My Cold Husband Is A CEO

My Cold Husband Is A CEO
Part 89


__ADS_3

Helen terbangun dari tidurnya saat cahaya matahari menerpa wajahnya dari sela-sela gorden. Angin pagi bertiup sepi-sepi menimbulkan rasa sejuk yang lumayan membutnya harus mengeratkan selimut. Helen menguap lebar menghilangkan kantuk yang masih menyerangnya. Tidak biasanya ia bangun sesiang ini. Helen mendudukan dirinya dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas lalu melihat jam yang ada di benda pipih itu.


08:30 WIB, ini rekor terbaru Helen bangun tidur. Helen kembali meletakkan ponselnya lalu merapikan rambutnya yang terasa berantakan. Helen menerawang jauh lalu mengulum senyum cerah sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia tidak sanggup menahan tawanya.


Bantu aku mencintaimu.


Benarkah Elvan berkata begitu? Helen samar-samar mendengar ucapan pria itu kemarin malam, tapi apakah itu nyata atau hanya imajinasinya saja? Seperti yang sering ia bayangkan akhir-akhir ini.


“Aku pasti akan membantumu, Sayang.” Helen menatap foto Elvan yang ada di dinding kamar mereka. Ia masih sangat ingat ketika foto itu diambil saat mereka berlibur ke pantai beberapa minggu lalu.


Helen celingak-celinguk mencari batang hidung suaminya itu. Ck!


“Dimana dia?”


“Elvan?” panggil Helen sebelum memasuki kamar mandi. Meninggalkan fakta jika sebenarnya Elvan telah pergi meninggalkan dirinya dua jam yang lalu.


Helen keluar dari kamar beberapa menit kemudian dengan dahi yang mengernyit, ia bertanya-tanya dimana keberadaan Elvan. Mengapa disaat ia bangun tidur suaminya itu sudah tidak ada disampingnya?.


“Elvan!”Helen membuka pintu ruang kerja yang biasanya Elvan gunakan jika sedang tidak pergi ke kantor. Mendapati ruangan itu masih gelap, Helen menyimpulkan jika Elvan tidak ada di dalam sana. Helen kembali menutup pintu ruangan tersebut lalu melangkah ke dapur untuk membuat sarapan.


Apa Elvan ke kantor?, Helen menghela nafas lalu memulai kegiatan paginya.


Selalu saja seperti ini, Elvan tidak pernah memberitahunya jika akan pergi ke suatu tempat. Bukannya Helen tidak percaya kepada Elvan, hanya saja sebagai seorang istri tentu Helen merasa khawatir jika Elvan pergi tanpa kabar seperti ini. Bahkan, suaminya itu melewatkan sarapan paginya di rumah. Jika Helen bisa mengulang waktu, sebenarnya ia ingin bangun terlebih dulu dari pada Elvan, ia ingin melihat bagaimana wajah polos Elvan jika sedang tidur, seperti yang biasa ia lakukan.


Helen berusaha berpositif thinking saat tidak mendapati Elvan di apartement mereka. Biasanya, jika sedang weekend begini, Elvan lebih banyak menghabiskan waktu di kediaman mereka, sekalipun itu hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas kantornya. Jika selama ini kalian berpikir Elvan mau menghabiskan waktu weekendnya Bersama Helen, maka kalian salah. Pria itu bahkan tidak akan keluar dari ruangan kerjanya jika Helen tidak datang dan memaksanya untuk menghentikan pekerjaannya sejenak. Dan Ketika Helen sedang tidur siang, maka Elvan akan kembali menghadap berkas-berkasnya ataupun melakukan misinya untuk mencari keberadaan Alexa.


Helen berselonjor di atas sofa yang ada di depan TV. Tubuhnya terasa Lelah karena telah membereskan semua pekerjaan rumah yang harus dibereskan. Sudah hampir jam makan siang, tapi Elvan belum juga kembali. Bahkan, pria itu juga tidak memberinya kabar.


Mungkin bentar lagi pulang, batin Helen mencoba menenangkan pikiran dan tubuh lelahnya. Beberpa saat kemudian, ia sudah tertidur di sofa dengan TV yang menyala di depan sana. Pukul 16:00 Helen terbangun dari tidurnya. Gadis itu langsung beranjak dari tidurnya untuk membersihkan diri. Makan siang telah ia lewatkan hanya karena menunggu Elvan yang ia pikir akan pulang untuk makan siang bersamanya.

__ADS_1


Helen keluar dari apartement lalu memasuki mobilnya yang terparkir di basement. Mobil berwarna merah itu melaju dengan kecepatan sedang yang membelah jalanan kota Jakarta. Helen berhenti di garasi milik orang tuanya. Entah apa gerangan ia tiba-tiba merindukan kedua orang tuanya. Sehingga tanpa pikir panjang Helen langsung mendatangi rumah yang beberapa bulan lalu ia tempati bersama orang tuanya.


"ASSALAMU'ALAIKUM, MAMA! HELEN DATANG, MA!" Pekik Helen dari pintu utama. Seorang pembantu berpakaian hitam putih datang menghampiri Helen.


"Nyonya lagi di kamar. Non Helen baru dateng?" Tanya seorang wanita paruh baya.


"Iya, Mbok."


"Non sendirian? Tuan Elvan tidak ikut?" Wanita itu mengikuti Helen yang berjalan menuju ruang keluarga.


"Enggak, Mbok. Elvan lagi ada urusan sepertinya. Papa ada Mbok?"


"Oh, ada Non. Lagi di kamar sama nyonya." Jawab wanita itu.


"Mbok buatin minum ya Non?"


"Eh, gak usah Mbok. Nanti Helen bikin sendiri aja kalau mau. Mbok lanjutin aja kerjanya." Helen tersenyum lembut menatap wanita di depannya.


Mbok Ijah berlalu dari hadapan Helen bersamaan dengan orang tuanya yang turun dari lantai atas.


"Papa yang genit, suka colek-colek Mama gak jelas." Helen menatap Mamanya yang kini berjalan menuruni anak tangga.


"Loh, kan Mama juga genit, Mama juga kadang-kadang kalau ada maunya suka colek-colek Papa." Helen tersenyum melihat Papanya yang kini merangkul bahu Mamanya.


"Eh, Helen. Anak Mama sayang. Kamu kapan sampainya? Udah lama? Kok gak manggil Mama sih?" Sandra menghambur kepelukan Helen yang kini sudah berdiri dari duduknya.


"Barusan kok Ma. Helen gak mau ganggu Mama sama Papa." Jelas Helen setelah pelukan mereka terlepas.


"Anak Papa akhirnya datang juga. Sini peluk Papa." Frans membawa Helen ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Elvan mana?" Tanya Sandra setelah mereka duduk di tempat masing-masing.


"Nggak ikut Ma. Lagi banyak kerjaan kayanya."


"Ooh, kalian baik-baik aja kan?"


"Baik kok, Ma. Elvan juga udah mulai perhatian sama Helen." Ujar Helen sembari tersenyum lebar mengingat bagaimana perkembangan hubungannya dengan Elvan yang semakin membaik, sangat baik malah.


"Bagus kalau begitu. Benarkan ucapan Mama beberapa bulan lalu. Kalau rasa cinta dan sayang itu akan tumbuh dengan sendirinya jika kalian sering bersama. Kamu gak nyesel kan udah Mama jodohin sama Elvan?" Sandra menatap putri tunggalnya.


"Hehehe iya, Mama benar kok. Helen gak pernah nyesel nikah sama Elvan, Ma." Jawab Helen sedikit malu.


"Kamu nginep disini ya sayang?" Pinta Frans sembari menatap putrinya.


Helen tersenyum tipis.


"Hehehe bukannya Helen gak mau Pa. Cuma nanti Elvan gak ada temennya di apartement. Lain kali aja ya pa kalau Elvan ikut." Helen menatap Frans dengan tatapan bersalah.


"Pinter banget ngelesnya, bilang aja kamu gak mau jauh-jauh dari Elvan. Gak mau tidur pisah sama Elvan kan?" Goda Frans.


"Hehehe Papa tau aja deh. Kan Helen jadi malu." Tawa Sandra dan Frans pecah mendengar penuturan putri mereka.


Selesai makan malam Helen pulang ke apartement setelah berpamitan kepada orang tuanya.


"Ma, Pa, Helen pulang dulu ya. Takutnya nanti kalau kelamaan Elvan nungguin."


"Iya, Sayang. Kamu hati-hati ya bawa mobilnya, jangan suka ngebut." Ujar Sandra.


"Iya, Mama."

__ADS_1


TBC


__ADS_2