
Raffael menuruni anak tangga dengan badan yang lebih segar. Pagi itu dirinya kelihatan lebih santai meninggalkan semua urusan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Sepasang netranya dikagetkan dengan begitu banyak tumpukan benda berbentuk persegi empat yang terbungkus dengan rapi tertata di atas meja besar diruang tamunya.
"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa pak Harun dengan sedikit membungkukan badannya dan mendapati Raffael berjalan mendekat ke arahnya.
"Pak Harun!" sapanya dengan tatapan heran.
"Maaf, Tuan, ada paket untuk Tuan," Beritahunnya. Dengan cekatan tangannya menunjuk pada sebuah meja besar yang menarik perhatian Raffael pagi itu.
"Dan ini bukti pengiriman barangnya, Tuan, "silahkan untuk di tanda tangani."
"Ivanka fashion," Raffael menggumam pelan, seraya membubuhkan tanda tangan dan memerintahkannya untuk menaruh di ruangan khusus dengan memanggil pelayan yang lainnya.
"Terimakasih," ucapnya sedikit tersenyum lalu dengan perlahan membuka satu persatu bingkisan tersebut begitu para pelayan sudah berlalu.
Senyumannya mengembang sempurna. Sebuah foto hasil bidikan para kameramen, saat prewedding dan saat Key memeragakan beberapa gaun mewah hasil rancangan Ivanka fashion tercetak dengan sempurna dengan bingkai yang sangat indah.
"Luar biasa. Apa yang kau pikirkan, sehingga kau begitu memukau, cara?" Kedua matanya sedikit saja tidak bisa mengalihkan fokus pada pandangannya. Key begitu mempesona dengan berbagai pose yang menawan sudah cukup menghipnotis dirinya.
"Gaun ini kau pilih, saat kau berpikir, "kau hanyalah tamu istimewaku pada acara tunangan palsuku itu, tetapi sesungguhnya kaulah calon pengantinku." Seutas senyum masam diperlihatkan olehnya kala mengingat kekonyolan yang dilakukannya hanya untuk mengetahui perasaan Key pada waktu itu. Perlahan diusapnya dengan lembut foto tersebut lalu memasangnya pada dinding kamarnya. Sementara sisanya disimpan dengan rapi, pada ruang yang telah disetting khusus sebagai galeri pribadinya.
"Ini akan menjadi kejutan untukmu, saat hari pernikahan kita."
Angin pagi membawa Raffael sedikit merasa lebih bugar dengan joging ringan yang dilakukan disekitar kediaman Wijaya. Dirinya Begitu menikmati hari kebebasannya. Para pengawal yang biasa memantau dari jauh, beberapa ikut berolahraga bersama dengannya.
"Jasson," langkahnya berhenti dan duduk pada kursi taman pekarangan rumah yang sangat luas dengan joging track dan pemandangan kolam renang yang kebiruan.
"Iya, Tuan muda," Jasson melangkah lebih dekat dan duduk di samping Raffael menanti apa yang ingin keluar dari bibirnya.
"Apakah semua aman ?"
"Semua terkendali dan saya pastikan di hari pernikahan,Tuan dan Nona tidak akan ada kendala yang berkaitan dengan masalah keamanan," tegas Jasson dengan yakin.
"Pastikan semua sesuai perintah. Satu saja kau melakukan kesalahan dihari istimewaku, aku tidak akan mengampunimu." Raffael menatapnya serius.
__ADS_1
"Tuan tidak perlu cemas, semua berjalan dengan semestinya.Termasuk kami akan berjaga ketat disekitar hotel tempat Tuan dan Nona menginap sehabis resepsi pernikahan. Jadi Tuan akan lebih nyaman bersama Nona tanpa ada gangguan."
"Maksudmu? Raffael dengan menaikkan sebelah alisnya menyadari arah pembicaraan jasson.
"Ahhh, Tuan! Walaupun saya single, saya paham apa yang akan terjadi, "Earth quake dan tsunami," tawa lebarnya membuat Raffael semakin tajam menatapnya dengan mata kelamnya.
"Ohh...!! Kau rupanya lebih pengalaman dibandingkan kakak kembarmu itu," Sudut bibirnya terangkat dengan seringai mengejek namun hal ini semakin membuat Jasson berniat untuk menggoda Raffael lebih jauh semakin tak terbendung.
"Kami kembar tiga,Tuan. Mungkinkah Tuan muda berniat memecahkan rekor kami? kelakarnya bergemuruh dan hanya dihadiahi lemparan handuk kecil bekas keringat, Raffael yang sukses membuat Jasson meringis.
"Ampun, Tuan," Rengekannya terdengar menggelikan dan membuat yang lain ikut terpingkal-pingkal.
"Apakah, Nona sudah bangun begitu aku menyuruh mu kemari?"
"Nona terbiasa bangun pagi dan melakukan yoga Tuan.Terkadang Nona juga berenang dipagi hari di kolam renang pribadinya.
"Bagaimana kau tau?! Apakah kau mengintipnya," Tuduh Raffael dengan nada tidak suka.
"Astagaaaa Tuan, muda!" Saya sedang tidak mencari mati, Tuan. Dan Nona bukanlah orang yang ceroboh," balas jasson Jujur.
"Nona sendiri yang bilang. Ketika saya bertanya, "Apakah nona tidak olahraga pagi?" Nona menjawab, "saya akan berenang saja," ujar Jasson menirukan ucapan, Key, yang sepontan menerbitkan senyum masam Raffael. Sementara jasson hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tuan, mudanya itu.
"Jasson, aku ingin kau seperti Jordan dan Jordy. Kau bisa menjadi seorang pengawal, tetapi juga paham urusan kantor," perintah Raffael.
"Siap ,Tuan muda!"
"Begitupun aku ingin kau loyal seperti mendiang ayahmu, saat menjadi tangan kanan Papi pada awal berdirinya ANTARA. Itu kenapa, aku sangat mempercayai, Jordan,Jordy dan juga adikmu Mitha.
Jasson mengangguk paham .
"Selama hidup masih dikandung badan, keluarga kami akan sepenuhnya mengabdi kepada keluarga Tuan Besar dan Tuan muda," Jawabnya semangat dengan membungkukan badannya.
"Jasson, aku sudah katakan, jangan terlalu formal saat tidak sedang berada di kantor. Aku bukanlah Raja! Titahnya dengan kesal.
__ADS_1
"Baiklah kita kembali pulang." Raffael berdiri dan melangkah dengan perlahan dikuti oleh mereka dibelakangnya.
πππ
Pemberitaan seputar rencana pernikahan Raffael dan key terus mewarnai berbagai surat kabar maupun media elektronik. Hampir semua gerak-gerik mereka tidak luput dari para pemburu berita. Andreas pemuda tampan yang sepenuhnya belum bisa beranjak dari kisah cintanya itu, termangu di depan kursi kebesarannya.
Senyumnya getir menghias wajahnya. Sebagai penguasa muda yang diperhitungkan nyatanya tidak lantas membuat segalanya lebih muda dan tetap saja ada seorang wanita yang tidak takluk oleh pesonanya.
"Ku akui, kau istimewa. Dan melihat cinta dengan caramu sendiri. Aku tahu, ini sebuah kesalahan, masih memelihara perasaanku padamu. Hati ini masih saja suka mengingatmu. Bagaimana mana caranya Key, menghapus rasa itu?"
Andreas melangkah perlahan menuju kesebuah ruangan yang pernah ditempati oleh Key. Senyumnya mengembang hanya dengan mengingatnya saja. Menatapnya saat duduk bekerja dan melakukan presentasi bersama selama bertahun-tahun, membuat Key begitu kuat bertahta dalam hatinya. Bahkan sampai saat ini dirinya tetap saja masih enggan untuk mencari penggantinya.
Andreas juga menyadari hubungan persahabatannya dengan Raffael menjadi sedikit kaku.
Cinta tetap saja keras kepala, bagaimana bisa bertahan di atas segalanya yang tidak mungkin dan terus berandai- andai memasang harapan, seakan esok hari berbuah kenyataan, Ya Tuhan, "Andreas buka mata dan hatimu. Ini benar-benar memalukan," batinnya dengan tersenyum kecut.
Pria itu memegang setangkai bunga mawar putih (Rossa alba), yang setiap saat menjadi kebiasaannya, saat Key masih bekerja dan akan meletakkannya di atas Meja sebelum dia datang bahkan terkadang menyuruh OB untuk meletakkannya dengan dalih untuk sekedar hiasan semata. Andreas kembali menggelengkan kepalanya tidak mengerti, kenapa hatinya seperti ini.
Sementara itu di Mansion Key dengan teliti memeriksa berkas yang dikirim oleh orang kepercayaannya. Usaha kecilmya yang diharapkan menjadi penopang hidupnya sebelum Tirta Wijaya Group kembali, dia alihkan untuk untuk menyumbang di beberapa yayasan sosial. Hatinya tersenyum damai. Jerih payahnya membuahkan hasil.
"Mitha....!" panggilnya kemudian.
"Nona, Key, "apakah ada yang bisa saya bantu?" Mitha datang dengan patuh. Dia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekitar, apa gerangan yang ingin Key perintahkan.
"Hemm... Mitha lain kali jangan menerima sebuah kiriman apapun kalau tidak ada nama pengirim yang jelas. Termasuk hal-hal seperti ini," tangannya menunjukkan buket bunga mawar putih yang sangat indah, dan sesaat Key mengingat suatu nama, tetapi buru-buru
Key membuang pikirannya jauh-jauh.
________________________
Catatan penulis:
Sahabat tersayang π, jangan lupa untuk meninggalkan like dan komentarnya, ya.
__ADS_1
Terimakasih π