My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 82


__ADS_3

Helen tidak dapat melakukan apapun agar mobilnya kembali hidup. Ia hanya bisa menelpon orang bengkel dan menyuruh mereka menjemput mobilnya. Helen melangkah pelan ke arah Citymart, dimana tadi ia meminta Elvan menjemputnya di tempat itu. Helen lalu mendudukkan diri di salah satu kursi yang ada disana.


Beberapa menit kemudian petugas bengkel telah datang menjemput mobilnya yang digerek oleh mobil derek yang mereka bawa bersamaan dengan turunnya rintikan hujan.


Helen yang tadi menghampiri petugas bengkel tersebut buru-buru berlari mencari tempat berteduh.


“Ahh.. ko hujan ya? Gimana nih gue.” Helen celingak-celinguk menatap sekitarnya yang kini telah dibasahi oleh air hujan yang turun dengan deras, seakan berlomba-lomba untuk mendarat terlebih dulu di atas bumi.


Tidak jauh dari tempatnya, Helen melihat seekor kucing yang masuk ke dalam parit yang kini telah berisi air. Kucing itu tampak kesusahan untuk bisa menaikkan kembali dirinya ke atas tanah. Melihat itu, Helen lantas merasa tidak tega. Mana mungkin ia akan dengan tega membiarkan kucing itu mati karena tidak bisa berenang.


Dengan langkah terburu-buru, Helen menerobos hujan untuk mengangkat kucing itu dari dalam air. Hujan yang sangat deras seketika membasahi seluruh pakaiannya.


Helen berjongkok lalu mengulurkan tangannya untuk meraih kucing itu. Dan berhasil! Helen kembali menegakkan tubuhnya saat kucing itu telah berada di tengannya. Helen hendak kembali ke tempat perteduhannya, namun seseorang mencekal lengannya tiba-tiba. Ia lantas berbalik dan menatap seorang gadis yang kini juga basah dengan dahi berkerut.


“Lo Francine kan?” tanya gadis yang kini mencengkal tangannya.


“HAH?!” Helen berteriak menatap gadis di depannya. Ia tidak mendengar perkataan gadis itu karena derasnya suara hujan.


“NAMA LO FRANCINE KAN? FRANCINE TEMEN GUE?” Gadis berambut coklat itu berteriak tidak kalah keras.


"IYA GUE FRANCINE TAPI PANGGILAN GUE HELEN, BUKAN FRANCINE." Helen mendekap kucing yang tadi di tolongnya dengan erat. Berusaha menghindarkan kucing itu dari siraman hujan yang terasa tajam di kulit.


"LO NGAPAIN HUJAN-HUJANAN DISINI. AYO IKUT GUE!" Gadis itu langsung menarik tangan Helen dengan kuat.


"LO SIAPA SIH?" Pekik Helen Keras.


"GUE MEIDI, AYO IKUT GUE, NANTI GUE JELASIN SEMUANYA." Gadis bernama Meidi itu kembali menarik lengan Helen dengan kuat membuat gadis berambut hitam pekat itu hanya bisa pasrah mengikuti langkah gadis yang mengaku sebagai temannya.


"Siapa sih nih cewek?" Tanya Helen sambil menggendong kucing berbulu putih di tangannya.

__ADS_1


Meidi menarik Helen ke dalam mobil berwarna merah lalu menutup pintunya kembali. Helen memeluk tubuhnya dan kucing putih itu demi menahan tubuhnya yang mulai menggigil. Gadis di sampingnya ini benar-benar sinting. Temen enggak, kenalan enggak, tetangga juga bukan, malah narik-narik gak jelas, pikirnya.


"Maksud lo apa narik-narik gue? Gue gak kenal sama lo." Tukas Helen sinis lalu mengecap bibirnya yang mulai memutih.


"Sebelumnya gue minta maaf karena udah narik-narik lo kaya tadi. Gue gak bermaksud buat lo takut, tapi gue beneran temen lo. Lo temen gue waktu di Amsterdam." Jelas Meidi setelah mematikan pendingin mobil miliknya.


"Lo temen kuliah gue?" Tanya Helen tak yakin dengan masih memeluk tubuhnya.


"Iya, gue temen lo. Jadi, sekarang lo tinggal di negara ini? Bagus deh kalo iya, karena gue juga tinggal disini dari 2 bulan yang lalu." Meidi menatap Helen dengan tatapan berbinarnya. Yang ditatap hanya bisa bungkam mencerna perkataan gadis yang menurutnya sangat asing.


"Gue seneng banget bisa ketemu lo lagi. Setidaknya gue punya temen di negara ini." Meidi segera memeluk Helen menyalurkan rasa bahagianya. Tubuh mereka sama-sama basah. Namun, kedua gadis itu mengabaikan fakta tersebut dan membiarkan bangku mobil yang mereka duduki dibasahi oleh air.


Helen membiarkan tubuhnya di peluk oleh gadis itu. Jika memang benar gadis itu adalah temannya dulu, hal itu sangat tidak masalah bagi Helen. Ia justru senang karena bisa bertemu teman lamanya dan akan menjadi temannya lagi disini.


"Kabar lo sama Daniel gimana? Kalian sudah menikah kan? Aku sangat senang karena kalian bisa bersama."


Helen menyerngit.


Daniel? Menikah? Helen terdiam. Ia memang sudah menikah, tapi suaminya bukan Daniel. Apa gadis ini salah orang? Pikirnya.


Puluhan menit telah mereka lalui di dalam mobil merah itu. Helen sedari tadi hanya bungkam dan mendengarkan semua cerita yang keluar dari mulut Meidi. Mulai dari saat-saat mereka kuliah dulu hingga kini ia harus tinggal di Indonesia karena paksaan orang tuanya. Tapi semua itu sama sekali tidak ia ingat. Satu pun dari cerita Meidi terasa tidak pernah ia lalui.


“Maaf, gue harus pergi. Mungkin lain kali kita bisa ketemu.” Helen berujar pelan sembari menahan sakit di kepalanya.


“Kalau lo mau, gue bisa nganterin lo pulang. Kasih tau aja dimana alamat lo.” Meidi menahan lengan Helen saat gadis itu hendak keluar dari mobil.


Helen terdiam sejenak. Mungkin ia bisa saja menrima tawaran teman lamanya ini untuk mengantarkannya pulang ke apartement, tapi Elvan—suaminya itu pasti akan datang menjemputnya. Helen tidak ingin membuat Elvan khawatir saat tidak menemukan dirinya di depan Citymart.


“Makasih, tapi gue udah di jemput sama suami gue, permisi.” Pamit Helen lalu berlari menerjang hujan yang masih turun dengan sangat deras bersama kucing putih yang kini juga tampak kedinginan.

__ADS_1


Helen menyeberangi jalan bertepatan dengan mobil yang sangat dikenalinya berhenti tidak jauh dari tempatnya berlari. Sedetik kemudian, Helen melihat Elvan keluar dari sana dengan payung yang melindungi kepalanya. Melihat itu, Helen segera berlari menghampiri suaminya tersebut. Rasanya, butuh perjuangan keras untuk ia sampai dihadapan Elvan karena kepalanya yang kini benar-benar terasa sakit.


“Kenapa lo hujan-hujanan!” bentak Elvan saat Helen sudah berdiri di depannya.


“Hehe.. maaf, tadi gue tolongin kucing ini.” Ujar Helen sembari tersenyum terpaksa, mengabaikan kepalanya yang mulai berat.


“Alasan.” Sinis Elvan lalu membawa Helen untuk masuk ke mobil dan memberikan handuk kecil kepada gadis itu.


Tidak dapat dipungkiri jika Elvan sangat takut saat tidak mengetahui kabar Helen lebih dari 1 jam, apalagi saat ini cuaca sedang buruk. Istrinya itu sudah berhasil membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Sejam lebih Elvan mengelilingi daerah tersebut demi mencari keberadaan Helen. Sampai-sampai ia menurunkan anak buahnya untuk mencari keberadaan gadis itu. Saat Kembali melewati Citymart yang dimaksud Helen, Elvan menyuruh supirnya berhenti dan memutuskan menunggu gadis itu disana. Namun, tidak sampai 1 menit, Elvan melihat seulet gadis yang sangat ia kenal. Melihat Helen yang tadi berlari-lari di bawah derasnya hujan seketika membuat Elvan tersulut emosi.


Elvan menatap Helen yang kini duduk bersandar di sampingnya. Mata gadis itu terpejam dan kucing yang tadi dipelukannya kini telah berpindah di samping tubuhnya. Tubuh Helen yang basah kuyub membuat Elvan sangat yakin jika gadis itu pasti sangat kedinginan.


Selintas, Elvan merasa kasihan. Namun, hal itu tidak dapat menghilangkan rasa amarah yang sudah ia tahan sejam lamanya.


Elvan segera melepas jas yang membalut tubuhnya lalu menyampirkan jas tersebut di atas tubuh Helen yang dingin.


“Lo kedinginankan?” Elvan menoleh kea rah Helen yang kini memejamkan matanya.


“Pakai jas gue.” Ujarnya tajam sambil menydorkan jas yang baru saja ia lepas dari tubuhnya.


“Heh! Gak usah jual mahal, biasanya juga murahan.” Kali ini Elvan menyikut lengan Helen pelan, namun gadis itu tidak bergeming sedikit pun.


Elvan mengerutkan dahinya bingung. Sedetik kemudian ia langsung menggoncang tubuh Helen yang sudah terkulai lemah.


“HELEN!!” Elvan berteriak di depan wajah gadis itu dengan raut yang tidak terbaca.


Sementara gadis yang berada di dalam mobil merah tadi, menatap kendaraan Elvan dengan terkeut sekaligus terharu.


“Ternyata semua yang diinginkan oleh Om Rian benar-benar terjadi. Putranya tidak menikah dengan Helen dan ia telah berhasil memisahkan kedua orang itu untuk selamanya. Dengan begitu aku akan dengan mudah mendapatkan Daniel. Pria itu tidak perlu mengingat kembali siapa Helen.” Ujarnya tajam sembari mencengkram stir mobilnya dengan kuat.

__ADS_1


“Aku sangat yakin, kecelakaan itu juga salah satu dari rencana Om Rian. Haha pria itu sungguh kejam, ia tega membuat kedua orang itu kehilangan memori mereka. Dan disini, aku lah akan diuntungkan.” Sambungnya sambil tersenyum miring.


BERSAMBUNG...


__ADS_2