Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
77. Misteri Rosa alba


__ADS_3

Mitha mengangguk pelan.


"Baik, Nona. Maafkan saya. Saya cuma berpikir kalau buket bunga itu untuk Nona tanpa melihat siapa pengirimnya. Lain kali saya akan berhati-hati."


"Kalau besok ada lagi, bilang sama pengirimannya, saya sudah tidak tinggal disini lagi. Simpan untukmu. Atau kau boleh membuangnya saja." Key terganggu karena buket bunga yang datang lebih dari sekali.


"Baik Nona." Mita mengulurkan tangannya perlahan dan bergegas menuju halaman belakang dengan ragu untuk membuang bunga-bunga tersebut


pada tong sampah besar di luar Mansion.


"Penggemar rahasia Nona,Key, banyak sekali heeee... Ada juga yang bernyali untuk melawan,Tuan Muda. Alamat Bakal ada perang dunia ketiga kalau begini,"


Mitha bergumam lirih seraya menggelengkan kepalanya.


"Ada-ada saja," desisnya lagi.


Key termangu membaca kembali pesan singkat yang tersimpan pada amplop merah jambu yang terselip di antara buket itu yang sengaja diambilnya.


"Rosa Alba" berbicara kesucian dan kemurnian cinta, tetapi juga keikhlasan, saat harus melepaskan seseorang yang pernah memberikan arti tersendiri untuk kita."


"Siapa yang tahu keberadaanku di sini?


Apakah bunga itu dari, Andreas? Apa maksud semua ini ?" Tangannya tergerak untuk menyimpannya, karena tulisan itu berupa tulisan tangan dan berniat untuk menyamakan dengan tulisan Andreas, karena pernah bekerja di kantornya. Ia tidak mengerti kenapa hatinya bicara seperti itu padahal ada beberapa pria dewasa yang terang-terangan menyukainya.


"Meninggalkan Mansion tanpa sepengetahuan, Raffael cuma akan berbuah masalah. Raffael, pasti tidak mengijinkannya, "Apakah sebaiknya aku meminta Jasson untuk mengambil berkas di rumahnya, yang terdapat tulisan Andreas?" Key memutar otak


dengan berjalan mondar- mandir duduk dan berdiri lagi dengan bimbang.


"Atau bicara saja pada, Raffael? Tidak. Raffael, sulit mengendalikan dirinya dan sensitif dengan urusan seperti ini. Rasanya bukan saat yang tepat untuk menceritakan ini semua. Kalau sudah berurusan dengan Andreas suka berlebihan," batinnya seraya melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Bukankah dia tidak semisterius ini?" Kali ini Ia mencoba untuk memejamkan matanya untuk tidur siang, tetapi alam pikirannya terus bergejolak, dan membuatnya tidak nyaman.


"Raffael, dia masih cuti hari ini? Tumben sekali dia tidak datang kemari atau mengirim sebuah pesan. Apakah dia baik-baik saja?" Key kembali terduduk di atas tempat tidur dengan gelisah. Bahkan hari sudah menuju sore. lalu beranjak turun dari tempat tidur berniat untuk menemui Jasson.


"Nona," sapanya ketika melihat Key sedikit terseok berjalan ke arahnya. Wajahnya tampak sedikit lesu karena menahan kantuk.


"Jasson, apakah Raffael baik-baik saja?" Bukankah kau bertemu dengannya tadi pagi?"


Jasson tersenyum mendengar pertanyaan Nona muda pujaan hati tuannya itu lalu mengangguk.


"Apakah Nona merindukan, Tuan muda?"


"Hemm... aku hanya menanyakan saja, jasson, "Lagi pula kemarin baru pulang dari prewedding," ujarnya berbohong. Beberapa kali dia menguap karena beberapa malam terakhir, Key kesulitan untuk tidur di landa Nervous menjelang hari pernikahannya.


"Nona tidak usah cemas. Tuan Muda baik-baik saja. Sebaiknya Nona beristirahat."


"Terimakasih." Dan bergegas untuk kembali ke kamarnya berniat untuk kembali tidur.


"Mungkin dia sangat lelah dan ingin beristirahat. Baru saja beberapa saat tidak bertemu, kenapa aku begitu merindukannya?" Bisiknya lirih sambil membolak-balikan badannya gelisah.


Ya, Tuhan, Key, "bagaimana kalau Raffael sebulan tidak menemuimu batinnya tidak mengerti.


"Apakah jangan-jangan dia tahu ada yang mengirimiku bunga? "Bola matanya mendadak tidak mengantuk lagi.


"Ahhh....!! Entahlah," jeritnya dengan menelungkupkan wajahnya.

__ADS_1


Sore datang, dengan malas Key turun dari tempat tidurnya untuk mengecak ponselnya. Namun dengan kecewa dia harus mengetahui tidak ada pesan atau panggilan telepon untuknya. Ia lalu bergegas mandi dan berniat membuat makan malam sederhana untuk, Raffael, dengan menyuruh Jasson mengantarnya.


"Tuan putri wangi sekali," sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar dan menahan langkahnya. Wajah tampannya berdiri begitu maskulin dengan kedua tangannya yang dimasukkan diantara kedua saku celananya. Senyumnya


sangat manis dan berjalan berlahan-lahan mendekati, Key, yang hendak keluar kamar.


"Kau..!" Key tidak bisa menutupi perasaan senangnya. Wajah yang sangat dirindukan kini berada dihadapannya.


"Bukankah kau merindukanku? Kenapa hanya bertanya pada jasson saja, "tidak berniatkah kau menelponku lebih dulu?" Raffael mengulum senyum, dengan tidak meninggalkan tatapan memperotesnya yang membuat sepasang mata elangnya semakin kelam menatap, seraya berjalan terus mendekat ke arahnya.


Key tersipu, wajahnya begitu merona apa lagi saat tangan kokohnya itu meraih jemarinya dan menggandengnya untuk menghirup udara sore disekitar taman belakang, Mansion, tempat mereka biasa menghabiskan waktu.


Debar jantungnya tidak karuan. Raffael sore itu begitu tampan dengan sweater berwarna putih yang mengekspos kulit putihnya. Jambang halus yang tercukur rapi disertai bulu-bulu yang menghias lengan kokohnya, dan rambut cepaknya yang selalu klimis menambah kadar pesona ketampanannya naik level sore itu.



Maskulin sekali," Key membatin dan hanya bisa menelan salivanya pelan.


" Baby?"


"Emm... Iya," Key tergagap.


Raffael tersenyum menyadari Key tak berkedip melihatnya. "Aku memang sangat tampan, sayang? bisiknya ****, yang kemudian dibalas senyum malu- malu Key dengan menampakan rona merah di pipinya yang putih dan mulus.


"Raffael__"


"Baby?" Keduanya lalu tertawa lirih bersama.


"Besok, fitting akhir baju pernikahan kita." Tatap matanya sangat malas melepas fokus pada wajah cantik Key yang kini duduk disampingnya. Wajahnya terlihat natural tanpa sapuan makeup sedikitpun dan menguar aroma vanila Lace dari dalam tubuhnya yang cukup membuat Raffael menelan salivanya kasar.


"Benarkah?" Apakah aku sangat memalukan? Aku bukanlah seorang model waktu itu, tetapi hanya tamu istimewamu untuk hari bahagiamu bersama "nya," Kerling matanya, sedikit menyelidik menatap wajah Raffael yang terlihat tidak suka saat Ia, menyebut mantan tunangan palsunya itu.


"Jangan sebut namanya," Raffael mendengkus kesal dan perlahan menarik pucuk kepalanya untuk bersandar di bahunya.


"Apa yang kau pikirkan waktu itu?"


"Waktu itu, aku hanya berfikir, aku akan menikmati setiap kebersamaanmu yang mungkin tidak lagi akan aku temui. Aku kesakitan sendiri setiap kau melibatkan setiap urusan pribadimu denganku dengan mengatasnamakan cintanya."


Raffael mengusap pelan rambut indah Key dan sesekali melirik wajahnya yang bersandar di bahunya. Ada rasa bersalah dalam dirinya yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya dan cenderung mengatur kehidupan Key sesuka hatinya dan sering membuatnya kesal dan kecewa.


"Aku memilih gaun itu dari dasar hatiku, Raffael. Aku bahagia dan terbawa perasaan waktu itu. Tetapi setidaknya kau pernah mengajakku untuk fitting gaun pengantin mewah, yang dalam mimpi saja mungkin aku tidak akan berani untuk berharap. Aku bahagia, walaupun aku bukan calon pengantinmu. Setidaknya aku punya kenangan untuk itu," jelas Key dengan menampakkan wajah sendunya.


"Seharusnya kau memaksaku waktu itu, Cara ?"


"Cinta cuma akan saling menyakiti, disaat tidak ada keihklasan untuk saling mencintai satu sama lainnya. Dan hubungan kekeluargaan yang terjalin diantara keluarga kita lebih dari segala-galanya. Hubungan yang terjalin seperti kentalnya darah saudara kandung dan aku tidak mau egois hanya memikirkan perasaanku saja."


"Pernahkah kau berfikir aku mencintaimu?" Raffael menoleh dan memaku tatapan pada netra indah itu, sehingga semakin tersipu. Apalagi saat dengan sangat manisnya Raffael merapikan anak rambutnya dan menyelipkan diantara telinganya.


"Bukankah aku sudah pernah menjawabnya, "hampir setiap hari aku berpikir seperti itu. Aku, bahkan, menyadari kalau kau tidak pernah mencintaiku, saat kau memperkenalkan Nova sebagai tunanganmu. Saat itu yang terjalin antara kita adalah murni sahabat dan keluarga. Tidak lebih dari itu," jelasnya sedih.


"Baby, maafkan aku."


Mendadak hening sejenak.


"Kau adalah wanita yang tidak pernah bisa aku tebak perasaannya sejak dahulu. Kau baik kepada siapa saja termasuk teman-teman priamu. Bahkan kau juga tetap bisa bersikap baik kepada orang yang jelas-jelas telah menyakitimu," ujar Raffael pelan.

__ADS_1


"Aku hanya mencoba iklas dengan semua itu dan mencoba berdamai dengan diri sendiri saja, Raffael."


Key menegakkan kepalanya dan tersenyum menatap, Raffael. Mengenang perjalanan cinta keduanya dan intrik yang mengiringinya, membuat pikiran mereka berdua berperang dengan waktu.


"Aku mengira semua adalah, cinta Raffael."


"Padahal aku memang sangat mencintaimu, bahkan sebelum kau mulai mencintaiku."


"Apakah kau tidak takut aku tergoda pria yang lainnya?" Key berbalik bertanya dengan sedikit gemas kepada pria didepannya itu, sementara sang empunya hanya menatap lurus ke depan minim expresi.


"Aku memata-mataimu, menguncimu dari berbagai sudut, untuk sepenuhnya bergantung padaku. Kau harus menjadi milikku, tidak dengan yang lainnya dan puncaknya malam itu, aku memaksamu untuk menginap di rumahku saat Andreas menyiapkan sebuah kejutan manis untukmu, karena aku tidak siap kehilanganmu," Jujur Raffael kembali menatapnya.


Key memelintir telinga Raffael. "Dasar egois, untung aku mencintaimu." Sesaat Ia mengingat bunga mawar putih itu, tetapi melihat Raffael sensitif, Key merasa lebih baik tidak memberitahukan saat ini.


"Hemmm... sejujurnya aku, benar-benar takut kau memilih yang lain, saat aku terpaksa memperkenalkan wanita sialan itu padamu sebagai tunangan ku."


"Kau cocok menjadi detektif cinta," guraunya.


"Aku tahu kau tidak mudah jatuh cinta, itu sangat terlihat dari caramu menepikan cinta mereka yang ingin bertahta dihatimu. Tetapi dengan Andreas aku benar-benar tidak bisa tenang sedikitpun. Andreas sangat mencintaimu. Kalian


begitu intens bersama untuk urusan pekerjaan. Beberapa kali dia bertanya kepadaku. "Apakah kita ada hubungan lebih dari sahabat?"


"Lalu? Key memperbaiki duduknya dan menghadap Raffael yang terus menatapnya.


"Aku hanya bisa menjawab masa yang akan datang tidak ada yang tahu. Saat itu kebenaran tentang Nova, Daniel,paman dan Dave sudah berada dalam genggamannku,cara. Aku tidak punya pilihan dan tidak bisa mempercayai siapapun waktu itu."


"Apakah kau juga tidak mempercayaiku?" Setidaknya kita bisa berjuang bersama-sama", tanya Key seraya


mempererat genggaman tangannya.


"Itu sangat beresiko! Dave juga tergila-gila padamu! Dia memata- mataiku melalui orang-orangnya tetang hubungan kita. Dia bisa menebak wanitaku adalah kelemahanku.Tetapi aku tidak sebodoh itu. Aku sering meminta Jasson untuk mengawasimu tanpa sepengetahuanmu. Termasuk kedua orang tuamu. Makanya saat kasus ini diungkap kembali aku menyuruh papa dan mama dan juga kamu untuk tinggal di Mansion.


Raffael ? Key terharu mendengarnya tanpa sadar air matanya menetes setiap mengingat setiap peristiwa yang mengiringi perjalanan mereka berdua.


"Kau ingat, saat kita bersama ada saja orang yang mengikuti kita? Itu adalah orang- orang suruhan, Dave. Termasuk mobil Lamborghini Aventador waktu itu.


"Kau terbaik. Tuhan selalu menjagamu. Aku hanya bisa memberikan seluruh hatiku," Janjinya dan berharap cintanya abadi bersama, Raffael.


Tatapan cinta mereka berpendar begitu indah. Getar cinta itu senantiasa terasa seiring denyut nadi yang terus berdetak diantara keduanya. Saling menggenggam mimpi dan harapan, berharap tidak pernah terpisahkan, walaupun semesta mungkin akan terus mengujinya.


"Perlukah kita mendewakan cinta kalau pembatas cinta dan kebencian itu terkadang hanya setipis sutra yang menempel." Raffael sambil tersenyum, "Aku berharap Key yang aku temui sejak pertama kali, akan tetap sama sampai kita menua nanti."


"Aku berjanji. Jangan bicara membenci. Membenci seseorang tetap saja menyertakan sebuah alasan, tetapi saat hati masih dipenuhi cinta dan kasih, seberapa besar kebencian tetap saja akan terkalahkan."


Raffael menatapnya dengan dalam, ingin rasanya Ia membasmi habis bibir merah yang terlihat ranum itu, tetapi Naas ada tukang kebun yang berseliweran dan membuatnya hanya mengumpat dalam hati. Key yang menyadari Raffael sedikit kesal tertawa geli.


"Sebagai gantinya, Aku akan buatkan makan malam untukmu, "bagaimana?"


"Makan yang lainnya saja, sayang." Key mencebikan bibirnya dan berlalu ke dalam Mansion diikuti oleh Raffael yang mengekor di belakangnya.


________________________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang ๐Ÿ˜˜. Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya, ya.๐Ÿ˜Š terimakasih ๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2