My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 99


__ADS_3

Harvey menggeram marah. Ia bukan tipe pria yang bisa bersabar juga lembuat. Alexa lagi-lagi memancing amarahnya.


Melihat Harvey yang menahan amarah membuat Alexa terisak pelan.


“Aku sedang sakit, Harvey. Setidaknya biarkan aku disini selama beberapa hari.” Lirih Alexa sembari menatap Harvey dengan sayu, berharap belas kasihan dari pria itu.


Elvan menoleh ke arah Alexa saat mendengar penuturan wanita itu.


“Enggak, kamu gak boleh pergi sama dia.” Ucap Elvan sambal menatap Alexa tajam.


Alexa meremas jemari Elvan, seakan menyuruh pria itu untuk diam.


“Izinkan aku tetap disini sampai sembuh.” Ujar Alexa, suaranya terdengar melembut agar Harvey percaya kepadanya.


“Baiklah, tak apa untuk beberapa hari ini. Jika kau sudah sembuh aku akan kembali datang untuk menjemputmu.” Ujar Harvey terdengar santai.


Semudah itu? Pikir Alexa kurang yakin.


Alexa tersenyum manis menatap Harvey lalu mengangguk singkat.


Sebelum pergi meninggalkan ruangan inap, Harvey memberikan tatapan peringatan kepada Elvan maupun Alexa.


Sepeninggalan Harvey, Alexa menghela nafas lega. Akhirnya mafia kejam itu pergi juga dari hadapannya. Senyum misterius terukir di bibir tipisnya.


“Elvan, bawa aku kembali ke Indonesia.” Alexa menatap Elvan yang kini duduk di pinggir ranjang. Dirinya juga telah kembali berbaring.


Elvan terkesikap mendengar penuturan Alexa.

__ADS_1


“Kamu yakin mau pulang kesana? Bukannya disana kamu gak punya keluarga? Gimana--”


“Aku yakin. Aku gak mau tetap disini. Tolong jauhkan aku dari laki-laki itu. Kamu mau kan?” Alexa menatap Elvan dengan tatapan memelasnya.


Walaupun dengan keraguan yang besar, Elvan tetap mengangguk mengiyakan permintaan wanita itu. Lihat! Lagi-lagi Elvan kembali mengikuti permintaan Alexa. Sangat disayangkan.


Elvan kembali ke kamar hotel tempatnya menginap. Ia kini duduk bersila di atas tempat tidur dengan ponsel di tangannya.


Perkataan Alexa tadi kembali mengiang dipikiran Elvan. Baginya tidak masalah jika Alexa ikut pulang bersamanya, hanya saja permintaan gadis itu membuat Elvan berpikir dua kali.


Aku—kita bisakan tinggal satu rumah lagi? Seperti waktu itu, ini dia yang membuat Elvan menjadi frustasi. Jika ia masih lajang, Elvan akan dengan senang hati membiarkan Alexa tinggal di apartementnya, seperti beberapa tahun lalu saat hubungan mereka masih berstatus pacaran. Tapi kini, ia bahkan sudah memiliki seorang istri yang harus dijaga perasaannya.


Tapi, Elvan juga tidak bisa menolak permintaan wanita itu. Dulu, Alexa selalu ada untuknya saat ia berada di titik terendah. Disaat dirinya membutuhkan seseorang untuk menghiburnya, Alexa lah yang selalu datang padanya. Bagaimana mungkin ia dengan tega menolak permintaan kecil wanita itu. Setidaknya, untuk kali ini ia harus melakukan itu.


Elvan segera menelpon Virgo.


Biar saja, Elvan sudah tau mengapa temannya itu sampai menghela nafas seperti itu.


“Apa lagi?” ketus Virgo. Suaranya terdengar ogah-ogahan menanggapi sapaan Elvan.


“Kapan lo pulang? Gak tau apa gue disini puyeng ngerjain semua kewajiban lo.” Celoteh Virgo tajam.


Elvan menghembuskan nafas pelan. Ia sedang tidak ingin membuat masalah yang nantinya akan membuat Virgo bertambah jengah sehingga tidak ingin menggantikan posisinya sementara di perusahaan.


“Disana lagi istirahatkan? Lo lagi diluar, ya?” Elvan mengalihkan percakapan mereka.


"Gue udah bilangkan kalo kerjaan gue numpuk, gimana gue mau keluar?!" Ketus Virgo lagi. Sebenarnya perkataan Virgo barusan tidak lah 100 persen benar. Karena nyatanya kini ia sedang bersama Ella di depan kantor gadis itu. Virgo berkata begitu agar Elvan lekas pulang ke Indonesia.

__ADS_1


"Kapan lo pulang?"


"Rencananya besok pagi." Elvan beranjak dari ranjang lalu berjalan ke balkon kamar hotel.


"Kenapa? Tumben lo telpon gue. Ada maunya pasti. Disana bukannya udah tengah malam ya? Lo belum tidur?"


Elvan terkekeh pelan.


"Tau aja lo. Disini emang udah tengah malam. Gue kepikiran sama lo makanya gak bisa tidur."


"Iih jijik gue! Ngapain lo mikirin gue?!"


"Ya kali gue mikirin lo. Mimpi aja sono." Gerutu Elvan. Kali ia tampak banyak berbicara. Apa karena telah bertemu Alexanya?


"Sebenarnya gue mau minta bantuan. Sebagai bawahan, lo harus ngikutin apa yang gue bilang." Virgo tertawa sumbang mendengar perkataan Elvan yang terdengar sok.


"Mentang-mentang bos besar. Nyuruh gue seenaknya aja. Apaan emang?"


"Lo tau kan sebuah rumah yang baru gue beli beberapa minggu lalu?"


"Tau dong, yang di jalan sentosa itu kan?"


"Ya jadi, sekarang lo temuin Helen dan bilang sama dia kalau hari ini dia pindah ke rumah itu." Ujar Elvan dengan satu tarikan nafas.


"Maksudnya kalian bakalan pindah ke rumah itu? Loh kok mendadak?" Suara Elvan terdengar kaget.


"Iya. Soalnya Alexa bakalan tinggal di rumah itu juga. Kalo kami di apartemen pasti gak bisa, karna kamarnya gak cukup." Jelas Elvan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2