Misi Cinta CEO Tampan

Misi Cinta CEO Tampan
10. Ikhlas melepas rasa


__ADS_3

"Selamat, Raffael. Semoga berbahagia." Key memasang senyum tulus. Nova sedikit lega, saat wanita berambut hitam lurus dan panjang itu, menunjukkan sikap yang biasa saja.


Hatinya yang sempat berdebar kencang, kini terasa lebih tenang kembali, setelah hanya senyum tipis dan tatapan sendu yang ditunjuk Key ke arahnya. Raffael terdiam lalu mengangguk. Matanya melirik Nova yang berdiri di sampingnya. Dan bisa terlihat, wanita itu kali ini tersenyum bahagia dengan wajah yang lebih lepas.


Luar biasa, batin Raffael.


Andreas yang ikut memberikan ucapan, tidak kalah bahagianya. Hatinya dipenuhi dengan sebuah harapan. Harapan untuk


menjadikan Key cinta dalam hidupnya.


Tidak dipungkiri olehnya, status Raffael


yang baru membuat pikirannya yang sempat kacau mendadak lebih tenang kembali. Apa yang dilihat selama ini tidak seperti yang dipikirkannya.


"Baiklah, Raffael. Aku dan Key sepertinya harus kembali ke kantor." Keduanya saling melemparkan senyuman yang dibalas anggukan samar Raffael. Menatap punggung keduanya yang sedang berlalu, CEO tampan itu terdengar membuang napas kasar.


"Jasson, antarkan Nona, Nova ke apartemennya. Aku ada meeting mendadak."


"Baik, Tuan muda," jawabnya dengan


membungkuk.


"Tidak aku sangka, saat kita sedang berbelanja pun, aku harus diantar oleh


pengawalmu," Gerutu Nova belum berhenti. "Tetapi tdak masalah, aku sangat bahagia." Senyumnya terukir manis, dengan menunjukkan tas branded harga fantastis warna merah dan hijau.


Nova terlihat sumringah sementara Raffael diam seribu bahasa. Tatap matanya menggelap memandang lurus ke depan, samar-samar melihat Key dan Andreas yang berjalan beriringan.


"See you honey." Nova sedikit berjinjit dan mencium sekilas pipi, Raffael.


"Pulanglah ...." ujarnya pelan.


Raffael mendengkus kesal dan mengusap pipinya dengan kasar. Hatinya gelisah tidak karuan dan berlalu kembali ke kantornya.


Dengan langkah pelan, Key meninggalkan pusat perbelanjaan di kawasan elit pusat Kota. Keduanya hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing. "Kau tidak ingin beli sesuatu?" Andreas memecah kebuntuan. Key menggeleng pelan tetapi sudah cukup menjadi Jawaban wanita itu.


"Ambillah kalau kau butuh sesuatu," tawar Andres dengan penuh harap.


"Terimakasih. Aku tidak sedang membutuhkan sesuatu. lain kali saja,ok?" tolaknya halus.


Hanya senyum pria itu yang terlihat. Sudah bukan hal baru lagi melihat Key tidak begitu mudah menerima pemberiannya.


Hari telah kembali sore. Nyanyian malam


sebentar lagi akan tiba. Sepulang kerja di setiap akhir pekan Ia akan menyibukan


diri di butik milikinya. Kebersamaan Nova dan Raffael terus mengusik sisi hatinya. Tetapi ia sudah bertekad melepas rasa yang sudah sekian lama menghuni raganya dengan ikhlas.


Maafkan aku, yang sudah tidak tahu diri


mengharapkan mu. Tidak seharusnya rasa ini ada, terlepas apa yang sudah kau lakukan untuk keluargaku. Saatnya kau berbahagia, Raffael. Aku akan memaksa untuk tersenyum meskipun akhirnya kau bukan denganku.


Terus melangkah tanpa terasa, sepasang kaki jenjangnya telah sampai di sebuah taman kecil yang tidak jauh dari butik milikya. Duduk menatap langit sore hanya awan berkawan senja yang senantiasa silih berganti beriringan menghiasi semesta, yang selamanya tidak selalu indah.

__ADS_1


Begitulah kehidupan ada suka, pasti ada duka, ada tawa bahagia tetapi juga ada tangis pilu yang mendera.


Sekarang saatnya aku melepas mu, melepas rasa ku, dan mengabaikan segalanya yang pernah kita lewati. Cinta tidak pernah salah, tetapi memasakan sebuah rasa itu juga tidak adil untukmu.


Key terus bermonolog dengan hatinya.


"Kalau Semesta tidak mengijinkanku untuk bersamamu, aku ingin sakit ini menjadi tawa bahagia, meskipun pada akhirnya aku harus memilih yang lainnya."


Kepalanya menggeleng berulang kali. "Bahkan saat ini aku belum siap untuk jatuh cinta lagi."


Sekuat tenaga meredam air mata, kristal bening itu akhirnya meluncur dengan perlahan membasahi pipinya, tanpa Ia sadari. Wajahnya menatap langit sore yang telah beranjak menanti malam. Namun seakan semesta memahami perasaannya, bintang pun enggan untuk menunjukkan senyumya di balik Awan.


Yang terlihat hanya gelap, langit begitu muram. Semuram takdir cintanya yang tidak pernah menjadi kenyataan. Hawa dingin malam menyadarkannya, bahwa orang yang selalu mengasihinya mungkin telah menunggunya di rumah.


"Papa, Mama, aku merindukanmu."


******


Jordan mondar-mandir di depan ruangan CEO. Sesekali dia melirik jam tangannya dan bergerak gelisah.


"Raffael. Kenapa kau lama sekali kembali ke kantor." Iris mata hitam itu, mengedarkan pandangannya ke sekeliling, namun tidak


dijumpainya sosok yang dicarinya itu.


"Astaga, Raffael! Apakah kau terlalu bersemangat bertemu Nona Nova. Cepatlah kembali. Ada sesuatu yang


sangat penting seputar informan itu."


Di puncak rasa gundah orang yang ditunggunya menampakkan diri. Raffael


tegang dan mempersilakan Jordan untuk masuk.


"Ada apa Jordan?" Raffael duduk di kursi


kebesarannya dan menyandarkan punggungnya yang pegal. Tidak lupa tangannya meraih remote dan menekan tombol untuk memastikan pintu terkunci dengan benar.


Jordan mengambil amplop besar berwarna coklat dari balik baju kebesarannya. Jas warna hitam dengan dasi yang bertengger di lehernya ia longgarkan. Ia bersiap melihat reaksi Raffael saat membuka amplop tersebut.


"Kau yakin tidak meninggalkan jejak?" Raffael menatap tajam ke arah Jordanz saat tangannya bersiap menarik tali amplop tersebut.


"Kamu tenang saja! Anak buahku mencari data tersebut tidak melibatkan


alat elektronik. Ia menyamar sebagai kurir untuk masuk ke NAM GROUP."


"Bagus! lagi-lagi kau memang bisa diandalkan."


"Tetapi hati-hati dengan semuaya, Raffael." Jordan memperingatkan.


"Kamu tenang saja!"


Rasa penasaran yang sudah di ubun-ubun tadi akhirnya menemukan jawaban, seiring ketegangan mewarnai wajahnya yang tampan saat ini. Sorot matanya yang tajam, tampak serius memeriksa data satu persatu yang diperoleh dari informan tersebut dengan sesekali terdengar deru napasnya yang kian memberat.


"Banyak data yang tidak sama. Kuncinya adalah siapa pemilik resmi NAM GROUP. Cari tahu kapan awal berdirinya dan riwayat berdirinya perusahaan tersebut seperti apa," perintah Raffael tegas.

__ADS_1


"Anak buahku sedang menyelidikinya, lebih lanjut. Tidak akan lama."


"Bagus!"


"Bagaimana dengan Nona, Nova?"


"Dalam pengawasan jasson."


"Apakah kau tidak memikirkan, keselamatan Nona, Key?"


"Aku sudah mengirimkan orang untuk


mengawasi rumah Om Tirtawijaya."


Jordan manggut-manggut. "Ingatlah, Raffael, ombak lautan tidak selamanya


akan berlari ke tengah. Tetapi terkadang akan berlari ke pesisir, meluluh lantakkan semuanya."


Raffael termangu mencerna ucapan puitis Jordan yang sarat makna. "Aku mengerti. Bagaimana dengan orang yang berada di ruangan bawa tanah? Apakah sudah mau buka mulut?"


"Orang itu suruhan Tuan muda, Dave, Raffael," jelas Jordan.


Raffael mengepalkan tangannya. Firasatnya tak meleset. Rahangnya mengeras dengan sorot


mata dipenuhi amarah. Seketika


peristiwa 10 tahun yang lalu membayang kembali di matanya.


Rupanya kau benar-benar ingin bermain-bermain denganku, Dave. Apakah kamu pikir aku adalah anak ingusan sepuluh tahun yang lalu.


"Kendalikan dirimu, Raffael. Dengan tidak kembalinya mata-mata itu, dia mulai mengendus gerak-gerik kita," terang Jordan.


"Itu semua aku sengaja. Aku ingin tahu


sejauh mana dia bergerak. Sekap pada tempatnya."


"Baiklah. Kembali ke ruangan mu. Beritahu secepatnya setelah ada kabar terbaru." Raffael kembali berkutat dengan layar laptopnya. Ada beberapa berkas penting yang harus diperiksanya.


"Akhir bulan aku ada urusan bisnis ke Barcelona." Seketika negeri matador itu mengingatkan, bahwa pada akhirnya dia harus mengubah seluruh haluan hidupnya.


Fokusnya hanya pada satu wanita yang bernama Nova Ayudina Sastra Wijaya, Perempuan cantik, misterius penuh teka-teki yang dia temui di salah satu destinasi wisata terbaik dan kenamaan dunia "Ibiza." Pantai nan elok yang menjadi candu para pesohor di seantero jagat, tetapi berpotensi mengubah poros hidupnya.


"Benar- benar sangat terstruktur."



______________


Catatan penulis:


Sahabat tersayang, biar menghalaunya lebih dalam lagi, inilah tatapan mata setajam silet Raffael 😘😘😁


Jadi lupa like dan komennya,ya.

__ADS_1


Terimakasih 😍😍


__ADS_2