
Entah mengapa topik mereka kali ini membuat perasaannya sedikit terguncang. Antara menyesal, sedih, kecewa bercampur menjadi satu. Ia sadar, jika selama ini dirinya telah salah mengabaikan Helen. Seharusnya dari dulu ia ingat jika ia hanya akan menikah satu kali sepanjang hidupnya. Seharusnya ia sadar jika di dunia ini ia hanya boleh memiliki satu Wanita sebagai pendamping hidupnya dan Helen adalah Wanita yang telah Allah kirim untuknya. Lalu, mengapa selama ini ia seakan buta dan tetap mengejar Alexa? Cinta. Cinta lama telah membuat akal dan logika Elvan hanyut bersama perasaan sayang yang tidak pantas.
“Oke! Kalau gitu sekarang lo balik ke Indonesia. Temui Helen dan minta maaf sama dia. Jangan sampai semuanya terlambat.” Tegas Virgo diseberang sana.
“Jadi, Alexa gimana? Gue kesini mau bantuin dia.”
“Be*o. Lo itu kaya, gunain kekuasaan lo buat nolongin dan bawa Alexa!” pekik Virgo kuat.
“Sekarang juga lo harus balik ke Indonesia.” Perintah Virgo tak terbantahkan.
“Oke! Gue balik ke Indonesia, tapi jangan pernah lo kasih tau Helen kalau gue pergi ke Finland buat cari Alexa. Gue denger dia itu serem kalo lagi marah.” Ucap Elvan. Seutas senyum terbit di bibirnya saat mengingat perkataan Pak Rian beberapa minggu lalu.
Benarkah jika Helen semenyeramkan itu jika tengah marah? Sepertinya ia perlu membuktikannya. Mengingat Helen, Elvan jadi rindu dan lekas ingin bertemu istrinya itu secepatnya. Elvan jadi ingin melihat wajah cerah yang selalu menatapnya dengan penuh cinta itu secepatnya.
Elvan kembali menyimpan ponselnya dibalik jas mahal yang kini membalut tubuh tegapnya. Tidak salah ia memiliki teman seperti Virgo.
__ADS_1
“Rio, kita balik ke bandara.” Titah Elvan tegas kepada bodyguardnya yang ia panggil Rio.
“Baik, Tuan.” Jawab Rio sembari mengangguk singkat lalu menambah laju kemudinya menyusuri jalan kota Finland.
Tepat di persimpangan jalan, Rio tekejut saat melihat seorang wanita tiba-tiba melintas di depan mobil yang dikemudinya. Rio tidak dapat menghindari tubuh wanita itu terpental karena tertabrak bamper mobil.
Dengan lekas Rio turun dari bangku kemudinya disusul oleh Elvan yang juga ingin melihat wanita yang telah ditabrak oleh body guardnya itu.
Saat jaraknya dengan wanita itu sudah semakin dekat, Elvan membulatkan matanya terkejut. Wanita itu.. Elvan merasa lidahnya kelu, pikirannya seakan tidak berfungsi melihat wanita yang kini tergeletak di atas aspal dengan beberapa luka di tubuhnya.
Elvan dengan cepat membawa tubuh Alexa yang terkulai lemah ke dalam gendongannya lalu dengan lekas berlari ke arah mobil.
"Ke rumah sakit terdekat, Rio." Ujar Elvan setelah ia dan Rio memasuki mobil. Dilihatnya wajah Alexa yang kini tampak pucat.
Benarkah ini Alexa? Wanita yang ia tunggu-tunggu kepulangannya selama ini? Elvan merasa sedikit tidak yakin dengan penglihatannya saat ini.
__ADS_1
Dengan perasaan gelisah Elvan menepuk-nepuk pelan pipi wanita itu, berusaha mengembalikan kesadarannya. Namun, seolah tidak ingin menerima kenyataan, Alexa tidak sedikit pun menggubris Elvan yang tampak gelisah.
Sesampainya di rumah sakit, Alexa langsung ditangani oleh dokter dan beberapa suster. Puluhan menit menunggu di depan ruangan Alexa, akhirnya Elvan melihat pintu ruangan bernuansa putih itu terbuka. Seorang dokter keluar dari sana lalu dengan lekas Elvan menghampiri dokter tersebut.
"Keluarga pasien."
"Saya temannya Dok." Teman? Benarkah jika kini Elvan hanya menganggap Alexa sebagai temannya? Mengapa ia tidak mengklaim Alexa sebagai kekasihnya saat dokter itu bertanya?
"Bagaimana kondisinya, Dok?" Elvan menatap pria berjas putih di depannya.
"Lukanya tidak terlalu serius juga tidak ada luka dalam. Kita hanya perlu menunggu luka yang ada di tubuh pasien mengering. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, pasien juga sudah sadar. Anda boleh masuk." Jelas sang Dokter lalu pergi dari hadapan Elvan yang kini berdiri kaku menatap pintu di depannya.
Dengan gerakan pelan, Elvan menekan handle pintu di depannya.
Alexa yang berada di atas ranjang menoleh ke arah pintu saat mendengar langkah kaki yang semakin mendekat.
__ADS_1
TBC