
Elvan berjalan paling belakang mengikuti langkah sih pemilik rumah. Baru saja beberapa menit ia tiba di kediaman sahabat Mommynya ini rasa bosan sudah menghinggapinya.
Sangat membosankan, ujarnya dalam hati.
Saat tadi memasuki rumah tersebut, Elvan sesekali memperhatikan suasana rumah itu. Sangat sunyi, pikirnya. Dalam hati Elvan bertanya apakah sahabat Mommynya itu tinggal disini? Jika iya, kenapa tidak kelihatan? Dan jika ada disini, ia akan lebih memilih mengobrol dengan anak sahabat Mommynya itu dari pada menjadi nyamuk mendengar obrolan orang tua yang akan membuatnya bosan. Ahh... tidak. Ia akan memilih pulang dari pada harus bertatap muka dengan gadis yang akan menjadi calonnya.
"Ayo silahkan duduk. Jangan sungkan, anggap aja rumah sendiri." Sandra mempersilahkan calon besan dan calon menantunya duduk.
"Bisa aja lo San." Miranda terkekeh sembari menduduki kursi disamping suaminya. Begitu pun dengan Sandra, ia juga ikut duduk disamping suaminya yang berhadapan dengan Bima.
Mereka mengobrol ringan menanyakan dan menceritakan hal-hal yang mereka alami selama 3 tahun belakangan ini. Elvan hanya menjadi pendengar diantara mereka. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Huffftt..." Elvan menghembuskan nafas bosan.
Baru dua puluh menit, kapan ini semua akan berakhir?, pikirnya.
Sesekali Elvan melihat Mommynya dan wanita yang dipanggilnya tante itu tertawa keras. Elvan sangat jarang melihat Mommynya sedekat ini dengan seseorang.
Apa mereka sedekat itu?, Elvan membatin.
__ADS_1
"Oiya, putri mu mana San? Kenapa dari tadi tidak kelihatan?" Tanya Miranda sambil menatap sahabatnya. Saat ini mereka sedang berada di dapur untuk mengambil makanan yang akan dihidangkan.
"Helen lagi di tempat temannya. Tapi tadi udah di telpon kok disuruh pulang." Jawab Sandra sebelum berlalu menuju ruang makan.
Semua menu makan malam sudah selesai dihidangkan. Namun, Helen tak kunjung pulang sehingga mereka belum memulai makan malam.
"Helen mana sih Pa? Kenapa belum pulang juga? Coba Papa telpon lagi." Sandra merasa khawatir. Sudah satu jam dari ia menelepon Helen tadi, tapi sampai saat ini putrinya itu tidak juga terlihat memasuki rumah.
"Gak diangkat sayang." Ujar Frans setelah mencoba menghubungi putrinya.
"Mungkin sebentar lagi sampai." Sambungnya.
"Sudahlah San. Dulu kita juga kaya gitu. Namanya juga anak gadis." Miranda berusaha menenangkan Sandra.
Tidak lama kemudian Helen memasuki rumah.
"Assalamu'alaikum." Suara Helen yang mengucap salam terdengar.
"Mama!" Panggil nya kuat.
__ADS_1
"Mama!" Panggil nya lagi lebih keras.
Sandra yang mendengar suara putrinya langsung menghampiri Helen yang berdiri di depan pintu utama.
"Kamu dari mana aja? Keluyuran aja kerjanya." Gerutu Sandra sambil berjalan.
"Aaa..!" Pekik Helen saat bahunya dipukul cukup keras.
"Mama." Helen memelas pada Sandra yang menatapnya tajam.
"Kamu kenapa kotor begini?" Tanya Sandra saat mendapati pakaian putrinya yang berlumpur dibeberapa sisi.
"Kena cipratan air Ma." Balas Helen sambil merengut.
Baju yang dikenakannya saat ini memang sudah kotor karena cipratan air yang tergenang di pinggir jalan.
Elvan dan orang tuanya hanya memperhatikan dua wanita yang sedang beristeru itu. Elvan menatap gadis yang berdiri membelakanginya dengan sebelah alis yang terangkat. Dilihatnya penampilan gadis itu dari atas hingga bawah. Tatapan tak suka langsung terpancar dari kedua matanya.
~BERSAMBUNG ~
__ADS_1