
Elvan mengeratkan pelukannya pada tubuh Helen. Aroma Helen yang menenangkan langsung menyeruak memenuhi penciumannya. Baru kali ini mereka berdekatan sedekat ini. Sebenarnya Elvan masih sedikit kesal dengan gadis digendongannya ini. Tapi, entah mengapa rasanya ia tidak bisa menumpahkan amarahnya untuk saat ini. Elvan menunduk menatap Helen yang bersandar di dada bidangnya. Mengingat soal Daniel, Elvan rasanya benar-benar ingin memberikan bogeman mentah pada wajah sih brengsek itu. Berani-beraninya pria itu menyentuh miliknya, pikir Elvan. Miliknya? Benarkah jika Elvan sudah mengklaim Helen sebagai miliknya? Entahlah. Elvan tidak ingin ambil pusing memikirkan itu. Namun, tetap saja ada yang janggal saat melihat Daniel begitu peduli pada Helen.
Kamar penginapan Helen sudah tampak di depan mata. Elvan dengan tubuhnya yang kokoh tidak sedikit pun merasa kesulitan menggendong tubuh Helen yang tidak bisa di bilang kecil. Hal itu membuktikan jika pria itu sudah biasa melakukan atau mengangkat beban berat saat ia latihan nge-gym. Langkahnya terus berlanjut hingga ia berhasil berdiri di depan pintu kamar Helen dan Ella.
"Buka." Elvan menunduk melihat wajah Helen yang tampak memerah.
Helen menatap wajah Elvan dari bawah. Dari situ Helen dapat melihat dengan jelas rahang tegas suaminya. Senyum pun kian terukir di bibir tipisnya.
Manfaatin kesempatan ini dengan baik, Helen membatin. Mengingat jarang-jarang Elvan mau menggendongnya seperti ini. Bukan jarang, malahan tidak pernah.
"Kuncinya di tas." Lirih Helen sambil menatap wajah Elvan. Saat itu juga Helen melihat Elvan yang menghembuskan nafas jengah sebagai respon ucapannya.
"Ambil."
__ADS_1
"Gimana caranya?" Kali ini Helen benar-benar kehilangan konsentrasinya. Aroma tubuh Elvan sudah membuatnya melayang hingga ia melupakan bagaimana caranya mengambil kunci yang berada di dalam tas kecil miliknya.
Menatap wajah Elvan, Helen mengerucutkan bibirnya saat Elvan kembali menatapnya dengan tajam setelah beberapa menit yang lalu tatapan itu tidak lagi diperlihatkan padanya. Ditatapnya setajam itu, membuat Helen menenggelamkan wajahnya di dada bidang Elvan dan mengeratkan pelukannya pada leher pria itu.
"Lo mau gue jatohin? Cepetan ambil." Ujar Elvan tegas.
Helen mendengus kemudian melepaskan pelukannya dari leher pria itu. Tangganya kemudian menarik tali tasnya yang sedari tadi tersampir di lengannya. Untung saja tas barunya itu tidak tertinggal di pondok tadi karena Daniel sempat menyusul mereka dan memberikan tas itu. Lagi-lagi Daniel membantu Helen. Bagaimana bisa Helen menolak pria itu untuk menjadi temannya jika ia sudah berulang kali ditolong?.
Elvan berdecak kesal saat melihat Helen yang masih memanyunkan bibirnya. Apa lagi kali ini? Piker Elvan. Ia kembali melangkah memasuki ruangan yang ternyata tidak terlalu luas itu setelah Helen berhasil membuka pintu masuk selebar-lebarnya. Elvan membaringkan tubuh Helen ke satu-satunya ranjang yang ada disana. Helen tersenyum kecut saat dengan terpaksa ia harus melepaskan tangannya dan berjauhan dari tubuh Elvan. Seperti ada yang hilang dari tubuhnya saat Elvan melepaskan dekapannya.
“Mana yang sakit?” Elvan melirik wajah dan kaki Helen bergantian.
“Kaki…” ujar Helen dengan suara manjanya yang jelas dibuat-buat.
__ADS_1
Lagi. Elvan kembali menghela nafas Lelah. Terbuat dari apa sebenarnya gadis di hadapannya ini? Elvan sangat pusing melihatnya.
“Kaki yang mana?” tanya Elvan lagi mencoba bersikap baik dan bersabar. Ia tidak ingin jika kata-katanya yang pedas kembali terucap dan menyakiti hati Helen. Sudah cukup ia melihat Mommynya menangis karena memergoki dirinya berbuat kasar pada Helen beberapa waktu yang lalu. Elvan menyesal mengingat hal itu. Bagaimana pun ia telah menyakiti perasaan Ibunya. Wanita yang telah melahirkannya. Lalu bagaimana dengan Helen? Tidakkah Elvan juga merasa telah menyakiti perasaan gadis itu? Sepertinya tidak. Karena semua yang Elvan lakukan hanya demi menjaga perasaan Mommynya. Pernikahan ini juga demi Ibunya. Pergi berlibur bersama Helen juga demi Ibunya. Bahkan, kali ini pun juga demi Ibunya. Elvan tidak ingin, Ibunya sedih saat kepulangan mereka nanti mendapati kaki Helen sedang tidak baik. Jangan sampai ia gagal menjaga Helen yang berakibat akan menyakiti perasaan Ibunya. Mengingat Helen adalah menantu kesayangan Ibunya.
“Kaki yang ini, yang kanan.” Helen tersenyum. Dengan penuh harap ia berdoa agar Elvan mau mengobati kakinya.
Dan benar! Elvan melakukannya! Hati Helen bersorak gembira saat Elvan dengan perlahan menaiki ranjang lalu duduk bersila di dekat kaki kanannya.
“Sebentar lagi Virgo dan Ella datang, gue udah suruh mereka beli obatnya.” Elvan berujar pelan rasanya sedikit canggung saat ia mengangkat lalu meletakkan kaki kanan Helen di atas pahanya.
Aaaaah.. ya Tuhan, gue lagi gak mimpikan? Ini beneran Elvan? Si Kulkas Rusak itu? Kok dia mendadak perhatian banget sih.. gue kan jadi suka. Suka? Benarkah Helen sudah jatuh hati pada suami tampannya itu? Mustahil jika tidak. Helen akui jika dirinya sudah jatuh pada pesona Elvan. Sih pria angkuh dan kejam itu.
TBC
__ADS_1