernah dilewatinya.
Kehidupan yang berubah tidak pernah, mengendurkan semangatnya. Walaupun tidak tahu, sudah seberapa banyak air mata yang dia tumpahkan seorang diri. Key tidak membutuhkan penopang hidup
nya. Dia akan gigih berjuang untuk dirinya dan keluarganya.
Harga dirinya terlalu mahal. Bahkan kalau dia mau, bisa saja dia menerima pinangan pria kaya raya dan hidup enak, tanpa kekurangan apapun dan tidak harus bekerja keras, dan itu membuatnya selalu berbeda dengan wanita yang dijumpainya. Andreas begitu memujanya.
Tidak ingin larut dalam bayang-bayang Tirtawijaya, yang di akuisisi oleh Raffael,
dengan tujuan menyelamatkan aset pentingnya. Semua masih tergambar dengan jelas, awal keterpurukan wanita
itu yang mencobanya untuk tetap tegar.
Andreas sangat mengasihi ketidakberdayaannya. Diam-diam dia berjanji di dalam hati untuk membuat wanita itu bahagia, apapun caranya.
Dan benih-benih cinta itu tumbuh dengan
liarnya dalam hatinya dan menganggap sekecil apapun untuk bersama Key adalah harapan baginya.
Pria itu juga lebih memilih memendam rasa cintanya, semua ingin tetap seperti
biasa. Andreas tidak ingin merusak segalanya dan kehilangan senyum wanita
itu karena terganggu perasaannya yang tidak semestinya.
"Aku tidak tahu, kalau mencintaimu bisa segila ini. Kenyataan terbentang di depan
mata, tetapi hati ini selalu mengingkari."
"Dan lebih gila lagi, aku masih berharap tentangnya walaupun mulut ini ribuan kali mengatakan tidak mungkin bersamanya."
"Apakah cinta sebodoh ini? Kenapa merubah segalanya?" Andreas seperti
kehilangan semangat hidupnya dan beberapa kali memperingatkan hatinya.
πππ
Waktu terus berjalan. Sejak peristiwa itu masuk ke ranah hukum dan di expose media, kubu Darriel tidak lantas berdiam diri. Berbagai manuver dia lakukan dengan licik melalui orang- orang yang
diam-diam berdiri dibelakangnya.
Sejak saat itu pengamanan diperketat di mansion, Kediaman utama keluarganya dan juga rumah pribadi, Raffael dan juga
termasuk kantor Antara Group.
Sore itu seperti biasanya Raffael kembali dari kantor lebih cepat dengan pengawalan ketat dari jarak jauh maupun dekat. Jordan yang merupakan orang terdekat Raffael bersiaga penuh.
"Jordan, sepertinya ada mobil yang berusaha membuntuti kita. Jaga jarak aman dan buat mereka kehilangan kendali," Raffael memasang headset handsfree di telinganya dan terdengar mengkomando seseorang.
__ADS_1
Beberapa kali mobil Mercedes Maybach S 62 warna silver itu, merapat ke Mobil
Buggati warna hitam milik Raffael. Terdengar suara mobil berdecit beberapa kali dan mencoba menutup akses jalan mobil milik Raffael. Tetapi Jordan terlalu lihai untuk mengendarai si hitam tersebut.
"Jordan nyalakan monitornya, cepat!" Saat gelagat tak beres mulai terlihat. Raffael sengaja memasang kamera cctv di belakang mobilnya untuk memantau keadaan sekelilingnya. Terlihat mobil Mercedes warna silver dengan kecepatan tinggi melakukan manuver-manuver yang
sangat membahayakan.
"Jangan menembak kalau mereka tidak memulai. Buat mereka kehilangan kendali saja kalau membahayakan kita, Jordan! perintah Raffael tegas.
Pria tampan itu menggunakan rompi anti peluru dengan cepat, saat mulai ada suara tembakan dan melompat ke depan, mengambil alih kendali mobil miliknya, untuk memberikan akses Jordan memakai rompi yang sama.
"Awassss!! Mereka mulai menebak, Raffael..!!"
Tangannya menyambar cepat rompi dan secepat kilat memakainya, sementara sebelah tangannya memegang pistol.
"Mereka benar-benar cari mati, Jordan! ****...!!"
Raffael mengeram dengan Glock 20 ditangannya. Gun yang terkenal dengan tingkat bongkar pasang yang sangat susah. Memuat 15 peluru 10 mm yang masing-masingnya mampu dilontarkan, hingga kecepatan 1600 kaki per detik, pistol ini mempunyai tingkat akurasi tembakan yang sangat tepat dan menimbulkan kerusakan luar biasa.
"Kendalikan dirimu,Raffael. Ingat Nona, Key menunggumu!" Jordan memegang
pistol yang sama di tangannya dan mengambil kendali kembali mobilnya.
Layar monitor merekam dengan tepat berbagai manuver berbahaya yang mereka lakukan. Jalanan cukup lengang
hanya terdengar bunyi tembakan dari
lawan, tetapi mobil mewah Raffael yang sudah didesain dengan keamanan terbaik
terlalu kokoh hanya untuk menahan sebuah tembakan.
"Jordan! Ada Jasson dalam jarak aman," monitor menangkap kedatangan mobil jasson dan bersiap-siap mengepung.
"Di depan jalan cukup curam dan terdapat belokan dan jurang. Giring mereka kesana, tutup akses. Jangan sampai bisa menutup jalur kita. Buat mereka sejajar dengan kita, mobil Jasson sudah merapat, Cepaaat!! perintah Raffael dengan teriakan.
Ketiga mobil mewah itu melaju dengan kecepatan tinggi dan kembali sejajar.
Musuh melancarkan tembakan tetapi Raffael belum membalasnya sekali pun.
"Jangan terpancing, Raffael! Mereka memancing kita untuk membuka diri melakukan tembakan," Jordan mengendalikan jet daratnya untuk meladeni permainan mereka.
"Aku tidak sebodoh itu, Jordan!!! geramnya.
Raungan mobil dan bunyi decitan sangat memekankan telinga. Kembali Jordan memancing untuk sejajar dengan mereka. Saat mobil Jasson sudah merapat dan tidak memungkinkan mobil musuh untuk berbelok, Jordan menaikan kecepatannya dengan gila.
"Jasson tutup akses mereka! Jangan sampai bisa berbelok! perintah Raffael."
"Saatnya lakukan, Jordaann!!"
Benar saja saat ketiga mobil melaju dengan kencang dan sejajar, mobil musuh mulai resah. Karena terkepung dan mulai kehilangan kendali, saat melihat jurang menganga di depannya. Mobil Jasson yang sudah menempel ketat, tidak memungkinkannya untuk
berbelok arah dan terpaksa melakukan rem mendadak. Tapi naas, ban depan mobil mereka lebih dekat dengan jurang dan membuat Marcedes berwarna silver itu, meluncur dengan deras ke dasar jurang.
Bummmm..........
Bunyi dentuman besar disertai api menyembur keluar, menciptakan pemandangan yang mengerikan dan
membuat tanah bergemuruh hingga bergetar.
.
"Kita berhasil, Raffael. Pergilah dengan cepat untuk ke neraka!! sinis Jordan dengan seriangi tawa yang menyeramkan.
"Siallll !! Siapa yang sedang bermain-main denganku," Raffael melepas headset handsfreenya dengan kasar dengan tatapan membunuh. Dadanya naik turun, menahan amarah.
Tidak lama kemudian terdengar bunyi sirine mobil polisi datang. Raffael keluar dari mobilnya dan melihat Jasson tersenyum mengacungkan jempolnya.
"Bagus! Kau datang tepat waktu!" Raffael
tidak berhenti mengumpat dalam hati. Sementara Jordan terlihat berbicara dengan aparat kepolisian. Tangannya menyerahkan bukti rekaman cctv yang,
berhasil merekam detik-detik peristiwa
menegangkan yang baru saja terjadi.
"Tuan muda!" Aparat kepolisian itu, tidak percaya bahwa rentetan tembakan yang mengancam nyawanya itu, di arahkan kepada pewaris kerajaan bisnis Antara Group dan hanya membungkuk badannya.
"Hemm...
"Jangan sampai masalah ini terendus oleh media," perintahnya dan kembali masuk mobilnya untuk menunggu Jordan.
______________________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang πΉ
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komentarnya, ya. Maaf tulisannya masih banyak kekuranganπ. Terimakasih yang sudah berkenan mampir, take careπ
Β