
Dua jam kemudian, Elvan pergi meninggalkan apartemen Virgo. Lebih tepatnya Virgo yang mengusirnya. Virgo sengaja melakukan itu agar Elvan menemani Helen di apartemen mereka. Namun, niat baik Virgo tidak ditanggapi dengan baik oleh Elvan. Ia malah mengatakan kalau Virgo teman yang tidak setia dan akhirnya dengan berat hati Elvan kembali ke apartemen.
Elvan memasuki apartemen itu dengan tampang datarnya. Rasa kesal masih membekas di dirinya saat mengingat perdebatannya dengan Virgo tadi. Elvan menekan handel pintu lalu masuk ke dalam kamar yang remang. Dilihatnya Helen yang meringkuk di atas ranjang dengan tatapan yang sulit diartikan. Elvan bingung harus tidur dimana malam ini. Tidur di sofa? Enak saja. Ia punya ranjang yang empuk kenapa harus tidur di sofa yang akan membuat tubuhnya pegal. Elvan tak akan melakukan hal sebodoh itu. Tidur seranjang dengan Helen? Entahlah. Ia perlu berpikir dua kali untuk melakukan itu.
Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, Elvan mendekati ranjang. Ia berpikir apa yang harus dilakukannya kepada gadis sok polos yang sedang terlelap itu. Memindahkannya ke sofa, kah? Tidak. Elvan tidak ingin melakukan itu. Setelah berperang batin akhirnya Elvan memutuskan kalau malam ini ia akan membiarkan Helen tidur di ranjangnya. Hanya malam ini, tidak untuk malam-malam selanjutnya.
Elvan mendorong tubuh Helen yang membelakanginya agar lebih jauh ke tepi ranjang.
"Untuk malam ini lo boleh tidur di ranjang gue, tapi mulai besok malam jangan pernah lo tidur disini. Ini kamar gue dan soal lo mau tidur dimana itu terserah lo. Tapi, saran gue lo lebih cocok tidur di kamar mandi atau yang lebih cocok lagi di kamar mayat hahaha.." Elvan tertawa sumbang mengenai solusinya.
Setelah berhasil menggeser tubuh istrinya. Elvan meletakkan guling diantara mereka sebagai pembatas.
"Apa lebih baik lo itu gue bunuh aja? Kan, dengan gak adanya lo di dunia ini maka gue bebas. Gue akan bebas dari ikatan tali pernikahan gila ini." Ujar Elvan sembari memikirkan rencananya.
__ADS_1
"Oke, gue akan pikirin lagi rencana itu. Lo siap-siap aja kalau nanti lo mati mendadak." Elvan berbicara seorang diri namun perkataannya ia tujukan pada Helen yang sedang tidur.
Elvan berbaring bersedekap dada sembari memperhatikan langit-langit kamarnya. Ia baru bangun sekitar dua setengah jam lalu namun rasa kantuk kini kembali menyerangnya. Secara perlahan kelopak mata Elvan menutup dan ia tertidur menyusul Helen yang sudah tidur dengan damai. Bahkan jika dilihat sekilas, mereka tidak terlihat sedang berperang dingin.
Elvan yang sudah nyenyak dalam tidurnya tiba-tiba bergerak gelisah mencari posisi nyaman. Elvan yang sedang terlelap memiringkan tubuhnya menghadap Helen yang tidur telentang. Guling yang menjadi pembatas tubuh mereka sudah berpindah ke dalam pelukan Elvan. Untuk sesaat tubuh Elvan tidur dengan tenang namun beberapa puluh menit kemudian Elvan kembali gelisah. Guling yang berada dipelukannya sudah berpindah lagi ke kakinya. Elvan memang tipe pria yang tidak bisa diam jika tidur. Namun, kali ini berbeda. Gerakannya kali ini menunjukkan kegelisahan.
Karena tubuhnya yang terus bergerak gelisah, ia kini menjadi sangat dekat dengan Helen. Bahkan wajahnya sudah dekat menghadap wajah Helen yang tidur telentang. Tanpa sadar, tangan Elvan berpindah ke atas perut Helen dan memeluknya. Beberapa menit kemudian tubuhnya kembali tenang.
Helen yang merasa berat di perutnya terbangun untuk menyingkirkan beban berat tersebut.
"Ya Tuhan gue pikir setan." Helen mengelus dadanya saat melihat ternyata itu adalah tangan Elvan. Helen menatap ke arah Elvan sehingga mereka saling berhadapan. Diperhatikannya wajah Elvan yang tidur dengan lelap. Ia sungguh mengaggumi ciptaan Tuhan di depannya itu. Wajah Elvan terlihat sexy di matanya saat sedang tidur dengan rambut yang berantakan.
Helen tersenyum tipis melihat Elvan. Tangannya terulur untuk mengangkat tangan Elvan dan meletakkannya di atas pinggangnya. Senyum manis tidak surut dari bibir Helen. Ia membuat Elvan memeluk pinggangnya. Elvan yang tidak tau apa-apa semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Helen. Mungkin ia berpikir jika pinggang Helen adalah guling.
__ADS_1
"Gue istri lo, jadi gak salah kalau lo peluk gue kaya gini." Ucap Helen pelan. Ia tersenyum getir dan suaranya terdengar menyedihkan.
Helen mengelus pipi Elvan lembut.
"Gue gak tau gimana perasaan gue sama lo. Tapi sebagai istri, gue akan berusaha buat jatuh cinta sama lo dan gue akan ngelakuin apapun supaya lo juga jatuh cinta sama gue. Gue akan pastiin itu." Helen masih mengelus pipi Elvan.
"Gue bingung banget, kenapa lo sebegitu bencinya sama gue. Setelah di pikir-pikir, gue itu gak ada salah sama lo. Kalau lo benci gue karena perjodohan ini maka lo salah. Lo gak berhak benci sama gue karena alasan itu." Jemari Helen berpindah ke alis, kening dan dagu Elvan. Ia menumpahkan semua isi hatinya yang ingin ia sampaikan pada Elvan. Hanya di saat seperti ini lah ia bisa mengatakan semuanya, karena jika Elvan dalam kondisi sadar maka hal ini tidak akan dapat ia lakukan. Saat kondisi sadar, rasanya Elvan sangat sulit untuk dijangkau.
"Gue akan buat lo jatuh cinta sama gue." Ucap Helen yakin. Di ciumnya pipi Elvan sekilas lalu menarik selimut untuk menutupi kaki mereka. Helen kembali memejamkan mata sembari mengulurkan tangannya memeluk pinggang Elvan.
Malam ini mereka tidur dengan saling berpelukan.
BERSAMBUNG..
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya guyss. Terima kasih🙏❤