Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
102. Indah bersamamu


__ADS_3

Key mengejapkan matanya. Kemilau cahaya matahari pagi sedikit mengusiknya saat menerpa wajahnya dari balik gordyn jendela kamarnya. Dengan sedikit tersentak sepasang netranya menatap Raffael yang masih terlelap tidur disampingnya. Sesaat dia lupa bahwa, Ia sudah menikah, namun kemudian Ia tersenyum menyadari, saat ini dia tidak sendiri lagi. Ada Raffael disisinya.


Jam berapa ini? Netranya menatap kesekeliling kamar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Key bergerak dengan perlahan hendak ke kamar mandi. Sebelah tangannya meraba-raba mencari kemeja tidurnya tetapi tidak ditemukannya. Pergerakannya sedikit mengusik Raffael dan membuatnya terbangun dengan sedikit membuka matanya malas


"Sayang, masih pagi, kamu mau kemana?" Raffael membalikkan badannya dengan malas dan kembali memeluknya dengan hangat.


"Aku hanya mau ke kamar mandi saja. Badanku lengket sekali rasanya," Key tertunduk menghindari tatapan intens Raffael, dengan begitu malu mengingat malam panas yang dihabiskan berdua dengannya. Aroma tubuh Raffael begitu menyatu dalam dirinya.


"Sebentar lagi, sayang, kita akan berendam bersama," dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Raffael...


"Hem... baby," Key terlihat pasrah menerima perlakuan manisnya, dan kenakalan- kenakalan Kecil Raffael, walaupun ada sesuatu yang masih terasa tidak nyaman dalam dirinya.


"Aku sangat lapar, Raffael. Aku ingin membuat sarapan pagi." ucapnya sedikit merajuk dengan mengerucutkan bibirnya.


"Untuk apa kau repot-repot. Pelayan yang akan menyediakan sarapan pagi untuk kita. Apakah kau lupa, sekarang kau adalah Nyoya, Raffael," jelasnya dengan gemas lalu mengecup sekilas bibirnya yang sudah laksana candu baginya.


"Tetapi besok-besok, aku ingin semua kebutuhanmu adalah aku sendiri yang akan mengurusnya," izinnya lirih.


Raffael memicingkan matanya dengan tatapan nakal. "Tergantung, sayang, kebutuhan yang manakah? jawabnya dengan menautkan sebelah alisnya. Raffael terus menggodanya, melihat key yang masih saja malu-malu karenanya. "Bukankah begitu, sayang? Oh, Raffael, please," godanya kembali mendapati, pipinya yang bersemu merah.


"Ahhh, Kau menyebalkan! Aku tidak pernah memintanya, kau yang selalu memulainya, Apakah kau ingin aku menyebut nama Pria yang lain?" ancamnya galak.


"Aku akan membunuhnya saat itu juga.


Jangan berani-berani kau melakukan itu padaku," ujarnya dengan nada rendah. Raffael menyatukan bibirnya dengan begitu emosional dan bersumpah serapah di sela-sela ciuman panasnya.


"Raffael, apakah malam itu juga pertama kali untukmu?" tanyanya sedikit ragu.


"Tentu saja, sayang. Aku cuma mencintaimu. Seumur hidupku, aku ingin hal itu terjadi hanya denganmu," jawabnya pelan seraya menatapnya kelam. Tentu saja. Karena untuk urusan hatinya, Raffael terkenal sangat keras kepala. Super bersih dan sangat pemilih.


Hal ini berbanding terbalik dengan sebagian teman-temannya yang terkenal player, berkencan dengan banyak wanita.


Raffael tidak tertarik dengan perempuan


yang memandang materi menjadi


sisi terpenting prioritas utama dan berlomba-lomba untuk menggodanya. Itu sangat memuakkan, tetapi kalau sudah mencintai seseorang, jangan bertanya lagi, apapun akan lakukan untuknya.

__ADS_1


"Kau sangat tampan. Banyak wanita cantik disekelilingmu dan kau punya segalanya. Bagaimana kalau kau bosan denganku?" tanyanya dengan mimik gemas.


"Apakah tuan putri mulai posesif, hemm? Beraninya kau bertanya begitu padaku. Apakah perlu aku menghukummu setiap saat, Baby?"


"Raffael, ampun!! Aku hanya bercanda. Sedikitpun aku tidak pernah meragukanmu," Key memekik protes, saat dengan spontan Raffael membopong tubuh polosnya menuju kesebuah bathub yang berukuran luas. Key begitu malu dan hanya bisa menutup wajahnya yang sudah seperti tomat.


"Bukankah badanmu terasa lengket sayang, kita akan berendam bersama dan sarapan." Keduanya menikmati sensasi dari aroma terapi ke dalam busa yang menenggelamkan tubuh mereka dengan begitu rilex dan sangat romantis. Raffael menyandarkan kepalanya dan merebahkan tubuh Key pada dada bidangnya. Saling terpejam menikmati indahnya cinta. Sesaat mereka tampak hening dengan pikiran masing-masing.


Key begitu **** dengan rambut panjangnya yang mulai basah. Buih-buih air yang mengalir diwajahnya memancarkan kecantikan alami yang dimilikinya, suatu hal yang paling Raffael sukai. Bibirnya begitu menggoda dan perlahan mengecup bahunya yang terbuka. Mustahil dirinya tidak menginginkannya. Key begitu mempesona. Raffael tidak hanya mengagumi kecantikan hati bidadari cintanya, tetapi juga keindahan raganya yang sudah laksana lukisan indah, ciptaan semesta, yang senantiasa melemahkan otaknya untuk selalu menyentuhnya.


"Beautiful," pujinya.


Seketika tubuhnya, meremang mendengar pujian, Raffael dan menunduk dengan begitu malu. Dirinya tidak tega untuk menolaknya, Pria itu memutar pelan shower yang sesat memancarkan air hangat dan mengguyur tubuh mereka. Dibawah derai air hujan buatan nyang membasahi😊 mereka kembali menyatu dengan begitu indahnya. Nyanyian pagi yang begitu syahdu, sejenak mereka melupakan segala peristiwa pahit yang terjadi dan menggantinya dengan menuliskan kenangan yang indah saja.


Raffael tidak bisa mengalihkan pandangannya. Wajah cantik itu benar-benar menghipnotisnya, begitpun dengan yang Key rasakan. Pangeran tampan dengan kuasa cintanya itu, selalu membuatnya tertunduk untuk menjadi budak cintanya. Keduanya memaknai setiap rasa dengan momen yang menggetarkan hatinya. Sangat indah membuat keduanya hanyut oleh gairah yang seakan enggan untuk mereda. Dipagi yang terasa sepi itu, yang terdengar hanyalah suara mendamba yang saling bersahutan- sahutan. Hingga pada akhirnya terdengar lenguhan panjang memanggil indah namanya, mengantarkannya pada kemenangan cinta yang sesungguhnya. Keduanya melemah dan saling mendekap dengan sayang.


"I love you, baby," bisiknya romantis lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih. Key hanya bisa mengangguk lemah saat Raffael membopongnya dengan bathrobe yang melekat pada tubuhnya yang masih basah dan dengan pelan membaringkannya di atas tempat tidur. "Terimakasih, sayang," sepasang mata kelamnya terharu disaat tidak sengaja melihat bercak merah yang tidak pernah disadari olehnya terhalang selimut tebal miliknya. Raffael tidak pernah meragukan hal itu, Key selalu saja istimewa, beruntung dia memberikan hatinya hanya untuknya.


"Raffael, aku bisa sendiri," wajahnya sedikit tersipu, melihatnya yang hendak memakaikan dress santai untuknya.


"Tidak apa-apa sayang, biarkan kali ini aku yang hanya akan menjadi budak cintamu." Senyumnya terukir sangat indah dan mendudukkan, Key untuk membantu mengeringkan rambutnya. Raffael begitu maskulin dengan rambut cepaknya yang masih basah dengan bathrobe yang melekat pada tubuhnya.


"Baby, kau kenapa sayang?" Raffael yang menyadari, Key berdiri membelakanginya, dengan memejamkan matanya tersenyum saat dengan tidak tahu malunya Raffael berganti pakaian dihadapannya.


"Kita akan sarapan,ok," Sepontan Raffael mengangkat tubuhnya dan kembali membopongnya menuju ke meja makan.


"Auwww! Kau! Kenapa mendadak jadi lebay begini!" Key megoyangkan kakinya seperti anak kecil yang hendak minta turun, tetapi Raffael bergeming dengan terus melangkah menuruni anak tangga.


"Lebay... ? What is that, baby? Raffael mengernyitkan dahinya dengan mata sedikit menyipit.


" L- E-B-A-Y ,"Key mengejanya seperti mengajari seorang anak kecil dan kembali membuat Raffael gemas.


"Lebayyy, hemmm... lebah. Iya lebah. Maksudku adalah lebah. Pangeran tampan seperti lebah suka menyengat dan terbang tinggi."


"Dasar! Rupanya sekarang, Nyonya sudah pandai menggodaku? Ingin rasanya Raffael menggigit gemas wanitanya itu, kalau tidak ingat Key butuh waktu untuk beristirahat. "Apakah Nyonya lupa, baru saja nyonya yang terbang tinggi di dalam bathtub," bisiknya lirih seraya mengecup bibirnya.


"Cup....!!"


"Raffael, santailah sedikit saja.Jangan terlalu serius maksudku! Key mengusap bibirnya dengan sedikit kesal dan menabok dadanya dengan sayang.

__ADS_1


"Kita akan sarapan," Dengan pelan tangannya mendudukkan,Key untuk menikmati sarapan pagi yang sedikit terlambat. Pelayan itu senyum-senyum melihat keromantisan Tuan dan Nyonya barunya.


"Terimakasih, bibi," Key sedikit merona malu karena keromantisan mereka tertangkap oleh pelayan dengan tidak sengaja.


"Selamat menikmati, Tuan muda dan Nyonya," Pelayan itu membungkuk dan berlalu.


Key mengangguk. "Jangan lupa kalian semua juga harus sarapan sebelum bekerja," perintahnya kemudian.


Key mengambil satu lembar roti yang terbuat dari gandum pilihan dan mengoleskan selai strawberry dan memberikannya kepada, Raffael baru kemudian mengambilnya untuk dirinya sendiri. Rafael menatapnya dengan begitu romantis perempuan yang telah seutuhnya menjadi miliknya itu. Bahagia menjalar dalam dirinya melihat, Key bisa tersenyum, tertawa bahagia dan melupakan peristiwa menegangkan beberapa saat yang lalu itu bisa saja merenggut nyawanya.


"Makanlah. Apakah kau akan kenyang dengan menatapku seperti itu?" Perintahnya tanpa menoleh, Raffael.


"Aku tidak akan pernah kenyang untuk itu semua, sayang," Key menoleh sebentar dengan senyum masam ke arah, Raffael yang memperlakukannya bak seorang putri dan menjaganya seperti kaca yang takut retak.


Di dunia ini aku, tidak akan menemukan orang sepertimu.


Key diam-diam memperhatikan, Raffael yang sedang fokus dengan sarapannya.


lalu dengan lembut mengusap bibirnya


dengan selembar tissue.


"Makanlah yang banyak. Aku tidak mau melihatmu semakin kurus saat bersamaku. Bagaimana kalau Mami mengira aku tidak memberimu makan?" ejeknya dengan sedikit melirik, Key yang diam-diam mencuri pandang padanya.


"Aku sudah kenyang, Raffael. Jangan memaksaku makan terus," Saat dilihatnya tangannya memberikan susu yang masih tersisa dan meminumkanya.


"Aku menguras banyak tenagamu, bagaimana bisa segini saja kau tidak mampu menghabiskannya? Protesnya dan mengakhiri sarapannya. Raffael kembali mengendong tubuhnya yang seketika mendapat tatapan memprotes dari, Key.


"Aku masih sanggup berjalan, Raffael..."


"Tidak masalah, mumpung aku masih bisa menggendongmu. "Istirahatlah, Nanti begitu kita akan berangkat, aku akan membangunkanmu," perintahnya seraya berlalu. Raffael memeriksa sedikit pekerjaannya dan mulai berkutat dengan laptopnya.


"Kau juga istirahatlah. Jangan bekerja terus menerus." Ia merebahkan kembali tubuhnya. Badannya masih terasa letih dengan tulang kakinya yang terasa lemas semua. Raffael tersenyum menatap Key yang mulai memejamkan matanya kembali. Wajah itu tampak damai terlelap. Dirinya sengaja pura-pura bekerja untuk membuatnya istirahat.


"Kau pasti sangat lelah," Kemudian berjalan mendekat ke arahnya yang sudah seperti magnet baginya dan mulai merebahkan dirinya dengan perlahan disampingnya.


Clara, Aku harus menemui wanita itu disaat yang tepat begitupun dengan, Andreas.


____________________________

__ADS_1


Catatan penulis:


Sahabat tersayang 😘 jangan lupa untuk like dan komennya, ya! Terimakasih 🙏


__ADS_2