Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
81. Balada cinta part 2


__ADS_3

Malam semakin larut, Key sulit terpejam. Bayangan Raffael yang berlalu dengan wajah dingin sangat menggangu hatinya.


"Mungkin hanya pikiranku saja. Mengingat Raffael selalu manis memperlakukannya dan mendadak kehilangan momen tersebut."


Hingga pagi menjelang, Ia berniat membawakan makan siang untuk, Raffael. Seharian tidak menelpon dan handphonenya tidak aktif membuatnya bertekad pergi ke rumah pribadinya dengan meminta bantuan Jasson untuk mengantarnya. Bahkan, Raffael tidak menyempatkan membaca pesannya walaupun terlihat mengaktifkan ponselnya sebentar.


Apa yang membuatmu merasa bahwa pesanku tidak penting lagi.


"Nona? Sapanya dengan berjalan mendekat, mendapati raut wajahnya yang sendu, seketika pria itu bisa menebak kalau mereka berdua sedang tidak baik-baik saja.


"Apakah ada kabar dari, Raffael?"


"Tuan muda sedang dirumahnya, mungkin ingin beristirahat, Nona."


"Antarkan saya ke sana, Jasson, aku ingin mengantarkan makan siang untuknya." Pria itu terlihat berpikir sejenak dan diam- diam berkirim pesan kepada Raffael dengan menggunakan nomor yang berbeda.


📩 Jasson


Tuan muda, Nona hendak datang ke rumah untuk membawakan makan siang.


📩 Raffael


Bilang padanya, tidak perlu repot-repot, aku sudah ada janji makan siang dengan teman lamaku, yang tidak sengaja datang ke rumah.


Perempuan itu tidak bisa menutupi rasa kecewanya, saat Jasson menyampaikan pesan dari, Raffael. "Teman? Siapa orang yang sudah bisa membuat Raffael melewatkan masakannya? Mendadak hatinya di landa cemburu. 


Apakah dia seorang perempuan? Batinnya seraya menggelengkan kepalanya.


Jasson yang melihat raut kesedihan diwajahnya merasa Iba. Raffael kesal mendapati kenyataan pengirim buket itu memang orang suruhan, Andreas dan berpikir Key sengaja menutupinya.


"Jasson, kenapa handphone, Raffael tidak aktif?"


"Tuan muda, hanya sedang tidak ingin di ganggu, Nona."


"Sedang tidak ingin diganggu?" Key bergumam Pelan. Instingnya selalu benar ada yang tidak baik-baik saja dan berlalu dengan semakin sedih. Ia termenung menatap masakannya yang sia-sia. 


Membayangkan Raffael makan siang dengan orang lain yang belum jelas, membuatnya sangat terganggu. Hatinya merasa tersisih, bahkan Raffael tidak pernah menolak makanannya, apapun alasannya terlebih karena temannya.


"Apakah, Raffael menyembunyikan sesuatu?"


Dua hari berselang, Raffael tidak ada tanda- tanda datang ke Mansion dan tidak juga menelpon. Walaupun nyonya besar menyuruh mengurangi intensitas pertemuannya tetapi, Key, yakin ini bukan alasannya. Dan hatinya begitu yakin terjadi sesuatu padanya. Begitupun dengan Raffael di rumahnya, terlihat makin kecewa. Mendiamkan Key, tidak lantas membuat wanita itu menyadari kesalahannya, walaupun berusaha untuk datang, tetapi, Raffael berharap Key akan bercerita padanya.


Raffael tidak pernah meragukan ketulusannya, bahkan sejak dirinya sakit, perempuan yang sangat dicintainya itu, mengatur menu makanannya dari tangannya sendiri dan mengatur pola makannya. Mengingatnya ada perasaan bersalah dalam hatinya, tetapi hatinya terlanjur kecewa, kalau sudah berurusan dengan Andreas.  


"Andreas, apa maksud dengan semua ini?


Ingat, Kau yang memulainya, Andreas!" tatapan matanya memerah dengan rahang tegas yang terlihat semakin kaku.


📩 Raffael


Antarkan,Key, ke rumah kalau dia ingin bertemu denganku, ada yang ingin aku sampaikan.


Jasson mencari keberadaan, Nona, Tuan mudanya, dan mendapati perempuan itu sedang duduk termenung menatap keluar Mansion. Wajah yang sangat dirindukan itu sudah dua hari tidak ada kabar. Ini bukan kebiasaan, Raffael. Walaupun sedetik, dia akan selalu menyempatkan diri untuk menerima pesanannya, apapun alasannya. Sekarang Key sangat yakin ada yang salah pada dirinya.


Wanita itu terhenyak menyadari banyaknya kamera CCtv yang pasti merekam apapun yang ada di sekitar Mansion, kecuali tempat-tempat yang dianggap sangat pribadi. Hatinya mulai menduga-duga, saat mengingat intensitas buket bunga itu yang datang sangat sering.


"Apakah Raffael mengetahuinya? Oh, Tuhan," tangannya terangkat menutup mulutnya yang menganga dengan mata membola menyadari keterkejutannya.


Kakinya beranjak cepat masuk ke kamar dan menyambar amplop merah jambu dan bergegas menyamakannya dengan berkas milik, Andreas yang sesaat terlupakan. Dadanya berdebar kencang dengan mata kembali membola, saat tulisan itu memang sangat mirip dibeberapa tarikan hurufnya.

__ADS_1


"Andreas, apa yang sedang dia pikirkan?"


Hanya buket bunga yang pertama yang ada tulisannya, buket yang datang beruntun tidak menyertakan apapun didalamnya dan membuat Key semakin bingung siapa pengirimnya.


Sebuah ketukan pintu mengagetkan Key dan mendapati Jasson yang berdiri di depan pintu, saat baru setengah daun pintu terbuka. Pria itu sedikit membungkuk lalu tersenyum untuk mengurangi ketegangan yang terjadi.


"Nona, Tuan muda ingin bertemu, mari saya antarkan," beritahunya.


"Baik, aku bersiap sebentar dan menutup pintunya dengan hati berdebar. Tidak biasanya Raffael meminta ke rumahnya saat ingin bertemu, ia lebih suka datang ke Mansion. Ini sangat aneh."


Untuk memangkas waktu Key menyuruh Mitha menyiapkan makanan yang selalu di masak untuk Raffael, walaupun dia tidak datang ke Mansion. Key sangat mencemaskan kesehatannya, tetapi kali ini hatinya mengatakan bukan Raffael sakit karena tidak datang, tetapi ada hal yang lainnya dan berniat untuk cerita kalau ada teror bunga yang setiap hari datang ke Mansion.


"Mitha, apakah buket bunga itu datang lagi?"


"Tidak, Nona. Hanya dua hari berturut-turut, "itupun saat Nona tidak di Mansion," Jawabnya dengan sedikit ragu, lalu melangkah pergi. Wanita itu tidak berani bicara, kalau dirinya sempat di tegur kakaknya karena dianggap lalai karena tidak memberitahunya.


🍁🍁🍁


Key menelan Salivanya kasar, saat hampir sepuluh menit Raffael mendiamkannya. Pertemuan mereka jauh dari kata romantis dan hanya mendapati Raffael yang diam berkutat dengan pekerjaannya di privet roomnya. Bahkan makanan yang dibawanya tidak juga disentuhnya tak hayal membuat Key semakin yakin ada yang salah dengan dirinya. Tidak ada kata sayang, pelukan hangat, melainkan sikap dingin Raffael dari tatapan matanya yang tidak bersahabat.


Matanya membelalak, saat melihat bekas makanan tercecer di Meja dengan tulisan sangat romantis dan melirik walk in closet penuh dengan pakaian **** berikut segala pernak-pernik wanita dari brand ternama, berjejer dengan rapi yang mendadak membuat tangannya bergetar dengan dada bergemuruh.


Mungkinkah, teman makan Raffael yang dimaksud adalah seorang perempuan?


"Apakah ada seseorang datang kemari?"


"Iya," jawabnya dingin tanpa menoleh.


"Seorang wanita?" tanyanya hati-hati.


"Apakah ada yang salah, kalau itu seorang wanita? balasnya dingin. Tatap matanya berkilat dengan cepat tangannya menyambar remote TV dan mematikannya dengan kasar. Raffael habis kesabarannya dan berinisiatif tegas kepada Key saat ini juga.


"Seharusnya kamu yang tidak perlu repot-repot datang kemari, membawakan ku makanan, karena sudah ada yang mengantarkanku makanan," sinis Raffael tidak suka, yang diiringi oleh wajah Key yang mendadak pucat karena bagaimanapun Raffael tidak pernah sekasar itu bicara padanya.


"Ada masalah, Nona! Bukankah kau juga enjoy saja, menikmati kiriman bunga dari pemuja rahasiamu itu, lalu dimana letak kesalahanku," desisnya tajam, sukses membuat jantung Key serasa melompat keluar.


Key terhenyak, tulang pada tubuhnya terasa tercabut menyisakan raganya yang melemas. Raffael tidak pernah bicara setajam itu. Hatinya sakit sekali mendengarnya. Perlahan tangannya mengendur melepaskan pegangan


tangan, Raffael dari pinggangnya, dan dengan sedikit terseok duduk di sofa sesaat Raffael melepas pelukannya dengan kasar.


"Kenapa? Apakah ada yang salah? Bukankah kita impas, sayang? seringainya dengan wajah mengejek.


"Raffaell....!!! Apa yang kau ucapkan! Kenapa kau sangat kekanak-kanakan! Key berucap penuh amarah. Aku tidak sedang berkhianat, Raffael, jadi kau tidak berhak membalasnya seperti ini. Itu sangat menjijikkan!"


"Ohh, menjijikkan? Lalu bagaimana dengan dirimu, Nona? Apakah itu tidak menjijikkan? Aku tidak berniat untuk bertanya lagi, pikirkan olehmu ," jawabnya pelan dengan penuh penekanan tetapi terdengar begitu menyesakkan.


"Raffael, aku bisa jelaskan semuanya, "itu tidak seperti yang kau pikirkan."


Oh, Tuhan, drama apalagi ini. Aku berharap apa yang ku lihat dan ku dengar ini tidak benar.


 


"Apakah kau tidak sadar, kau adalah perempuan yang akan terikat dengan pernikahan sebentar lagi. Kecuali kau memang menghendaki semuanya berakhir, Key! lihat kecerobohanmu sekarang," teriaknya dengan muka merah padam.


Tangannya melempar ponselnya kasar dan menampakkan foto- foto Key dengan buket bunga ditangannya. Beruntung Raffael punya power untuk menghentikan semuaya sebelum tersebar ke Media.


Perempuan itu merosotkan tubuhnya menatap nanar dengan bibir bergetar.


Wajahnya memucat dengan keringat dingin yang mulai keluar. Lidahnya mendadak kelu. Raffael marah besar dan ini kesalahannya karena terlalu mengulur waktu untuk bicara padanya.

__ADS_1


"Sungguh aku berniat bicara padamu," lirihnya. Setelah aku mempunyai bukti dan foto itu sama sekali bukan diriku, aku tidak menerima buket itu di luar Mansion," jelasnya dengan mimik muka yang sedih.Tidak pernah disangka olehnya hal ini akan menjadi badai pertengkaran dahsyat menjelang pernikahan mereka.


"Bukti..!! Bukti apa yang sedang kau cari?


Jangan terlalu naif, Key! Di dunia ini mungkin sangat banyak orang menyukai Rosa Alba, tetapi saya rasa kamu tidak lupa, dengan orang yang begitu rajin memberikanmu saat sedang bekerja."


Pria itu melangkah mendekat dengan tatapan mengintimidasi.


"Kau tidak bisa menjawab, Key! Sudah kuduga kau lemah, kalau sudah berusan dengannya. Aku akui, dia penting untukmu, bahkan amat sangat penting! Tidak dengan diriku, aku tidak berarti apa-apa lagi untukmu."


"Raffael...," suaranya terdengar bergetar.


"Mustahil kau tidak bisa menebak arah pembicaraanku, "Kenapa kau terlalu sulit untuk menuduh dia dan menyebut namanya, padahal kau mengetahuinya, Key! teriakannya sarkas.


Key menutup wajahnya menahan rasa perih dihatinya. Raffael pantas marah padanya dan dia tidak berhenti merutuki kebodohannya. Kristal bening itu meluncur tanpa bisa di cegah, dia benar-benar sangat bodoh dan tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Jangan pernah berfikir kau tidak penting untukku, Kau segalanya bagiku, Raffael. Bahkan disaat aku belum tahu kalau kau mencintaiku, aku sudah tidak berniat untuk mencintai yang lainnya! Siapapun itu, Kecuali kamu, "apalagi sampai berpikir untuk mengkhianatimu, setelah pernikahan kita di depan mata." Pria itu memalingkan wajahnya dadanya ikut merasa sesak mendengarnya.


"Raffael," Netranya terasa memanas dan bibirnya kembali bergetar. Seluruh tubuhnya lunglai tidak berdaya. Apalagi saat melihat foto-foto itu dan meyakini adalah rekayasa, Key semakin menyesal tidak bicara terus terang dan orang lain dengan mudah menyusup ke dalam hubungannya dan mengacaukan segalanya.


Ini adalah pertengkaran serius pertama kalinya sejak dirinya menjalin hubungan dengan Raffael.Tidak disangka olehnya rumah megah yang digadang-gadang menjadi tempat untuk menghabiskan seluruh hidupnya bersama Raffael, menghadirkan intrik saat dirinnya menginjakkan kakinya didalamnya.


"Raffael, aku, memang mencurigai Andreas, tetapi aku tidak ada bukti. Buket itu tidak ada nama pengirimannya. Cuma ada tulisan tangan pada sebuah amplop dan aku berniat untuk menyamakan dengan tulisan, Andreas. Karena itu aku mampir ke rumah untuk mencari berkas saat aku bekerja dengannya.


"Berkas usaha kecil, Nona, Key," ejeknya mengingatkan. Tangannya meraih amplop dari tangan Key dan kembali hatinya memanas saat membacanya.


"Iya, aku berbohong untuk itu, Aku benar- benar minta maaf. Karena___"


"Karena kau takut aku berbuat nekat menemuinya, menuduhnya macam- macam," potong Raffael cepat dengan wajahnya terlihat semakin kecewa.


Key kembali terkesiap mendengarnya. Bertengkar dengan Raffael seperti menabur garam pada luka hatinya. Luka yang terasa seperti ribuan pisau menancap, menyayat dan mengiris perih menghadirkan luka menganga yang dia sendiri tidak tahu kapan sembuhnya.


"Ingat, Key! Aku bukanlah orang yang suka menuduh tanpa bukti. Bahkan untuk kasus keluarga kita, aku menunggunya bertahun-tahun. Walaupun aku kesakitan, sendiri, aku tidak gegabah menuduh seseorang. Aku menunggunya, walaupun itu sangat lama dan menyakitkan!!! teriaknya. Key kembali memejamkan matanya. Raffael pantas marah dan tidak akan ada niat untuk berdebat lagi dengannya.


"Itu sama saja kau tidak percaya padaku,Key ... "ujarnya pelan dengan penuh penekanan. Jakunnya terlihat naik turun bahkan Raffael berkali-kali mengepalkan tangannya menahan amarahnya.


"Iya, aku akui, aku bersalah. Harusnya aku bercerita semuanya padamu. Maafkan aku, Raffael," tatap matanya tak bersemangat.Tubuhnya kembali meluruh dengan sendirinya. Kali ini ucapan Raffael cukup menohoknya dan semakin membuatnya merasa bersalah dan mencemaskan nasib pernikahannya.


Raffael benar adanya. Kenapa dia tidak berpikir sejauh itu. Raffael memang keras kepala, tetapi dia profesional memandang sebuah masalah dan cara mengatasinya. Begitupun dia sudah melakukan segalanya untuk keluarganya, dirinya, dan wewujudkan semua mimpinya kurang apalagi. Pantaskah aku tidak mempercayainya?


Kristal bening itu tidak bisa mengalir lagi, karena air matanya terasa mengering, karena terlalu sedih. Hatinnya menjadi bias. Raffael dengan cintanya dan juga kemarahannya membuat dunianya serasa runtuh seketika. Sebuah kamar pribadi yang diidamkan untuk mengukir kenangan manis harus diisi oleh kenangan pahit saat pertama kalinya dirinya melangkah masuk didalamnya.


Menyakitkan...


Raffel melirik key yang meluruh menyender disofa. Kesedihan diwajahnya tidak terlukiskan olehnya. Dirinya memang tidak menumpahkan air matanya lagi, tetapi tatapan nanar pada netranya yang indah tidak bisa menutupi


perasaan terlukanya.


Apakah aku sudah terlalu kasar padanya?!


Jasson dan Jordy mondar-mandir tidak karuan. Kuping mereka terlalu tajam untuk tidak mendengar. Sayup -sayup teriakan amarah Raffael dari dalam kamarnya tidak terelakan lagi. Keduanya merasa bersalah karena ada andil Mitha didalamnya.


"Semoga mereka baik-baik saja.Tidak biasanya Tuan muda  marah sama Nona key, kalau tidak ada hal yang serius. Mereka tahu seberapa besar Tuan mudanya itu mencintai kekasihnya yang sebentar lagi menjadi istrinya tersebut.


"Tenangkan dirimu, Jordan sudah bergerak cepat. Yang aku bingungkan apa benar bunga itu semua dari Tuan Muda, Andreas?


________________________


Catatan penulis:

__ADS_1


Sahabat tersayang 😘


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komennya ya, Terimakasih 😍


__ADS_2